Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Di rumah bersama Fasya


__ADS_3

Aku sangat kesal dan merasa jengkel dengan tingkah Fasya, dia terus saja berlagak seakan dia adalah tuan rumah di kediaman aku sendiri, buktinya saja saat ini dia mengabaikan aku dan tetap menatap ke depan tanpa terganggu sedikitpun, aku yang kesal segera menutupi layar televisi dengan tubuhku tapi dia hanya bergeser saja menghindari aku, hingga kesabaranku sungguh sudah habis untuknya.


Aku pun segera mengambil remote televisi dari atas meja namun dia jauh lebih cepat mengambilnya hingga aku terpaksa langsung berusaha merebut remote televisi itu dari tangannya.


"Aishh...hey, berikan remote nya!" Bentakku padanya.


Dia tetap tidak mendengarkan aku sehingga aku berusaha untuk merebut remote tersebut tapi dia langsung berdiri dan memegang remote itu diatas tangannya yang dia acungkan ke atas sangat tinggi.


"Hey.....kenapa kau mengangkatnya, kemari berikan padaku.... Eughh" ucapku sambil terus berusaha meraihnya.


Sayangnya tinggi badanku yang tidak seberapa ini tidak bisa menggapainya dan aku malah tersandung hingga menipa tubuh Fasya dan dia juga ikut jatuh ke sofa sehingga wajahku terlihat begitu dekat dengan wajahnya dan kami berdua langsung tertegun tidak bisa berkata-kata satu sama lain.


"AA...aahhh...." Ucapku sambil segera berusaha bangkit.


Saat aku hendak bangkit Fasya sialan itu justru malah memeluk pinggangku dan dia menarik tubuhku mendekat pada tubuhnya secara sekaligus hingga membuat aku sangat kaget, bahkan aku bisa merasakan detak jantungnya karena saat itu secara tidak sengaja tanganku menyentuh dadanya.


"KA..kau....apa apaan kau, cepat lepaskan aku!" Ucapku berusaha berontak dan hendak mendorong tubuhnya agar menjauh dariku.


Sayangnya dia justru malah semakin memelukku dengan erat dan dia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga aku mulai gugup dan merasa cemas.


"Hey....hey ...apa yang mau kau lakukan, Fasya lepaskan aku buk...buk...buk" ucapku berontak dan memukuli dada bidangnya.


Hingga tidak lama dia langsung melepaskan pelukannya dari tubuhku dan aku segera bangkit berdiri dengan menatapnya dengan tatapan mata yang tajam dan berkacak pinggang langsung mengomeli dia sepuasnya.


"Heh! Fasya apa kau gila, kau baru saja memelukku dengan sengaja dan apa yang sebenarnya ingin kau lakukan padaku hah?" Bentakku dengan keras kepadanya.


Dia tidak membalas ucapanku dan malah berpura-pura tidur tidak jelas, aku menepuk tangannya dengan keras sekuat tenagaku hingga dia terbangun dan meringis kesakitan.


"Plak .....hey bangun kau aku tahu kau tidak tidur, cepat bangun!" Ucapku dengan meninggikan suara,


"AA..aaw...aishh...kau ini apa sih, selalu saja sibuk, sudah sana pergi aku hanya akan duduk di sini dan menunggu ibumu kembali baru aku akan berpamitan pulang setelah bertemu dengannya" balas Fasya sangat menjengkelkan.


Aku menghembuskan nafas kesal dan segera menggulung lengan bajuku dengan cepat lalu menarik tangannya dan memaksa dia untuk segera keluar dari rumahku secepatnya, aku sudah sangat jengkel dan kesal dan aku tidak bisa diam saja ketika melihat orang mesum seperti dia yang berlama-lama di rumahku, terlebih hanya ada aku dan dia di dalam kediaman ini.

__ADS_1


"KAU..... AYO KELUAR DARI RUMAHKU! Eughh....keluar kau!" Teriakku sambil menarik dia terus dengan paksa,


"Hey.....hey.... Lepaskan aku! Talita berani kau menyeretku hah!" Bentak dia membalas ku dan terus saja saling menarik satu sama lain.


Aku tidak mau mengalah dan terus menarik tangannya dengan sangat kuat, dia juga memegangi sofa rumahku dan terus berusaha mempertahankan dirinya sendiri, aku tidak bisa menyerah dengan orang sepertinya dan aku melakukan aba-aba terlebih dahulu, lalu dalam hitungan ke tiga aku langsung menariknya dengan sekuat tenaga.


"Eeeuhhh.....brukkk...aduhhh" ucapku yang justru malah jatuh terjungkal ke belakang.


Kepalaku menghantam bagian sudut meja hingga jidatku sedikit tergores dan mengeluarkan darah.


Aku merasakan perih dan sakit di keningku dan saat aku menyentuhnya darah terlihat jelas di keningku. Aku sangat kaget dan langsung berteriak keras merutuki Fasya sepuas ku.


"Ta..Talita keningmu" ucap Fasya sambil menunjuk ke arah keningku,


Aku mulai menyentuhnya perlahan dan langsung menjerit dengan sangat keras.


"Aaaarrtkkkhhhh....huaaaaa....ini sakit, semua ini karenamu dasar Fasya sialan!" Teriakku sangat keras.


"Aduh....diam...diam itu hanya luka kecil kenapa kau berlebihan begini, sudah jangan menangis seperti anak kecil begitu, ayo aku akan mengobati lukamu" ucapnya menjadi sedikit lembut dan membantu aku berdiri.


Aku duduk.di sofa dan dia bertanya dimana aku menyimpan kotak p3k di rumah itu, namun sayangnya aku dan ibu tidak pernah menyiapkan obat p3k sama sekali sehingga saat dia menanyakannya aku hanya bisa menggelengkan kepala.


"Heh, dimana kau menaruh kota obatnya?" Tanya dia begitu saja,


"Apa, kau....kau? Tidak punya kotak obat? Aishhh....yang benar saja" tambah Fasya sambil menggaruk belakang kepalanya cukup kasar.


Dia pun segera pergi begitu saja dan aku tidak tahu dia akan pergi kemana hingga tidak lama kemudian dia kembali lagi dan membawa obat-obatan di tangannya dia langsung mengobati dahiku dan menyuruh aku untuk diam.


"Hey, diam kau, aku akan mengoleskan obat merahnya pada jidatmu, ini mungkin akan sedikit perih" ucapnya sambil siap mengoleskan obat merah pada keningku.


Aku hanya diam saja dan meringis sedikit menahan perih di dahiku yang luka hingga dia menempelkan plester di dahiku itu dan aku tidak sengaja menatap wajahnya sangat dekat ketika dia tengah mengobati luka di keningku.


Dari dekat dia terlihat jauh lebih baik dan tampan dia bahkan meniupi keningku dengan memonyongkan bibirnya dan itu sungguh lucu bagiku aku hampir saja tertawa melihat kelakuannya itu namun aku berusaha keras untuk menahan tawa karena aku takut dia akan tersinggung.

__ADS_1


Ku pikir dia tidak akan mengetahui bahwa aku menahan tawa karena ulahnya namun ternyata dia mengetahuinya dan dia menyentuh hidungku sekilas sambil berbicara memergoki aku yang menatapnya sedari tadi.


"Heh, apa yang kau lihat kau menertawakan aku kan?" Ucapnya begitu saja.


Aku langsung memalingkan pandangan dengan cepat darinya dan bersikap seperti biasanya sambil memegangi plester di dahiku.


"A....apa? Kau jangan ke gr an aku hanya tidak sengaja melihatmu dan aku tidak menertawakan mu kok" balasku menutupinya.


Dia membereskan obat-obatan bekas mengobati lukaku dan dia kembali duduk dengan santai di sofa tepat bersampingan denganku, suasana diantara kami terasa sangat canggung hingga dia mulai menyalakan televisi lagi dan memindahkan chenel tv nya pada serial film horor dan kebetulan di saat dia memindahkannya dalam film itu tengah berada dalam adegan hantunya yang sangat menyeramkan serta suara musik latarnya yang mengagetkan.


Aku langsung mengangkat kakiku keatas dan terperanjat refleks memeluk Fasya karena saat itu dia berada dekat di sampingku, aku sangat takut dengan film horor dan Fasya seakan sengaja menonton fil itu di televisi dan membuat aku terus merasa takut.


"Aaaarrttkkk....tidak.....jangan film horor, Fasya cepat pindahkan chenelnya!" Ucapku sambil menutup mata dan terus memeluk tubuh Fasya dengan erat.


Disisi lain Fasya justru merasa senang dan dia diam-diam tersipu serta menunjukkan senyum kecil di wajahnya dia dengan sengaja tidak memindahkan chenel tv tersebut dan malah membesarkan volume suaranya membuat aku semakin ketakutan.


"Fasya kau sengaja melakukannya kan, aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak memindahkannya!" Bentakku mengancam dia.


Aku pikir dia akan benci jika aku terus memeluknya dengan sangat erat seperti itu sehingga aku melontarkan ancaman seperti itu kepadanya, namun jawaban yang aku dapatkan justru sangat jauh di luar nalar dan ekspektasi di pikiranku.


"Silahkan saja" balasnya dengan santai.


Aku langsung melepaskan pelukanku dan segera berdiri sambil menutup mata dan telinga lalu aku berjalan dengan hati-hati menuju kamarku, meski beberapa kali tersandung dan terpentok ke tembok aku tidak menyerah dan terus berusaha untuk sampai pada pintu kamarku, hingga ketika aku menyentuh pegangan pintunya, langsung saja aku masuk ke dalam kamar dengan cepat.


"Hah....ada apa dengannya, dasar aneh!" Ucap Fasya yang melihat aku berjalan seperti itu.


Dia juga diam-diam menertawakan aku dengan puas karena melihat aku yang terus berjalan tersandung juga terpentok pada tembok beberapa kali.


Rasa sakit yang aku rasakan seketika hilang karena itu lebih besar dari rasa takut yang ada di dalam diriku.


Aku tidak perduli meski jatuh, tersandung dan terpentok sangat keras, karena suara film horor di tv sangatlah keras, aku memang orang paling penakut dan aku sungguh tidak bisa melawan rasa takut dalam diriku sendiri sehingga aku memilih untuk menutup mataku agar tidak melihatnya dengan jelas.


Jika aku melihatnya mungkin aku tidak akan bisa tertidur dengan tenang dan aku juga akan selalu ketakutan dan merasa ada yang mengawasi di sekitarku jika saja aku menonton film horor seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2