
"Kau dasar anak nakal!, Bagaimana bisa kau memainkan ponselmu di hari ujian seperti ini!" Bentak kepala pengawas sambil menunjuk nunjuk ke arah jidatku.
Aku hanya bisa terus menunduk sambil mengucek seragamku untuk menahan emosi yang menggebu saat itu, tapi kepala pengawas terus saja memarahiku hingga wali kelas tiba dan dia melerainya, namun aku sudah sangat malu ketika masuk ke dalam kelas semua teman-teman menunduk tidak ada yang berani menatapku dan aku juga segera duduk kembali dibangku milikku.
Aku mengerjakan ujian dengan cepat sama seperti kemari dan aku segera berlari ke keluar dari kelas setelah mengumpulkan lembar jawaban pada guru di depan lalu aku langsung kembali pulang sambil menangis berjalan di jalanan seorang diri, aku terus berjalan sambil menendang batu batu kecil yang ada di hadapanku.
"Eughh...sebal, kenapa Alvaro tega sekali melakukan itu padaku hiks...hiks...apa dia benar-benar sudah tidak memperdulikan aku lagi!" Bentakku uring uringan seorang diri.
Tidak terasa aku sudah berjalan cukup jauh sampai akhirnya aku menaiki bus dan terus menangis sepanjang jalan sampai tiba di depan apartemen aku segera mengusap semua siswa air mata diwajahku barulah aku masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarku karena saat itu ibu belum kembali dari kantornya.
Saat aku tengah merasa kesal dan mencoret coret buku belajarku untuk meluapkan emosi tiba-tiba saja aku ingat bahwa ponselku masih dirampas oleh kepala pelayan dan tadi aku lupa tidak mengambilnya sebab terlalu terbawa emosi dan pulang begitu saja.
"Astaga...aku lupa ponselku masih di sekolah" ucapku sambil menepuk jidatku sendiri.
Aku segera bergegas kembali ke sekolah karena saat itu aku yakin teman-teman yang lain pasti belum menyelesaikan ujiannya karena saat aku pulang itu masih satu jam lagi untuk waktu ujian selesai, dan saat aku sampai di sekolah ternyata memang banyak siswa lain yang masih mengerjakan ujian, aku pun berlari menuju ruang guru dan menghadap pengawas buncit itu.
"Permisi pak aku Talita ingin mengambil ponsel yang sebelumnya bapak rampas" ucapku dengan sopan,
"Ckk ...kau sudah melakukan pelanggaran masih berani menemuiku dan meminta kembali ponselmu hah!" Bentak kepala pengawas tersebut.
Aku kaget dan tidak mengerti mengapa dia masih marah terhadapku padahal aku hanya ingin mengambil ponselku lagi, kenapa juga dia tidak memberikannya langsung dan malah membentakku seperti itu.
__ADS_1
"Maaf pak, aku tahu jika apa yang aku lakukan sebelumnya adalah kesalahan dan anda juga sudah menghukum saya bahkan mempermalukan saya di depan teman-teman, lalu kenapa bapak tidak mau mengembalikan ponsel milik saya kepada saya kembali?" Ucapku melawannya masih dengan sopan dan kalimat yang halus,
Aku masih menghargainya sebagai seorang guru sekaligus kepala pengawas yang terhormat di sekolah itu sehingga meski semarah apapun aku saat itu kepadanya aku tetap menghargai dia dan menghormatinya dengan berbicara secara baik baik dan meminta maaf kembali atas kesalahan yang aku lakukan sebelumnya.
Tapi bukannya dia segera mengembalikan ponselku dia justru malah membentakku lagi dan lagi terlebih dia malah dengan sengaja bicara secara lantang bahwa dia tidak akan mengembalikan ponselku.
"Kau tidak akan bisa menerima ponselmu lagi, semua barang yang saya sita maka itu menjadi milik saya, sekarang kau keluar dari ruanganku!" Bentak kepala pengawas itu.
Aku tidak terima dan tidak bisa diam saja disaat barang milikku tiba-tiba saja diakui oleh orang lain, maka dari itu aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja mengambil ponsel milikku dengan mudah aku langsung mencari sendiri dimana dia menaruh ponselku itu sampai akhirnya aku berhasil menemukannya dan hampir saja bisa mendapatkan ponselku kembali.
"Tidak perduli aku akan mencarinya sendiri karena itu ponselku!" Bentakku lalu segera mencarinya sendiri disekitar sana.
"Hey berhenti beraninya kau mengacak ngacak mejaku, heyy gadis t*lol dasar kau!" Teriak kepala pengawas sangat keras sambil mendorongku ke belakang cukup kuat.
"Jika kau masih menginginkannya, ambil ini" ucap kepala pengawas itu lalu melemparkan ponselku ke arahku dengan kencang.
Untunglah saat itu aku masih sempat menghindar sehingga ponsel yang dia lemparkan justru mengenai lantai dan aku segera mengambilnya, itu adalah ponsel hadiah dari kedua orangtuaku dan itu adalah ponsel yang penuh dengan kenangan di dalamnya, aku sangat kesal dan emosiku memuncak saat melihat layar ponselku pecah dan rusak parah, bahkan ponsel itu tidak bisa dinyalakan lagi.
"Aaahh...tidak....ponselku" ucapku panik dan segera mengambilnya,
"Kau....beraninya kau merusak barang milik muridmu sendiri!" Ucapku dengan gigi yang aku eratkan.
__ADS_1
Aku bangkit dan langsung mengambil ponsel miliknya yang saat itu tergeletak diatas meja, aku juga melemparkan ponsel miliknya ke lantai dengan sekuat tenaga hingga ponsel itu mendapatkan kerusakan yang sama seperti ponsel milikku. Kepala pengawas itu marah besar saat dia melihat ponselnya hancur di depan matanya sendiri karena aku lempar dengan kuat.
"Aishh...sialan kau, kemari kau...aku tidak akan membiarkanmu bebas dengan mudah" ucap kepala pelayan itu dengan wajah yang sangat menyeramkan.
Badanku gemetar dan aku sangat takut hingga aku terus berjalan mundur untuk menghindari darinya namun aku terlalu panik hingga pria tua itu melayangkan tangannya hendak menamparku dengan penuh emosi namun untungnya Alvaro datang tepat waktu.
Dia berhasil menahan lengan kepala pengawas dan menghempaskan nya dengan kuat hingga kepala pengawas itu hampir terjungkal ke belakang.
"Siapa kau beraninya kau menahan tanganku!" Bentak pria tua itu dengan emosi yang semakin menjadi jadi,
"Kau bukan seorang guru pagi kepala pengawas ruangan jika bersikap bej*t seperti ini terhadap muridmu sendiri terlebih itu seorang perempuan!" Ucap Alvaro dengan suara yang mendominasi.
Aku langsung berlari kabur keluar dan mencari bantuan karena aku tahu kepala pelayan pasti akan berkelahi dengan Alvaro karena mereka berdua adalah orang yang sama sama emosional dan pasti menyelesaikan semua masalah dengan pertengkaran fisik.
Aku berlari dan memanggil wali kelas juga kepala sekolah dan beberapa guru lainnya, agar mereka semua bisa memergoki bagaimana kelakuan kepala pengawas ruangan itu sebenarnya.
"HOS...HOS...HOS... Bu...gawat ini gawat Alvaro akan dip*kuli oleh kepala pengawas, dia orang kejam dia bahkan hampir menamparku, cepat Bu tangkap dia" ucapku pada kepala sekolah sambil memegang tangannya.
Wali kelas menghampiriku dan dia memintaku agar tenang lalu mengatakan agar aku membawa mereka ke sana saat itu juga.
"Talita coba tenangkan dirimu sendiri, sekarang dimana mereka ayo bawa kami kesana sebelum semuanya terlambat" ucap wali kelas dengan lembut,
__ADS_1
Aku mengangguk dan menarik lengan wali kelasku sambil membawanya berlari menuju ruang kepala pengawas, sesampainya di sana semuanya sesuai dengan dugaanku mereka berkelahi dan nampak kepala pengawas hampir saja memuk*l Alvaro menggunakan kursi kayu miliknya, untuk kami segera tiba dan kepala sekolah berteriak menghentikannya sehingga kepala pengawas tua itu menaruh kursinya kembali dan dia menatap ke arahku dengan tatapan menyeramkan.
Aku langsung tertunduk karena takut dengan tatapannya sedangkan guru laki-laki lain yang menyaksikan kejadian itu mereka segera menangkap kepala pengawas dengan cepat dan memegangi kedua tangannya agar tidak melawan dan melakukan keributan lainnya, sedangkan aku dan wali kelas segera menghampiri Alvaro lalu membantunya berdiri dan segera membawa Alvaro ke UKS sekolah untuk mengobati memar di ujung bibirnya.