
Aku sungguh merasa aneh saat melihat sisi hangat dalam jiwa pria aneh dan sedingin dirinya, bahkan dia mau menolongku di saat saat kritis seperti saat ini padahal mengenalkupun tidak kita bertemu saja hanya beberapa kali dan aku sama sekali tidak mengetahui namanya, saat aku sudah semakin sadar entah kenapa aku enggan melepaskan pelukannya padaku, bukan karena apa apa tapi aku merasa hangat dan jauh lebih baik saat dia memelukku, sampai beberapa saat dia melepaskan pelukannya dan menyelimuti ku dengan kain biru yang dia bawa dari atap sebelumnya dia juga menggosok tanganku sampai aku bisa terus bertahan dan tetap hangat, kini sudah lewat tengah malam dan aku sungguh merasa lelah sampai tak sadar aku tertidur dan bersender di bahu kanan pria itu, setelah itu aku sudah tidak sadar lagi dan tertidur lelap, aku juga tidak peduli bagaimana pandangan pria itu terhadapku aku sungguh lelah dan tak kuat sangat mengantuk jadi aku memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhku dengan tertidur.
Waktu terus berlalu pagi mulai menyambut hari dan aku mulai tersadar dari tidurku, wajahku yang terpapar sinar mentari pagi mulai mengerjap ngerjap, perlahan aku membuka mata dan menutupi cahaya dengan telapak tanganku agar tak langsung mengenai wajahku dan membuat silau mata ini, namun saat aku hendak memperbaiki posisi duduk aku mulai merasa berat pada pundakku dan aku baru tersadar kalau pria itu bersandar padaku juga.
"Apa?, jangan jangan semalaman aku dan dia saling bersandar satu sama lain?" ucapku pelan sambil refleks menutupi mulutku dengan kedua tangan.
Karena suaraku yang sedikit kencang pria itu mulai terbangun dan aku langsung menjauh dari pria itu, aku berdiri sambil merapihkan pakaianku dan berbalik badan enggan untuk menatap wajah pria aneh tersebut.
Aku terlalu malu dan canggung setelah peristiwa yang kita berdua alami tadi malam, rasanya aku ingin segera pergi dan menghilang dari hadapan pria itu.
Saat aku tengah kebingungan dan merasa malu sampai pipiku merona tiba tiba pria itu mulai membuka suara.
"Hei, apa kakimu sudah baik baik saja?" tanya pria itu kembali dengan nada cuek dan dingin yang menyebalkan.
Aku yang tadinya merona justru berbalik menjadi kesal dan mulai bicara pada pria itu.
__ADS_1
"Iya aku sudah baik baik saja, memangnya kau tidak lihat aku sudah bisa berdiri tegak" balasku jutek dan semakin menjauh dari pria itu.
Mendengar jawabanku yang sedikit sensi dan jutek pria itu hanya menanggapi ucapanku dengan mengerutkan kedua alisnya sampai hampir menyatu dan nampak sepertinya dia terheran dengan sikapku yang berubah setelah bangun dari tidur.
" Syukurlah kalau sudah membaik, jadi kau tidak akan merepotkan ku dan tidak akan menjadi beban lagi" jawab pria itu sambil bangkit berdiri dan merapikan rambut juga pakaian nya.
Aku langsung merotasikan bola mataku saat mendengar ucapan pria itu, sebenarnya aku ingin marah dan membalas ucapannya tersebut namun aku tidak bisa karena masih berada di lorong tangga darurat dan aku tidak bisa terkunci terus di tempat itu bersama pria menjengkelkan seperti dirinya, itu bisa membuatku gila dan naik pitam setiap saat.
Setelah beberapa menit menunggu dengan tak sabar akhirnya pak satpam tiba dia langsung berjalan cepat saat melihat aku yang berteriak meminta pertolongan.
Aku yang tak sabar saat menunggu pak satpam membuka kunci sementara pria aneh itu justru malah santai saja, dia duduk dilantai sambil mengencangkan tali sepatunya lalu berjalan santai dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya, gayanya itu memang sangat mencerminkan sikapnya yang begitu dingin dan kaku, bahkan dia tidak seantusias diriku saat pintu mulai dibukakan oleh satpam sekolah.
Satpam sekolah juga merasa bingung melihat kami berdua yang pagi pagi sudah terkunci di dalam lorong tangga darurat menuju atap sekolah.
"Kenapa kalian bisa terkunci di sini?, jangan bilang kalian berdua tidur di sini sepanjang malam" ucap pak satpam sambil membukakan pintu gerbang.
__ADS_1
"Ahh...ti..tidak kok pak, Kami baru masuk dan tak sengaja terkunci, terimakasih sudah membukakan gerbangnya" ucapku berbohong dan segera bergegas pergi secepat yang aku bisa sambil berjalan menggusur kakiku yang ternyata masih sakit saat dipaksakan berjalan cepat.
Aku bingung harus keluar dari sekolah lewat jalan mana sedangkan tidak mungkin aku lewat ke depan sekolah, pasti akan banyak siswa dan siswi yang memasuki sekolah dan mereka pasti akan merasa curiga dan bertanya kenapa aku malah keluar dari sekolah, padahal yang lain baru berangkat, akhirnya aku memutuskan agar keluar dari sekolah ini lewat pintu belakang, dan sialnya pintu itu terkunci sehingga terpaksa dan mau tidak mau aku harus memanjat dinding sekolah yang lumayan tinggi, awalnya aku ragu dan takut sebab tembok itu cukup tinggi untuk dipanjat dan masalah nya kakiku sedang sakit, aku takut akan semakin parah jika memaksakannya namun di sisi lain aku juga takut ketahuan siswa lainnya apa lagi kalau sampai ketahuan guru, jadi aku memberanikan diri untuk memanjat, aku mulai menggusur beberapa kursi usang yang terbengkalai di sana, aku menyusunnya sampai beberapa tumpuk dan mulai menaiki tumpukan meja dan bangku tersebut dengan perlahan dan berhati hati, tapi seberhati hatinya aku menaiki tumpukan kursi itu, tetap saja aku terpeleset karena salah satu kursi yang berada di tumpukan paling bawah setelah meja patah secara tiba tiba, aku panik dan takut badanku terjatuh ke belakang dan aku hanya bisa menutup mata berharap aku masih bisa bertahan.
Aku merasa aneh kenapa tidak merasakan sakit sama sekali saat jatuh sampai aku pikir mungkin aku sudah meninggal dan aku mulai menangis tersedu sedu.
"Hiks hiks...heuuu...heuuu...heuuu...hiks..aku sudah mati yah kenapa tidak sakit padahal jatuh dari tumpukan kursi yang cukup tinggi begitu hiks..hiks.." ucapku sambil menangis terisak.
Saat aku tengah menangis terisak tiba tiba seseorang memanggil namaku.
"Talita.....cepat bangun dari badanku kau tidak mau membuatku semakin mengejarmu bukan" ucap kak Bara yang ternyata menjadikan badannya sendiri sebagai alas untuk badanku agar tidak jatuh ketanah.
Aku menelan ludahku refleks dan segera bangkit terburu buru lalu merapihkan pakaianku, aku juga segera membantu kak Bara bangkit dengan kesakitan karena aku jatuh tepat mengenai badannya.
"Terimakasih dan maaf kak, aku sungguh tidak bermaksud kok" ucapku dengan perasaan yang canggung.
__ADS_1
Rasanya aku ingin segera pulang dan menenggelamkan badanku di bawah selimut tebal lalu tertidur berharap bisa melupakan semua kejadian memalukan kemarin, tadi malam dan barusan.