
"Alvaro aku kini bisa menyebut nama itu denganudah, tolong jangan tinggalkan aku lagi, dan biarkan aku terus memelukmu seperti ini" ucapku kepadanya dan mengeratkan pelukanku kepadanya.
"Tenang Talita aku tidak akan pernah meninggalkan mu aku akan selalu di sampingmu aku tidak pernah meninggalkan aku selama ini, aku sangat mencintaimu" ucap dia sambil mengecup keningku dengan lembut.
Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku itu aku menangis tanpa suara karena akhirnya aku bisa sedikit mengingatnya, mengingat sesuatu yang hilang dariku dalam waktu yang lama selama ini.
Aku tidak menduga bahwa aku bisa melupakan seseorang yang paling berharga di hidupku, dan aku juga tidak menduga kenapa ibu dan Fasya membohongi aku selama ini, padahal bukan Fasya yang aku cintai dan dia bukan tunanganku, tapi Haiden yang aku cintai iya Haiden Alvaro yang selama ini selalu menjadi pengisi hatiku sejak awal hingga akhir.
Setelah kejadian di pantai itu aku semakin yakin bahwa pria yang bernama Haiden inilah yang aku cintai, pria yang aku peluk saat ini yang pernah sangat aku sayangi dahulu, hingga ketika malam tiba dia mengajak aku untuk pergi ke sebuah kedai pasangan yang ada di tepi pantai, ketika aku melihat kedai itu aku seperti mengingat sesuatu dan langsung merasakan sakit yang sangat luar biasa pada kepalaku.
"AA....aaakkkhhh....aduhh.... sakitnya" teriakkanku sangat kencang dan aku memegangi kepalaku dengan kuat.
Saat melihat aku kesakitan Haiden langsung mendekati aku dan dia memegangi tanganku dengan kuat.
"Talita ada apa, apa kau mengingat sesuatu lagi?" Tanya dia kepadaku.
Ingatakanki perlahan pulih kembali sedikit demi sediki, aku mulai mengingat kenanganku dengan Haiden di tempat itu, aku melihat dengan jelas dan mengingat momen ketika aku berciuman dengannya di salah satu kursi kedai tersebut aku mengingat momen itu dengan sangat jelas, hingga aku mulai membuka mataku dan aku berlari sekuat tenagaku ke kursi dimana aku merasa aku pernah duduk disana.
Haiden juga segera mengejar aku dan dia bertanya-tanya kepadaku,
"Talita apa yang terjadi apa kau mengingat sesuatu lagi, katakan padaku Talita, apa yang kau pikirkan saat ini?" Tanya dia kepadaku dengan wajahnya yang terlihat begitu panik,
"Haiden bisakah kau duduk di kursi itu, aku ingin mengingat dan melihatnya dengan jelas" ucapku kepadanya.
"Ta..tapi untuk apa?" Tanya dia dengan kebingungan.
Aku tidak ingin menunggu lama lagi dan aku langsung mendorong dia lalu memaksakan dia untuk duduk disana hingga aku mulai duduk di pangkuannya dan aku menarik kedua lengannya untuk memeluk pinggangku sama seperti dengan apa yang aku lihat dalam pikiranku sebelumnya.
"Talita apa yang sedang kau lakukan? Hey....ada apa dengan...." Ucap Haiden Alvaro yang langsung tertahan karena aku langsung menutup mulutnya dengan mulutku.
Aku menciumnya saat itu juga secara tiba-tiba untuk mengingat ingatanku lagi yang sempat hilang.
Dan ketika aku menciumnya bisa mengingat semuanya dengan sangat jelas, aku ingat bahwa dia memang pria yang aku cintai selama ini, aku langsung membuka mataku dan menghentikan ciuman itu.
"KA...kau.....jadi kau....Alvaro? Kau aku merindukanmu" ucapku langsung memeluknya karena aku sudah sangat yakin bahwa dia adalah orang yang aku kenal dan orang yang sangat aku cintai di masa lalu.
Sedangkan Haiden Alvaro sendiri hanya diam membeku dan dia memegangi bibirnya sendiri merasa sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Talita kepadanya begitu saja.
Dan perasaan itu sudah lama sekali tidak dia rasakan, perlahan Alvaro tersenyum dan dia membalas pelukan dari Talita dia langsung mencium wajah Talita karena dia sangat merindukannya dan dia sangat senang karena akhirnya Talita bisa mengingatnya.
"Talita kau mengingatku sekarang?" Tanya Alvaro menanyakannya untuk memastikan lagi,
"Iya aku ingat dan aku tahu kau Haiden Alvaro kau pria yang aku cintai, aku ingin hidup denganmu Alvaro, bawa aku pergi denganmu" ucapku sambil memeluknya lagi.
Alvaro sungguh sangat senang hingga dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan dan bagaimana cara dia menggambarkan kebahagiaan di dalam dirinya itu, dia langsung menggendong Talita dan membawanya memutar, hingga mereka terlihat sangat bahagia.
Aku rasanya tidak ingin pergi dari dari Alvaro aku juga tidak ingin pergi dari pantai yang menyimpan banyak sekali kenangan aku dan Alvaro bahkan aku menolak untuk pulang ke rumah saat itu, tapi Alvaro tetap mengantarkan aku ke rumah dan dia menyuruhku untuk kembali.
"Alvaro kenapa kau menyuruh aku untuk kembali ke rumahku, aku ingin bersamamu saja ayo kita pergi ke tempat yang jauh dan tinggalkan semua orang yang menyakitkan, aku juga ingin kau mempertemukan aku dengan wanita di foto itu, aku tidak ingin kembali ke rumah" ucapku kepadanya.
Aku tahu ibu akan menghentikan aku dan aku tahu dia tidak akan mengijinkan aku untuk bersama Alvaro dia akan selalu memaksa aku agar menikah dengan Fasya sedangkan aku tidak menyukainya, itulah yang membuat aku tidak ingin pulang ke rumah.
__ADS_1
Namun sialnya Fasya terus saja menelponku dan bunyi telpon itu terus mengganggu aku dan Alvaro, hingga Alvaro tetap menyuruh aku untuk kembali pulang ke rumah.
"Talita dengarkan aku, kau harus tetap pulang, ibumu akan mencemaskanmu jika kau tidak pulang, pulanglah Talita dan bersikaplah seperti biasanya jangan sampai ada yang tahu jika kau sudah bisa mengingatku, aku akan membawamu bersamaku jika semua urusanku disini selesai, aku janji padamu" ucap dia sambil menaikkan jari kelingkingnya kepadaku,
"Kau harus menepati janjimu Alvaro jika kau mengingkari janjimu padaku seperti sebelumnya, aku tidak akan memaafkan kau lagi" balasku sambil membalas tautan jari kelingkingnya itu.
Dia pun mengecup keningku lalu dia keluar dari mobil dengan Argo dan menyuruh aku untuk cepat pergi dari sana.
"Ayo ....pergi, jangan lihat ke belakang, cepat pergi Talita" ucap Alvaro padaku.
Dengan berat hati aku mulai melajukan mobilku dan pergi ke rumah meninggalkan dia begitu saja, padahal aku sangat ingin bersama dengan dia, aku tidak ingin berjauhan dengannya, aku sungguh menginginkan dia seutuhnya aku tidak ingin kehilangan dia untuk kesekian kalinya.
Tetapi karena dia sudah berkat seperti itu, aku pun terpaksa harus menurutinya dan aku segera kembali ke rumah, saat aku pulang, ku lihat sudah ada Fasya di dalam rumah dan mereka semua datang menghampiriku dengan wajah mereka yang terlihat mencemaskan aku.
Namun aku membenci mereka sekarang karena aku sudah tahu bahwa mereka membohongi aku selama ini.
"TALITA... akhirnya kamu kembali?" Ucap Fasya sambil langsung menghadap jalanku,
"Sayang kamu darimana saja, kenapa kamu baru pulang jam segini, dan kenapa pakaianmu basah juga banyak pasir seperti ini, apa kamu pergi ke pantai?" Tanya ibu kepadaku,
"Iya...aku ke pantai dan aku lelah sekarang. Tolong jangan ganggu aku" ucapku dengan lesu dan berwajah datar membalasnya.
"Tunggu! Talita ada apa denganmu kenapa aku merasa kau berbeda sekarang, aku dan ibumu sangat mencemaskanmu, kenapa kau tidak membalas panggilan dariku, sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini" ucap Fasya sambil memegangi kedua tanganku.
Aku merasa sangat risih dengannya dan segera menarik kembali tanganku dengan cepat.
"Maafkan aku Fasya tapi tolong jaga jarak denganku, meskipun kamu yang sudah menyelamatkan aku, bukan berarti kau harus berbohong seperti itu kepadaku" ucapku kepadanya dan langsung masuk ke dalam kamar.
Aku juga langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dengan cepat karena tidak ingin mereka masuk ke dalam kamar dan menanyakan banyak hal yang sulit untuk aku jawab nantinya.
"A...apa yang baru saja Talita katakan, apa yang dia maksud aku berbohong, aku sama sekali tidak berbohong apapun kepadanya?" Gerutu Fasya memikirkan.
Dia mulai merasa curiga dan sediki aneh karena tatapan Talita padanya sangatlah berbeda drastis saat ini, dia seperti telah melihat Talita yang dulu, Talita yang membencinya dan selalu berdebat dengan dia dimanapun mereka bertemu atau setiap kali di persatuan dalam satu ruangan ketika mereka masih kuliah.
"Tatapan itu....apa Talita sudah...." Gumam Fasya memikirkan.
Namun untungnya disaat Fasya berpikiran ke arah sana, ibu Talita langsung menepuk pundak Fasya dan menyuruh Fasya untuk pulang karena ini sudah sangat malah dan Talita juga sudah kembali sekarang.
"Fasya sudahlah jangan terlalu dipikirkan mungkin Talita sedang murung karena masalah di luar, jangan di ambil hati yah" ucap ibunya Talita sambil menepuk pundak Fasya.
"A..ahh...iya Tante, aku tidak masalah dengan itu" balas Fasya menyembunyikan kecurigaannya,
"Ya sudah kamu lebih baik pulang saja sekarang nanti biar Tante yang membujuk Talita agar dia mau menemuimu" balas itunya Talita,
"Ya sudah Tante terima kasih atas perhatianmu kepadaku dan hubungan ini, kalau begitu aku pulang dulu, selamat malam Tante" ucap Fasya berpamitan.
Dia selalu menjadi seorang pria yang bicak sana, berkarisma dan dia selalu di sukai oleh ibuku, berbeda dengan aku yang bahkan tidak di beri jatah makanan yang enak setiap kali ada Fasya di sampingku, bahkan aku sampai iri dengan Fasya karena ibu terlalu memperhatikan dia melebihi perhatiannya itu kepada aku putri tunggalnya.
Aku sering merasa jengkel ketika mengingat hal itu namun kali ini karena aku tengah berbunga-bunga dan berbahagia aku dengan cepat melupakan hal menjengkelkan tersebut dan aku terus saja merasa sangat senang kali ini, tidak tahu lagi harus bagaimana menggambarkan kebahagiaanku ini.
Yang pasti aku terus saja berguling-guling di ranjang kesana kemari dengan tersenyum luas dan memegangi foto aku dan Alvaro yang aku miliki.
__ADS_1
"Haiden....aahh....pantas saja aku sedikit merasa asing dengannya dan agak sulit mengingatnya dia ternyata mengubah nama panggilannya, tapi kenapa dia mengubah nama panggilannya yah?" Gumamku terus memikirkan.
Lalu aku mulai mengingat kembali tentang Alvaro di dalam pikiranku hingga bayangan mengenai hari itu muncul dengan sangat jelas dalam ingatanku dan ketika aku menutup mata aku seperti kembali ke kejadian saat itu dimana aku di dorong orang dua orang anak buahnya tuan George lalu jatuh tenggelam ke dalam air dan di selamatkan oleh Fasya.
Aku bisa mengingat semuanya aku melihat dengan jelas Alvaro yang tertusuk di badannya dan dia berteriak kepadaku, aku sangat kaget dan langsung saja membelalakkan mataku ketika mengingat kejadian buruk itu.
"Hah....hah....hah..hah...tidak aku tidak mungkin melihat ingatanku yang hilang, itu tidak mungkin, aku....aku jatuh dari atas jembatan yang sangat tinggi dan terbentur.....apa itu benar?" Ucapku terus memikirkan hingga sulit menelan salivaku sendiri.
Aku berusaha mengingatnya lagi karena aku harus memastikannya namun aku tidak cukup berani untuk mengingatnya dan kepalaku terasa sakit lagi sehingga aku tidak memaksakan diriku dan memilih untuk segera beristirahat agar kepalaku tidak terasa sangat sakit lagi.
"Aaa...a...ahhh ..kepalaku sakit sekali, aku tidak bisa mencoba mengingat apapun lagi sekarang" ucapku sambil segera merebahkan tubuhku.
Aku langsung tertidur dan berusaha untuk beristirahat secepatnya agar bisa memulihkan rasa sakit di kepalaku lagi.
Sedangkan disisi lain Haiden Alvaro sudah menyiapkan sebuah rencana untuk melawan ayahnya dan saat ini dia akan melakukan pertemuan bisnis dengan sang ayah dimana perusahaan yang di pimpin oleh ayahnya sudah berada di ambang kebangkrutan sebab terlindas oleh perusahaan yang dia bangun tidak tahu terakhir berada Argo.
Bahkan kini ayahnya sendiri yang meminta bantuan suntikan dana kepadanya dan pada awalnya Alvaro memakai topeng untuk mengejutkan ayahnya itu, disaat sang ayah sudah masuk ke dalam ruangan tamu nya dia langsung bertanya apa yang membawa tuan George itu datang ke kantornya.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk orang kuat dan hebat sepertimu tuan George" ucap Haiden dengan sinisnya.
"Kedatangan saya kemari untuk menawarkan sebuah kesepakatan kerjasama kepada anda, dan anda akan mendapatkan keuntungan yang sanga fantastis jika mau bergabung dengan froyek baru saja, silahkan lihat formulirnya" ucap tuan Gerorge tersebut sambil memberikan sebuah berkas yang di bawa oleh sekretarisnya.
Alvaro langsung mengambil berkas tersebut dan dia langsung merobeknya dengan mudah di hadapan mata tuan George dan dengan sengaja menghamburkan potongan kertasnya itu.
"Apa yang kau lakukan, beraninya kau menghinaku seperti ini, siapa kau sebenarnya!" Bentak tuan Gerorge yang terlihat sangat marah ketika tawaran darinya di tolak oleh seseorang untuk pertama kalinya seperti itu.
Dan dengan cara yang sangat menyinggung perasaannya juga menggores harga dirinya sangat tajam sebab ada sekretaris dia di sampingnya yang menyaksikan kejadian tersebut.
Alvaro masih bersikap santai dan dia berusaha mengingatkan ayah ya tentang kejadian di tiga tahun silam.
"Aku sangat berani menantangmu, dan akulah orang pertama dan terakhir yang paling berani menantangmu, menyinggungmu dan melawanmu secara nyata" ucap Alvaro mengatakannya.
Tuan George langsung membuka matanya sangat lebar dia kaget mendengar ucapan dari Alvaro yang memakai topeng saat itu dan dia semakin kesal juga penasaran karena sejak awal bertemu hingga saat ini tidak ada yang pernah melihat wajah pimpinan perusahaan besar ini yang berani menindasnya begitu, dia tidak bisa menahan emosi dan kesabarannya lagi sebab semua ucapannya selalu di sanggah dan di balikkan kembali kepadanya.
"Kau....siapa kau sebenarnya!" Bentak tuan George sambil langsung menarik topeng yang di pakai oleh Alvaro hingga memperlihatkan wajah Alvaro dengan sangat jelas.
Tuan George yang melihat itu dia langsung membelalakkan matanya sangat kaget bahkan dia langsung memegangi jantungnya dan terkena serangan jantung saat itu juga hingga dia jatuh tersungkur ke lantai sambil meringis memegangi dadanya yang sakit, sedangkan Alvaro hanya diam saja dia sama sekali tidak ingin membantu ayah yang sudah hampir membunuh dia tiga tahun silam.
"KA...KA...kau ...Alvaro...anak sialan itu!" Bentak tuan George sangat sambil memegangi dadanya dan dia langsung jatuh pingsan tidak sadarkan diri saat itu juga.
"Bawa dia ke rumah sakit, aku tidak ingin melihat pria tua yang penyakitan di ruanganku!" Perintah Alvaro kepada anak buahnya.
Dan dengan cepat mereka membawa tuan George ke rumah sakit saat itu juga sedangkan Alvaro hanya bisa menghembuskan nafas lesu untuk beberapa saat.
Karena sebelumnya dia tidak pernah berniat atau berencana untuk mengagetkan ayah ya di waktu tersebut, dia berniat akan menunjukkan wajahnya ketika ayahnya sudah meminta maaf atau memohon kepada dia untuk memberikan dana suntikan ke perusahaannya namun ternyata ayahnya sendiri sudah sangat tidak sabar.
Sehingga secara tidak langsung ayahnya itu menggali kuburannya sendiri dengan menarik topeng yang di pakai oleh Alvaro.
Padahal dia sengaja menutupi wajahnya karena sudah tahu bahwa pria itu akan sangat kaget ketika melihat dia ternyata masih hidup dan Alvaro juga tahu jelas bahwa pria itu memiliki penyakit jantung yang cukup mengkhawatirkan, namun dia sendiri yang membukan topeng penutup wajahnya sehingga dia juga yang jatuh pingsan dan terkena stroke sekaligus ketika di dibawa ke rumah sakit.
"Aishh....dia sudah jatuh lebih cepat dari yang aku duga, padahal aku ingin dia sedikit menderita dahulu sama seperti yang dia lakukan kepadaku tiga tahun yang lalu, dia menusuk perutku dua kali dan meninggalkan aku, membuat pengumuman di publik bahwa kedua putranya meninggal dunia padahal dia sendiri yang membunuh kedua putranya itu secara tidak langsung haha....dasar monster sialan!" Ucap Alvaro menahan emosi di dalam dirinya.
__ADS_1
Meski sudah melihat bahwa ayahnya langsung jatuh sakit dan terkena stroke sekaligus saat itu juga namun rasanya Alvaro masih tidak cukup puas dengan semua itu karena semua penderitaan yang dia rasakan dulu juga lebih menyakitkan dan lebih parah dari sekedar yang dia rasakan saat ini.