
Saat tau ternyata pria itu membantuku dan memijat pergelangan kakiku, awalnya memang meyakitkan namun sekarang sudah jauh lebih baik aku merasa kakiku tidak sesakit sebelumnya saat digerakan namun masih sedikit membiru juga bengkak, tiba tiba pria aneh itu langsung menggendong tubuhku tanpa aba aba sebelumnya sampai membuatku kaget dan membuka mataku lebar.
"E..e...ehhhh...apa yang mau kau lakukan" ucapku terheran heran.
"Berhenti bertanya dan jangan banyak bergerak, atau aku akan melemparmu" ucap pria itu dengan dingin dan terus menatap lurus ke depan.
Refleks aku kesal dan memonyongkan bibirku menirukan ucapan pria itu tadi, bodohnya aku tidak sadar kalau sedang digendong pria aneh tersebut, ternyata pria itu sadar kalau aku menirukannya dan malah aku yang malu dibuatnya.
"Kenapa berhenti?, sudah puas menurunkanku, hhaaa..kau tidak akan mampu" ucap pria itu dengan sombongnya.
Aku semakin dibuat kesal dan tak sabar ingin segera keluar dari sana, sampai ketika sudah di lantai dasar aku melihat pintu gerbang sudah di tutup, jelas aku kaget dan berteriak mengeluh juga meminta tolong.
"Apa...kenapa gerbangnya tertutup, gawat jangan jangan ada yang menguncinya....aaaaaa...bagaimana ini aku kan harus masuk kelas" ucapku panik tak karuan semua bercampur aduk di dalam kepalaku.
Pria itu menurunkanku, dia berjalan menuju gerbang untuk memastikan, dan ternyata dugaanku benar berkali kali dia mencoba mendorong pintu namun tetap tidak bisa, sampai akhirnya pria itu berbalik badan dan duduk di salah satu anak tangga, sedangkan aku yang masih tidak percaya mencoba memastikannya sendiri, aku berjalan perlahan sambil menahan sakit di kakiku dan mencoba mendorong juga menarik kunci gerbang tersebut namun sekuat apapun aku mencoba hasilnya tetap nihil meski aku tak menyerah sampai kelelahan, pria aneh itu bahkan tidak mencoba membantuku dia hanya tetap duduk diam tidak melakukan apapun.
__ADS_1
Melihatnya diam terduduk santai sementara aku yang kesakitan dan berjalan tak seimbang harus berusaha keras mencoba segala cara agar bisa membuka gerbang itu, jelas aku sangat kesal dan tidak bisa menahan emosi lagi.
"Heii....kau ini sebenarnya manusia atau es balok sih, bisa bisanya kau tidak membantuku untuk membuka gerbang ini" ucapku dengan keras dan penuh emosi.
" Kau bodoh, mana bisa gembok dan rantai sebesar itu dibuka dengan tangan kosong, meskipun kau berusaha sampai kau mati itu tetap akan terkunci" balas pria itu dengan santainya lalu dia beranjak dari sana mulai kembali menaiki tangga ke atas.
Aku marah, kesal dan bingung, ucapan yang keluar dari mulutnya selalu membuatku naik pitam, ingin mengejar dan memukulinya sampai puas aku tidak bisa karena kakiku yang bengkak, akhirnya hanya bisa merutuki pria itu dalam hati.
"Dasar pria sialan, tidak punya hati nurani, menyebalkan arghhhh aku sangat membencinya" gumamku kesal.
Waktu bergulir terus menerus, aku sudah berteriak berkali kali sampai tenggorokanku kering dan sakit, kalau aku terus memaksakan diri untuk berteriak meminta tolong bisa bisa suaraku habis, aku pun memutuskan pasrah dan duduk sambil menyender pada tiang tangga di situ.
Kini sudah hampir sore dan masih belum ada orang yang menyadari kepergianku, juga satpam belum terlihat, aku yang lelah tak sadar tertidur di tangga tersebut dan saat aku terbangun tiba tiba hari telah berganti malam, di sana hanya da sedikit penerangan sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas ke atas tangga dan keluar sana, aku sedikit merinding dan takut, aku sungguh tidak bisa berada di sana lebih lama lagi, perutku lapar, tenggorokan pun haus, ditambah di sana banyak tempat gelap yang tak bisa aku jangkau, aku sungguh takut gelap, samar samar terdengar langkah kaki seseorang dari atas tangga, dan gemericik hujan di luar, aku kaget bertambah takut.
"Hujan....diluar sedang turun hujan, tapi siapa yang berjalan dari atas tangga?" Ucapku bingung.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku mulai ingat bahwa di sana ada pria aneh itu juga dan aku yakin yang berjalan menghampiriku adalah pria tersebut, sampai akhirnya dia sampai pada tempat yang cukup terang dan sesuai dugaanku itu adalah pria aneh yang super dingin, tapi ada yang lebih aneh daripada sikapnya itu.
Dia datang dari atas tangga dengan membawa kain biru yang kami gunakan untuk sembunyi tadi siang dan dia juga membawa sebuah tas ransel, lalu dia duduk di sebelahku dan memberikan kain tadi padaku.
"Inikan kain yang tadi siang, untuk apa kau berikan padaku? tanyaku heran sambil memegangi kain tersebut.
"Diluar hujan besar makanya aku turun ke sini dan kain itu agar aku tidak kedinginan, terimakasih sudah mau memeganginya selagi aku memperbaiki posisi duduk, sini berikan" ucap pria itu sambil mengambil kembali kain itu dari tanganku.
Padahal sebelumnya aku pikir dia perhatian dan memberikan kain itu padaku secara sengaja, ternyata dia mengambil kain itu untuk dirinya sendiri, entah mengapa aku kesal karena dia tidak memberikan kain itu untukku padahal aku juga kedinginan mana kakiku bengkak lagi, hari ini sungguh sial sekali, apalagi harus bermalam dengan pria aneh dan dingin di lorong tangga darurat.
Semakin malam hujan justru malah semakin lebat dan udara semakin dingin aku terus menggosok kedua lengan berharap mendapatkan kehangatan untuk tubuhku tapi sayangnya itu tidak cukup, tubuhku mulai menggigil dan aku sungguh merasa sangat dingin.
Aku sudah tidak kuat lagi, dengan sisa sisa tenaga yang aku punya aku berusaha meraih kain berwarna biru dari pria aneh itu, namun tenagaku sudah benar benar hampir habis, aku tidak mau sampai akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
Pria itu sadar kalau aku jatuh pingsan dan dia segera mendekat lalu menyelimuti ku dan terus menggosok kaki juga kedua tanganku, dia bahkan melepaskan jaket yang dia kenakan lalu memakaikannya padaku, dia tau kalau aku tengah kedinginan dan menggigil hebat dia terus menjaga tubuhku agar tetap hangat, aku sungguh sudah kehilangan seluruh kesadaran, aku tidak tau lagi apa yang dilakukan pria itu padaku.
__ADS_1
Setelah beberapa saat aku mulai mendapatkan kesadaran kembali perlahan lahan, saat aku pertama kali membuka mata aku hanya melihat wajah panik pria itu dan aku tersenyum karena wajahnya yang lucu saat panik dan di detik itu juga aku tau dia tidak sedingin kelihatannya, tanpa aba aba pria itu memelukku dengan erat dan mengusap punggungku terus menerus, aku mau menolak pelukannya tapi tidak ada tenaga untuk itu akhirnya aku hanya bisa pasrah dan diam saja sambil merutuki pria aneh itu lagi dalam hati.