Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Makan Ibu Kak Bara


__ADS_3

Entah apa yang aku katakan saat itu pada kak Bara adalah sebuah keputusan yang benar atau salah aku tidak pernah tahu mengenai semua itu, dan hanya satu yang aku ketahui aku sungguh tidak bisa benar benar melepaskan kak Bara, bagaimanapun apa yang dia katakan padaku memegang sebuah kebenaran dia juga baik ke padaku selama ini.


Dan kak Bara baru saja kehilangan sosok ibunya aku bahkan belum sempat melayat ke rumahnya sebab terlalu di sibukkan mencari keberadaan Alvaro yang sampai saat ini masih belum menemukan titik terang sedikitpun.


Aku memang mencemaskan Alvaro, pikiran dan hatiku tertuju pada sosok dirinya yang cukup membekas dalam ingatanku namun aku tidak ingin menyakiti perasaan kak Bara aku tidak ingin dia semakin hancur di waktu bersamaan sehingga aku mengurungkan niatku untuk memutuskan hubungan dengannya kali itu.


Dia juga mengajakku untuk pergi ke makan ibunya, dan aku tidak bisa menolak itu.


"Talita bisakah kau menemaniku pergi berkunjung ke makam ibuku, aku juga ingin memperkenalkanku padanya, dulu saat dia masih ada dia sangat ingin bertemu denganmu karena aku sering menceritakan tentangmu padanya jauh sebelum kita menjadi pasangan, tapi sayangnya aku gagal mengabulkan keinginan terakhirnya itu" ungkap kak Bara dengan wajah yang menahan pilu.


Bagaimana aku bisa mengabaikan dirinya begitu saja dalam keadaan berat seperti ini, aku sungguh tidak bisa melihat dia begitu lemah di hadapanku secara langsung seperti ini sehingga aku langsung mengangguk dan menyetujui ajakan nya.


"Sudah kak, ayo kita pergi ke sana sebelum gelap, ibumu pasti senang di kunjungi oleh putra kesayangannya" balasku sambil menggenggam lengan kak Bara.


Aku melakukannya bukan untuk memberikan harapan palsu pada kak Bara namun aku memang tulus dengannya aku kasihan padanya dan aku memang mengaguminya.


Kami pun pergi ke pemakaman yang tak jauh dari sana hingga sesampainya di depan makan mendiang ibunya kak Bara yang saat itu tanahnya masih terlihat basah dan merah juga bunga bunga di atasnya yang masih terlihat baru menunjukkan makan itu adalah makam baru.


Kak Bara dan aku berjongkok di samping makam itu dan kak Bara menaruh setangkai bunga mawar putih yang dia bilang sebelumnya bahwa itu adalah bunga kesukaan mendiang ibunya.


Melihat kak Bara yang memegangi nisan ibunya dengan erat sungguh mengingatkan aku pada sosok ibuku sendiri, dia masih ada di dunia namun aku justru malah membenciny, meninggalkan dia dan menjauhinya begitu saja aku bahkan memilih untuk bekerja dan menghasilkan uang untuk diriku sendiri, membiayai hidupku sendiri walau itu terkadang sangat sulit bagiku.

__ADS_1


Aku juga selalu menolak ayahku aku tidak mau berhubungan lagi dengan ke dua orang tuaku hanya karena mereka telah membohongiku dan menyakitiku satu kali dan aku tidak bisa menerimanya, lagi dan lagi melihat bagaimana kak Bara berbicara sendiri di depan makan ibunya itu membuatku turut terharu dan terbawa oleh suasana.


Bahkan aku sampai berangan angan mengenai ke dua orang tuaku jika seandainya mereka telah tiasa meninggalkan aku suatu saat nanti.


"Kak Bara pasti sangat dekat dengan ibunya dan aku yakin ibunya adalah orang yang sangat baik hingga kak Bara begitu mencintainya seperti ini, lalu bagaimana denganku dan ibuku apa aku juga akan se sedih kak Bara jika ibu meninggalkanku untuk selamanya?, Bodohnya aku tidak pernah terpikirkan akan hal itu" gumamku dalam hati sambil melihat kak Bara.


Dia mulai memperkenalkan aku di depan makam ibunya untuk menyelesaikan keinginan sang ibu yang belum sempat dia laksanakan ketika ibunya masih ada di dunia.


"Ibu perkenalkan ini Talita aku berhasil mendapatkan dia menjadi pasanganku dan aku kini membawanya menghadap dirimu, sayangnya kalian tidak bisa bertemu secara langsung satu sama lain, maafkan aku ibu karena aku terlambat" ucap kak Bara dengan wajahnya yang sangat menyedihkan.


Aku tidak tega melihat kak Bara yang biasanya terlihat keren dan begitu ramah kini begitu pucat dan tidak memiliki energi, aku pun berusaha menghiburnya hanya sekedar untuk membuatnya tetap memiliki semangat dalam menjalani hidupnya lagi.


"Hallo Tante aku Talita, senang bertemu denganmu, di lihat dari foto yang terpajang kau sangat cantik dan berkharisma sama seperti pacarku saat ini, aku akan menjaganya sama seperti kamu menjaganya juga, jangan khawatirkan dia aku akan memukulnya jika dia nakal" ucapku sambil tersenyum menatap sekilas pada kak Bara yang terlihat langsung tersipu malu dan tersenyum ke arahku.


Mendapatkan sentuhan itu tiba tiba saja aku teringat lagi dengan Alvaro dan refleks aku menjadi tegang dan menjauh dari kak Bara hingga mungkin membuat kak Bara sedikit tersinggung dan dia menatapku dengan sorot penuh kecemasan.


"Talita ada apa?, Apa kau tidak senang aku mengelus kepalamu seperti tadi?" Tanya kak Bara padaku,


"Ohh...tidak kak aku hanya tidak terbiasa saja dengan hal seperti itu dan tadi adalah refleks alami tubuhku, maaf kak" balasku beralasan.


Untunglah kak Bara memaklumi perbuatanku dan dia kembali tersenyum seperti sebelumnya tanpa menaruh curiga ke padaku, lalu kami kembali ke mobil karena hari hampir gelap, awalnya kak Bara mengajakku untuk pergi makan malam bersama dahulu sebelum dia mengantarkan aku pulang namun aku menolaknya karena aku sudah tidak bisa fokus lagi.

__ADS_1


Semenjak kejadian di mana kak Bara menyentuh ke palaku aku langsung merasa tidak enak hati dan terus terpikirkan dengan Alvaro, aku juga tidak tahu mengapa aku memikirkan dia sampai seperti ini dan aku rasa aku hanya butuh istirahat secepatnya saat ini sehingga aku menolak ajakan dari kak Bara secara halus.


Kak Bara selalu memahamiku dan dia tidak pernah memaksa maupun menolak keputusan dariku dia adalah pacar yang sempurna untukku saat ini dan aku justru merasa tidak nyaman dengannya.


Ketika sampai di depan rumah kak Bara langsung pergi dan tidak turun dahulu dari mobilnya karena dia nampak sedikit terburu buru setelah sebelumnya melihat ponsel miliknya, aku pikir dia mendapatkan pesan yang sangat penting dan aku juga memakluminya tanpa menaruh sedikitpun kecurigaan terhadapnya.


Aku masuk ke dalam rumah namun saat aku baru memegang gagang pintu rumahku entah kenapa aku merasa seperti ada orang yang tengah memperhatikan aku di belakang sehingga aku langsung berbalik dan memeriksa ke sekitar tapi anehnya tidak ada yang bisa aku temukan bahkan seekor hewan pun tidak ada di sana.


Semuanya gelap, sunyi dan cukup menyeramkan karena perasaanku yang terus merasa seperti tengah di amati oleh seseorang dari kejauhan, karena takut aku langsung segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan kuat lalu menutup semua jendela rapat rapat dan tak lupa untuk segera masuk ke dalam kamar lalu kembali mengunci pintu kamarku.


"Hah....hah...perasaan macam apa ini, aku yakin sekali sebelumnya tidak pernah merasakan perasaan aneh begini" ucapku sambil berdiri di dekat ranjang kamarku.


Aku terburu buru naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhku dengan selimut, aku langsung tertidur untuk menghilangkan rasa ketakutan dalam diriku hingga tak terasa pagi mulai menyapa dan itu adalah hari pertama aku masuk lagi ke SMA sebagai siswa kelas 12 di sana.


Aku sudah menyetrika pakaian seragam sekolah dan bersiap siap pergi menuju sekolah dengan berjalan kaki seperti biasanya, kini aku tidak merasa lelah lagi karena sudah terbiasa berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan sebaliknya namun terkadang jika sedang malah berjalan atau waktu yang mepet aku sering memesan ojek atau menumpang pada Audy yang sekarang sudah di izinkan membawa sepeda motor ke sekolah.


Pagi itu aku pergi ke warung pinggir jalan dahulu untuk membeli roti sebagai menu sarapanku pagi ini dan setelah membeli roti dan berjalan menuju sekolah lagi lagi aku merasa ada seseorang yang mengikuti aku dari belakang, beberapa kali aku menoleh dan melanjutkan lagi langkahku tetap saja aku merasakan hal yang sama.


Bahkan semakin cepat aku berjalan aku semakin merasa orang yang mengikutiku semakin dekat dengan diriku.


Aku mulai panik dan keringat dingin keluar dari dahiku sedikit demi sedikit aku pun memutuskan untuk kembali menoleh ke belakang secara tiba tiba untuk memastikan siapa orang yang sebenarnya mengikutiku sedari tadi.

__ADS_1


Namun saat aku menoleh ke belakang aku tetap tidak berhasil menemukan orang itu hanya saja di balik dinding tak jauh di mana aku berdiri, aku melihat sebuah bayangan yang aku yakini bahwa itu adalah bayangan seorang pria tengah mengenakan kupluk sweater di kepalanya, aku langsung kaget dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara lalu berlari dengan penuh aba aba secapat yang aku bisa menuju ke sekolah tanpa berhenti sedikit pun.


__ADS_2