
Aku baru sadar jika aku terlalu dekat dengannya bahkan ketika aku melihat wajah Fasya dia menatapku dengan lekat dan termenung, aku pun segera menjauh darinya dan kembali duduk dengan tegak di kursiku sendiri.
"E..eum...itu maafkan aku karena kasar padamu, tadi itu sungguh tidak sengaja, aku hanya ingin mengobati hidungmu saja" ucapku berusaha menjelaskan agar dia tidak salah paham.
Fasya langsung tersadar dan dia kembali menaikkan kursinya lalu segera menyalakan mobilnya dengan cepat, tapi tiba-tiba saja dia mengusirku dengan menyuruh aku keluar dari mobilnya padahal sebelumnya dia sendiri yang menarik aku dan memaksaku untuk keluar dari mobilnya saat itu juga.
"Aishh.....dasar kau, keluar kau dari mobilku cepat keluar!" Bentaknya sangat kasar.
Aku terperangah dan tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam otaknya itu, dia sangat kasar dan membentakku begitu keras, aku tidak bisa terus berada disana dan sudah sangat kesal kepadanya, aku pun langsung segera keluar dari mobilnya dengan perasaan kesal.
"A..apa?, Kau yang memintaku bahkan sampai menyeretku ke dalam mobil dengan paksa dan berinisiatif sendiri untuk mengantarkan aku pulang, kenapa sekarang kau seperti ini kepadaku?" Bentakku untuk terakhir kalinya menanyakan semua itu karena sangat penasaran dan tidak mengerti dengan akal yang dia miliki.
"KELUAR!, Apa kau tidak mengerti hah!" Bentaknya sangat keras.
Aku sangat membencinya apalagi saat melihat wajah dia yang merah padam dan membentakku seperti barusan, aku langsung keluar dan membanting pintu mobilnya dengan sangat kencang.
"Oh, oke aku akan keluar bahkan aku tidak sudi melihat wajahmu yang menyebalkan itu... Brukk" ucapku sambil segera keluar dari mobil tersebut.
Aku segera pergi dari sana dengan emosi yang menggebu di dalam diriku dan aku sungguh sangat membencinya mulai saat ini, dia sangat menguji kesabaranku.
Sedangkan Fasya yang melihat Talita keluar dari mobilnya dia hanya bisa mengacak rambutnya kasar beberapa kali dan menggerutu kesal sendiri.
"Aargkkkhh...ada apa denganku, kenapa aku merasa bersalah dan menyesal kepada wanita seperti dia, sungguh gadis yang merepotkan!" Gerutu Fasya sambil memukul stir mobilnya dengan keras.
__ADS_1
Aku yang kesal dan terus menggerutu habis-habisan sepuasnya untuk menghilangkan emosi di dalam diriku kepada Fasya aku berniat menghentikan taxi tetapi taxi yang aku hentikan justru tidak berhenti dan malah hampir menabrakku hingga membuatku panik dan sangat kaget.
"Taxi...." Teriakku sambil melambaikan tangan hendak menghentikannya,
"Eh...aaa......tidak" teriakku sangat keras dan aku ketakutan.
Aku sangat takut dan melihat taxi itu semakin melaju cepat menghampiriku aku sudah berusaha untuk berlari menghindar tetapi waktunya sungguh tidak cukup sehingga taxi itu menyerempet ku cukup keras dan aku jatuh tersungkur ke samping jalanan cukup keras.
"Aaaa....brukkk....." Suaraku yang jatuh ke pinggir jalan dengan keras,
"Aduh, aaawww.....aduh...kakiku sakit sekali, aahh tanganku juga terluka, apa yang harus aku lakukan sekarang, aaahh....ini menyebalkan" gerutuku sambil memegangi tanganku yang tergores.
Rasanya memang perih dan kakiku berdenyut kesakitan, pakaianku juga sudah sangat kotor karena aku jatuh pada genangan air yang terdapat sedikit tanah kotor disana, aku sungguh merasa malu karena ada beberapa orang yang baru keluar dari universitas dan mereka membicarakan aku.
"Aishhh....kenapa aku harus mendapatkan semua ini, huaaa...apa yang harus aku lakukan sekarang, hiks...hiks...hiks..." Gerutuku sambil menangis tersedu-sedu.
Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, hatiku sakit, air mata mengalir perlahan dari pelupuk mataku dan tubuhku juga sakit. Sialnya dari sekian banyak orang yang melewati jalanan itu tidak ada satu pun diantara mereka yang mau membantuku atau menolongku sedikitpun.
Mereka hanya berjalan dengan santai melewati aku dan hanya membicarakan aku dengan berbisik satu sama lain, dan aku sungguh sangat merasa malu, hingga tidak lama aku melihat seseorang mengulurkan tangannya di hadapanku.
Saat itu aku berpikir orang yang mengulurkan tangannya untukku adalah Alvaro aku sangat berharap itu adalah dia, aku menutup mataku karena aku terlalu malu untuk melihat orang tersebut dan aku sangat berharap bahwa orang itu adalah Alvaro pria yang selama ini selalu melindungiku dan selalu membantuku dalam setiap saat dan setiap kesulitan.
"Alvaro apa itu kau...hiks...hiks...aku sakit Alvaro, tolong aku ....aku mohon aku bahkan tidak sanggup melihat semuanya lagi, Alvaro aku mohon bawa aku pergi dari sini sekarang juga...hiks...hiks..." Ucapku kepadanya sambil tertunduk lesu.
__ADS_1
Fasya sebenarnya sangat kasihan dan tidak tega saat melihat Talita seperti itu tapi dia juga kesal karena Talita justru malah menganggap dia orang lain, sehingga Fasya berdecak kesal sesaat lalu dia mulai menggendong Talita dan membawanya kembali masuk ke dalam mobil.
"CK.... bisa-bisanya dia berpikir aku pria lain disaat seperti ini, dan dia tidak melihatku juga" gumam Fasya dengan sedikit kesal.
Aku tetap tidak berani membuka mataku meski aku tahu pria itu menggendongku hingga ketika sudah berada di dalam mobil dan pria yang menggendongku menyuruhku untuk membuka mata barulah aku perlahan membukanya pelan-pelan.
"Heh, sampai kapan kau akan menutup mata seperti itu, aku sudah membawamu masuk, cepat pakai sabuk pengaman mu" ucap pria itu.
Saat aku membuka mata betapa kagetnya aku ketika melihat sudah berada di dalam mobil bersama Fasya dan aku sungguh tidak menyangka ternyata Fasya lah yang membantuku disaat aku sangat malu dan membutuhkan bantuan dari orang lain.
"KA...kau....kenapa kau menolongku?" Tanyaku kepadanya.
Awalnya aku pikir dia adalah pria yang kejam dan tidak memiliki hati, di lihat dari bagaimana dia mempermalukan aku dan menghukumku habis-habisan sebelumnya, itu sudah cukup bagiku untuk menilai dia sebagai pria yang tidak baik dan dia terlihat begitu membenciku.
Tapi disaat yang seperti ini, disaat aku berada di titik terendahku dan aku benar-benar terjatuh di depan semua orang, yang menolongku justru adalah orang yang paling aku benci dan orang yang sudah mempermalukan aku sebelumnya, aku sungguh tidak menyangka semua ini akan terjadi kepadaku.
Aku juga tidak mengerti bagaimana bisa seorang Fasya yang telah mempermalukan aku, menyeretku dan memberikan hukuman berat kepada, kini dia menolongku tanpa pamrih dan dia memperlakukan aku dengan lembut, bahkan disaat aku tertegun seperti ini dia malah membantuku memasangkan sabuk pengaman kepadaku dan membersihkan wajahku yang kotor dengan tisyu menggunakan tangannya sendiri.
"Aishh....begini saja kau tidak bisa, diam! Aku akan membersihkan wajahmu dan berhentilah menangis, aku benci melihat kau menangis kau sangat jelek!" Ucapnya sambil terus membersihkan wajahku.
Aku hanya diam termenung tanpa bisa melakukan apapun dan membiarkan dia membantuku, aku rindu perasaan ini, aku senang ada orang yang melindungi aku dan menolong aku, aku senang dia mengurusi aku seperti ini.
Dan aku tidak bisa menahan air mataku lagi, aku tetap menangis meski dia menyuruhku untuk diam.
__ADS_1
"Huaaa.....kenapa?, Kenapa kau baik kepadaku, hiks....hiks...hiks...kenapa Fasya? Aku ingin Alvaro yang menolongku aku ingin dia tapi kenapa malah kau yang menolongku hiks...hiks..." Ucapku menangis dengan keras.