Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Kepulangan Ibu


__ADS_3

Setelah panggilan itu terputus aku masih merasa aneh dengan tingkah kak Veri yang mendapatkan nomor ponselku secara tiba-tiba meskipun alasannya masuk akal tapi aku mengira ini terlalu banyak sebuah kebetulan yang terjadi di antara aku dan kak Veri.


"Apa dia sungguh mendapatkan nomor ponselku dari panitia fakultas, tapi bukankah mereka tidak akan memberikan data apapun kepada orang lain, jadi bagaimana bisa?" Gerutuku memikirkan.


Saat aku tengah berpikir keras, ibuku berteriak dari luar dan mengetuk pintu cukup kuat, aku pun segera bergegas menghampiri dia dan segera membukakan pintu untuknya.


"Ibu kenapa kau pulang selarut ini?, Bu...kenapa tidak menjawabku apa yang terjadi kenapa kau terlihat kesal dan murung seperti itu?" Tanyaku terus menerus dengan penasaran,


Ibuku hanya menghembuskan nafas lesu dan dia segera duduk di depan meja makan dengan kesal serta menaruh tas miliknya diatas meja dan langsung menggerutu dengan keras, membuat aku sangat kaget dan hanya bisa menatap dengan menaikkan kedua alisku dan merasa heran saat melihatnya marah-marah tidak jelas.


"Aahhhkkk....dasar bos sialan, mereka benar-benar harus di tampar sekeras-kerasnya. Aaarkhhhhh sangat menyebalkan! Brakk" gerutu ibuku sambil menggebrak meja dengan tangannya,


"Astaga, ada apa denganmu ibu? Kau marah tanpa alasan yang jelas dan menggebrak meja sekeras tadi, membuatku kaget saja untung aku memiliki jantung yang kuat" ucapku sambil mengambilkan air dan memberikannya kepada ibu agar dia menjadi lebih tenang.


Ibu langsung merampas segelas air yang aku suguhkan kepadanya dan dia meneguknya sekaligus sampai air itu membasahi pakaian yang dia kenakan.


"Ya ampun ibu pelan-pelan tidak akan ada yang merebut air itu darimu,"


"Aaahh....Talita kau tau seberapa menyebalkannya klain ibu kali ini, dia benar-benar pecundang sialan, dia sudah mau menipu perusahaan tempat ibu bekerja dan dia itu ternyata seorang mafia kejam dan jahat bahkan dia kebal hukum, aishh ibu tidak mengerti dengan hukum yang berlaku di negeri ini, bagaimana bisa pemerintah melindungi mafia sialan sepertinya, sudah jelas dia itu akan merusak bangsa ini" gerutu ibuku dengan mata yang menyala di penuhi dengan emosi di sekujur tubuhnya.


Aku sangat bingung bagaimana harus memberikan reaksi atas apa yang ibuku katakan, dia terlihat begitu emosi dan sangat kesal tangannya mengepal dengan bergetar dan wajahnya cukup menyeramkan disaat dia tengah marah seperti itu, sehingga sulit untukku bisa mengatakan sebuah kalimat ataupun kata kepadanya.

__ADS_1


Karena cukup takut dengannya dan aku tidak ingin mengganggu dia karena takut dia akan semakin marah, aku pun memilih untuk pergi dari hadapannya secara perlahan-lahan, namun disaat aku baru saja hendak bangkit dari kursinya hendak membalikkan badan ibuku justru berteriak memanggil namaku dan menyuruhku untuk kembali duduk di hadapannya.


"Bu...kau menggerutu lah hingga hatimu puas dan lega, aku harus kembali ke kamar untuk belajar sekarang" ucapku sambil tersenyum kecil dan hendak pergi,


"TUNGGU!" teriak ibuku mengagetkan aku lagi,


"Astaga, Bu ada apa lagi?" Tanyaku dengan heran,


"Duduk dan temani ibu disini, ibu ingin bicara denganmu dan kau harus mendengarkan semua ucapan ibu" ucapnya mendominasi.


Aku menelan salivaku susah payah dan hanya bisa menatapnya dengan mata terbuka lebar serta alis yang ku naikkan tanda merasa semakin bingung, aku tidak bisa menolak permintaan darinya lagi dan hanya bisa kembali duduk lalu mempersilahkan ibuku untuk meneruskan gerutuannya yang terlihat begitu kesal serta terus menghina serta merutuki klain barunya tersebut.


Aku hanya mendengarkan dengan sedikit kaget ketika mengetahui ternyata apa yang membuat ibuku sangat emosi adalah hal yang berhubungan dengan diriku, aku membuka mataku dengan lebar dan menghentikan sejenak cerita ibu karena perlu untuk memastikan kalimat yang dia ucapkan sebelumnya.


"Dan kau tahu ibu langsung menyiramnya dengan minuman yang saat ini baru disajikan oleh pelayan restoran, huh dia benar-benar bertindak seakan dia adal..." Ucap ibuku tertahan,


"Tunggu!" Ucapku memotong perkataan ibuku sendiri.


Walau ibu terlihat cukup kesal sebab aku memotong ucapannya tetapi dia tetap mempersilahkan aku untuk mengutarakan apa yang hendak aku katakan terhadapnya.


"Aishh...kenapa kau malah memotong ucapan ibu, apa kau mau ibu rutuki seperti klain sialan itu!" Bentak ibuku dengan wajahnya yang kusut,

__ADS_1


"Tidak.... Tidak Bu, aku hanya merasa penasaran mengapa klain ibu itu membawa aku dalam urusan bisnis kalian, padahal aku kan tidak ada hubungannya kenapa dia seperti sengaja ingin membuat ibu kalah dalam kerjasama itu?" Tanyaku kepada ibu.


Aku berpikir orang tersebut seperti dengan sengaja memancing ibuku untuk marah dan emosi agar mereka tidak menandatangi surat perjanjian kerjasama dalam bisnis dan entah kenapa aku merasa orang tersebut seperti menginginkan aku bukan bisnisnya sama sekali, entah itu hanya perasaanku saja atau memang sebuah kebenaran yang pasti aku juga tidak mengetahuinya dengan baik karena aku hanya mendengarkan semua kejadian dari cerita ibuku saja, sehingga aku tidak bisa memastikan semuanya dengan tepat.


"Hah?, Kau ini kenapa sih, dasar gadis narsis mana mungkin mereka berbuat seperti itu sekalipun klain itu tidak ingin bekerjasama dengan bisnis ibu dia bisa menolaknya sejak awal untuk apa dia repot-repot membuat janji dan menghabiskan waktu berharganya untuk menemui ibu jika dia tidak tertarik dengan bisnis yang kami tawarkan" balas ibuku sambil menyentil jidatku pelan,


"Aww....ibu...kau tidak perlu sampai menyentil jidatku ini akan merah tahu" ucapku sambil mengusap jidatku yang terasa sedikit sakit.


Ibu hanya menggelengkan kepalanya dan dia terlihat begitu sedih serta frustasi sekarang, aku tidak tahu dan semakin tidak mengerti kepada ibuku sendiri yang terlihat sangat aneh ketika dia pulang dari perjalanan bisnisnya.


"Ayolah Talita ibu akan terancam kehilangan pekerjaan ibu jika semua ini tidak berjalan lancar hua....bagaimana ini, apa yang harus ibu katakan kepada bos ibu terlebih dia adalah kekasih ibu, dia akan kecewa terhadap ibu sekarang" ucap ibuku terlihat sedih,


"Bu...kenapa kau malah mencemaskan orang lain, dan untuk apa kau perduli terhadap hubungan anehmu itu, kau sudah bukan anak muda lagi untuk apa bersusah payah mencari pasangan, kau kan masih memiliki aku yang akan selalu ada untuk menemani dan menjagamu" ucapku sambil tersenyum dan memegangi kedua lengannya dengan lembut.


Ibu yang tadinya tertunduk lesu dan begitu muram dia perlahan menaikkan kepalanya dan menatapku sambil mengembangkan senyum di wajahnya yang sudah tidak semuda dulu lagi.


"Sayang...ibu percaya kau sangat menyayangi ibu dan akan menempati semua ucapanmu, tetapi ibu juga tahu kau akan menikah dan menjalani hidup sendiri suatu saat nanti, maka dari itu jika kau pergi ibu akan bersama siapa nanti jika ibu tidak memiliki pasangan, ibu juga itu pada ayahmu yang sudah hidup dengan istri barunya sedangkan ibu masih tidak ada perkembangan" ucap ibuku terdengar menyedihkan.


Aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menghampiri sang ibu, lalu memeluk dia dari samping dan aku mengatakan kalimat manis yang selama ini belum sempat aku sampaikan kepadanya.


"Bu, jangan khawatir aku akan tetap menjagamu meski aku sudah menikah nanti, karena kau tahu?, Aku sangat menyayangimu melebihi apapun di dunia ini" ucapku sambil memeluknya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2