Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Tidur di luar


__ADS_3

Aku terperangah dan sedikit kaget juga merasa gugup ketika Alvaro melingkarkan tanganku pada pinggangnya, itu sungguh membuatku sulit untuk bergerak namun aku tetap harus melakukannya untuk menghindari Fasya, Alvaro pun mulai melajukan motornya dan melewati Fasya namun sialnya ternyata Fasya tetap mengenali aku karena tas yang aku kenakan, dia berteriak memanggil aku dan langsung mengejar kami dengan mobilnya tersebut.


"Eh...eh...bukannya itu tas Talita? Jangan-jangan dia..... Hey...Talita tunggu kau!" Teriak dia memanggilku sambil segera masuk ke dalam mobil.


Aku sudah sangat panik dan merasa takut, aku pikir dia tidak akan mengenaliku karena aku sudah menggunakan helm yang menutupi seluruh wajahku bahkan aku memalingkan pandangan ke arah lain, tapi dia tetap bisa mengenalinya sungguh penglihatan yang jeli sekali.


"Aaa...Alvaro bagaimana ini dia mengejarku, ayo kemudikan lebih cepat lagi, ayo Alvaro!" Ucapku mendesak dia.


"Baik tapi ini keinginanmu yah, pegangan yang erat" balas Alvaro segera melajukan motornya lebih cepat dari sebelumnya.


Aku tersentak sedikit ketakutan karena Alvaro sunggu menaikkan kecepatan motornya lebih dari ekspektasi diriku, hingga aku berteriak dan mempererat pelukanku kepadanya.


"Aaaaarrkkkk...." Teriakku terus memeluk Alvaro lebih erat.


Tapi untungnya berkat Alvaro yang hebat dalam mengemudi kami pun bisa lolos dari kejaran Fasya dan akhirnya Alvaro bisa menurunkan kecepatan motornya, lalu aku menepuk pundaknya beberapa kali meminta dia untuk berhenti sejenak karena aku merasa lemas dan sedikit mual.


Kepalaku juga agak pusing sebab tadi adalah pertama kalinya lagi aku merasakan dibonceng dengan kecepatan seperti itu, ini sungguh menggoyangkan seluruh badanku dan membuat aku merasa sangat tidak enak badan.


Setelah motornya berhenti aku langsung turun dengan terhitung huyung dan segera berjongkok di pinggir jalan memegangi kedua kepalaku dan berusaha untuk melepaskan helm yang aku pakai, rasanya sangat lega sekali ketika aku sudah berhasil melepaskan helm di kepalaku, setidaknya aku bisa merasakan kepalaku lebih ringan dan bisa bernafas lebih lega.


"Ah...hah...hah...Alvaro kau benar-benar pembalap, asihhh....kepalaku howweeekkk...." Ucapku tak sampai karena aku merasa sedikit mual.


Alvaro yang melihat kondisi Talita seperti itu, dia segera turun dari motor dan memeriksa aku segera.

__ADS_1


"Talita ada apa, mana yang sakit, apa kamu baik-baik saja?" Tanya dia nampak mengkhawatirkan aku.


Aku menggelengkan kepala sambil mendorong tubuhnya untuk sedikit menjauh dariku, aku rasa saat itu aku hanya sedikit pusing dan kembung karena masuk angin sehingga merasa mual, tapi setelah beberapa saat beristirahat disana aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang dan aku berniat untuk segera menghentikan taxi yang lewat disana namun Alvaro menghentikan aku dengan cepat.


"Aahh...taxi!" Teriakku sambil melambaikan tangan.


Alvaro langsung menarik tanganku dan akhirnya taxi tadi melewatiku karena aku tidak menghentikannya lagi.


"Ehh..Alvaro lepaskan, kenapa kau menarikku, aku mau pulang" ucapku sambil menghempaskan lengannya dengan cepat,


"Apa kau masih marah denganku? Aku akan mengantarmu Talita kau tidak perlu mencari taxi, ayo pakai kembali helmnya" ucap Alvaro sambil memasangkan helm itu pada kepalaku.


Aku hanya dia dan cemberut tapi karena Alvaro mendesakku untuk segera naik ke atas motornya aku pun segera menurut dan dia mengantarkan aku pulang namun dengan sengaja aku menyuruh dia menghentikan aku di persimpangan jalan, karena aku tidak ingin dia mengetahui alamat rumahku yang baru.


Dia pun segera menghentikan motornya dan aku segera turun lalu membuka helm dan memberikan helm itu kepada dia segera.


"Ini....ambil helm mu dan pergilah dari sini, aku bisa pulang sendiri sekarang" ucapku lalu berjalan meninggalkan Alvaro.


Dia memajukan motornya pelan dan masih mendesakku untuk mengantarkan aku hingga ke depan rumah, namun aku segera membentak dia dengan keras.


"Talita aku kan sudah bilang, aku akan mengantarmu dengan selamat, kenapa kau tidak mengerti" ucapnya padaku,


"Bukan aku yang tidak mengerti tapi kau yang memaksa, pergi atau aku tidak akan bicara lagi denganmu!" Ancamku kepadanya.

__ADS_1


Akhirnya Alvaro mau pergi dari sana namun dia melajukan motornya dengan sangat cepat dan aku langsung merutuki dia habis-habisan.


"Aishh...dasar manusia sialan, awas kau Alvaro aku tidak akan memaafkanmu! Teriakku sambil menendang kosong ke depan.


Aku pulang dengan cemberut dan saat aku hendak naik ke apartemen ku lihat ada mobil Fasya terparkir di depan dan aku tahu dia pasti ada di rumah bersama ibuku, aku sangat benci dan malas untuk menghadapinya saat ini sehingga aku memutuskan untuk duduk di tangga menunggu kepergian Fasya baru aku akan naik ke atas.


"Sial, dia pasti ada di dalam, malas sekali jika harus melihat sandiwaranya lagi, aaahh...lebih baik aku duduk disini sana sampai dia keluar" gerutuku pelan.


Aku duduk menunggunya di tangga sambil bersandar ke dinding hingga tidak lama aku mulai terlelap, dan tidak ingat apapun lagi.


Wajar saja jika aku duduk disana hingga ketiduran karena aku sudah menunggu Fasya keluar dari apartemenku dalam waktu yang sangat lama, bahkan rasanya nyamuk sidak mengigiti kulit di tangan dan kakiku, tidak tahu kenapa aku bisa sampai tertidur padahal nyamuk sangat banyak di luar sini.


Hingga Fasya memutuskan untuk pulang karena tidak kunjung melihat Talita datang ke rumah, dia juga ibu Talita merasa sedikit cemas sehingga mereka keluar bersama dan berniat untuk mencari keberadaan Talita. Namun disaat mereka baru saja menutup pintu, mereka bisa langsung melihat Talita yang terduduk di tangga membelakangi mereka dengan kepala yang bersandar ke tembok.


"Astaga, putriku kenapa dia malah tidur di luar seperti ini?" Ucap ibunya langsung menghampiri,


"Apa kau sebenci itu padaku hingga rela membuat dirimu sendiri seperti ini karena tidak ingin bertemu denganku?" Gumam Fasya di dalam hatinya.


Badanku terasa sedikit dan aku mulai tidak bisa merasakan apapun disekitar sana sampai ibu membangunkan aku dan dia merasakan suhu tubuhku yang menurun drastis.


"Talita....bangun, oh astaga...Talita suhu tubuhku menurun, aaahhh... Kenapa kamu bodoh sekali malah tidur di luar dengan pakaian pendek seperti ini padahal kamu tidak tahan dingin, Fasya ayo cepat angkat Talita, bawa dia masuk ke dalam segera" ucap ibuku terdengar panik.


Meski aku tidak bisa membuka mataku dengan lebar dan hanya memiliki sedikit kesadaran namun aku masih bisa mendengar perkataan yang mereka katakan dan masih bisa melihat samar-samar wajah mereka.

__ADS_1


Fasya segera mengangguk dan dia langsung menggendong Talita lalu membawanya masuk ke dalam, sedangkan ibu segera menyiapkan kompresan air hangat untukku, Fasya juga terus menggosok kedua tanganku dan menyelimuti aku dengan selimut yang tebal, dia terlihat cukup panik sama seperti ibuku yang memasukkan kakiku pada sebuah wadah berisi air hangat yang sudah dia bawa sebelumnya.


__ADS_2