Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Pria Misterius


__ADS_3

Dan ternyata orang yang membantu menyanggah badanku adalah pria misterius yang tadi pagi aku buntuti, sekaligus orang yang membuat tas sekolahku putus bahkan di hari pertama masuk, sungguh menyebalkan namun dia masih ada sisi baik juga karena mau menolongku, ku pikir dia akan membantuku lepas dari permasalah dengan kak Bara juga kedua temannya itu, tapi ternyata dugaanku hanyalah angan angan semata, dia hanya membantuku untuk kembali berdiri tegak dan saat aku hendak mengucapkan terimakasih dia justru malah berjalan mendekati kak Bara.


" Kalo mau cari masalah, lapangan basket di sana cukup luas, di sini tempatnya makan bukan tauran" ucap pria itu dengan tatapan dingin.


Auranya benar benar membuat aku heran sekaligus membuat kak Bara dan Nandito geram tapi para siswi di sana malah bersorak tak karuan ditambah Audy yang menghampiriku dan berkata kalau pria itu cukup keren dimatanya padahal bagiku pria itu tak lebih dari pembawa sial saja.


Setelah berkata dingin pada kak Bara dia lalu pergi berlenggang begitu saja tanpa basa basi dan berjalan lurus menuju salah satu meja sambil duduk menyilangkan kaki dan meneguk sebotol minuman dingin.


"Wah....wah.....dia keren sekali" bisik bisik para siswi disekitar kantin.


"hah???, keren dari mananya bukan membantuku malah semakin membuat keruh suasana" gumamku.


Untungnya aku punya teman seperti Audy yang bisa diandalkan ketika kak Bara geram dengan ucapan pria aneh barusan dia malah menghampiri pria itu dan melupakanku, aku langsung ditarik menjauh dari kantin oleh Audy, awalnya aku berusaha melepaskan tangan dari genggaman Audy yang menarikku dan membawaku berlari menjauh dari sana.

__ADS_1


"*Tunggu....berhenti....berhenti Audy"


"Ada apa Talita, cepat ini kesempatan kita untuk kabur*" ucap Audy terburu buru dan terus menarikku sampai ke depan kelas.


"Hah...hah...hah...., aishhh kenapa kau menarikku dan membawaku berlari sekencang itu sih" ucapku bingung dengan nafas menderu,


"heh!, kalau aku tidak menarikmu dan membawamu kemari, bisa bisa kamu akan terus menjadi bahan buliyan kak Bara dan kedua temannya itu tau" ucap Audy.


"Eheh...iya juga, maaf yaa dan makasih Audy kamu sangat bisa diandalkan dalam situasi apapun" ucapku dibarengi senyuman menyeringai.


Aku pikir memang sebetulnya pria itulah yang menyelamatkanku tanpa disadari, namun tetap saja aku enggan berterimakasih padanya dia saja sudah merusak tasku pagi tadi bahkan dia tidak sadar apalagi memintamaaf dan menggantinya, namun di sisi lain aku juga merasa tidak enak jika tidak berterima kasih pada orang itu habisnya dia sudah menyelamatkan aku dari hal yang bisa mempermalukanku lebih parah lagi.


Bingung memikirkan bagaimana cara paling tepat untuk berterimakasih tanpa harus menurunkan ego dan harga diri aku akhirnya kembali duduk di kelas bersama Audy, perut yang tadinya terasa lapar mendadak kenyang dan tidak nafsu makan setelah serangkaian kejadian yang menimpaku tanpa henti dan bertubi tubi, sepertinya hari ini adalah hari kesialanku, perasaan aku tidak membuat kesalahan atau menyakiti orang lain, tapi kenapa harus mendapatkan kesialan seperti ini, sungguh membuat orang kesal dan emosi saja apalagi saat mengingat perlakuan pria misterius itu padaku, entah kenapa aku merasa kecewa karena tadi dia melepaskan badanku sampai membuat aku jatuh ke lantai, padahal kalau tidak berniat menolongku untuk apa dia menahan badanku.

__ADS_1


Waktu bergulir begitu cepat saat pelajaran dimulai kak Bara tidak lagi mengisi kelas sekarang waktunya seorang guru cantik dan berpenampilan modis mengisi kelas MPLS, saat melihat wajah ibu guru itu rasanya aku tidak asing dan merasa bahwa wajah ibu guru tersebut mirip seseorang tapi aku tidak tau persis siapa orang yang aku maksudkan, bertanya pada Audy tentang dugaanku malah membuat kami berdua semakin kebingungan, akupun memutuskan untuk menghempaskan pemikiran tersebut, lagi pula itu sungguh tidak penting saat ini, cara mengajar guru tersebut terbilang disiplin dan semua siswa yang ada di kelas menaati peraturan yang sudah dia utarakan saat pertama masuk ke dalam kelas, namun ada yang aneh sejak awal masuk hingga akhir pembelajaran guru itu tidak memperkenalkan namanya, bahkan saat ada salah satu siswa yang bertanya namanya dia malah tersenyum tipis tanpa memberikan sedikit Jawaban apapun lalu ia pergi meninggalkan kelas dengan berjalan anggun penuh wibawa, anak anak saling berbisik dan terheran dengan sikap guru tersebut, sebagian siswa lain juga mengatakan bahwa dia adalah guru misterius, dan selalu membuat teka teki juga banyak pertanyaan bagi murid di sekolah ini, mendengar bisikan para siswa di dalam kelas membuat nyaliku sedikit menciut, aku takut kalau suatu saat nanti guru itu menjadi wali kelasku, sungguh tak terbayang seberapa menyeramkannya kelasku nanti, mungkin aku tidak akan bisa tidur maupun mengobrol saat jam pelajaran, padahal kegiatan itu sudah seperti candu juga hal wajib yang aku lakukan, tertidur bukan karena lelah atau tak cukup tidur saat malam hari namun memang lebih baik memamfaatkan waktu dengan tidur daripada berkumpul lalu menggosip hal yang tidak penting bersama para wanita centil lainnya.


"Ting...Ting...Ting..." bel tanda pembelajaran berakhir berbunyi.


Semua siswa berhamburan keluar kelas dengan suasana gembira, kecuali aku yang lesu dan tak bergairah, Audy menepuk pundak ku lalu berjalan beriringan bersama.


"Talita kenapa kamu lesu dan cemberut begitu, seperti orang yang banyak pikiran saja" ucap Audy dengan mengangkat kedua alisnya.


*Aku memang sedang banyak pikiran tau" jawabku menanggapi,


"memangnya apa yang kamu pikirkan sampai membuatmu tak berenergi seperti ini, sudah seperti orang habis kerampokkan" ucap Audy bertanya


"tentu saja aku memikirkan kedua orang tuaku, habis itu mau memikirkan apa lagi" jawabku malas.

__ADS_1


"Sudahlah daripada kamu cemberut begitu mending ikut aku ke pameran yuk, pasti seru" ucap Audy berusaha menghibur.


Audy mengajakku pergi ke sebuah pameran yang diadakan di lapangan desa sebelah, tepatnya di lapangan desa tempat tinggal Audy, awalnya aku tidak mau namun karena Audy memaksaku dan aku juga tidak enak jika terus menerus menolak niat baikknya, aku tau Audy mengajakku pergi ke pameran itu agar aku bisa melupakan hal hal yang membebani pikiranku, akupun menyetujui ajakan Audy hingga malam tiba dan aku janjian bertemu di perbatasan desa bersama Audy, cukup lama aku menunggu kita kira hampir 20 menitan akhirnya Audy muncul dia berjalan cepat ke arahku sambil melambaikan tanda memberi isyarat padaku bahwa dirinya telah tiba, kami pun pergi bersama sama menuju lapangan desa yang dimaksud oleh Audy sebelumnya.


__ADS_2