Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Ternyata Dia


__ADS_3

Namun rupanya semua harapan yang aku teguhkan kepadanya telah sia sia dan sirna begitu saja ketika Alvaro menghempaskan lenganku dan dia mendorongku untuk menjauh dari motornya, aku hampir jatuh ke belakang sebab dia mendorongku cukup keras dan dia bahkan tidak melirik ke arahku dulu, dia langsung menyalakan motornya dan pergi dengan cepat meninggalkan aku yang berteriak kencang memakinya.


"Sialan kau Alvaro kau pecundang! Tidak tahu malu! B*jingan kau!" Teriakku sangat keras memakinya habis-habisnya.


Aku terus menghentakkan kakiku dengan keras berkali kali dengan wajah yang merah padam dan kedua lengan yang aku kepalkan dengan kuat, ku pikir dia akan berhenti dan balik menghampiriku ketika aku berteriak memakinya dan berusaha membuatnya kesal padaku agar dia kembali namun nyatanya dia tidak kembali dia tetap pergi meninggalkan tempat tersebut, begitu pula denganku.


Semua makianku padanya tidak berguna dia tetap pergi dan aku sungguh telah ditinggalkan di pinggir jalan seorang diri, tanpa tahu jalan pulang dan aku masih memakai seragam sekolah, itu sungguh sangat menyedihkan dan terlihat begitu naas bagiku.


"Huuh, Alvaro benar benar meninggalkanku mungkin kini dia sungguh membenciku, apa lagi yang bisa aku lakukan untuknya" gerutuku sambil menunduk di tengah jalan seorang diri.


Aku segera mengambil ponsel di dalam tas dan berniat untuk menghubungi Audy tapi sialnya pulsaku habis begitu juga dengan ponsel sialan ini yang tidak ada jaringan, aku sungguh semakin kesal dan emosi dengan keadaan seperti ini.


"Eh, apa apaan ini kemana jaringannya hilang? Sial... Kalau begini bagaimana aku bisa menghubungi Audy, huaaa aku harus bagaimana ini di pertengahan jalan tidak akan ada kendaraan umum yang lewat kemari haaaa aku harus bagaimana sekarang?" Ucapku kebingungan sendiri.


Aku berusaha berjalan menyusuri jalan ini dan berharap bisa menemukan halte bus atau tempat untuk duduk namun sayangnya jalanan itu memang sepi dan semuanya di penuhi dengan pepohonan yang rindang, aku tidak tahu tepatnya dimana posisiku sekarang hingga tiba tiba cuaca berubah menjadi mending seketika lalu hujan mulai turun dengan perlahan mengenai kepalaku hingga membasahi sekujur tubuhku, aku langsung memasukkan kembali ponsel dan dompetku kedalam tas untuk mengamankannya.


Hanya itu satu satunya harta yang aku miliki dan harus aku jaga sehingga nanti aku bisa segera pergi dari tempat ini, ku peluk dengan sangat erat ransel berwarna hitam milikku tersebut dan aku mulai menggigil karena dingin, tidak ada tempat berteduh disana dan itu harusnya masih siang sekarang namun karena jalanan itu hampir tertutupi banyak pohon rindang sehingga justru terlihat hampir malam.


Aku kedinginan dan takut, aku kembali teringat dengan kejadian ketika di jalanan menuju villa saat liburan beberapa Minggu kebelakang, aku sungguh sendirian kali ini dan aku dalam keadaan yang basah kuyup tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku.


Aku hanya pasrah dan menyerahkan seluruh nasibku kepada tuhan, karena memang saat ini tidak ada akses apapun untukku meminta tolong kepada orang luar kecuali jika Alvaro kembali dan menyelamatkan aku lagi, sama seperti sebelumnya dia pernah menyelamatkan aku.


Di sisi lain Alvaro yang sudah sampai dikediaman barunya dia melihat hujan begitu lebat di luar dan pikirannya mulai memikirkan Talita dia sangat khawatir dengan keadaan Talita sebab dia tahu Talita tidak tahan dengan dingin, terlebih dia menurunkan Talita di pinggir jalan begitu saja tanpa memerhatikan dengan benar dimana dia telah menurunkannya.


"Aishh....sial dia pasti tidak akan mendapatkan bantuan karena aku menurunkannya di jalanan sepi, aku harus kembali kesana" ucap Alvaro sambil bersiap siap kembali ke tempat tersebut mencari Talita.


Alvaro melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga dia berhasil menemukan Talita yang tengah duduk di pinggir jalan sambil memeluk tas ransel miliknya di dada, dia juga masih bisa melihat Talita yang menggigil dengan hebat, melihat itu Alvaro sangat panik dia langsung turun dari motornya dan berlari menghampiri Talita.


"Talita apa kau baik baik saja, tolong jawab aku Talita!" Ucap Alvaro mendesak dengan mata yang terbuka lebar dan dia memegang kedua pundak Talita dengan erat, serta perasaannya yang begitu panik.


Saat itu juga aku memang masih bisa menyadari bahwa Alvaro sungguh kembali untuk menyelamatkan aku, aku sudah menduganya dia tidak mungkin benar-benar meninggalkan aku di tempat seperti ini seorang diri, aku senang dan terus tersenyum kepadanya, aku berusaha menyentuh wajahnya untuk memastikan apakah orang yang ada dihadapanku sungguh Alvaro yang aku maksud atau bukan.


"Alvaro...apa ini kau?, Apa kau Haiden Alvaro yang aku kenal?" Ucapku dengan tatapan sayu dan tangan yang mengelus pipi Alvaro.


"Talita apa yang kau katakan tanganmu begitu dingin dan kau bergetar seperti ini, ayo aku akan membawamu ke rumah sakit" ucap Alvaro sambil menggendongku dan menaikkan aku keatas motornya.

__ADS_1


Sekarang tanpa aku harus memaksa dia sendiri yang mengaitkan kenganku untuk memeluknya dan dia memperingatkan aku agar terus memeluknya dengan erat.


"Talita peluk aku dengan erat dan berhentilah tersenyum begitu kepadaku, kau membuatku takut jika kau berpura-pura baik baik saja seperti itu" ucap Alvaro sambil mengeratkan pelukanku kepada pinggangnya.


Aku hanya mengangguk patuh dan aku masih tetap tersenyum menatapnya hingga dia mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang menembus hujan dan aku sengaja menyandarkan daguku pada pundaknya karena aku cukup lemas untuk duduk dengan tegak.


"Alvaro aku tahu itu kau, dan aku tahu kau tidak akan meninggalkanku, kau kembali untukku kan?, Terimakasih Alvaro aku senang kau kembali padaku" ucapku dengan suara yang pelan dan semakin pelan,


Alvaro semakin panik dan dia terus mengingatkan Talita agar terus mempererat pelukan terhadapnya.


"Talita.... Jangan banyak bicara kau harus menghemat energi mu, teruslah berpegangan dengan erat, Talita apa kau mendengarkan aku? Talita... Talita kau harus tetap sadar!" Teriak Alvaro sangat panik,


Aku masih bisa mendengar teriakkan dari Alvaro yang memintaku agar tetap tersadar namun rasanya energiku sudah hampir habis aku hanya terus berusaha mempererat pelukanku kepadanya karena aku takut terjatuh, sampai akhirnya aku mulai merasakan tubuhku melayang dan terdengar banyak suara bising disekitar lalu setelah itu aku sudah tidak ingat apapun lagi.


Hingga beberapa saat kemudian aku mulai mengerjakan mataku sedikit demi sedikit lalu ku lihat Alvaro yang panik berteriak memanggil dokter sambil menggenggam lenganku dengan kuat.


"Dokter... Dokter... Cepat kemari dia sadar" teriak Alvaro panik tak karuan.


Aku merasakan badanku begitu dingin dan kepalaku sedikit pusing hingga dokter datang lalu mulai memeriksa tubuhku dan dia memberika suntikan di tanganku, ku lihat tanganku yang lain juga tengah di infus sehingga aku tidak bisa menggerakkan lenganku secara leluasa.


"Tidak jangan bicara masalah itu lagi, kau diam dan istirahat saja aku akan segera kembali" ucap Alvaro sambil mengusap kepalaku dengan lembut lalu dia pergi keluar bersama dokter dari ruangan itu.


Aku tidak tahu mengapa dia harus pergi bersama dokter dalam waktu yang cukup lama dan aku sudah merasakan badanku sudah lebih baik dari sebelumnya, tenagaku juga perlahan pulih sehingga aku memutuskan untuk bangkit sendiri karena aku sangat bosan terus tertidur di ranjang kaku rumah sakit tersebut.


Saat aku tengah berusaha terduduk tiba-tiba saja Alvaro datang menghampiriku dan dia segera membantuku untuk duduk dengan benar.


"Ya ampun Talita kenapa kau berusaha bangkit sendiri, kau bisa memanggil suster untuk membantumu" ucap Alvaro sambil membantuku duduk.


Aku hanya tersenyum karena merasa senang melihat betapa lucunya wajah Alvaro ketika dia mengkhawatirkan tentang keadaanku, sedangkan Alvaro sendiri justru malah membalas ku dengan tatapan heran dengan kedua alis yang dia kerut kan.


"Hey, apa yang sedang kau pikirkan?, Kenapa kau tersenyum seperti itu kepadaku?" Tanya Alvaro dengan wajahnya yang kebingungan,


"Tidak papa aku hanya senang karena orang yang menyelamatkan aku adalah kau Alvaro" balasku sambil terus tersenyum kepadanya.


Aku sungguh sangat bahagia dan tidak bisa menyembunyikan rasa syukur tersebut, meskipun sebelumnya aku sangat kesal dan begitu emosi kepada Alvaro sebab dia terus saja menghindar dariku tapi kini aku merasa jauh lebih baik karena sudah melihat dengan jelas bahwa Alvaro memiliki rasa perduli terhadapku.

__ADS_1


Tapi rasa bahagia dalam diriku seketika hancur ketika Alvaro tiba-tiba saja melepaskan kedua lengannya yang memegang tanganku dan dia langsung menjaga jarak dariku secepatnya.


"Ahhh....kau....kau salah paham aku hanya merasa kasihan denganmu tidak lebih dari itu" ucap Alvaro membuat hatiku yang sudah berbunga bunga seketika hancur berkeping-keping.


Aku diam termenung dengan mata terbuka lebar dan mulut melongo, aku sungguh tidak bisa mempercayai apa yang baru saja Alvaro utarakan kepadaku mengenai kepeduliannya terhadapku.


"Alvaro tolong jangan bercanda, aku tahu kau perduli padaku kan, jika tidak kenapa kau selalu membantuku sebelumnya, bahkan kau selalu terlihat panik ketika aku dalam bahaya dan kau selalu kesal ketika aku dekat dengan kak Bara" ucapku memastikan dengan kembali bertanya serius padanya,


"Talita jadi itu yang kau pikirkan tentangku selama ini sehingga membuatmu begitu berani bersikap terhadapku?, Kau salah besar jika memang itu yang kau pikirkan tentangku, aku sama sekali tidak pernah memiliki kepedulian lebih darimu, sebelumnya aku hanya membantumu secara kebetulan dan berdasarkan rasa kasihan, lalu mengapa kau menyimpulkan semua kebaikanku selama ini dengan hal tersebut" bentak Alvaro dengan wajah yang datar dan sedikit sinis.


Aku sungguh kaget dan rasanya seperti di sambar petir pada siang hari, panas, hancur dan sakit yang begitu parah, aku sungguh tidak bisa menahan air mataku sendiri dan air mata itu jatuh dengan perlahan begitu saja.


"Jadi....KA...kau...selama ini, itu yang sebenarnya?" Ucapku bertanya lagi untuk memastikan karena aku masih belum bisa mempercayai semuanya.


Semua ini terlalu tiba-tiba untukku sehingga aku merasa sangat terpukul ketika mendengarnya, aku merasa diriku telah ditipu oleh seorang Alvaro dalam waktu yang sangat lama sehingga rasa sakitnya terasa begitu jelas dihariku yang rapuh ini.


Alvaro masih tidak menjawab pertanyaanku, dia diam dengan tatapan kosong kepadaku sedangkan aku sudah sangat tidak sabar untuk menanti jawaban sebenarnya dari dia.


"Alvaro kenapa kau diam?, Cepat jawab aku apakah yang kau katakan sebelumnya benar?, Apa kau menolongku selama ini hanya karena rasa kasihan?" Tanyaku dengan tegas dan ekspresi datar dengan air mata yang jatuh dari pelupuk mataku.


"Kau sudah tahu itu jadi aku tidak perlu mengulangnya lagi" ucap Alvaro lalu pergi meninggalkan ruang rawat ku begitu saja.


Aku ambruk dan merasa sangat lemas, energi yang sudah hampir terisis penuh kini habis sekaligus, aku merasa hatiku terasa lebih sakit dibandingkan tubuhku sendiri, aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa seorang Alvaro bisa berbuat sebegitu kejamnya terhadapku, dia begitu perhatian dan selalu menolongku sebelumnya bahkan sikapnya terkadang mirip seperti seorang pria yang tengah cemburu ketika aku berada kak Bara.


Namun kini sikapnya berubah secara drastis dan dia memberikan aku sebuah jawaban yang sangat aku benci.


"Kenapa?, Kenapa dia harus mengasihani wanita sepertiku dengan cara sebaik ini, hingga aku terhanyut dalam kebaikannya dan berpikiran terlalu jauh tentang kepeduliannya padaku selama ini?, Mengapa aku bisa sebodoh itu?" Ucapku menyesali semuanya.


Aku menyesal karena pernah senang ketika bisa melihat dia datang kembali ke sekolah, aku menyesal karena telah mengejarnya hingga membuat diriku berakhir di rumah sakit seperti ini, aku juga sangat menyesal karena sedari tadi terus tersenyum kepadanya. Seharusnya aku memasang wajah paling buruk dalam diriku, dan seharusnya aku menghajar dia dengan keras ketika dia berada di dekatku sebelumnya.


"Sial!, Bodoh aku bodoh sangat bodoh! Hiks...hiks...hiks" ucapku kesal sambil mengucek selimut rumah sakit dengan sekuat tenaga.


Aku tidak bisa tetap diam dan terlihat lemah seperti ini di saat Alvaro sudah menyakitiku dan memberikan harapan palsu terhadapku sebelumnya, aku langsung mencabut infusan dari tanganku sekaligus lalu pergi dari rumah sakit itu dengan amarah yang merebak di dalam diriku sendiri.


"Dasar pria br*ngsek dia sialan, aku tidak akan menaruh harapan apapun lagi pada pecundang sepertinya, huuh benar-benar orang yang menjengkelkan!" Gerutuku kesal sambil terus berjalan kesal keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2