Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Dibujuk


__ADS_3

Saat jam pulang sekolah tiba Alvaro mengajakku ke suatu tempat dan dia ternyata membawaku ke lapangan basket.


"Berhenti kenapa kau membawaku kemari?" Tanyaku dengan heran,


"Bukankah kau sangat ingin melihatku bermain basket, aku akan melakukannya sekarang, kau duduk dan lihatlah" ucap Alvaro sambil memaksaku duduk di bangku samping lapangan,


"Eihhh... Tunggu Alvaro maksudku tidak begitu aku..." Ucapku terhenti karena Alvaro mengabaikan ucapanku.


Dia malah fokus dan terus memulai permainan basketnya seorang diri, aku terkagum melihat Alvaro yang begitu hebat dalam bermain basket seluruh tembakkannya masuk ke dalam ring dengan sempurna meski aku tidak mengerti peraturan bermain basket tapi aku tau permainan Alvaro sangat hebat dan luar biasa, aku bertepuk tangan dengan gembira melihat dia yang terus saja memasukkan bola dengan mudah ke dalam ring.


"Prok...prok...prok, wah hebat sekali... Itu bagus Alvaro kau memang pantas ikut lombanya, aku yakin kau akan menang nanti" ucapku sambil berjalan menghampirinya.


Awalnya aku ingin memberitahu pada Alvaro kalau orang yang ingin kulihat permainan basketnya adalah kak Bara bukan dirinya namun melihat Alvaro yang begitu semangat menunjukan permainan dia dihadapanku aku jadi lupa dan puas begitu saja, aku merasa kesedihanku yang sebelumnya sudah terobati karena melihat permainan hebat dari Alvaro meski dia bermain seorang diri.


Alvaro berhenti sejenak lalu mengambil bola basket dan memegangnya di tangan sebelah kanan, aku mengambil bola basket dari tangan Alvaro.


"Al aku mau coba bermain basket, siapa tau aku bisa juga, kamu ajari aku yah" ucapku sambil mengambil bolanya,


"Memangnya kau bisa?" Tanya Alvaro menyepelekan aku,


"Ishh... Aku tidak bisa makanya memintamu untuk mengajariku, kau ini bagaimana sih" jawabku dengan kesal.


Akhirnya Alvaro mau mengajariku bermain basket dia mengajarkanku cara memegang bolanya yang baik terlebih dahulu, lalu dia mulai menyuruhku untuk melepaskan bola basket itu ke dalam ring dalam jarak yang dekat.

__ADS_1


Aku mencoba sekuat tenaga melempar bola itu namun jangankan masuk ke dalam ring jaraknya saja sangat jauh dan bola nya malah menggelinding ke sudut lapangan, aku kesal dan mencobanya sekali lagi tapi hasilnya sama saja, aku bahkan sudah mencobanya berkali kali sekarang, namun hasilnya malah semakin buruk, Alvaro juga tertawa beberapa kali melihat permainanku yang tidak bisa melemparkan bola dengan benar.


"Hahaha... Sudah sudah... Jangan memaksakan dirimu sendiri, latihan itu tidak sekaligus langsung jago, nanti kau akan bisa tenang saja" ucap Alvaro sambil menyentuh pucuk kepalaku dan mengacaknya kasar.


Aku terdiam sejenak mendapatkan sentuhan itu, entah kenapa aku merasa Alvaro sangat tulus berada di sampingku meski caranya bicara selalu saja keras dan menyebalkan.


Sampai tak lama Alvaro mencubit hidungku cukup keras dan aku tersadar dalam lamunanku.


"Erghhh.. kau ini sangat lucu haha..." Ucap Alvaro sambil tertawa,


"Ishh... Apa sih, rasakan ini berani beraninya kau mengacak rambutku dan mencubit hidungku!" Teriakku sambil menggelitik pinggang Alvaro untuk membalaskan kekesalanku padanya.


Alvaro terus tertawa karena mendapatkan gelitikan terus menerus dariku kami pun saling kejar kejaran di lapangan dan aku terus menggelitik pinggangnya aku senang melihat dia ke gelian.


"Ahaha... Hentika Talita, berhenti! hahaha... Ini sangat geli" teriak Alvaro memintaku berhenti,


Cukup lama aku bercanda dengan Alvaro di lapangan hingga ketika kita berdua lelah kami tiduran terlentang di tengah lapang dan tertawa bersama mengingat kejadian lucu selama aku bermain basket yang tak ada satu lemparan bola pun yang berhasil masuk ke dalam ring.


Ku tatap langit langit aula lapangan basket dengan nafas yang menderu karena kelelahan.


"Hah... Hah... Cape juga ternyata" ucapku sambil ter engah engah,


Tiba tiba saja dalam situasi itu Alvaro bangkit terduduk dan dia berkata serius padaku.

__ADS_1


"Talita aku senang kau tidak sedih lagi" ucap Alvaro secara tiba tiba,


Jujur saja mendapatkan ucapan seperti itu dari seorang pria aku baper dan gugup seketika, aku tidak tau harus menjawab ucapan Alvaro seperti apa, aku pun memilih untuk pergi dari sana secepat mungkin.


"Ahh... Alvaro aku baru ingat ada tugas yang belum aku kerjakan aku pulang duluan yah bye..." Ucapku sambil berlari menjauh darinya.


Aku baru sadar saat dia mulai bicara serius dan mengatakan senang karena aku tidak sedih lagi.


"Apa dia melakukan itu karena melihatku sedih sebelumnya dan apa itu artinya dia menghiburku tadi?" Tanyaku mulai memahami apa yang sudah dilakukan oleh Alvaro.


Aku sendiri masih belum percaya apakah Alvaro sungguh melakukan itu untukku atau tidak, aku hanya takut dia nantinya hanya sengaja membuatku baper lalu mempermalukanku dan aku tidak mau sampai terjebak dalam situasi tersebut berkali kali aku menghempas semua pikiran aneh dalam diriku, dan aku memutuskan untuk mengabaikan perasaanku pada Alvaro.


"Perasaan ini paling hanya perasaan senang biasa, karena dia yang selalu berada di hidupku walaupun menjengkelkan setidaknya hidupku tidak akan kesepian" ucapku memikirkan.


Tadinya aku ingin menceritakan semua kejadian hari ini pada Audy namun mengingat kalau Audy sudah pindah dan dia tengah mendaftar untuk melanjutkan sekolahnya di tempat lain aku mengurungkan niatku, aku hanya tidak ingin ceritaku ini akan mempengaruhi aktivitas Audy di sana.


Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpan semuanya sendiri dan segera bergegas untuk berbelanja karena makanan di lemari pendingin sudah kosong.


Rasanya sangat hampa, biasa aku pergi berbelanja ditemani oleh Audy dan selalu bersamanya dibonceng memakai sepeda kemana mana kini aku harus berjalan kaki dan sendirian tapi aku tidak mau terus terpuruk berlama lama, pertama aku pergi mengambil uang di ATM terdekat dan sayangnya di samping jalan tak jauh dari halte bus di desa itu hanya ada satu mesin ATM saja sehingga aku harus mengantri dengan sabar dan bergantian dalam menggunakannya.


Cukup lama aku berbaris mengantri sampai akhirnya giliranku tiba namun saat aku memasukkan kartu ATM ku ke dalam mesin aku sama sekali tidak bisa menarik uang dan saat aku cek ternyata saldo di ATM ku hanya tinggal beberapa ratus ribu, awalnya aku pikir ayah atau ibu sudah mengirim uang bulanan ke dalam ATM namun ternyata tidak, aku pun mengambil semua uang yang tersisa di dalam ATM dan aku segera membelanjakannya hingga uang itu hanya tersisa dua ratus ribu rupiah lagi.


"Kalau ibu dan ayah tak kunjung memberiku uang bulan ini, terpaksa aku harus mencari pekerjaan, tapi di desa seperti ini apa yang mau aku kerjakan" ucapku sambil berjalan membawa kantong kresek belanjaanku yang lumayan berat,

__ADS_1


Aku terus memikirkan bagaimana caranya agar mendapatkan uang, karena aku malu jika harus meminta uang pada mereka aku pikir mungkin mereka lupa karena belum mengirimkan uangnya hingga sore hari, aku sudah coba menghubungi ibu dengan menelponnya beberapa kali tapi seperti biasa jika bukan dia sendiri yang ingin menghubungiku sulit untukku menghubungi mereka, panggilanku tidak ada satu pun yang mendapatkan jawaban.


"Apa mereka terlalu sibuk hanya sekedar mengangkat telpon dari putrinya sendiri, atau memang mereka benar benar melupakan aku" ucapku sedih memikirkan kedua orangtuaku.


__ADS_2