
Aku masih belum bisa mempercayai semua yang aku baca di dalam secarik kertas kartu nama tersebut, namun setelah aku sudah memastikan dengan kembali mengulang membaca dengan teliti sebanyak 3 kali hasilnya masih sama, dan aku sungguh terpukau tak percaya.
"Wah ..wah.... Ini benar benar keren, ternyata masih ada seorang pewaris keluarga yang mau bekerja di tempatnya sendiri seperti kak Kevin, dia keren sekali" ucapku yang lagi lagi merasa kagum.
Aku berhenti mengagumi masalah kak Kevin dan segera beranjak pergi dari sana, tadinya aku berniat pergi ke rumah ayah untuk meminta uang karena meski aku sudah bekerja tetap saja aku hanya akan mendapatkan upah bulan depan, sedangkan untuk satu bulan ini aku sudah kehabisan uang untuk bekal, sehingga dengan terpaksa aku harus meminta uang pada ayah.
Kebetulan jarak antara restoran tempatku bekerja tidak terlalu jauh menuju rumahku yang dulu, aku pergi menggunakan gojek yang sudah aku pesan, sesampainya di depan gerbang rumah aku langsung masuk dan menekan bel, selang beberapa saat ibu tiriku datang membukakan pintu dan dia nampak kaget saat mengetahui kedatanganku yang tiba tiba.
"Eh....Talita, ayo sayang masuk" ucap ibu tiriku menyambut dengan cukup baik,
Aku langsung masuk dan duduk di sofa, aku merasa semua tata letak barang di rumah masih terlihat sama tidak ada yang berubah sedikitpun bahkan foto keluarga dan foto masa kecilku masih terpampang dengan jelas di dinding, aku sedikit merasa aneh mengapa ibu tiriku tidak merubah semua dekorasi rumah.
"Apa dia tidak merasa sakit hati ketika melihat foto keluargaku yang terpampang jelas di dinding, atau memang dia tak memiliki perasaan" gumamku merasa heran,
Ibu tiriku menyajikan beberapa makanan dan minum untukku namun aku yang tidak ingin berbasa basi dan membuang banyak waktu di sana, langsung saja aku utarakan niatku datang ke rumah itu.
"Terimakasih tante, tapi aku ke sini hanya untuk bertemu ayah, dia sudah tidak mengirimiku uang bulan ini, dan aku membutuhkan uang itu sekarang" ucapku secara gamblang,
"Oh..itu, maaf Talita mungkin ayahmu lupa, dia sedang memeriksa jalannya proyek di luar kota bahkan sampai sekarang ayahmu belum kembali" jawab ibu tiriku,
"Kalo begitu tolong beri tau dia lewat telpon mungkin jika kau yang menelponnya dia akan mengangkat panggilan itu" ucapku dengan sinis,
"Tentu Talita ibu akan memberitaunya segera, dan ini jika kamu sangat membutuhkan uang itu kamu pakai saja uang ini jika kamu membutuhkan apapun lagi, kamu bisa datang ke sini kapanpun kamu mau, ibu senang melihatmu" ucap ibu tiriku itu sambil mengepalkan sejumlah uang ke tanganku.
__ADS_1
Aku bingung dan menaruh banyak kecurigaan padanya, pasalnya yang aku tau hampir sembilan puluh persen semua rata rata ibu tiri itu bersikap jahat namun dia justru memberiku uang dan aku tau itu jumlahnya tidak sedikit, yang aku tau juga semua ibu tiri akan bersikap kasar ketika ayah kandungnya tidak ada, namun dia juga tetap bersikap lembut padaku ketika ayah tidak ada di sana.
"Kenapa dia sebaik ini, apa aku salah menilainya?" Gumamku mulai merasa ragu,
Walau pun dia memperlakukanku dengan baik namun aku masih belum bisa percaya pada ibu tiriku itu sepenuhnya, aku hanya berwaspada siapa tau saja dia hanya bersikap seperti ini untuk sementara waktu dan hanya untuk mendapatkan restu dariku atau hanya untuk mendapatkan simpati dari ayahku, entahlah semua pemikiran negatif tersebut selalu melintas dalam pikiranku sehingga membuatku terus berjaga jaga dan terus menjaga jarak dengan wanita itu.
Awalnya aku menolak uang pemberian ibu tiriku, karena aku sungguh takut dia memiliki rencana atau ada udang di balik batu dari kebaikan yang dia lakukan padaku.
"Ambil kembali uangmu, aku tidak mau menerima uang selain dari ayah dan ibuku" ucapku sambil menaruh uang itu di atas meja,
"Talita meski aku ini hanya ibu tirimu, tapi aku sudah menganggap mu seperti putriku sendiri, jangan menyiksa dirimu sendiri, aku sungguh tulus memberikan uang ini untukmu, atau kalau kamu masih merasa ragu pada ibu, anggap saja uang ini sebagai hutang, kamu bisa membayarnya kelak agar kamu tidak khawatir" balas ibu tiriku itu dengan senyum yang lebar,
Aku memikirkan sejenak ucapannya dan saat aku tengah temenung memikirkan semua itu tiba tiba ibu tiriku kembali memberikan uang itu padaku dan dia memasukkan uang itu ke dalam tas sekolahku yang aku taruh di atas meja.
"Sudah jangan dipikirkan, pakai saja uang ini, ini juga uang dari hasil usaha ayahmu dan sudah semestinya kamu menggunakan uang ini" ucap ibu tiriku,
"Tunggu, Talita....ibu pikir, kamu mau menginap di sini, padahal ibu sangat berharap kamu bisa tinggal menemani ibu di sini, satu malam saja" ucap ibu tiriku memelas,
Aku tidak perduli dengan tatapan memelasnya aku hanya berusaha menjaga diriku sendiri jaga jaga siapa tau saja dia bisa meracuni atau berbuat yang diluar kendali saat aku tinggal di sana.
"Jangan berharap lebih, aku tidak akan pernah bersikap lembut apalagi sampai tinggal di rumah yang sama denganmu, kau tetap orang asing bagiku dan ingat jangan menegurku di depan umum, aku juga tidak mengenalmu" ucapku menatapnya tajam dan segera bergegas pergi dari sana.
Aku tidak perduli apakah ucapanku tadi menyakiti perasaan ibu tiriku atau tidak, aku juga tidak perduli sekalipun dia membenciku atau dia merasa sedih karena ucapanku, aku pikir mereka juga tidak memperdulikan perasaanku di saat mereka memutuskan untuk menikah tanpa memberikan kabar kepadaku sebelumnya.
__ADS_1
Tindakan mereka itu masih membuat bekas luka yang amat dalam dan perih di hatiku, di sisi lain aku selalu bersyukur saat orang orang berkata keluargaku begitu harmonis dulu, namun kini justru keluargaku hancur dan aku tidak tau apa alasan mereka berpisah sebenarnya.
Saat berjalan di tepi jalanan sepi seorang diri sambil menunggu pesanan ojek online ku tiba, aku terus berjalan sambil menunduk dengan perasaan terbelenggu dan memegang uang pemberian ibu tiriku, aku merasa sangat kecewa dan kesal mengingat orang yang memberiku uang di saat seperti ini justru malah orang yang paling aku benci.
"Aku akan mengembalikan semua uang ini pada perempuan itu" ucapku dengan tekad yang kuat.
Tak lama ojek online pesananku tiba dan aku segera naik ke atas motor tersebut.
Beberapa saat setelah sampai di rumah aku langsung membersihkan diri dan memasak semangkuk mie pedas ditambah telur ceplok juga sosis yang sudah aku iris iris, aku menikmati mie instan itu seorang diri di dapur dengan suasana yang sepi, setiap hari aku selalu makan seorang diri dan rasanya itu sudah menjadi kebiasaan bagiku.
Selesai makan aku langsung tertidur mengistirahatkan tubuhku yang sudah lelah beraktivitas seharian ini, mengingat besok adalah hari libur pertamaku sehingga aku bisa tidur dengan nyenyak dan sedikit bermalas malasan.
Baru saja aku hendak menutup mataku, suara dering ponsel kembali membangunkanku dan menghancurkan rasa kantuk yang sudah tumbuh sebelumnya. Aku merogoh saku tas sekolah dan mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Iya...ini siapa?" Ucapku mengangkat panggilan itu,
"Ini aku Talita, apa kamu sudah mau tidur?, Maaf ya kalau aku mengganggumu" ucap kak Bara dari sebrang sana.
Mendengar suara sang pujaan hati tentu saja rasa sebal dan lelah di mataku langsung hilang, aku refleks terduduk dan langsung menjawab dengan penuh semangat.
"Ahh... Tidak kak, aku hanya baru pulang kerja jadi sedikit lelah hehe" jawabku berbohong,
"Begitu yah, aku pikir kamu malas menjawab panggilanku, soalnya ini kan sudah larut sekali" balas kak Bara membuatku merasa gugup dan tidak enak,
__ADS_1
"Eh...tidak kak, tidak sama sekali kok, aku justru senang mendapatkan panggilan telpon darimu" balasku sambil tersenyum sendiri,
"Benarkah?, aku kira hanya aku yang senang saat mendengar suaramu" balas kak Bara yang membuat pipiku merona seketika.