
Sehingga secara tidak langsung ayahnya itu menggali kuburannya sendiri dengan menarik topeng yang di pakai oleh Alvaro.
Padahal dia sengaja menutupi wajahnya karena sudah tahu bahwa pria itu akan sangat kaget ketika melihat dia ternyata masih hidup dan Alvaro juga tahu jelas bahwa pria itu memiliki penyakit jantung yang cukup mengkhawatirkan, namun dia sendiri yang membuka topeng penutup wajahnya sehingga dia juga yang jatuh pingsan dan terkena stroke sekaligus ketika di dibawa ke rumah sakit.
"Aishh....dia sudah jatuh lebih cepat dari yang aku duga, padahal aku ingin dia sedikit menderita dahulu sama seperti yang dia lakukan kepadaku tiga tahun yang lalu, dia menusuk perutku dua kali dan meninggalkan aku, membuat pengumuman di publik bahwa kedua putranya meninggal dunia padahal dia sendiri yang memb*nuh kedua putranya itu secara tidak langsung haha....dasar monster sialan!" Ucap Alvaro menahan emosi di dalam dirinya.
Meski sudah melihat bahwa ayahnya langsung jatuh sakit dan terkena stroke sekaligus saat itu juga namun rasanya Alvaro masih tidak cukup puas dengan semua itu karena semua penderitaan yang dia rasakan dulu juga lebih menyakitkan dan lebih parah dari sekedar yang dia rasakan saat ini.
Setelah itu, barulah Haiden Alvaro menyusun rencana lain untuk semakin mengembangkan bisnisnya tersebut dan dia sudah mempersiapkan diri untuk membawa Talita dengannya, dia juga sudah menunggu semua ini dalam waktu yang lama, dia akan melamar Talita dengan caranya sendiri dan dia segera menyuruh Argo untuk menyiapkan semua persiapan lamaran kepada Talita.
"Argo persiapkan untuk lamaran kita pada Talita, aku ingin semuanya sudah siap lusa" ucap Alvaro memberikan perintah.
Argo pun hanya bisa mengangguk dan dia segera pergi melaksanakan perintah dari Alvaro, selama ini Argo memang sahabat sekaligus orang kepercayaan Alvaro, dia juga yang menyelamatkan Alvaro dari kematian dia sangat bersyukur sekali bisa memiliki Argo di sampingnya yang selalu setia menemani dia meski dia berada di titik terendah sekalipun kala itu.
Bahkan Argo terus saja menemani dia hingga kini mereka sudah memiliki perusahaan yang sangat besar dan berhasil mengambil alih perusahaan ayahnya menjadi miliknya juga namun karena Alvaro tidak ingin bersikap serakah dan menjadi sama jahatnya dengan tuan George dia pun membatalkan niatnya itu untuk merebut kepemilikan perusahaan tersebut.
Walaupun memang seharusnya Alvaro itu menjadi sebagai ahli waris tunggal saat ini sebab kakaknya Veri sudah pergi meninggalkannya.
Dia juga menjenguk kakaknya Veri, dia tahu betul semua ini juga mengakibatkan dia kehilangan sang kakak tercinta, kak Veri yang sudah mengorbankan nyawanya sendiri untuk menggantikan posisi dia saat itu dan tidak tahu lagi dimana Veli sekarang, dia langsung kabur melarikan diri dan seakan di telan bumi setelah kejadian pernikahan dia yang gagal total dan kebangkrutan ayahnya.
Padahal dulu Veli selalu mengikuti kemanapun tuan George pergi dan terus saja meminta agar dia bisa di nikahkan dengan salah satu putra tuan George, nyatanya dia memang hanya menginginkan harta keluarga ini, dan untungnya Alvaro ataupun kakaknya kak Veri tidak sempat menikah dengannya meskipun mereka harus mengalami penderitaan yang sangat membekas sampai saat ini.
Alvaro berdiri di depan makan kakaknya dan dia menangis tanpa suara melihat foto kakaknya di atas batu nisan itu yang sekan tengah tersenyum menatap lurus ke arahnya.
"Kak....kau adalah kakak terbaik di dunia ini, kau selalu ada di sampingku di setiap saat, kau juga rela mengorbankan nyawamu untukku, aku sungguh tidak terima si Veli sialan itu lolos begitu saja, demi janjiku kepadamu aku akan menemukan dia dan membalaskan semua sakit hatimu dan atas kepergian mu" ucap Alvaro mengingat janji di depan makan kakaknya sendiri.
Setelah berbicara seperti itu dan berdiri di sana beberapa saat, Haiden Alvaro pun segera pergi dari sana dan mulai mencari tahu lagi mengenai keberadaan Veli saat ini sedang di sisi lain tepat setelah kepergian Alvaro, saat itu Audy juga datang mengunjungi makan kak Veri setelah tiga tahun lamanya dia pergi mengasingkan diri ke luar negeri.
Audy kini sudah berubah drastis dia tidak tomboi seperti tiga tahun yang lalu lagi, dia juga kini memiliki ribut yang panjang sepinggang dan sudah bisa memakai rok juga sepatu hak tinggi, dia datang ke makam kak Veri dan melepaskan rindunya selama ini.
"Hallo kak aku datang sekarang, maaf karena aku tidak mengunjungimu dalam waktu yang sangat lama, aku sangat merindukanmu maka dari itu aku datang padamu hari ini" ucap Audy sambil mengusap batu nisan kak Veri,
"Kak...tahukan kamu bahwa aku sudah banyak berubah sekarang, aku sudah menjadi wanita seutuhnya sama seperti yang kau harapkan, aku berubah demi mewujudkan keinginanmu kak, bukankah sekarang aku terlihat cantik? Lihatlah rambutku sudah panjang sepinggang dan aku juga sudah bisa memakai sepatu hak tinggi, kau tidak perlu mengajariku lagi untuk memakai make up dan lainnya, aku sudah ahli dalam bidang itu kak" tambah Audy terus bercerita sendiri di depan makam kak Veri,
"Kak ...kenapa kau hanya diam saja? Aku mengajakmu berbicara sedari tadi? Ini aku kak, aku Audy bukankah aku wanita yang kau cintai, kenapa kau tidak membalasku, kenapa kau meninggalkan aku terlalu cepat, bahkan kau tidak sempat melihat rambutku tumbuh panjang...hik....hiks...hiks..." Ucap Audy yang mulai menangis dan air mata terus tumpah membasahi pipinya.
Di sisi lain tiba-tiba saja Alvaro langsung kembali ke makam itu karena lupa menaruh bunga untuk kakaknya dan yang dia temukan justru malah seorang wanita yang berjongkok sambil menangis sesenggukan di samping makan kakaknya itu.
Dia pun langsung bertanya kepada wanita tersebut.
"Siapa kau?" Tanya Alvaro yang membuat Audy sangat kaget hingga dia langsung menengadahkan kepalanya dan segera bangkit berdiri.
"A...a...Alvaro? Ini sungguh kau?" Ucap Audy sangat kaget ketika melihat Alvaro berdiri di hadapannya dengan gagah dan tegap.
Itu sangat sulit sekali di percaya oleh Audy karena yang dia tahu dari pemberitaan bahwa kedua putra tuan George meninggal dunia di hari yang bersamaan meskipun memang kematian mengenai Alvaro di rahasiakan saat itu hingga semua rumor kembali tertumpuk dengan seiring datang nya berita lain yang lebih booming sehingga semua itu hilang di telan waktu.
Dan kini tiba-tiba saja dia melihat sosok Alvaro di hadapannya berdiri dengan memakai setelah hitam lengkap serta sebuah bunga di tangannya, itu membuat Audy mengira dia adalah hantu karena wajahnya juga tidak memiliki ekspresi sedikitpun.
"Apa kau.... Jangan-jangan kau..hantu?" Ucap Audy sambil menatap ketakutan dan dia langsung mundur menjaga jarak dari Alvaro.
Alvaro yang mendengar itu dia justru malah tertawa melihat Audy yang ketakutan melihatnya seperti itu.
"Ahaha....kau bota apa? Mana ada hantu setampan aku, aku manusia, aku kesini untuk memberikan bunga ini bagi kakak kesayanganku, dan kau kenapa kau ada disini, lama sekali kita tidak bertemu" ucap Alvaro sambil menaruh bunga yang dia bawah diatas makam kakaknya lalu dia segera kembali bangkit berdiri.
Audy masih merasa sedikit ragu meski Alvaro sudah mengatakan bahwa dia adalah manusia bukan seorang hantu ataupun makhluk halus dan sejenisnya.
Untuk memastikan itu, Bahkan Audy langsung berjalan mendekati Alvaro lalu berusaha memegangi tangannya perlahan dan terus mencubit tangan Alvaro sangat kuat hingga membuat Alvaro menjerit kesakitan dan merutuki Audy dengan kasar.
"Aaarrkkkhhh....aishh...dasar kau sialan!" Ucap Alvaro sangat keras sambil menepuk tangan Audy yang mencubit tangannya itu.
Melihat reaksi tersebut Audy langsung tersenyum dan dia merasa sangat senang juga gembira karena ternyata yang dia lihat di hadapannya sungguh Alvaro seorang manusia dan dia kini tidak merasa ragu lagi.
"Wahh...kau manusia... Aahhh aku merasa sangat lega sekarang karena ternyata kau benar manusia" ujar Audy sangat senang sambil tersenyum lebar.
Sedangkan Alvaro menatapnya dengan tatapan yang tajam dan menusuk hingga membuat Audy langsung terdiam membeku dan dia langsung meminta maaf kepadanya karena sudah menduga Alvaro sebagai hantu dan tidak mempercayai ucapan dari dia sebelumnya juga sudah mencubit dia barusan.
"Ma..maafkan aku Alvaro aku kita kau hantu, aku minta maaf" ucap Audy sambil membungkuk.
Alvaro tidak memaafkannya dan dia langsung saja mengajak Audy untuk ikut bersamanya karena ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Audy.
Itu juga sebuah keberuntungan bagi Alvaro karena takdir mempertemukan mereka secara tidak sengaja seperti itu sehingga Alvaro tidak perlu mencarinya dengan susah payah lagi, sebab Talita selalu ingin bertemu dengannya.
Alvaro mengajak Audy ke sebuah restoran yang ada di dekat sana dan segera berbicara mengobrol dengannya mengenai banyak hal hingga Alvaro menunjukkan sebuah foto dimana itu adalah foto dia dengan Talita di sebuah pantai beberapa hari yang lalu, kini Audy juga kembali sangat kaget saat melihat ternyata Talita juga masih hidup.
Dia merasakan perasaan yang aneh dan sulit untuk dia gambarkan, antara senang, sedih dan merasa bersalah namun rasa yang paling mendominasi dari perasaannya adalah rasa haru dan sangat bahagia mengetahui ternyata Talita masih hidup dan selamat dari tragedi tersebut, padahal jatuh dari jembatan yang sangat tinggi dan langsung jatuh ke sungai yang dalam adalah sebuah kemustahilan untuk selamat.
"AA...apa, apa itu sungguh Talita yang aku kenal? Apa dia sungguh Talita sahabat ku?" Tanya Audy memastikan kepada Alvaro.
Dia terus menatap foto di dalam ponsel Alvaro tersebut.
Dia bawakan memperbesar fotonya, terlihat sekali dari sorot mata Audy bahwa dia sangat merindukan sosok Talita dan dia sungguh merasa senang melihat bahwa sahabatnya baik-baik saja.
"Iya, itu adalah Talita sahabat mu, dia masih hidup dan aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa selamat dari sungai yang sangat dalam itu, tapi aku sangat senang karena takdir mempertemukan aku dengan dia lagi dalam sebuah acara pelelangan amal beberapa hari yang lalu dan dia ternyata mengalami hilang ingatan, dia juga tidak mengingatmu, tapi dia sudah mengingatku sekarang" ucap Alvaro menjelaskan kepada Audy,
"Bagus....itu bagus untuknya agar melupakan sahabat bodoh sepertiku, aku sudah membawa dia dalam bahaya dan aku meninggalkan dia begitu saja, aku seorang pecundang dan bukan sahabat yang baik untuk nya, melupakan aku adalah yang terbaik untuknya" ujar Audy dengan nada yang sendu,
Dia menangis tersedu-sedu sambil mengembalikan ponsel itu kepada Alvaro dan Alvaro dengan perlahan menggeser kan tisyu kepada Audy agar dia menghapus air matanya itu.
"Hapus air matamu aku benci melihat seorang wanita menangis!" Ucap Alvaro sambil menggeser kotak tisyu disana.
Audy pun langsung mengambil tisyu itu dan dia langsung menghapus air matanya dengan cepat hingga Alvaro pun langsung kembali berbicara kepada Audy juga mengajak dia untuk bertemu dengan Talita.
"Audy aku mengajakmu untuk mengobrol karena aku ingin membawamu menemui Talita, dia sangat ingin menemuimu padahal dia sudah melupakanmu, dia tidak ingat apapun tentangmu tali dia masih mau melihatmu dia bahkan bilang bahwa dia menyukai wanita yang ada di foto tersebut, dia membawa sebuah foto dimana hanya ada kalian berdua di foto itu" ucap Alvaro mengatakan niat awalnya.
Sayangnya Audy menolak itu dengan keras dia tidak ingin menemui Talita, dia merasa sangat malu dan dia tidak ingin menemui Talita dalam keadaannya yang seperti ini.
"Tidak Alvaro, aku tidak akan menemuinya, kau jaga saja dia aku percaya padamu kau bisa menjaga dia dan melindunginya selalu, aku bukan sahabat yang baik untuknya, aku tidak ingin menemui dia dalam kondisi aku yang masih di hantui dengan rasa bersalah" balas Audy menolak ajakan Alvaro,
"Audy apa kau gila? Kau harus menemuinya jika kau merasa bersalah kepadanya, kau harus menjelaskan semua kepada dia, lagi lupa aku yang membuat rencana itu dan kau sama sekali tidak bersalah, tolong jangan membuat aku kesal padamu!" Ucap Alvaro yang mulai meninggikan suaranya kepada Audy.
Haiden Alvaro sangat kesal dan dia berusaha menahan emosi dalam dirinya untuk tidak marah dan berbicara kasar kepada Audy karena mau bagaimanapun dia adalah sahabat Talita dan dia adalah satu-satunya orang yang ingin Talita temui selama ini selain dirinya.
"Alvaro apa kau yakin bahwa Talita akan memaafkan aku jika seandainya dia mengingat semuanya dengan utuh?" Tanya Audy kepada Alvaro,
"Kau pikirkan saja, jika dia bisa memaafkan aku disaat dia mengingat aku seutuhnya bahkan dia tahu aku pernah meninggalkan dia sebelumnya, dia tetap membuka hatinya untukku yang sudah menyakiti dia dua kali, bagaimana denganmu? Kau sahabat terbaik dia, dan dia terus memintaku untuk mempertemukan dia denganmu, dia sangat menyayangimu Audy dan aku yakin dia akan memaafkanmu" ucap Alvaro sambil memegangi kedua pundak Audy dan memberikan keyakinan yang kuat kepadanya.
Alvaro dengan susah payah meyakinkan Audy untuk mau di pertemukan dengan Talita sebab dia ingin mewujudkan keinginan Talita tersebut tepat di acara dimana dia akan mengajak Talita untuk menikah dengannya dan hidup dengan dia selamanya.
Setelah Alvaro membujuk Audy dengan susah payah dan meyakinkan dia berkali kali hingga Alvaro bahkan sampai geleng-geleng kepala di buatnya dan dia sudah memijat keningnya berkali-kali, akhirnya Audy mau juga untuk menemui Talita dan Alvaro langsung merasa senang dan gembira ketika mendengar Audy mau menerima ajakannya tersebut.
"Baiklah Alvaro aku mau, aku mau menemui Talita, dan aku akan meminta maaf kepada dia secara langsung, aku juga sangat merindukan dia" balas Audy yang akhirnya menyetujui.
"Wahhhh .. akhirnya kau setuju juga, aaahhh kenapa kau tidak mengatakan itu sedari tadi sih, membuat aku naik darah dan jengkel saja" ucap Alvaro sambil mengusap kepalanya pelan,
"Ya aku kan tadi merasa tidak enak dan penuh rasa bersalah pada Talita jadi wajah saja jika aku merasa tidak pantas menemuinya" balas Audy yang masih saja merasa kecil hati seperti itu.
Bahkan Alvaro sudah tidak ingin mendengar kalimat itu dan dia langsung saja membawa Audy untuk pulang dengan dia ke rumah yang di tempati oleh Argo dan dirinya karena rupanya saat itu Audy baru saja pulang ke Indonesia dan dia tidak memiliki tempat tinggal sama sekali di sana sebab kedua orang tuanya tinggal di luar negeri dan ibunya sudah meninggal dunia satu tahun yang lalu, sehingga dia tidak tahu harus tinggal dimana sekarang.
"Alvaro bolehkah aku tinggal di rumahmu untuk sementara waktu?" Tanya Audy meminta izin pada awalnya.
Alvaro yang mendengar itu dia kaget bukan main dan langsung saja membelalakkan matanya sangat lebar, dia langsung membentak Audy dan melarangnya.
"Tidak.... Kau tidak bisa tinggal di tempatku, rumahku itu sempit di tambah Argo juga tinggal denganku, aku akan membawamu ke hotel terdekat saja" ucap Alvaro kepada Audy, dan menolaknya dengan cepat,
"Aishh ...aku meminta tinggal denganmu bukan tinggal di hotel kenapa kau tidak mau, ya sudah jika kau tidak mengijinkan aku tinggal di tempatmu aku tidak akan menemui Talita dan aku tidak akan menyukseskan rencana lamaranmu itu!" Bentak Audy sengaja mengancamnya.
Mendengar itu Alvaro langsung membalikkan badan dan dia melipat mulutnya ke dalam dengan keras sambil menahan emosi karena sangat jengkel dalam menghadapi Audy yang sangat membuat dia pusing.
"Aaarrgkkkhhh ...baiklah... Iya iya kau boleh tinggal di tempatku tapi ingat jangan melewati batas yang akan aku buat nanti!" Ucap Alvaro memberikan syarat yang pada akhirnya dia mengijinkan Audy untuk tinggal di tempatnya.
Audy langsung mengangguk dengan senang karena akhirnya dia bisa tinggal tanpa mengeluarkan uang sedikitpun karena dia hanya membawa sedikit uang saat itu dan ayahnya masih belum bisa memberikan dia kiriman uang terlebih dia juga harus mencari kado untuk Talita sehingga sengaja dia memilih untuk tinggal di kediaman Alvaro meski sejujur nya dia juga tidak ingin tinggal bersama orang menjengkelkan dan keras kepala sepertinya.
__ADS_1
"Yes....aku bisa sedikit mengirit uangku hehe terimakasih Alvaro" ucap Audy merasa senang.
Alvaro hanya bisa mengacak rambut bagian belakangnya dengan cukup keras dan dia sangat kesal hingga dia pun langsung membawa Audy pulang ke kediamannya dan bertemu dengan Argo yang menatap dengan heran melihat Audy yang nampak berbeda sejak terakhir kali dia bertemu dengannya tiga tahun yang lalu.
"Wahh.....tuan Alvaro kau datang dengan siapa ini?" Tanya Argo dengan membuka matanya lebar.
"Aahhh tidak tahu dia anak pungut, kau urus saja dia, mulai sekarang dia akan tinggal di lantai bawah denganmu dan jangan pernah izinkan dia untuk naik ke lantai atas!" Ucap Alvaro sambil meninggalkan aku begitu saja.
Sedangkan Argo terus menatap pada Audy dengan tatapan yang lekat dan dia berjalan memutari Audy melihat semua penampilan Audy dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kau Audy? Sahabatnya Talita bukan? Tanya Argo setelah memperhatikannya beberapa saat,
Audy yang merasa kesal di perhatikan seperti itu dia langsung saja membentak Argo dan meminta dia untuk mengantarkan Audy ke kamar yang bisa dia tempati di rumah itu sebab dia sudah sangat lelah.
"Iya aku Audy apa kau bisa berhenti memperhatikan aku seperti itu? Apa aku ini ******* apa?" Bentak Audy dengan sedikit kesal,
"A...ahhh..maaf aku hanya merasa aneh dan tadi aku pikir kau bukan Audy, ayo masuk" balas Argo yang langsung mempersilahkannya untuk segera masuk ke dalam,
"CK....dari tadi kek kau mengajak aku masuk, dimana kamar yang bisa aku tempati?" Tanyaku kepadanya setelah masuk ke dalam,
"Itu dua kamar disana adalah kamar tamu kau bisa memilih salah satunya" balas Argo sambil menunjukkan ke arah dua kamar yang ada di sebrang sana.
Aku pun mengangguk dan segera pergi ke sana Argo juga pergi entah ke mana aku hanya segera masuk ke dalam kamar dan aku segera menaruh barang-barang milikku di dalam lemari yang ada disana aku segera mandi dan juga mengistirahatkan diriku sampai ketika aku baru saja hendak tidur dengan menaikkan selimut ke dadaku.
Tiba-tiba saja terdengar dari luar ketukan pintu beberapa kali yang membuat aku kesal dan jengkel di buatnya karena terus saja pintu itu di ketuk olehnya.
"Aaahh...saatnya aku tidur dan bermimpi indah" ucap Audy sambil menaikkan selimutnya.
Dan baru saja ketika dia hendak menutup matanya suara ketukan pintu di luar membuat dia harus membuka matanya lagi dengan kesal.
"Tok....tok...tok..." Suara ketukan pintu yang di ketuk oleh Argo,
"Aishh....sialan! Siapa sih yang berani mengetuk pintu di tengah malam begini aishhh ....aaarrkkhhhhhh!" Gerutu Audy merasa sangat kesal.
Karena ketukan pintu itu tidak berhenti juga meski Audy sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dia pun terpaksa bangkit dari ranjang dan segera membuka pintu kamarnya itu sambi langsung membentak dengan keras.
"Aaarggkkk....berganti! Kenapa kau mengetuk pintu kamarku terus? Aku ingin tidur bod..." Ucap Audy hendak memakai namun tertahan karena melihat ternyata itu adalah Argo.
Dia pun langsung diam dan bersikap lebih tenang kepada Argo.
"AA..ahhh..kau...yah aku pikir si Alvaro sialan itu, ada apa kau mengetuk pintu kamarku sebanyak itu?" Tanya Audy dengan jutek karena dia sudah sangat mengantuk dan ingin istirahat,
"Ini aku hanya ingin menawarkan makana kepadamu, kau pasti belum makan bukan? Alvaro bilang kau baru tiba dari luar negeri makanya aku sengaja memasakkan mie untukmu, tadinya aku ingin memasakkan sesuatu untukmu tapi di sini tidak ada makanan apapun selain mie instan ini" ucap Argo sambil menyodorkan mangkuk berisi mie kepada Audy.
Audy langsung membelalakkan matanya sempurna dia sangat kaget dan tidak menduga ternyata orang yang dia rutukki sedari tadi rupanya Argo yang mau memberikan makanan kepadanya dengan baik seperti itu, dia merasa bersalah dan tidak enak hati sekarang.
Audy langsung keluar dari kamarnya dan dia segera membawa mie itu lalu duduk di meja makan yang ada disana.
"Aahhh....kau mau memberiku ini yah, tidak papa mie instan juga aku suka, terimakasih ya Argo kau memang yang paling baik, tidak seperti si Alvaro itu aku harus mengancam ya dulu baru bisa mengijinkan aku menumpang di rumahnya" balasku sambil mulai menikmati mie buatan Argo itu.
Dan tidak aku sangka mienya sangat erat bahkan lebih enak dari mie yang biasa aku masak sendiri selama ini.
"Eummm....mie nya enak, ini lebih enak dari pada buatanku ahaha....kau ternyata pandai juga yah" ucap Audy sambil terus menikmati mie nya itu dengan lahat.
Argo diam-diam tersenyum kecil melihat Audy menikmati mie buatannya dan dia merasa senang karena usahanya untuk memasak tengah malam begini tidak sia-sia sebab Audy menghabiskan semua mie nya hingga kosong bahkan dia juga menyeruput kuah mie nya juga.
"Audy apa mie buatanku seenak itu yah?" Tanya Argo yang sedikit heran melihat Audy memakannya sangat lahap,
"Iya itu sangat enak menurutku karena aku sama sekali tidak bisa memasak apapun hehe" balas Audy sambil tersenyum lebar pada Argo dan dia segera meneguk air yang di berikan oleh Argo kepadanya.
"Syuuuytt...." Suara Audy yang menyeruput air minum,
"Aaahhh..... Ini sangat menyegarkan" ucap Audy sambil mengusap mulutnya yang belepotan.
Argo hanya tersenyum kecil melihat Audy yang makan dengan begitu lahap.
"Ehhh....kau tersenyum menertawakan aku yah?" Tanya Audy yang tersinggung.
"A..a..a...ahhh...tidak kok aku hanya aahh aku hoaammm mengantuk aku harus tidur bye Audy" ucap Argo pergi begitu saja setelah itu,
"Ehhh ....dia bisa mengangguk secara tiba-tiba memangnya? Aneh sekali?" Gerutu Audy dengan heran.
Audy pun segera membersihkan mangkuk kotor bekas makanan nya dan dia segera kembali masuk ke dalam kamar setelah membersihkan semuanya, akhirnya kini Audy bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman juga perutnya yang sudah kenyang karena mie dari Argo.
"Aaahhhh...sekarang baru waktunya untuk tidur" ucap Audy lalu seger mematikan lampu kamarnya.
Dia pun tidur dengan lelap secepatnya malam itu.
Sedangkan di sisi lain aku justru malah tidak bisa tertidur dengan lelap sebab tidak bisa bertemu dengan Alvaro selama beberapa hari ini, aku juga sudah sangat merindukannya namun dia tidak pernah muncul lagi di hadapanku meski aku sering datang ke perusahaan nya untuk mencari keberadaan dia namun tetap saja aku tidak menemukannya.
Hingga malam ini aku mulai merasa resah karena dia tidak kunjung menemui aku juga selama berhari-hari, terlebih aku juga tidak memiliki kontak nomor ponselnya sehingga aku tidak bisa menghubungi dia.
"Aaahh ... bagaimana jika ternyata dia meninggalkan aku lagi seperti yang sebelumnya?" Ucapku bicara sendiri dan merasa resah tidak menentu.
Pikiranku terus saja berkecamuk tidak menentu dan aku tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkannya aku terus saja berjalan mondar mandi di samping ranjangku dan memegangi ponselku berharap dia akan menghubungiku meski aku tahu dia mungkin tidak akan mengetahui nomor ponselku yang baru ini.
"Aaaahhh...awas saja kau Alvaro, jika kau meninggalkan aku seperti sebelumnya lagi, aku tidak akan memaafkan kami untuk selamanya dan aku akan benar-benar menikahi kak Fasya itu!" Ucapku sudah memutuskan dengan kesal.
Aku cemberut terus dan akhirnya segera aku tidur ke ranjang karena aku tahu ibuku akan mengintip dari sela sela pintu kamarku.
"Aaahhh ...itu pasti ibu, dia selalu saja memeriksaku, aku harus mematikan lampu dahulu" ucapku sambil segera mematikan lampu kamarku dengan cepat.
Hingga malam ini aku mulai merasa resah karena dia tidak kunjung menemui aku juga selama berhari-hari, terlebih aku juga tidak memiliki kontak nomor ponselnya sehingga aku tidak bisa menghubungi dia.
"Aaahh ... bagaimana jika ternyata dia meninggalkan aku lagi seperti yang sebelumnya?" Ucapku bicara sendiri dan merasa resah tidak menentu.
Pikiranku terus saja berkecamuk tidak menentu dan aku tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkannya aku terus saja berjalan mondar mandi di samping ranjangku dan memegangi ponselku berharap dia akan menghubungiku meski aku tahu dia mungkin tidak akan mengetahui nomor ponselku yang baru ini.
"Aaaahhh...awas saja kau Alvaro, jika kau meninggalkan aku seperti sebelumnya lagi, aku tidak akan memaafkan kami untuk selamanya dan aku akan benar-benar menikahi kak Fasya itu!" Ucapku sudah memutuskan dengan kesal.
Aku cemberut terus dan akhirnya segera aku tidur ke ranjang karena aku tahu ibuku akan mengintip dari sela sela pintu kamarku.
"Aaahhh ...itu pasti ibu, dia selalu saja memeriksaku, aku harus mematikan lampu dahulu" ucapku sambil segera mematikan lampu kamarku dengan cepat.
Hingga di ke esokan paginya Argo sudah bangun lebih awal dia pun mengajak Audy untuk pergi berbelanja perhiasan untuk nantinya di berikan oleh tuan Alvaro kepada Talita dan karena Audy adalah sahabat dekatnya tentu saja Audy mengetahui apa yang di sukai oleh Talita sedangkan disisi lain Alvaro langsung menemui Talita di depan rumahnya dia sengaja datang ke sana pagi-pagi sekali dan menunggu hingga Talita turun dari rumahnya.
Hingga ketika aku keluar dari rumah dan hendak pergi ke cafe aku merasa seperti ada sebuah mobil di belakangku yang sedari tadi terus saja mengikuti aku aku pun merasa sedikit panik dan aku terus melajukan mobilku dengan lebih cepat hingga ketika aku sampai di cafe aku langsung masuk ke dalam dan rupanya di dalam ada Fasya yang menunggu kedatanganku.
Lalu disaat aku baru saja hendak mengabaikan Fasya dari luar cafe masuk Alvaro yang secara tiba-tiba datang menemui aku ke cafe tersebut dan mereka saling bertemu pada akhirnya.
"Alvaro?" Ucap Fasya dengan kaget dan itu membuat aku langsung membalikkan badan saat mendengar kak Fasya menyebutkan nama Alvaro.
Saat aku membalikan badan rupanya itu memang sungguh Alvaro dan aku merasa senang karena dia akhirnya datang menemui aku juga, aku langsung berlari ke arahnya dan memeluk dia secara langsung saat itu juga.
"Aahhhh... akhirnya kau datang juga Alvaro aku sudah menunggumu sangat lama, kemana saja kau beberapa hari ini?" Tanyaku kepadanya.
Saking rindunya aku dengan Alvaro aku sampai lupa bahwa saat itu disana juga ada kak Fasya dan kak Fasya langsung menarik tanganku di saat aku tengah memeluk Alvaro saat itu sedangkan Alvaro langsung menahan tangan kak Fasya dengan kuat.
"Talita menjauh darinya ayo ikut aku" ucap Fasya sambil hendak meraih tanganku namun dengan cepat di tahan oleh Alvaro,
"Dia kekasihku sejak awal jadi dia akan bersama denganku hingga akhirnya!" Ucap Alvaro dengan tegas,
Mereka saling melemparkan tatapan yang tajam seperti hendak membunuh satu sama lain lewat tatapan mata mereka yang sangat tajam dan menyeramkan satu sama lain.
Melihat itu aku tentu tidak bisa diam saja dan aku segera melepaskan pelukanku dari Alvaro begitu dengan dengan pegangan tangan kak Fasya yang memegangi tanganku sebelumnya.
"E...eh...sudah kenapa kalian berdua malah bertengkar dan saling melemparkan tatapan tajam seperti itu" ucapku misahkan mereka.
Aku mendorong Alvaro untuk sedikit menjauh dari kak Fasya dan aku juga mendorong kak Fasya untuk menjauh dari Alvaro karena aku takut mereka akan bertengkar di cafe ku ini, dimana disana juga tengah banyak pengunjung yang datang, karena melihat mereka yang tetap tidak ada yang mau mengalah aku pun langsung menarik mereka berdua untuk keluar dari cafe sebelum pertengkaran akan benar-benar si mulai saat itu.
"Aishhh...kalian berdua tidak mendengarkan aku, ayo cepat keluar aaahhhh masa sih aku harus mendorong dia manusia berbadan tinggi dan kekar ini" ucapku mengomel sendiri.
__ADS_1
Sampai akhirnya mereka berdua pun mau keluar dari cafe dan menyelesaikan permasalahan diantara kami saat itu.
Saat sudah berada di luar kak Fasya langsung menarik tanganku dan Alvaro juga menarik tanganku yang satunya lagi.
"Dia adalah tunanganku, lepaskan tanganmu darinya!" Ucap Fasya dengan matanya yang masih terlihat kesal,
"Tidak dia adalah calon istriku jauh sebelum kau ada!" Ujar Alvaro yang tidak mau kalah.
Mereka pun malah saling tarik menarik aku satu sama lain hingga aku berteriak merasakan sakit di kedua tanganku karena mereka terus menarikku dengan sekuat tenaga mereka sedangkan mereka sendiri tidak melihat keadaanku yang terombang abimah oleh ulah mereka sendiri,
"Tidak dia akan menikah denganku!" Balas kak Fasya,
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, karena dia milikku sampai kapan pun!" Bentak Alvaro menarik aku ke sisinya.
"Aduduh....hey ...hentikan tingkah konyol kalian ini, aahh tanganku akan copot jika kalian terus melakukan hal seperti ini kepadaku" ucapku menghentikan mereka yang pada akhirnya kak Fasya melepaskan tanganku dan membuat aku langsung tersungkur pada pelukan Alvaro.
"Aaahhhh ...." Teriakku langsung menubruk dada bidang Alvaro dan dia memelukku,
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alvaro mencemaskanku dan aku segera membalasnya dengan anggukan.
Sampai tidak lama hal yang aku tidak sangka lagi adalah, ibu juga datang ke cafe saat itu dan dia melihat dengan jelas dimana Alvaro memelukku dan mereka berdua memperebutkan aku sebelumnya, disaat aku berada di samping Alvaro ibu langsung membentak aku dari jauh dan berjalan cepat menghampiri aku lalu menarik tanganku dan membawa aku ke sisi kak Fasya dengannya.
"Talita!...apa apaan kau ini, kemari kau!" Teriak ibuku sambil menarik tanganku dengan cepat,
"Ehhh ..ibu ada apa denganmu lepaskan aku!" Ucapku berontak hingga ibu melepaskan genggaman tangannya dari tanganku,
"Talita apa kau ini bodoh atau apa hah? Dia adalah pria yang sudah menyebabkan kamu hampir kehilangan nyawamu dan kau tahu ayahnya yang memecat ibu seenaknya dari perusahaan itu hanya karena ibu adalah ibumu, dan Fasya yang menolongmu dia juga yang membantu ibu kembali mendapatkan pekerjaan, apa lagi kau lihat dan kau harapkan dari pria pecundang sepertinya yang bahkan dia tidak bisa melindungi kami dengan baik!" Bentak ibuku sangat keras dengan matanya yang melotot lebar dan urat di lehernya yang keluar saat bicara karena kesalnya.
Aku hanya diam termenung melihat ibu yang marah dan berbicara sekeras itu kepadaku untuk pertama kalinya, karena aku tahu jelas sebelumnya bahwa ibu tidak pernah berbicara sekeras dan se kasar ini kepadaku sekalipun aku melakukan banyak kesalahan.
"I...ibu...kenapa kau berbicara dengan nada yang tinggi kepadaku? Kenapa kau terus membela Fasya? Sebenarnya yang anai aku atau dia? Kenapa kau terus berada di pihaknya?" Bentakku berteriak tak kalah keras pada ibuku,
"Talita kau sudah berani melawan ibu hanya demi pria itu?" Ucap ibu kepadaku,
"Iya Bu....aku akan lebih memilih Alvaro di bandingkan mu, kamu yang selalu membela Fasya bahkan sebelum dia pernah menyelamatkan aku, aku sudah mengingat semuanya Bu aku tahu siapa dia dia adalah Haiden Alvaro, pria yang aku cintai sejak lama dan hanya dia yang aku cintai sejak awal hingga akhir, sedangkan pria di sampingku ini, dia adalah Fasya kakak kelas dan senior ku di kampus, aku ingat semua hal buruk yang dia lakukan kepadaku dan aku membencinya setiap kali mengingat hal itu!" Bentakku mengatakan semuanya kepada ibuku di depan Fasya dan Alvaro disana.
Ibuku langsung diam membisu ketika mendengar bahwa aku sudah mengingat semuanya dengan jelas dia langsung menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
Sebenarnya aku merasa sangat tidak tega melihat ibuku menangis seperti itu karena bentakkan dariku, tapi hanya itulah yang bisa aku lakukan kepadanya aku harus meninggikan suaraku agar dia mendengarkan aku, agar ibu tidak terus mendesak aku dan mendominasi aku untuk terus bersama pria yang tidak aku sukai.
"Talita apa yang kau katakan, jika kamu benar sudah mengingat semuanya seharusnya kamu tahu bahwa Alvaro yang membuatmu hampir mati, kenapa kamu membelanya juga?" Ucap ibuku sambil memegangi kedua tanganku dengan erat,
"Ibu salah paham tentang Alvaro selama ini, dia tidak membunuhku tapi dia juga di bunuh saat itu, dia hanya gagal menyelamatkan aku Bu, sedangkan Fasya.....dia yang membully aku di kampus saat itu, seandainya ibu tahu apa yang dia lakukan kepadaku, mungkin ibu juga tidak akan menyukainya, tapi apa? Aku tidak pernah mengatakan semua itu kepada ibu karena aku tidak ingin membuatmu kecewa, aku tidak ingin kau terluka dengan orang sepertinya sampai aku hilang ingatan dan dia memanfaatkan aku" bentakku sambil menatap Fasya dengan tajam.
Kini Fasya terlihat menunduk dan dia dengan cepat mendekatiku.
"Talita semua itu hanyalah kesalah pahaman maaf aku jika semua itu menyakitimu akuinta maaf Talita, tapi aku sudah benar-benar berubah karenamu, aku tidak akan memperlakukan kamu seperti itu lagi" ucap Fasya sambil memegangi tanganku yang sebelahnya.
Sayangnya meski dia sudah meminta maaf dan bersikeras membela dirinya di hadapan aku dan ibuku, pintu maafku sudah tertutup untuknya karena dia sudah membohongi aku tiga tahun lamanya, dan dalam tiga tahun itu juga dia sudah memanfaatkan aku dalam segala hal bahkan dia akan menikahi aku tanpa mengijinkan aku mengingat semua ingatan yang hilang dalam pikiranku terlebih dahulu.
Bukankah semua itu sudah cukup menjadi sebuah bukti bahwa dia bukanlah orang yang baik untukku karena dia memanfaatkan situasi untuk kepentingan dan keuntungan dirinya sendiri agar bisa mendapatkan aku dan membuat aku terus melupakan semua masa laluku begitu saja.
Tapi untungnya aku tidak bodoh sehingga aku tetap terus berusaha mengingat ingat ingatanku yang hilang selama ini sampai ketika aku bertemu dengan Alvaro perlahan ingatan itu mulai muncul dan semakin berkembang dalam seiring berjalannya waktu dan beberapa tempat yang aku temui sehingga membuat aku menemukan siapa aku sebenarnya saat ini.
Ibu hanya diam saja termenung mendengarkan ucapanku saat itu, dan di depan ibu saat itu juga aku mengatakan semua perlakuan Fasya kepadaku di masala lalu yang masih aku ingat agar bisa membuat ibu berhenti membela pem bully sepertinya.
"Bu....dengarkan aku dan aku mohon percayalah kepadaku, aku tidak menyukai Fasya bukan karena apapun, tapi karena dia adalah orang yang membully aku di kampus sebelumnya, seandainya ibu tahu sejahat apa dia kepadaku? Dia selalu mempermalukan aku di hadapan banyak orang Bu, bahkan dia juga pernah menghukum aku dengan hukuman yang sangat berat sekali untukku, namun untung orang lain membantuku, dan ibu tahu siapa orang itu? Orang itunadalah Alvaro dan Argo mereka yang tetap melindungi aku secara diam-diam, bukan Fasya yang hanya terlihat baik ketika di hadapanmu saja" ucapku mengatakan semuanya kepada ibuku.
"Talita aku tahu aku salah saat itu tapi itu dulu, aku sudah berubah sekarang Talita aku mohon kembalilah denganku" ucap Fasya membujukku.
Ibu langsung menarik tangan Fasya dan menjauhkan dia dariku.
"Cukup Fasya.... Tante lebih mempercayai putri Tante sekarang, Tante ingin melihat dia bahagia dan kau carilah wanita lain yang jauh lebih baik dari pada putriku, Tante yakin kau bisa menemukan yang lebih baik dari pada Talita" ucap ibuku sambil memegangi tangan Fasya.
Dia pun langsung memeluk ibuku dan menangis tersedu-sedu dalam beberapa saat.
Itu adalah perta kalinya aku melihat seorang kak Fasya menangis tersedu sedu seperti itu hanya karena pertunangan aku dan dia putus dan kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Sebenarnya akumjuga sangat merasa iba dan kasihan melihatnya namun mau bagaimana lagi dia sangat menjengkelkan dan aku juga masih cukup kesal kepadanya karena dia sudah tega membohongi aku dan memanfaatkan aku selama tiga tahun lamanya bahkan dia sudah hampir membuat aku menikahinya dan melupakan Alvaro, orang yang jelas sangat aku cintai
Karena merasa tidak tega melihat dia menangis dan menyesali perbuatannya seperti itu kepada ibuku aku pun segera menghampirinya dan menenangkan dia sebisa aku.
"Kak Fasya sudah jangan membuatku merasa beralasan seperti itu kepadamu, aku minta maaf karena tidak bisa menerimamu, karena orang yang aku cintai hanyalah Alvaro, maafkan aku kak Fasya, tapi aku tahu jika kau memang sudah banyak berubah dan aku berterima kasih banyak kepadamu karena sudah menyelamatkan aku di sungai saat itu" ucapku sambil menepuk pundaknya pelan.
Akhirnya Kaka Fasya mau berhenti menangis dan dia menatap lekat kepadaku.
"Talita aku akan selalu menyayangimu, jika Alvaro meninggalkan kau, aku akan selalu ada untukmu meskipun aku tidak bisa memilikimu setidaknya aku ingin tetap di sampingmu meski hanya kau anggap teman saja" balas dia kepadaku dan segera aku balas dengan anggukan dengan cepat.
"Iya kak...kau adalah teman bahkan kau seperti kakak untukku, dan terimakasih karena sudah melepaskan aku dengan ikhlas" balasku kepadanya.
"Sebenarnya aku tidak ikhlas, namun mau bagaimana lagi jika kalian berdua memang saling mencintai, aku juga tidak bisa melakukan apapun lagi" balas kak Fasya yang membuat aku menahan tawa saat itu juga.
Aku pun menatap ke arah ibuku dan meminta restu kepadanya tentang hubungan aku dengan Alvaro.
Karena mau bagaimana pun restu seorang ibu sangatlah penting untuk keberlangsungan suatu hubungan yang harmonis dan selalu membawa kebahagiaan nantinya.
"Ibu sekarang aku mohon kepadamu dan aku minta restu darimu, tolong beri aku restu dan doakan hubungan aku dengan Alvaro" ucap meminta restu pada ibu.
Begitu juga dengan Alvaro yang membungkuk dan mencium tangan ibuku dia juga mengatakan hal yang sama dan dia meminta agar ibuku memberikan putrinya kepada dia.
"Tentu saya mohon kepada anda, saya sangat menyayangi Talita dan kami saling mencintai satu sama lain, tidakkah anda tega melihat kami berhubungan tanpa restu dari seorang ibu seperti anda?" Ucap Alvaro yang membuat ibuku langsung mengangguk menyetujui hubungan kami.
Aku merasa sangat senang ketika melihat ibuku langsung mengangguk seperti itu dan dia langsung memeluk Alvaro untuk pertama kalinya aku juga merasa sangat senang karena semua permasalahannya sudah selesai kali ini setelah sekian lama, dan banyak cobaan juga rintangan untuk aku bersama dengan Alvaro namun akhirnya aku bisa bersama dengan dia pada akhirnya.
Setelah ibu memberikan Reksa Alvaro langsung mengajak aku untuk pergi berbelanja dan mempersiapkan untuk acara pertunangan besok antar aku dengan dia.
Aku bahkan merasa syok dan tidak menduga dia ternyata sudah diam-diam mempersiapkan masalah hal ini bahkan sudah menyewa gedung untuk acara pertunangan diantara aku dan dia.
Alvaro membawa aku untuk melihat-lihat gedung itu dan meminta aku untuk memilih dekorasi mana yang aku suka, sehingga aku mulai memilih dan tidak lupa dia juga membawa aku ke sebuah butik ternama yang sangat terkenal di kalangan masyarakat di kota, semua aktris sering memesan pakaian dari butik yang sangat mewah dan cantik itu.
Hingga Alvaro menyuruh aku untuk segera mencoba beberapa pasang gaun yang cantik disana.
Aku pun mencobanya satu persatu dan memperlihatkan gaun itu kepadanya.
"Alvaro lihat ini apakah ini cantik menurutmu?" Tanyaku kepadanya sambil berputar memperlihatkan bentuk gaun itu.
Bukannya menjawab dia justru malah diam termenung dan melihat aku tanpa berkedip sampai ketika aku membentak dia ternyata dia malah memujiku secara langsung dengan lantang dan keceplosan sangat keras.
"Alvaro apa kau tuli, bagaimana dengan pakaianku ini?" Tanyaku kepadanya meninggikan suaraku saat itu juga.
"AA...ohh ...kau sangat cantik sekali memakai gaun itu, sudah pilih saja yang itu" ucapnya begitu saja.
Namun walaupun ucapannya itu sangat simpel dan anti ribet aku merasa senang karena dia mengatakan bahwa aku sangat cantik saat mengenakan gaun itu.
Sampai akhirnya tidak lama acara itu pun tiba di ke esokan harinya, Alvaro datang menjemput aku dan ibuku dan kak Fasya sendiri yang mengantarkan aku untuk bertemu dengan Alvaro hingga di acara pertukaran cincin selesai dan Alvaro memberikan aku sebuah kejutan dengan hadirnya Audy di sana yang berjalan menghampiriku dengan membawa sebuket bunga yang cantik.
"A...a.....aaa.. Audy? Apakah itu dia..?" Tanyaku sambil menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang kaget dan masih tidak menduganya aku bisa bertemu kembali dengan Audy setelah tiga tahun lamanya terpisah begitu lama.
Bahkan aku baru mengingat tentang Audy selama dua hari ke belakang ini.
Dia berjalan menghampiriku dan setelah dekat denganku telat berada di hadapanku dia langsung menyentuh tanganku dan memberikan sebuah kado juga sebuket bunga padaku.
"Iya Talita ini adalah aku, aku Audy sahabatmu dan kau adalah Talita sahabat terbaikku, aku sangat merindukanmu dan selamat untuk pertunanganmu dengan Alvaro, semoga kalian senantiasa bahagia selalu" ucap Audy kepadaku.
Aku langsung memeluknya dengan erat dan perasaan yang haru.
"Audy.... Aku juga sangat merindukanmu, kemana saja kamu selama ini, kenapa kamu tidak pernah menemui aku? Seandainya kamu menemuiku mungkin aku tidak akan melupakan kamu seperti sebelumnya, maafkan aku Audy" ucapku kembali memeluk dia dengan erat.
Dan kami saling berpelukan melepas rindu juga saling minta maaf serta memaafkan satu sama lain saat itu, hingga membuat para tamu undangan yang hadir di acara pertunanganku ikut menangis melihat kisahku dengan Audy.
Tamat!!
__ADS_1