
Ku pegang erat kedua pundak Alvaro dan mengatakan padanya kalau aku sudah siap, sialnya dia malah memutar gas sepeda motornya tanpa aba aba, sehingga membuat aku refleks memeluk pinggangnya dengan erat.
"AAAHHH" teriakku kaget dan memeluk pinggang Alvaro dengan erat,
"Ini baru benar" ucap Alvaro dan dia mulai melajukan sepeda motornya.
Sial aku tertipu olehnya, tapi bisa merasakan dibonceng oleh Alvaro rasanya cukup menyenangkan setidaknya aku tidak perlu menanggung malu karena rok ku yang sobek, sepanjang perjalanan aku tidak berbincang sedikitpun dengannya dan saat sudah sampai di depan rumah aku langsung turun lalu mengucapkan terimakasih, meski dia malah pergi begitu saja dan membuatku kesal dan menggerutu.
"Terimakasih sud...." ucapku yang tak sampai selesai karena dia yang sudah melaju dengan cepat begitu saja,
"Aishhhhh dasar pria menyebalkan, ARGHHHHH, sial sekali aku hari ini" gerutuku kesal sambil mengepalkan kedua lengan menahan emosi.
Aku masuk ke dalam rumah dan memberikan alat sekolahku, saat aku lihat rok sekolah yang sobek cukup besar aku bingung bagaimana aku ke sekolah besok dan apa yang harus aku kenakan, sampai akhirnya aku terpaksa harus meminta bantuan pada Audy, ku telpon Audy dan memintanya agar datang ke rumahku.
Tak lama kemudian Audy datang dan aku segera meminta bantuannya.
"Audy akhirnya kamu datang juga, tolong aku yah, rok sekolahku sobek lihatlah ini parah bagaimana aku ke sekolah besok" ucapku dengan wajah yang lesu,
"ya ampun Talita apa yang sudah kau lakukan sampai rokmu sobek sebesar ini, kalau begini sudah tidak bisa diperbaiki lagi" ucap Audy sambil membolak balikkan rok sekolahku,
"itu dia, makanya aku menanyakannya padamu aku bingung harus bagaimana jika membeli rok baru ke koprasi sekolah, aku tidak cukup uang, ayahku belum mengirimkan ku uang karena ini belum akhir bulan" ucapku menjelaskan,
Beberapa saat aku dan Audy terdiam dan bingung memikirkan solusi untuk rokku sampai akhirnya Audy membicarakan usulannya.
__ADS_1
"Ahhh...aku tau!, besok kamu pakai baju olahraga saja lagi pula kita sekolah hanya satu Minggu lagi kan, bagaimana?" ucap Audy sambil menatapku dengan wajahnya yang ceria.
"tapi Audy apa aku benar benar harus memakai pakaian olah raga setiap saat, aku juga akan nampak begitu mencolok, orang orang pasti akan memandangku" ucapku mengeluh,
"hei Talita, ayolah untuk apa memperdulikan pandangan orang, tenang saja kamu hanya perlu menutup telinga dan matamu, lagi pula guru juga tidak akan apa apa" jawab Audy meyakinkan.
Aku pun mengangguk karena memang tidak ada solusi lain, aku menghembuskan nafas lesu dan tak tau lagi harus bagaimana.
Sampai ke esokan paginya aku benar benar harus mengenakan pakaian olah raga, saat aku berjalan di koridor sekolah anak anak lain terus saja menatap dan memperhatikanku dari atas hingga bawah, ada juga beberapa yang bertanya mengapa aku memakai pakaian oleh raga padahal bukan jadwalnya, aku kesal melihat mereka menertawakan ku di belakang, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun.
Aku berlari masuk ke dalam kelas dan duduk dengan kesal aku sungguh malu diperlihatkan dan dibicarakan seperti itu oleh banyak anak anak di sekolah, lagi lagi aku harus merasakan perasaan seperti ini.
Sedang di sisi lain Bara yang hendak menemui Talita dia juga melihat dan mendengar dari anak anak lain kalau Talita memakai pakaian yang salah, Bara yang mengetahuinya langsung bergegas menemui Talita dan tanpa basa basi dia langsung menanyakan hal itu secara blak blakkan.
"Talita apa yang kau pakai?, ini bukan jadwalnya olahraga, cepat ganti pakaianmu!!" ucap kak Bara dengan wajah serius.
"Kak maaf tapi aku sungguh tidak ada seragam lagi" ucapku berusaha mengatakan yang sebenarnya.
"jangan bohong Talita dan jangan coba coba beralasan, cepat ganti pakaianmu atau kau tidak akan ku ijinkan masuk ke dalam kelas!!" ucapnya mengancam,
"kau pikir kau ini siapa?, aku tau kau ketua OSIS tapi apa begini caramu menegurku?, kau sama sekali tidak pantas disebut pemimpin jika prilakumu sejelek ini!!" ucapku kesal dan langsung pergi keluar dari kelas.
Masih bisa ku dengar bisikan anak anak disekitar sana yang membicarakan ku karena berani melawan bahkan membantah ucapan kak Bara, aku sungguh tidak perduli meski dia ketua OSIS tetap saja perlakuannya padaku tadi tidak pantas bahkan dia tidak memberikanku waktu untuk menjelaskan.
__ADS_1
Untuk ke sekian kalinya setiap kali mendapatkan kesulitan aku hanya bisa menangis sambil berjalan menunduk berharap tidak ada orang yang menyadarinya tapi saat aku berjalan Alvaro tiba tiba saja menahan tanganku entah dia datang dari mana sebelumnya.
"Talita tunggu" ucapnya sambil memegang tanganku,
"ada apa?, apa kau juga mau menertawakan ku?" ucapku terbawa suasana,
"ayo ikut aku" ucapnya tanpa memberikan penjelasan.
Saat itu aku tidak tau Alvaro akan membawaku ke mana dia menarikku begitu saja sampai berada di koprasi sekolah dan dia menyuruhku untuk masuk lalu memilih seragam yang pas untuk tubuhku, aku heran dan sedikit gelisah, pasalnya aku takut kalau nanti aku harus membayar seragam itu bisa bisa aku tidak akan makan sampai akhir bulan.
Aku menolak perintah Alvaro dan berusaha pergi darinya.
"Tidak aku tidak mau, lagi pula aku tidak terlalu butuh seragamnya" ucapku berusaha menutupi semua hal,
"hei, cepat masuk aku tau kau akan menolak seperti ini, tapi apa kau yakin masih mau menjadi bahan lelucon anak anak di sekolah hah?" ucap Alvaro yang membuatku kembali sedih dan kesal.
"Aku tidak mau tapi, aku tidak ada uang untuk membelinya Alvaro, kamu tau kan harga seragamnya berapa, aku tinggal sendiri dan tidak bekerja darimana aku....." ucapku terhenti karena Alvaro yang mendorong tubuhku masuk ke sana.
Aku terus mengeluh dan mengatakan tidak mau aku juga berusaha membawa Alvaro agar keluar dari ruang koprasi sebelum penjaga datang, tapi sayangnya Alvaro justru malah memanggil penjaga koprasi dan memintanya memberikan kami beberapa seragam dengan berbagai ukuran, aku sungguh bingung apa yang akan direncanakan oleh Alvaro sekarang, aku benar benar tidak bisa tenang, ku lihat uang di dompetku yang tidak seberapa itu, aku semakin takut Alvaro memilih seragam yang semakin mahal.
"Aduhh....Alvaro ayo kita pergi aku tidak papa kok, ayooo...." ucapku mengeluh dan berusaha membujuk Alvaro agar mau pergi dari sana.
Sialnya dia sama sekali tidak menggubris ucapanku, Alvaro justru malah memberikan beberapa pasang seragam dan menyuruhku untuk mencobanya satu persatu, aku terus dipaksa masuk ke dalam ruang ganti olehnya.
__ADS_1
"Aku tidak mau Alvaro sebaiknya kita pergi saja" ucapku menolaknya,
"kau coba atau aku sendiri yang akan memakaikan pakaian itu ke tubuhmu!!" jawab Alvaro yang seketika membuatku patuh karena takut dengan tatapan tajamnya.