
"Aishh.... Kenapa kau tidak bilang dari tadi, aku tahu dimana alamatnya itu cukup dekat kok" balas Audy yang membuat aku senang dan sedikit kaget tentunya.
"A...Apa kau tahu rumahnya, apa kau sungguh mengetahuinya? Kau tidak bercanda kan Audy?" Ucapku menyelidiki dia,
"Iya, aku mengetahuinya, untuk apa juga aku berbohong padamu, sudah ayo naik aku akan antarkan kamu kesana" tambah Audy sambil melempar helm kepadaku.
Aku masih saja terperangah dan kaget melihat Audy mengetahui alamat rumah kak Fasya padahal aku kira dia tidak akan mengetahuinya jika tahu begitu mungkin sejak awal aku tidak perlu pergi membujuk dosen dengan susah payah sampai menghabiskan banyak energi dan waktu.
Hingga sesampainya disana karena Audy memiliki janji temu dengan ayahnya sehingga dia tidak bisa menunggu aku atau ikut bersama denganku ke dalam sana jadi dia pergi setelah mengantarkan aku di depan kediaman kak Fasya.
"Talita maaf ya aku tidak bisa menemani kami hingga ke dalam aku harus segera kembali ayahku pulang hari ini" ucap Audy padaku,
"Aahh... Iya tidak masalah santai saja aku juga bisa menemuinya sendiri" balasku padanya sambil memberikan helm itu pada Audy,
"Ahaha... Kau senang bukan karena bisa berduaan, ku lihat rumahnya sepi nih" ucap Audy dengan menaikkan kedua alisnya menggodaku,
"Aish.... Kau ini mikir apa sih, sudah sana pergi ah aku juga mau masuk ke dalam" ucapku segera mengusirnya sebelum dia membuat wajahku merona.
Dan itu akan sangat melakukan jika benar-benar terjadi di hadapan Audy yang memang pada dasarnya selalu senang menggodaku hingga akunmati kudu dengan semua godaannya.
Setelah Audy pergi aku segera masuk ke dalam pagar tinggi yang tertutup itu karena tidak di kunci dan tidak ada satpam yang menjaga juga disana sehingga aku bisa masuk dengan mudah sendirian, aku sampai di depan pintu dan segera menekan bel rumahnya satu kali, lalu ku tunggu tidak ada jawaban juga, akhirnya aku menekannya lagi untuk yang ke dua kalinya.
Hingga tidak lama akhirnya kak Fasya sendiri yang membuka kan pintu untukku dan dia terlihat begitu lesu juga wajahnya yang pucat pasi dan rambut sedikit berantakan.
"Kau... Mau apa kau kemari?" Tanya dia padaku,
"Kak... Kenapa denganmu, apa kau baik-baik saja?" Tanyaku padanya,
"Entahlah aku juga tidak tahu" balasnya dengan mata yang sayu.
Karena mencemaskannya aku langsung menyentuh dahinya dengan belakang tanganku karena aku curiga jika dia sakit dan saat aku menyentuhnya untuk memeriksa suhu tubuhnya ternyata badannya sangat panas bahkan ketika aku menyentuh leher dan tangannya itu sangat panas sekali.
"Eh... Eh... Apa yang kau lakukan berhenti menyentuh tubuhku sembarangan!" Ucap kak Fasya sambil menepis tanganku.
Aku mengerutkan wajah menatapnya dan segera menarik tangannya membawa masuk ke dalam rumah dan aku meminta dia menunjukkan dimana kamarnya kepadaku.
"Aish... Fasya kau ini demam dan sakit kau harus beristirahat kenapa kau malah membukakan pintu untukku, ayo tunjukan dimana kamarmu aku akan merawat mu" ucapku sambil menariknya,
Kak Fasya hanya menunjuk mengarahkan dan aku memapah dia karena terlihat sangat lemas, apalagi menaikki tangga yang cukup panjang hingga aku menidurkan dia di ranjang dengan perlahan dan segera menyelimutinya dengan selimut yang halus dan tebal yang ada disana, aku kemudian menyuruh dia untuk tidak bergerak dan kembali pergi ke lantai bawah untuk menyiapkan air dan kompres san untuknya.
"Diam disini dan janganemcoba untuk bergarak memaksakan diri, aku akan menyiapkan kompresan dan membeli obat untukmu dulu, ingat jangan kemana-mana!" Ucapku memperingatinya,
Aku segera pergi dengan cepat dan segera membeli kompresan untuk orang dewasa yang banyak di jual di minimarket untungnya minimarket disana cukup dekat dengan tempat tinggal kak Fasya sehingga memudahkan aku untuk pergi membelinya dengan cepat, aku juga membeli obat demam dan sebungkus bubur karena aku takut dia belum makan.
Aku bahkan harus berlari tunggang langgang karena sangat mencemaskannya hingga tidak memperhatikan jalanan sampai tersandung-sandung di jalan dan membuat kuku kakiku sedikit terluka dan berdarah namun aku hanya meringis sebentar dan mengabaikannya saja.
Sesampainya di rumah aku langsung mengambil air dan menuangkan bubur lalu aku berlari lagi menaiki tangga dan menemui kak Fasya di kamarnya dengan nafas yang ngos-ngosan dan keringat bercucuran di dahiku.
"Hah... Hah... Hah... Akhirnya aku sampai juga" ucapku sambil segera berjalan menghampiri dia dan duduk di tepi ranjang.
Aku segera membantu dia untuk bangkit dari tidurnya.
"Kak ayo aku bantu untuk duduk dahulu dan makan buburnya, kau pasti belum makan kan?" Ucapku sambil membantunya bangkit terduduk perlahan,
__ADS_1
Melihat wajahnya aku bisa tahu bahwa dia belum makan sejak pagi, bibirnya yang pucat dan juga kering aku tahu dia belum makan apalagi tangannya yang gemetaran seperti itu dia sangat membuatku khawatir melihat keadaannya yang seperti itu dan aku merasa.sedikit sedih dengan keadaannya.
"Ini makan buburnya" ucapku sambil menyuapi dia dengan sendok.
Dia hendak mengambil mangkuk di tanganku namun aku segera mengambil mangkuk itu dan menjauhkan dari tangannya, aku tidak bisa membiarkan dia makan sendiri dalam keadaan seperti ini.
"Ehh... Apa yang mau kau lakukan, biar aku saja yang menyuapiku, kau ini sedang sakit lihat tanganmu gemetaran seperti itu, sudah disini ada aku yang sehat biar aku merawatmu" ucapku mendominasi dan dia hanya tersenyum kecil menanggapinya.
Aku segera menyuapi dia dengan pelan dan sabar karena dia makan dengan sangat lama, mungkin karena kondisi tubuhnya sangat buruk dan lemah saat ini.
"Aaaa... Ayo buka mulutmu pesawatnya akan segera masuk hehe" ucapku sambil sedikit bercanda menyuapinya.
Dia tersenyum meski sedang sakit dan melihat dia bisa tersenyum itu membuat aku lega dan jauh lebih tenang, setidaknya itu membuat aku percaya bahwa dia bisa lebih baik, ku pikir jika dia tidak tersenyum aku akan langsung membawa dia ke rumah sakit saat itu juga agar mendapatkan perawatan yang sepadan.
Nyatanya setelah masuk makanan ke dalam perutnya dia terlihat lebih bertenaga dan tidak seburuk sebelumnya, setelah buburnya habis aku segera membantu dia meminum obat dan mulai membantunya kembali berbaring baru aku menempelkan kompres san di dahinya dengan pelan.
"Sekarang istirahatlah, aku akan menunggumu disini jangan khawatir, aku adalah perawatanmu sekarang, jadi tidurlah dengan tenang" ucapku sambil menepuk pelan kepalanya karena aku tahu dia tengah sakit.
Tiba-tiba saja kak Fasya meraih tanganku dan dia menarik tanganku dan menggem tanganku dengan erat dia juga menaruh tanganku diatas perutnya, lalu dia mulai menutup matanya perlahan aku tidak berani berbicara atau menarik tanganku karena aku takut dia akan terganggu.
"E.....eh... Bagaimana ini, jika aku tarik dia akan bangun jika tidak aku tarik aku akan pegal, aaahh... Sudah biarkan saja yang terpenting dia cepat sembuh" ucapku mengabaikannya.
Aku pun bermain ponsel dan memeriksa media sosial dengan tanganku yang satunya untuk menghilangkan kebosanan karena menunggui orang sakit yang tertidur hingga lama-kelamaan aku juga mulai mengantuk dan aku sudah tidak tahan menahan mataku yang sudah terasa sangat berat.
Sudah beberapa kali aku tertidur hingga akhir kepalaku jatuh di samping kak Fasya yang tertidur aku juga malah tertidur dengan lelap, dan tidak tahu sampai kapan aku tertidur di sana
Hingga ketika aku bangun ternyata hari sudah malam, itu terlihat dari jendela kaca besar yang menghadap ke balkon dimana langit sudah berubah menjadi malam di luar sana.
"Hoaamm.... Ehh... Sudah malam ya, aishhh berapa lama aku ketiduran?" Ucapku kaget dan refleks langsung menarik tanganku dari pegangan kak Fasya.
"Ohh astaga... Bagaimana aku pulang sekarang, ahhh lebih baik aku menghubungi ibu dulu agar dia tidak khawatir" ucapku sambil segera meneleponnya.
Saat itu karena aku sangat panik sendiri dan tengah menghubungi ibuku aku sampai tidak sadar bahwa sebenarnya kak Fasya itu sudah bangun sejak awal bahkan lebih awal daripada aku namun dia dengan sengaja tidak membangunkan aku saat itu hingga aku bangun dengan sendirinya.
Setelah menghubungi ibuku dia langsung saja marah besar dan mengomeli aku namun ketika aku mengatakan bahwa aku merawat kak Fasya di rumahnya dia langsung berhenti mengomel dan malah menyuruhku untuk tidak perlu pulang.
"Talita kemana saja kau hah, ibu sudah menelponmu sedari tadi dan kau sudah berani mengabaikan telpon dari ibumu, kau anak gadis tapi belum pulang juga sudah hampir tengah malam seperti ini, cepat katakan dimana kau sekarang!" Bentak ibuku dengan suaranya yang sangat keras.
Bahkan aku sampai harus menjauhkan ponsel dari telingaku saking kerasnya teriakan dan Omelan yang ibuku berikan dari sebrang telpon itu.
"Aishh....kenapa suara ibu sangat keras sekali, untung saja gendang telingaku tidak pecah, aahhh... Ibu mengagetkan aku saja" gerutuku sendiri,
"TALITA!!! Apa kau mendengarkan hah, disini ibumu sedang bicara padamu!" Teriak ibuku membentak aku lagi,
"Bu... Aku tidak main-main di luar sembarangan kok, aku merawat kak Fasya dia sakit dan aku ketiduran karena merawatnya sepanjang hari jadi aku baru bisa mengangkat telpon mu sekarang" balasku mengatakan yang sebenarnya,
"Apa? Kau merawat Fasya, ahh dia sakit pasti karena menggendongmu kemari, aishh ini semua salahku Talita, sekarang dimana kau berada?" Tanya ibuku sambil menyalahkan aku juga,
"Aku ada di rumahnya Bu" balasku lagi,
"BAGUS! kau tidak boleh pulang dan diamlah disana jaga Fasya sampai dia benar-benar sembuh, ibu tidak akan membukakan pintu untukmu selama Fasya belum benar-benar sembuh!...Tut... Tut.... Tut" ucap ibu dan langsung mematikan panggilannya.
"Eh... Ibu, Bu? Tunggu dulu ibu? Aishh.... Ibu apa kau ini sungguh ibuku kenapa malah melarangku untuk pulang?" Gerutuku merasa sangat heran.
__ADS_1
Aku tidak habis pikir kenapa aku bisa memiliki ibu sepertinya, dia awalnya marah denganku karena aku belum pulang di jam segini namun setelah mengetahui bahwa aku berada di rumah Fasya dia malah terdengar sangat senang dan antusias, di tambah dia malah menyuruhku untuk tinggal disini dan melarang aku untuk pulang.
Tentu saja aku sangat kesal mendengarnya, dan aku juga tidak mau tinggal di rumah ini karena hanya ada Fasya yang tinggal di dalamnya aku tidak ingin terjadi fitnah nantinya antara aku dan dia.
Tapi jika tidak tinggal disana aku harus pergi kemana lagi, tidak ada tempat tujuan yang bisa aku datangi.
Aku berbalik dengan kesal danelihat Fasya yang sudah bangun dan memalingkan pandangannya ke arah lain, aku pikir dia terbangun karena suara keras ibuku barusan dan aku berjalan dengan lesu menghampiri dia.
"Kau mendengar semuanya bukan, tenang saja aku tidak akan tidur di rumahmu aku akan pergi menghubungi Audy" ucapku kepadanya,
"Aku tidak keberatan jika kau menginap semalam disini" balas Fasya yang membuat aku kaget,
"Hah? Kenapa kau malah mengijinkannya, harusnya kau bilang pada ibuku atau melakukan apa kek, supaya aku bisa pulang bukan malah menerima aku" ucapku merasa tidak setuju dengan ucapannya itu,
"Aku tahu bagaimana ibumu dan kau jauh lebih tahu bagaimana dia, apa menurutmu itu mungkin untuk di lakukan?" Ucap Fasya yang memang ada benarnya.
Mendengar perkataan dari Fasya memang betul, ibuku tidak akan mudah di bujuk mungkin meski Fasya menolak dia akan memohon pada Fasya atau melakukan hal lain dengan semua ide yang ada di kepalanya, aku pun memutuskan untuk tetap pergi kepada Audy.
"Aahhh... Sudahlah mungkin itu tidak akan berhasil aku akan menghubungi Audy saja" ucapku padanya.
Aku segera menghubungi Audy dan dengan cepat dia menerima telpon dariku.
"Audy apa kau ada di rumah sekarang? Aku ingin menginap di rumahmu lagi" ucapku kepadanya,
"Aahhh... Maafkan aku Talita tapi aku tengah tidak ada di rumah ayah mengajak aku untuk pergi jalan-jalan dengan ibuku dan rumah di kunci aku juga tidak akan kembali malam ini" balas Audy padaku,
"Ja.....jadi aku tidak bisa menginap di rumahku yah?" Balasku sangat gugup,
"Iya, maafkan aku yah dan ini aku juga sibuk membantu ayah sudah dulu yah, bye Talita" ucap Audy yang terburu-buru mematikan panggilannya.
"Audy.... Audy tunggu aku...aishh...kenapa semua orang memperdulikan sih" gerutuku sangat kesal.
Aku rasanya ingin berteriak sangat keras atau memukul sesuatu dengan sekuat tenagaku untuk meluapkan emosi malam ini, namun aku tidak bisa melakukan apapun di rumah orang lain apalagi tuan rumahnya tengah sakit.
Saat melihat balkon aku segera pergi ke sana dan langsung berteriak sekencang yang aku bisa untuk mengeluarkan unek-unek dan kekesalan serta emosi yang sedari tadi sudah bertumpuk banyak sekali di dalam tubuhku.
"Aaarrtkkhhhh..... Aaaaarkkkkkhhh" teriakku dua kali sangat kencang.
Bahkan Fasya yang ada di dalam kamar saja menutupi kedua telinganya saking kerasnya teriakkan dariku itu.
Setelah merasa lebih lega barulah aku kembali masuk dan menghadapi Fasya dengan nafas yang menderu dan wajah yang sangat kusut
Aku sangat kesal dan dengan terpaksa menerima tawaran dari Fasya untuk tinggal di rumahnya malam ini.
"Fasya dimana kamar tamunya?" Tanyaku kepada dia dengan memasang wajah yang tegang karena masih memiliki emosi,
"Itu ada di sebelah kamarku dan ada juga yang di lantai bawah kau bisa memilih" ucapnya padaku,
"Baik aku akan tinggal.di kamar sebelah agar bisa menjagamu juga, huh!" Ucapku sambil menghembuskan nafas kasar dan melipat kedua bibirku dengan kuat.
Aku segera keluar dari sana dan masuk ke kamar sebelah lalu kembali berteriak karena merasa sangat kesal bercampur malu yang tiada tara.
"Aaarrkkkk, sialan.... Mereka semua menjebakku!" Teriak aku sangat kencang dan terus menggerutu tiada habisnya.
__ADS_1
Sedangkan Fasya yang mendengarnya dia hanya menahan tawa dan merasa tingkah Talita sangat lucu dan menggemaskan bagi dirinya.