Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Berkelahi


__ADS_3

Aku terus saja merasa cemas dan tak bisa makan dengan tenang direstoran kumuh yang begitu terpencil itu, meski aku sulit untuk menelan makanan yang dihidangkan namun aku terus memaksakannya untuk masuk ke dalam perutku karena lambung ini sudah protes meminta asupan makanan, karena jika tidak aku pasti akan merasakan sakit yang sangat hebat dan itu justru akan membuat Alvaro kesulitan aku juga tidak mau berhutang budi lagi padanya, sudahlah hutang seragam masa aku harus hutang budi juga pada Alvaro, itu sudah cukup melukai harga diriku.


Aku bahkan merasa heran karena melihat Alvaro yang bisa makan dengan begitu lahap dan nikmat.


"Bagaimana bisa dia makan senikmat itu di tempat seperti ini" gumamku merasa heran.


Alvaro yang merasa dirinya di perhatikan diam diam oleh Talita dia pun membereskan makannya dengan cepat dan menyuruh Talita agar segera menyelesaikan makannya juga.


"Heh, cepat habiskan makananmu ini sudah larut, bahaya jika kau tetap di sini!!" Ucap Alvaro nampak serius.


"Iya, ini juga sudah hampir selesai, lagi pula siapa yang membawaku ke tempat seperti ini lebih dulu" jawabku sambil menghabiskan makanan lebih cepat,


Selesai makan aku merasa ingin buang air kecil dan aku tidak tau tempat toilet di sana sehingga aku terpaksa menanyakannya pada Alvaro dengan perasaan yang canggung.


"Eu... Alvaro toiletnya di mana?, aku tidak tahan lagi" ucapku berbisik padanya,


"Kau ini benar benar merepotkan, kau masuk saja ke sana di ujung ada pintu berwarna coklat itu toiletnya, ingat setelah selesai cepat kembali!!" Ucap Alvaro mengingatkan.


Aku mengangguk dan segera pergi dengan sedikit terburu buru karena sudah tak tahan lagi.


Saat Talita tidak ada seseorang pria bertubuh kekar datang menghampiri Alvaro dan memberi kabar bahwa terjadi penyerangan di gerbang depan dan mereka mencurigai bahwa itu adalah anak buah dari ayah Alvaro yang dikirim secara khusus untuk menangkap dirinya dan membawanya pulang kembali ke kediaman keluarganya, Alvaro yang mendengar kabar tersebut dia marah tak terkendali dan refleks berdiri sambil menggebrak meja dengan keras.


"BRAKKK.." suara meja yang digebrak kuat oleh Alvaro,


"Kerahkan lebih banyak orang untuk menahan mereka jangan sampai masuk ke tempat ini!!" Ucap Alvaro memberi perintah,


"Baik bos" jawab pria yang tadi memberikan kabar padanya.


Alvaro pergi menyusul Talita yang masih berada di toilet dia sengaja menunggu Talita tepat di depan pintu toilet itu, sampai beberapa saat ketika Talita membuka pintu.

__ADS_1


"Arhkkk.... Alvaro sedang apa kau berdiri di depan pintu toilet?" teriak Talita dengan suara yang keras,


"Berisik cepat ikut aku" ucap Alvaro yang tiba tiba menarik lenganku dan membawaku menuju motornya,


"Eh ..tunggu Al, aku belum membayar makanannya" ucapku menghentikan Alvaro,


"Tidak perlu restoran itu markasku, cepat naik di sini tidak aman" balas Alvaro yang nampak terburu buru dan raut wajahnya yang cemas,


Aku bingung apa yang membuatnya cemas seperti itu dan tiba tiba membawaku pergi dari sana dengan terburu buru, untuk saat ini aku hanya bisa menuruti ucapannya dan dia melajukan motor ke jalan yang berbeda dengan jalan saat aku pertama masuk ke tempat itu sebelumnya.


"Alvaro kau mau membawaku ke mana sih, ini kan bukan jalan yang tadi kita lewati" ucapku bertanya serius,


"Berpegangan yang erat, dan dengar baik baik jika di depan jalan sana banyak orang berpakaian hitam yang hendak menghentikan motorku kau abaikan saja atau kau bisa menendang mereka menjauh, aku akan mengemudi dengan baik" ucap Alvaro begitu serius,


"Apa maksudmu Al?, aku tidak mengerti" ucapku kebingungan,


"Sudah turuti ucapanku kalau kau mau selamat" jawabnya tegas.


Kita tiba di ujung jalan dan saat ku tatap ke depan benar semuanya sesuai dengan yang Alvaro ucapkan padaku sebelumnya, di sana berjalan rapi pria bertubuh tinggi dan kekar memakai jas hitam dan celana hitam sepatu mereka mengkilat dan mereka berjajar memenuhi jalanan dengan merentangkan tangan mereka hendak menghentika motor kami, namun hingga jaraknya tinggal beberapa meter lagi Alvaro tidak menurunkan kecepatannya sedikitpun, aku merasa takut kalau Alvaro akan menabrak orang orang itu dengan sengaja sampai ketika jaraknya begitu tipis orang orang ber jas hitam menyingkir dengan cepat dan kami berhasil melewati mereka, tapi tak sampai di situ saat aku menengok ke belakang mereka ternyata mengejar aku dan Alvaro, aku semakin takut dan terus berpegangan semakin erat pada Alvaro.


"Alvaro kau benar benar mau mengajakku mati yah, dasar sialan mereka terus mengikuti kita bagaimana ini All!" teriakku dengan penuh kegelisahan.


"Diam lagi pula mereka tidak akan pernah melukaimu" ucap Alvaro yang begitu santai.


Berbicara pada Alvaro di situasi seperti ini memang tidak ada gunanya dia sungguh membuat jantungku tidak tenang dan saat itu aku merasa sudah pasrah jika harus mati bersama Alvaro karena orang orang misterius yang terus mengejar ku di jalanan dengan cepat, meski mereka menggunakan mobil namun kecepatannya mampu mengimbangi motor Alvaro itu membuatku begitu cemas tak karuan.


Sampai Alvaro berdecak kesal dan tiba tiba motornya berhenti di tengah tengah jalan, aku refleks membelalakkan mata sempurna dan langsung bertanya pada Alvaro dengan panik.


"Aduh... Ada apa ini kenapa kita berhenti, mereka akan segera menyusul kita Al" ucapku begitu ketakutan sambil menggigit ujung jariku dan gemetar dengan hebat,

__ADS_1


"Hei... Hei... Talita lihat aku!, tenangkan dirimu, aku sudah bilangkan selama aku di sampingmu kau akan aman dan baik baik saja jadi cobalah untuk tenang aku akan menghadapi mereka" ucap Alvaro memegangi kedua pundakku dan memberiku kekuatan,


"Aku bukan tidak percaya padamu Al, tapi jumlah mereka terlalu banyak aku takut kau...kau...akan...." Ucapku tertahan dan mulai berkaca kaca,


"Tenang saja, aku tidak akan mati dengan mudah" jawab Alvaro yang membuatku semakin ketakutan dan khawatir.


Badanku sudah gemetar dengan hebat aku sudah takut tak karuan dan bingung harus melakukan apa, tempat ini terlalu sepi dan jauh dari pemukiman warga maupun perkotaan, ditambah jumlah mereka yang jauh lebih banyak mana mungkin Alvaro bisa melawan mereka dengan tubuhnya seorang diri.


Kerumunan orang berjas hitam itu tiba dan mereka keluar dari mobil satu persatu lalu berjalan dengan tenang menghampiri Alvaro, sedangkan Alvaro sudah menyiapkan diri memasang kuda kuda dan berjaga untuk melakukan serangan pada mereka.


"Tuan saya tidak mau melukai anda sebaiknya anda ikut dengan kami tempat ini sudah di kepung" ucap salah satu pria berjas hitam,


"Kalian hanya bisa membawaku ketika aku kalah bertarung" ucap Alvaro dengan wajah yang begitu serius.


Mereka langsung menyerang Alvaro satu demi satu dan sempat berkeroyok setelah salah satu dari mereka memberi isyarat, aku berteriak dan berusaha menolong Alvaro namun tanganku ditahan oleh dua orang pria yang aku tidak kenal.


"Lepas... Lepaskan aku, hentikan jangan pukul dia... Hiks...hiks... Hiks... Berhenti aku mohon" teriakku memohon dan aku tak sanggup melihat Alvaro yang sudah kelelahan bertarung.


Meski mereka bertarung dengan tangan kosong dan walaupun Alvaro berhasil menangkis serta menghindari setiap serangan dari mereka namun sesekali dia juga terkena pukulan yang membuat ujung bibirnya mengeluarkan darah dan matanya yang sudah lebab, aku sungguh tak sanggup lagi, sehebat apapun Alvaro dia akan kalah karena dia seorang diri.


Aku terus berontak dan berhasil melepaskan genggaman mereka pada kedua lenganku, aku langsung berlari dan memeluk Alvaro dengan erat.


"Berhenti aku mohon berhenti memukulinya, kalau kalian ingin harta aku bisa memberikan semua yang aku punya untuk kalian, dan jika kalian ingin nyawa ambil saja nyawaku aku lebih suka mati dari pada melihat orang lain tersiksa di hadapanku.. hiks..hiks.." ucapku berteriak dan memegang kepala Alvaro dengan lembut,


"Talita...ohok...ohok... Cepat pergi dari sini, mereka akan mengantarmu dengan selamat, mereka bukan orang jahat" ucap Alvaro yang membuatku kesal,


"Alvaro kau ini bedebah bagaimana bisa mengatakan mereka tidak jahat setelah apa yang mereka lakukan padamu, hiks...hiks... Aku tidak mau mereka itu penjahat kau akan mati kalau terus begini aku tidak mau Al" ucapku sambil terus menangis tersedu sedu.


Alvaro berbicara pada pria berjas hitam itu dan menyuruh mereka untuk pergi, aku tidak terlalu mendengar percakapan mereka karena terlalu panik dan ketakutan.

__ADS_1


"Pergilah aku akan pulang besok dan bicara pada ayah, lain kali jangan menangkapku jika aku tengah bersamanya, apa kalian paham!!" ucap Alvaro berbisik di telinga salah satu anak buah suruhan ayahnya itu.


Alvaro sengaja menyembunyikan kebenarannya karena dia tidak mau identitas aslinya diketahui oleh siapapun, selama dia masuk sekolah dia hanya ingin menjadi siswa biasa dan tidak mau mendapatkan perlakuan khusus dari siapapun itulah alasannya dia menyembunyikan identitas aslinya.


__ADS_2