
Aku berlari menuruni anak tangga dan mengejar pria itu karena merasa takut, aku meneriaki pria aneh yang tidak ku ketahui namanya tersebut berkali kali namun dia sama sekali tidak memperlambat jalannya apalagi berhenti untuk menungguku, aku sungguh kesal sampai tidak melihat jalan dengan benar.
"Hei.....tunggu....tunggu...aku, kenapa kau berjalan cepat sekali.....tunggu.." ucapku berteriak dan berusaha menyusulnya.
"Brukkk.....aaaahhhhh" suaraku yang tersandung dan jatuh dari tangga.
Untung saja aku masih sempat berpegangan pada pegangan tangga sehingga bisa menopang tubuhku sendiri dan tidak menggelinding ke bawah, jika saja aku tidak berhasil berpegangan mungkin aku akan kehilangan nyawaku sendiri, aku terduduk lesu sambil menahan sakit di seluruh badan terutama di bagian pergelangan kakiku yang sepertinya terkilir, aku mencoba berdiri namun pergelangan kakiku ngilu saat digerakkan, aku ingin berteriak meminta tolong namun aku juga tau itu akan sia sia dan hanya menghabiskan energi ku, lagi pula hanya ada aku dan pria aneh yang begitu dingin di sekitar sana, sudah jelas ketika aku meminta pertolongan pada pria itu ku pikir dia tidak akan perduli apa lagi menolongku, pada gadis yang dibully diatap saja dia malah membawaku bersembunyi.
Selang beberapa saat terdengar langkah kaki menderu seperti ada seseorang yang berlari dari tanggan bawah menuju ke arahku, aku takut dan pikiranku sudah membayangkan pada hal hal buruk menakutkan, saat suara kaki itu semakin dekat aku menutup wajah dengan kedua tangan dan menunduk ketakutan sampai suara seseorang membuatku menjadi tenang.
"Heiii....hah...hah...apa kau baik baik saja?" Ujar pria aneh tadi yang ternyata berlari untuk menemui ku dengan wajah cemas penuh keringat dan nafas menderu.
Aku merasa tenang saat melihat dan mendengar ucapan pria itu, di sisi lain aku bahagia karena akhirnya aku bisa keluar dengan cepat dari tempat itu sebelum satpam menutupnya, kulemparkan senyum terbaik yang aku miliki pada pria itu berharap dia bisa merasa iba dan mau membantuku.
"Berhenti memasang wajah so imut itu, ayo naik" ucap pria itu sambil berjongkok di hadapanku dan menepuk pundaknya.
Ya dia menyuruhku untuk naik ke atas pundaknya dia akan menggendongku, tanpa pikir panjang dan merasa senang aku langsung menurutinya dan dia mulai mengangkat tubuhku lalu berjalan perlahan menuruni tangga.
Aku yang penasaran kenapa pria itu mau menolongku, akhirnya aku utarakan semua kebingunganku padanya, berharap dia bisa memberikan jawaban sesuai harapanku.
__ADS_1
"Eummmm...kenapa kau mau kembali ke atas dan menolongku?" tanyaku penasaran.
Sayangnya aku terlalu berharap tinggi bahwa dia akan memberikan jawaban sesuai keinginanku nyatanya jangankan menjawab sesuai keinginan di balas pun tidak, entah dia tidak mendengar ucapanku atau memang dia enggan membalas ucapanku, aku kesal dan memilih untuk diam saja sepanjang perjalanan, tapi disaat aku diam dia malah mengajukan pertanyaan.
"Kenapa kau diam?" tanyanya dengan nada suara yang datar.
Sontak aku mengerutkan kedua alis ku dan merasa bingung sekaligus kelas menjadi satu, pertanyaan semacam itu sungguh tidak pantas untuk diutarakan.
"Heh....apa kau manusia?, tadi saat aku bicara padamu kau tidak menjawabku sama sekali sekarang kau malah balik bertanya kenapa aku diam, dasar pria aneh semuanya aneh dan menyebalkan" ucapku kesal sampai tak sadar kalau saat ini aku tengah berada di pundak pria itu, dia berhenti berjalan dan menurunkanku, jelas aku refleks kaget dan membuka mataku dengan lebar.
"AA...a...apa apaan kamu, kenapa menurunkanku?" tanyaku heran dan kesal sambil menahan sakit di pergelangan kakiku.
"He..he..heiii....tunggu, tungguu....kumohon berhenti, apa kau marah padaku aku minta maaf, tolong kembali......hiks....hiks....." Ucapku berteriak memanggil bahkan memohon padanya agar tidak meninggalkanku.
Tapi pria itu terus berjalan dan aku terduduk lesu sambil terisak, aku sampai tak sadar sampai menangis terisak, entah aku menangis karena sakit di badan dan pergelangan kakiku atau aku sakit karena menerima kenyataan kalau pria itu meninggalkanku seorang diri dalam keadaan tak berdaya di tengah tengah tangga.
Saat tengah menangis terisak, ternyata pria itu kembali dan aku sangat senang sampai tak sadar aku refleks memeluknya dengan erat.
"Hiks...hiks...hiks.... terima kasih sudah kembali, tolong jangan tinggalkan aku lagi, kakiku sakit aku bahkan tidak bisa berdiri tegak...hiks..hiks...kau tidak akan meninggalkanku lagi kan?" ucapku sambil memeluk erat dan terisak memohon agar pria itu tidak meninggalkanku sendirian lagi.
__ADS_1
"Apa kau sudah puas memelukku?" ucap pria itu menyadarkanku.
Aku tidak peduli dengan apapun saat ini yang terpenting aku bisa keluar dari lorong tangga darurat dan bisa segera mengobati kakiku yang terkilir, dan saat aku sadar memeluknya erat aku langsung merasa canggung dan mendorong badan pria itu sedikit menjauh dariku dan aku segera menyeka sisa sisa air mata di pipiku.
" Jangan salah paham apalagi berpikiran yang aneh aneh, aku hanya refleks saja makanya memelukmu" ucapku memberikan penjelasan sekaligus pembelaan untuk menjaga harga diriku sendiri.
Pria aneh itu justru tidak memberikan ekspresi apapun dan hanya menaikan sebelah alisnya membuatku semakin cangung dan tidak tau harus berbuat apa lagi.
" Kenapa?, apa kau sungguh berpikir tadi aku meninggalkanmu? tanya pria itu dengan mata yang menatapku tajam seperti tengah mengintrogasi.
Aku tertegun mendengar pertanyaan pria itu dan malu tentu saja aku sangat malu, sudah tak terbayang lagi bagaimana wajahku menahan malu di depan priaa itu, akupun mengalihkan pembicaraan.
" Sudahlah kau ini benar benar aneh, ayo bantu aku berdiri, kakiku sudah hampir bengkak dan ini sakit tau" ucapku mengalihkan.
Bukannya kembali menggendong atau memapahku pria itu justru malah menyuruh ku untuk duduk dan dia memegang kakiku yang terkilir lalu tiba tiba saja dia menekan kakiku dan aku menjerit kesakitan, dia mengurut kakiku sampai terdengar bunyi krekkk yang lumayan keras, itu sungguh membuatku kesakitan dan refleks memukul tangan dan pundak pria itu untuk menghentikan dia memijat kakiku lagi.
"Aaaa....sakit...berhenti....buk..buk..bukkk" ucapku berteriak sambil memukul ke segala arah pada pria itu.
Setelah dia melepaskan kakiku aku merasa sedikit nyaman rasa sakitnya tidak separah sebelumnya dan kakiku sudah bisa digerakkan walau sedikit demi sedikit, aku kaget dan baru sadar kalau ternyata perbuatan pria itu tadi bukan untuk menyakitiku namun justru menolongku, hanya saja dia lebih banyak bertindak daripada bicara sehingga itu membuatku berpikiran ke segala arah dan tiap kemungkinan sampai menyimpulkan hal hal diluar kebenarannya.
__ADS_1