
Sampai akhirnya Alvaro yang menyapaku lebih dahulu, mungkin karena dia juga heran melihatku yang berdiri menunduk di hadapannya secara tiba tiba.
"Heh, untuk apa kau berdiri di hadapanku?" tanya Alvaro dengan wajah dinginnya seperti biasa,
"Aku...itu, aku mau minta maaf karena sudah bicara kasar padamu saat dikelas tadi, dan aku tau sebenarnya salahku juga membuat jaket kesayanganmu kotor sehingga aku harus membersihkannya sampai tidak bisa tidur semalaman, tadi aku hanya kesal saja karena kau ...." ucapku meminta maaf dan menjelaskan semuanya namun ucapanku terpotong karena Alvaro yang bangkit dari duduknya begitu saja.
Dia berjalan ke tengah lapang sambil memainkan bola basket di tangannya satu dua kali dia memasukkan bola basket dengan tepat sasaran masuk ke dalam ring sempurna, aku yang awalnya kesal karena dia meninggalkanku dan tidak menggubris ucapanku justru malah jadi kagum melihat keahliannya bermain basket, pantas saja kak Bara dan anak anak tim basket kelas 3 memaksaku agar bisa membujuknya mengikuti lomba.
Aku berjalan perlahan dan berusaha tetap bicara pada Alvaro tapi dia malah terus asik sendiri bermain basket, kelakuannya sungguh membuatku mulai kesal dan lelah karena harus mengejar ngejar dia yang begitu lincah bermain basket.
"Al..Al..tunggu, Alvaro bisakah kamu berhenti bermain sebentar, banyak hal yang mau aku bicarakan padamu" ucapku disampingnya dan berusaha mengimbangi setiap langkah Alvaro.
Melihatku yang terus berusaha agar bisa bicara dengannya, akhirnya Alvaro berhenti begitu juga denganku yang sudah lemas dan tak kuat menahan berat badanku sendiri aku terhuyung ke belakang dan kembali duduk di bangku peristirahatan sambil menormalkan nafasku yang menderu.
"Hah....hah ..hah...aduh aku benar benar kehilangan banyak tenaga karenamu Al" ucapku dengan lesu,
"sudah tau kau ini lemah kenapa terus mengikutiku?" tanyanya sambil memberikanku sebotol air mineral dan dia duduk disampingku,
"bagaimana aku tidak mengikutimu kau pergi begitu saja saat aku berbicara padamu, aku khawatir kau membenciku dan tidak memaafkanku karena kejadian tadi" ucapku jujur lalu ku teguk air mineral pemberian Alvaro.
Dia hanya diam untuk beberapa saat setelah mendengar ucapanku sampai ketika aku sudah tenang dan nafasku sudah normal kembali, Alvaro baru menjawabnya.
"Aku tidak pernah marah apalagi membencimu, jadi kau tidak perlu meminta maaf padaku" ucapnya yang membuatku seketika mengembangkan senyum dan merasa lega,
__ADS_1
"ahhh...syukurlah, sekarang aku bisa tenang, ya sudah aku mau ke UKS" ucapku sambil bangkit dari duduk.
Aku pergi meninggalkan Alvaro, karena tak kuat ingin beristirahat aku segera masuk ke ruang UKS dan meminta suplemen daya tahan tubuh pada penjaga apotik di sana, selesai meminum obat aku langsung membaringkan tubuhku di ranjang yang kecil dan sedikit keras, akhirnya aku bisa tidur dengan lelap, tenang dan tanpa gangguan dari siapapun.
Saking lelapnya tertidur aku justru malah kebablasan dan tidur di sana sampai jam pulang sekolah, aku terbangun karena petugas UKS yang membangunkanku dan dia mengatakan bahwa UKS akan di tutup karena sudah jam pulang sekolah, aku kaget dan segera beranjak dari ranjang, berlari sekencang yang aku bisa untuk kembali ke kelas dan mengambil tasku yang masih ada di sana, sayangnya saat aku sampai, kelas sudah dikunci dan aku tidak bisa masuk ke dalam untuk mengambil tas milikku, saat aku berlari lagi mencari Audy ternyata dia juga sudah pulang, aku benar benar kesal dan bingung harus bagaimana, pasalnya di dalam tas sekolahku ada dompet juga ponselku bagaimana aku bisa makan hari ini kalau uangku ada di sana.
"Aduhh ......apa aku memanjat di jendela saja ya?" gumamku memikirkan cara yang begitu konyol.
Tapi karena hanya itu satu satunya cara alhasil aku terpaksa melakukannya, aku lihat sekeliling untuk memastikan sudah tidak ada lagi siswa yang berjalan disekitar sana dan aku juga melihat ke arah satpam untuk berjaga jaga agar aku tidak ketahuan saat memanjatnya, setelah semuanya sudah aku pastikan aman dan tidak ada siapapun, perlahan ku buka salah satu jendela kelas yang dekat dengan mejaku lalu aku mulai berusaha untuk memanjatnya tapi sayangnya karena jendela itu cukup tinggi dan aku yang pendek ini sehingga agak sulit untukku memanjatnya apalagi tidak ada pijakan untukku.
Aku sudah berusaha sekuat tenaga dan selalu gagal dalam setiap percobaan memanjatnya sampai tiba tiba badan serasa terangkat, aku merasakan ada seseorang yang memegang pinggangku dan membantuku memanjat jendela itu sampai akhirnya aku bisa masuk ke dalam kelas, saat aku tengok ke belakang ternyata itu Alvaro yang menatapku dengan wajah datarnya, aku cemas dan takut kalau Alvaro sampai melaporkan perbuatanku pada guru atau satpam, aku bisa dalam bahaya.
"Alvaro, kenapa kau masih di sini?" tanyaku kaget,
Dia benar benar manusia teraneh, terdingin, tercuek, dan termenyebalkan di dunia ini, bisa bisanya dia menjawab pertanyaanku dengan santai dan tanpa ekspresi sementara aku terus merasa cemas dan gelisah.
"Oke... oke, kalau kau mau membantuku diam saja di situ, dan bantu aku untuk keluar lewat jendela lagi" ucapku sambil mengambil tas dari kursi dan segera memakainya.
Alvaro hanya diam tak menjawab ucapanku dan saat aku hendak keluar dari kelas dengan memanjat ke jendela lagi dia mengulurkan tangannya membantuku untuk meloncat, tanpa pikir panjang aku segera meraih tangannya dan melompat keluar dari kelas, sialnya rokku tersangkut ke salah satu sudut jendela yang runcing sampai membuat rok itu sobek cukup besar.
Aku sungguh malu dan kaget saat mendengar bunyi sobekan rokku, celana dalamku hampir saja kelihatan oleh Alvaro aku hanya bisa terdiam mematung menahan malu sedangkan Alvaro refleks langsung memalingkan wajahnya dan memberikan jaket kesayangannya lagi padaku untuk menutupi rok sekolahku yang robek.
"Ini pakai jaketku untuk menutupinya" ucapnya dengan wajah yang menghadap ke dinding,
__ADS_1
Ku ambil jaketnya dan segera aku ikatkan di pinggangku, aku benar benar malu dan tidak tau harus menghadapi Alvaro seperti apa lagi, aku takut dia sudah melihat celana dalamku, itu akan sangat memalukan.
"Apa kau sudah memakainya?" tanya Alvaro,
"Iya, aku sudah memakainya" jawabku lesu dengan menundukkan kepala,
Alvaro menggandeng tanganku dan dia membawaku ke parkiran, disana hanya ada dua mobil dan satu sepeda motor yang besar dan berwarna merah, aku heran dan menaikkan kedua alisku.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanyaku keheranan,
"apa kau mau pulang menaiki kendaraan umum dengan penampilan seperti itu" ucapnya menyadarkanku,
"malu sih tapi mau bagaimana lagi, lagi pula tidak mungkin kan, kau mau mengantarkan ku" jawabku sedikit kesal,
"aku membawamu kemari menurutmu untuk apa, tunggu di sini!" ucapnya begitu saja,
Aku hanya diam dan bingung sekaligus tidak menyangka seorang Haiden Alvaro yang tidak pernah berhubungan dekat dengan seorang wanita juga kejam dan dingin mau mengantarkan ku pulang, aku terus memperhatikan Alvaro dan kulihat dia menaiki motor sport berwarna merah, mulutku langsung terbuka saking kagetnya.
"Benar benar gila, apa dia mau memboncengku dengan motor sport itu, bagaimana aku duduk di sana?" gumamku merasa kaget kesal dan bercampur aduk.
Dia mulai melajukan motornya perlahan dan menghampiriku, Alvaro menyuruhku untuk naik aku pun menurutinya karena memang tidak ada pilihan lain dan saat aku sudah duduk di belakangnya Alvaro tidak juga melajukan sepeda motornya itu.
"Heh....berpegangan yang erat kalau kau tidak mau jatuh ke belakang!" ucapnya memberikan peringatan.
__ADS_1
Aku tau apa yang dia maksud tapi aku tidak mau kalau harus berpegangan padanya, aku menolak dan mengatakan kalau aku tidak mau berpegangan dengannya lagi pula aku dan dia tidak sedekat itu, dan bukankah aku dan dia adalah musuh kenapa juga harus sedekat itu sampai berpegangan padanya, itulah yang aku pikirkan mengapa aku tidak mau menuruti perintahnya, tapi sialnya dia tidak mau melajukan sepeda motor itu sampai aku mau berpegangan padanya, dengan perasaan yang kesal terpaksa aku berpegangan pada kedua pundaknya.