Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Hukuman


__ADS_3

Aku benar-benar dijadikan tontonan oleh mereka dan semua orang yang ada disana menertawakan aku dengan puas tanpa tahu sedikitpun bagaimana perasaanku yang menahan sakit, aku sangat membencinya dan bersumpah untuk membenci dia selamanya.


"Dia....aku akan membalas perbuatannya ini, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkannya!" Gerutuku sambil mengepalkan kedua tangan dengan kuat.


Rasanya aku sudah sangat tidak tahan lagi hingga setelah acara tersebut selesai aku langsung berlari ke kamar mandi dan mencuci wajahku berkali-kali, aku benci terlihat lemah dan aku benci karena aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak menangis saat itu.


"Berhenti Talita...jangan menangis, kau tidak boleh lemah kau wanita yang kuat. Tidak ada menangis dalam kamusmu!" Ucapku menguatkan diriku sendiri di kamar mandi dengan menatap wajahku di dalam cermin.


Mau sekuat apapun aku menahan diri untuk tidak menangis dan menyemangati diriku sendiri tetap saja pada faktanya aku tetap menangis dan mengeluarkan air mataku, tapi setidaknya dengan mencuci wajah itu bisa sedikit menutupi rasa maluku terhadap diriku sendiri.


Setelah sedikit lebih baik aku segera keluar dan siap untuk melanjutkan hal berikutnya, meski aku tahu semua orang pasti akan tetap menertawakan aku meski permainan yang memalukan itu sudah selesai.


"Hey....lihat bukankah dia gadis dengan banyak hukuman di wajahnya" ucap salah satu orang,


"Iya...itu dia kasihan sekali ya, kau tahu dia bahkan harus berlari sekarang untuk menebus hukuman yang dia dapatkan dari ketua senior" balas yang satunya lagi.


Mereka asik terus berbisik satu sama lain membicarakan aku seakan aku tidak bisa mendengarnya, padahal aku masih memiliki telinga yang sehat dan jelas sekali aku bisa mendengar semua ucapan mereka dengan jelas.


"Aishh..apa mereka pikir aku ini tuli!" Gerutuku sangat kesal sambil terus menghentakkan kakiku dengan kuat.


Aku berjalan kembali masuk ke aula dan duduk di tempat dudukku sebelumnya hingga tidak lama Fasya biang keladi itu datang menghampiri dan dia tiba-tiba saja menjulurkan tangannya memberiku sebuah minuman kaleng yang dingin.


"Ambil ini" ucapnya dengan datar,


"CK....aku tidak membutuhkan apapun dari orang sialan sepertimu" balasku tanpa menatapnya sedikitpun.

__ADS_1


Jangankan harus menatapnya aku bahkan tidak Sudi mendengar suaranya atau melihat bayangannya, aku sangat membenci dia tetapi dia justru malah duduk di sampingku dan berteriak sambil menepuk tangannya beberapa kali hingga membuat semua orang yang sudah kembali ke aula langsung menatap kepadanya dan kami menjadi pusat perhatian.


"Prok....prok...prok.... teman-teman semua lihatlah kemari, dia sudah siap untuk melaksanakan hukumannya dari permainan yang sudah kita lakukan, dia akan berlari 20 putaran dan kita akan menontonnya sekarang, bersiap-siaplah semuanya" teriak dia mengumumkan dengan lantang dan kaki yang dia lipat di depan.


Aku kaget dan langsung menatapnya dengan mata yang terbuka lebar, aku tidak menyangka dia bisa melakukan ini kepadaku, dia benar-benar pria yang kejam sama seperti yang dikatakan oleh Audy sebelumnya dia adalah pria setengah iblis yang tidak memiliki hati nurani sedikitpun, bagaimana bisa dia memberikan aku dua puluh putaran sedangkan anak-anak lain yang juga kalah dalam permainan juga kesiangan datang ke aula sepertiku hanya di berikan sepuluh putaran olehnya.


"A...apa dia puluh putaran?, Apa kau gila?" Bentakku tidak terima,


"Oh kau mau ditambah ya oke, jadi tiga puluh putaran" balasnya yang malah menambah jumlah hukumanku.


Aku semakin kaget dan tidak terima, aku langsung menatapnya dengan penuh kebencian dan mulut yang kerutkan serta gigi yang aku rekatkan dengan kuat.


"Aishh....sudah cukup, kau benar-benar manusia setengah iblis" ucapku sambil segera pergi menuruni tempat duduk dan segera ke lapangan.


Aku berjajar bersama dua mahasiswa baru lainnya yang mendapatkan hukuman dan mereka berdua adalah laki-laki, hanya aku seorang perempuan malang yang harus menerima hukuman tiga puluh kali putaran mengelilingi lapangan basket tersebut dengan ditonton oleh semua orang yang duduk diatas sana.


"Apa kau mulai lelah, aku bisa menggantikan mu untuk berlari sepuluh putaran lagi sehingga kita bisa menyelesaikan hukumannya bersama" ucap pria itu membuatku langsung membuka mata dan tersenyum senang,


"Wah, benarkah?, Apa kau mau membantuku, kau yakin ini?" Tanyaku padanya merasa tidak percaya,


"Tentu saja, aku pria sejati tidak mungkin melihat seorang wanita menanggung semuanya sendiri" balasnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku.


Aku pun langsung mengangguk setuju, karena mau bagaimanapun tiga puluh putaran itu tidak mungkin bisa aku selesaikan sendiri dan aku sangat beruntung karena dia mau membantuku dan menanggung hukumannya bersama.


Mereka sudah berlari lebih dulu dan hampir menyelesaikan sepuluh putarannya sedangkan aku baru saja berlari enam putaran dan kakiku sudah sangat lemas, keringat bercucuran di dahi dan tubuh yang terasa sangat panas, rasanya aku sudah sangat tidak kuat lagi untuk melangkahkan kakiku.

__ADS_1


"Hua....aku sudah tidak kuat lagi, ini sangat panas dan melelahkan" gerutuku hampir menyerah.


Tiba-tiba saja pria yang satunya lagi menepuk pundakku dari belakang dan dia menyemangati ku sehingga membuatku menjadi jauh lebih semangat lagi.


"Puk....hey, ayo tetap bergerak bahkan jika kau harus berjalan pelan, itu akan mengurangi putarannya cepat ayo semangat!" Ucapnya sambil memperlihatkan tangannya yang dia kepalkan kepadaku.


Dan ekspresi wajahnya yang begitu energik membuat aku percaya diri dan mulai menghembuskan nafasku lalu kembali bersemangat.


"Yah ...aku harus tetap bergerak dan terus semangat, hey....tunggu aku, aku akan melampaui kalian berdua!" Teriakku dan langsung kembali berlari lagi.


Energiku seakan langsung terisi penuh dan langsung berlari dengan cepat mendahului kedua pria itu hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan lima belas putaranku dan semua mahasiswa baru lainnya sudah pulang satu per satu.


"Hah.....hah....hah...sekarang aku tidak kuat lagi aaaahhh bruk" aku menjatuhkan diriku begitu saja di tengah lapangan dan merebahkan tubuhku dengan melihat langit-langit aula yang terlihat cukup dekat.


Salah satu pria yang membantuku berlari sepuluh putaran dia juga sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu dan dia menghampiriku lalu ikut merebahkan dirinya di sampingku sedangkan si Fasya biang kerok itu langsung menghampiri aku dan membentakku untuk berdiri menyelesaikan hukuman darinya.


Padahal saat itu anak-anak sudah pulang dan di dalam aula sudah tidak ada orang satupun, mereka juga pasti sudah sangat bosan melihat kami yang hanya terus berlari kelelahan.


"Heh, bangun siapa yang menyuruhmu beristirahat dan enak-enakan tiduran disini!" Bentak Si Fasya sialan itu,


"Aaahh.....aku tidak perduli, kau mengomel saja sendiri aku tidak akan mendengarkanmu aku sangat lelah apa kau tahu?" Balasku tidak memperdulikannya.


"Kau....cepat bangun!" Bentaknya sangat keras hingga membuat pria satunya mulai terusik.


Dia juga pria yang berlari bersamaku dia tengah meminum soda di pinggir lapangan namun disaat Fasya berteriak membentakku sangat keras dia langsung membantuku minumannya ke samping dan membuat Fasya marah tentang hal itu.

__ADS_1


"Brakkk......" Suara botol yang di lempar pria itu,


"Aishh....berandal mana yang berani mengacau kepadaku!" Bentak Fasya sambil menoleh ke arah pria tersebut.


__ADS_2