
Kepala pengawas yang kejam itu telah berhasil diamankan dan di bawa langsung ke kantor polisi oleh guru lain sedangkan wali kelas menyuruhku untuk pulang dan akan diantar oleh guru lainnya, padahal saat itu aku sangat ingin menunggui Alvaro dan merawatnya disana.
"Talita sebaiknya kamu pulang ibu akan mengantarkan mu dahulu" ucap ibu guru kepadaku,
"Tidak Bu, aku ingin merawat Alvaro disini saja" ucapku menolaknya,
"Talita kamu juga pasti syok karena kejadian tadi, ibu tidak ingin itu justru mengganggu pembelajaran mu apalagi besok adalah hari terakhir ujian kamu harus mempersiapkannya dengan baik jika kamu ingin masuk ke universitas yang kamu harapkan, masalah Alvaro biar pihak sekolah yang mengurusnya kamu tidak perlu khawatir dengan hal itu" ucap wali kelasku dan aku mengangguk patuh.
Aku tidak bisa memaksa lagi dan itu sudah keputusan dari wali kelas yang tidak bisa diganggu gugat olehku sehingga aku segera pulang meski hatiku terasa berat untuk meninggalkan Alvaro.
Alvaro juga tidak mengatakan apapun terhadapku dia bahkan memalingkan wajahnya dariku seperti enggan melihatku padahal sebelumnya jelas sekali dia seperti sangat mengkhawatirkan aku dan langsung membelaku dari kepala pengawas tadi.
Aku pulang diantar guruku dan segera masuk ke dalam apartemen ku lihat ibu belum kembali dan ponselku sudah rusak, mungkin membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memperbaikinya dan aku memilih untuk menaruh ponselku di laci agar ibu tidak mengetahui hal itu.
"Sebaiknya aku tidak memberitahu ibu mengenai hal ini, aku akan mencari uang sendiri untuk memperbaiki ponselku" ucapku sambil menaruh ponsel di dalam laci.
Aku tidak ingin membebani ibu, aku tahu gajih ibu bekerja di perusahaan tidak akan sebesar gajih ayah dan dia juga masih harus membayarkan uang sekolah serta kebutuhan kami sehari-hari sehingga aku tidak ingin menambah beban untuknya, bisa melihat dia bersikap kembali seperti dulu lagi kepadaku itu sudah sebuah keberuntungan dan hadiah terbesar untukku.
Aku duduk setelah membersihkan diri dan mengobati lecet di tumitku, dan lagi-lagi pikiranku terbesit memikirkan keadaan Alvaro, padahal saat itu aku sudah duduk di depan meja belajar dan sudah membuka buku untuk bersiap siap memulai belajar.
"Huftt...jika begini terus aku tidak akan bisa belajar dengan fokus, aku harus memastikan keadaannya dahulu" ucapku lalu menutup buku ku segera.
Aku keluar dan pergi kembali ke sekolah berharap Alvaro akan berada disana namun nyatanya semua murid sudah tidak ada dan hanya ada beberapa guru yang pulang terakhir, aku tidak sengaja bertemu dengan wali kelas dan aku segera menahannya.
"Bu...bagaimana keadaan Alvaro apa tadi dia baik baik saja?" Tanyaku dengan penasaran,
"Astaga, Talita kamu ngapain kesini, Alvaro sudah pulang sendiri dia baik baik saja, ibu kan sudah bilang padamu untuk pergi beristirahat kenapa kamu malah berkeliaran seperti ini, cepat pulang dan belajarlah dengan baik" ucap wali kelas yang malah memarahiku.
Aku pun segera pergi dari sana namun aku tidak merasa menyesal sama sekali karena setidaknya aku tahu jika Alvaro baik baik saja dan sekarang aku baru bisa merasa lega serta tenang, aku kembali dengan perasaan jauh lebih baik dan saat masuk ke dalam rumah rupanya ibu sudah pulang dan dia duduk dengan serius di depan meja makan sambil menyuruhku menghampirinya dengan nada yang datar.
"Talita dari mana saja kamu ini?, Cepat kemari ada yang ingin ibu bicarakan denganmu" ucap ibuku dengan sorot mata yang begitu dingin.
Aku mulai merasa heran dengan tatapan dan ekspresi yang ibu perlihatkan kepadaku, dia tidak seperti ini sebelumnya sehingga aku menggempur dia dan duduk dengan keheranan.
"Ada apa Bu, kenapa ibu terlihat begitu serius?" Tanyaku penasaran dan heran,
Tiba-tiba saja ibu membentakku dan dia terus saja berbicara tanpa henti.
"Talita bagaimana bisa kamu tidak memberitahu ibu jika ada seorang guru yang membantumu?, Kenapa kamu tidak bicara pada ibu jika pengawas itu memiliki gangguan jiwa dan dia hampir membuatmu celaka, kenapa kau kembali ke sana hanya untuk ponsel jelek ini!" Bentak ibuku sambil mengeluarkan ponselku dari sakunya.
Aku kaget, heran dan tidak mengerti mengapa ibu bisa mengetahui semuanya bahkan dia bisa menemukan ponsel yang aku sembunyikan dengan baik sebelumnya.
"Ehh...darimana ibu bisa menemukan ponsel itu?" Tanyaku heran,
__ADS_1
"TALITA..., Kamu ini memang tidak ada takut-takutnya yah, kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri Talita kamu seharusnya tidak kembali ke sana dan hampir membuat dirimu dalam bahaya seperti tadi, apa kamu mengerti!" Ucap ibuku sambil memegang erat kedua lenganku.
"Ibu tolong jangan berlebihan seperti ini, Talita tahu ibu mengkhawatirkan Talita tapi Bu, aku baik baik saja hanya ponsel itu yang terluka jadi jangan berlebihan begini oke" ucapku menenangkan ibuku.
Meski aku sudah berusaha keras meyakinkan ibuku bahwa aku baik-baik saja nyatanya ibu tetap mengkhawatirkan aku dan dia memperingatkan aku lagi.
"Talita tetap saja tadi wali kelasku memberitahu ibu jika pengawas itu sudah dipenjarakan dan ternyata dia memang mengalami gangguan jiwa, untung saja temanmu menyelamatkanmu jika tidak apa yang akan terjadi denganmu?, Awas lain kali kamu harus mengatakan apapun yang terjadi pada ibu agar kamu bisa lebih berhati hati apa kau mengerti?" Ucap ibuku dan aku hanya bisa mengangguk menanggapinya.
"Iya...iya Bu aku mengerti" balasku dengan menghembuskan nafas lesu.
Rupanya memang wali kelas yang melapor pada ibuku, dan aku yakin dia pasti menceritakan semuanya hingga membuat ibuku marah besar dan mencemaskan aku seperti ini, wali kelas memang sama bawelnya dengan ibuku.
Rasanya sulit sekali bagiku untuk menghindar dari dua orang cerewe ini, selalu saja mereka bersikap berlebihan padaku padahal sudah jelas aku baik-baik saja dan sehat Ingga saat ini.
Setelah mendapatkan ceramah yang panjang dan lebar dari ibuku akhirnya aku bisa kembali ke kamarku yang damai dan nyaman, aku juga segera belajar untuk ujian terakhir besok setelah ujian besok akan ada libur dua Minggu dan setelah itu aku akan segera masuk ke universitas, rasanya sudah sabar untuk bisa beralih dari siswi SMA menjadi remaja yang menempuh pendidikan di universitas.
Aku sudah menantikannya dalam waktu yang lama dan selalu membayangkan bagaimana kehidupan seorang mahasiswi nantinya, aku selalu ingin masuk ke universitas Gunadarma dimana universitas itu adalah salah satu universitas terbaik di negara ini dan siapapun yang bisa menjadi lulusan terbaik akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di luar negeri dengan pembiayaan full dari universitas.
Rumor juga mengatakan bahwa universitas itu adalah khusus bagi orang-orang terkaya di negeri ini sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana, hanya ada tiga golongan orang yang bisa masuk ke sana, pertama adalah mereka yang kedua orangtuanya memiliki kedudukan tinggi atau jabatan yang berpengaruh di negara ini, kedua adalah yang orangtuanya seorang pembisnis kaya raya ataupun memiliki perusahaan, dan yang ketiga adalah siswa yang memiliki kecerdasan, meski miskin dan tidak memiliki jabatan asalkan kita pandai dan dapat mengalahkan ribuan orang dalam tes maka kita tetap bisa masuk ke sana lewat jalur kepandaian.
Dan itulah yang tengah aku kejar kali ini, meskipun ayahku bekerja di perusahaan namun dia hanya seorang meneger biasa yang bekerja di bawah kepemimpinan orang lain sehingga aku tidak bisa menggunakan identitasnya sedangkan ibuku juga hanya seorang sekretaris presdir jadi kedua jabatan orangtuaku tidak bisa aku andalkan.
Namun ada satu yang tersisa yang bisa aku andalahkan yakni diriku sendiri, tentunya dengan bantuan otak yang cerdas aku akan terus berusaha dengan keras tanpa mengeluh sedikitpun untuk mendapatkan hasil tea terbaik di sekolahku agar bisa masuk ke universitas Gunadarma.
Universitas itu adalah yang selalu aku dambakan aku berharap kehidupan akan berubah dan aku bisa sukses dengan caraku sendiri tanpa harus ada campur tangan kedua orangtuaku lagi, meskipun sampai saat ini aku masih sering menggunakan uang dari kedua orangtuaku namun aku tetap mau bekerja sendiri dan belajar hidup mandiri sebisaku.
Sampai ke esokan paginya aku bangun pagi pagi sekali seperti biasanya dan berangkat ke sekolah menggunakan bus jemputan, sesampainya disana karena aku rasa aku sudah sangat siap untuk ujian aku langsung duduk di kursiku dengan tegak dan membaca buku ku seperti biasanya untuk mengulang sekilas bacaan di dalamnya.
Sedangkan tidak lama Alvaro tiba pandangan dan fokus dalam diriku langsung saja teralihkan kepadanya aku menaruh bukuku di meja dan menggeser kusiku ke samping untuk menjadi lebih dekat dengan Alvaro.
"Ekhmm... Btw Alvaro apa kamu sudah baikkan, mana yang luka?" Tanyaku padanya dengan cemas,
"Berhenti menatapku dan mencari letak luka di tubuhku kau mengganggu!" Ucapku dengan tatapan dingin,
"Ckk...aku hanya mencemaskanmu kenapa kau berkata kasar begitu kepadaku" ucapku kesal dan langsung menjauh darinya.
Aku kembali menggeser kursiku ke tempatku semua dan aku tetap memandangi Alvaro dengan wajah yang kesal serta kedua tangan yang aku lipatkan di dada.
Rasanya aku tidak terima mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alvaro padahal aku sudah berusaha bicara dengan baik-baik kepadanya, namun yang dia berikan kepadaku selalu bertolak belakang dan hanya membuatku marah serta marah dalam setiap saat.
"Sial meski dia menyebalkan kenapa aku tidak bisa berhenti untuk memperdulikannya?" Gumamku merasa heran dengan diriku sendiri.
Aku selalu merasa cemas, khawatir dan selalu penasaran dengan semua hal yang bersangkutan dengan Alvaro sedangkan kepada kak Bara yang sudah jelas dia adalah pacarku saat ini, aku justru tidak terlalu perduli padanya bahkan ketika dia sering mengirimi aku pesan aku hanya membalas pesan tersebut sebisaku dan terkadang aku lupa membalas pesan chat darinya.
__ADS_1
Sepertinya aku memang tidak bisa menyukai kak Bara meski dia bersikap sangat baik kepadaku dan selalu memperlakukan aku dengan lembut.
Pagi itu aku tidak bisa menatap ke depan dan hanya ingin terus melihat Alvaro hingga aku puas, aku sangat merindukan sosok dia yang dulu, apalagi ketika terakhir kalinya dia membawaku ke pantai kenangan itu yang selalu membayangiku dan tidak bisa aku lupakan, kala itu dia begitu baik dan lembut kepadaku dia selalu menolongku disaat aku membutuhkannya dia seperti seorang pahlawan untukku tapi sekarang tiba-tiba saja dia lebih mirip musuh untukku.
Dan parahnya aku tidak tahu apa alasan dia bisa berubah seperti itu terhadapku.
"Alvaro setidaknya jika kamu ingin membenciku dan menjauhiku seperti ini, kamu harus memberitahuku alasannya" ucapku dengan tatapan mata yang sayu dan aku segera kembali menghadap ke depan.
Aku takut dia akan marah dan membentakku lagi atau membawaku ke dalam masalah besar seperti sebelumnya jadi aku lebih memilih untuk berhenti menatapnya terus menerus lagi.
Sedangkan disisi lain sesungguhnya Alvaro juga tidak ingin berada dalam situasi semacam ini namun keadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja, banyak pengintai di sekitarnya yang selalu bisa datang kapan saja untuk mencelakai dirinya atau bahkan mencari tahu kelemahan dalam dirinya agar bisa mengalahkan Alvaro.
Dia tidak ingin Talita terlibat dengan urusannya pada beberapa orang, sebab dunia bisnis tidak sesederhana kelihatannya, banyak sekali orang jahat yang ada di dalamnya dan sulit untuk dikendalikan.
"Maafkan aku Talita aku juga tidak ingin berjauhan darimu seperti ini aku ingin memegang tanganmu, aku ingin duduk di dekatmu lagi, tapi ini bukan waktunya" gumam Alvaro di dalam hatinya.
Di saat Talita menatap ke depan Alvaro diam diam memperhatikannya namun di saat Talita menatapnya dan memperhatikan dirinya Alvaro justru memalingkan pandangan ke arah lain dan terus saja berpura-pura menyibukkan dirinya sendiri.
Hingga ujian di mulai dan untuk yang ke tiga kalinya Talita tetap menjadi murid pertama yang selesai menyelesaikan semua soal ujian dengan mudah, kali ini Elisa tidak duduk di luar menunggu Alvaro, aku langsung pulang dan menyiapkan diri untuk masuk ke universitas yang aku impikan, aku tidak mau mengganggu orang yang tidak ingin aku ada disampingnya lagi.
"Alvaro jika itu yang kau inginkan, aku akan menjauh sendiri darimu tanpa harus kamu usir lagi" ucapku sambil menatap ke arah Alvaro yang masih melakukan ujian di dalam kelas.
Aku pergi ke rumah meski dalam keadaan yang sedih, sebab Alvaro sekarang benar-benar tidak menginginkanku namun saat ibu pulang dia membawakan aku sebuah ponsel baru sehingga kesedihanku telah terobati, aku pun memindahkan kartu SIM card dari ponsel lama ke ponsel baruku dan baru saja aku mengaktifkan semuanya, sebuah notifikasi mulai bermunculan di ponsel baruku itu.
"Waahhh ibu ini kan ponsel keluaran terbaru kau yakin mau memberikannya untukku?" Tanyaku masih merasa tidak percaya,
"Tentu saja sudah cepat coba" ucap ibuku dan aku langsung mencobanya.
Aku sangat menyukai ponsel baruku dan ibu mulai penasaran dengan banyaknya notifikasi di dalam ponselku, dia terus berusaha untuk mengintip namun aku lebih pintar darinya dan lebih cepat sehingga berhasil menyembunyikan notifikasi itu dari mata ibu.
"Ihhh ..ibu ini apa apaan sih, kepo banget sama urusan anak muda hihi" ucapku sambil meraih ponselku jauh jauh dari ibuku,
"Ya ampun Talita ibukan hanya penasaran lagi pula wajar saja jika seorang ibu ingin mengetahui apa yang putrinya lakukan di dalam ponselnya, siapa tau kau punya pacar yah" ucap ibuku dengan menyipitkan matanya,
"A...apa sih ibu, sudah ah aku mau pergi ke kamar dan beristirahat" ucapku yang mulai memperlihatkan pipi meronaku sehingga membuat ibu bisa mengetahuinya tanpa aku mengucapkan apapun.
Ibu hanya tersenyum sedikit lalu membiarkan aku masuk ke dalam kamar, aku sangat senang dan berjingkrak kegirangan karena bisa memiliki ponsel keluaran terbaru yang selalu aku dambakan.
Dan aku juga segera memeriksa semua notifikasi yang masuk ke dalamnya, rupanya itu hanya notifikasi dari Audy dan spam chat dari kak Bara aku segera membalas mereka satu persatu dengan suasana hati yang lebih baik.
Lalu kak Bara melakukan panggilan video bersamaku tapi aku merasa heran karena ini masih siang dan seharusnya kak Bara sedang belajar di jam segini, tapi kali ini dia malah menelpon ku tanpa memberitahuku sebelumnya dan aku pun hanya menerima panggilan video tersebut, lalu aku langsung melihat sosok kak Bara yang tengah tertidur dengan kak Vera di sebuah ranjang berwarna putih dan nampaknya itu berada di sebuah hotel.
"AA...apa apaan ini?, Siapa kau dimana kak Bara?" Bentakku sangat keras dan aku begitu sakit hati ketika melihatnya.
__ADS_1
Aku langsung menangkap layar kejadian itu sebagai bukti, sebelum sang penelepon tiba-tiba saja menutup panggilannya.
Jantungku terasa berhenti berdetak dan aku seperti tidak bisa merasakan apapun selain rasa kecewa dan marah, aku tidak menyangka kak Bara telah benar-benar berubah sejak dia belajar di luar negeri, awalnya aku pikir dia terlihat berbeda hanya karena lewat telpon atau chat saja, namun ternyata pergaulannya juga sudah berubah, bahkan dia tega berselingkuh dariku dan itu dengan sahabatnya sendiri kak Vera.