
"Talita kau lihatlah pengorbanan dari Fasya dia itu pria yang sangat baik dan luar biasa, dia bahkan rela membuat dirinya kelelahan dan mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk membuatmu sampai dengan selamat, apa kau tidak kasihan dengannya?" Ucap ibu terus membuat aku semakin merasa bersalah padanya.
"Iya Bu... Iya aku tahu, aku juga selama ini tidak memperlakukan dia dengan buruk, kenapa ibu terus menyudutkan aku begitu?" Balasku sambil mengolesi roti dengan selai coklat yang ada di atas meja.
Aku langsung menikmati roti itu dengan beberapa kali gigitan dan suapan, setelah beberapa saat ibu berpamitan dan dia bahkan menitipkan Fasya dan mengancam aku.
"Sudahlah ibu akan pergi sekarang, titip Fasya oke dan awas jaga dia baik-baik jika tidak ibu tidak akan memasukan kamu ke dalam rumah malam ini!" Ancam ibuku membuat aku sulit menelan roti di mulutku.
"Ya ampun ibu, iya... Aku juga mendengarnya kok" balasku sudah sangat jengkel.
Ibu sepertinya benar-benar sudah sangat terpincut dengan Fasya apalagi selama ini Fasya memang selalu bersikap baik saat dihadapan ibu, bahkan aku sendiri hampir tidak mengenalinya, dia bersikap sangat berbeda sekali dengan Fasya yang aku kenal ketika di kampus, selama ini dia yang selalu mempermainkan aku.
Bahkan di saat aku pertama kali masuk ke universitas, justru malah dia yang mempermainkan aku dan membuat aku malu bahkan tega menghukum aku berlari tiga puluh putaran, meskipun pada akhirnya dua pria aneh yang membantuku sehingga aku bisa beristirahat setelahnya.
Namun setelah aku pikirkan lagi sambil menatap wajahnya yang tidur dengan begitu lelap di sofa aku merasa sedikit tidak tega dengannya karena bagaimana pun apa yang dikatakan oleh ibuku memang benar, dia menggendong aku menuruni tangga yang panjang itu dan kembali menggendong aku lalu merawat luka di kakiku.
"Hmm.....memberikan dia selimut mungkin tidak akan rugi untukku" ucapku sambil segera pergi ke kamar dan membawa selimutku padanya.
Perlahan aku berjalan mendekati dia dan mulai menyelimuti tubuhnya dengan pelan sampai tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan secara tidak sengaja keningku mengenai bibirnya dan dia mengecup keningku begitu saja dengan santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Ehh.... KA...kau... Aishhh... Sialan kau kenapa malah mengecup keningku apa kau sengaja melakukannya yah?" Bentakku sambil segera menjauh darinya,
Dia malah tersenyum dan segera bangkit terduduk lalu membenarkan pakaiannya.
"Heh apa kau sama sekali tidak merasa bersalah hah?" Ucapku padanya karena dia terlihat begitu santai,
__ADS_1
"Itu memang di sengaja dan wajar saja jika aku mengecup keningmu, lagi pula sebentar lagi kita akan bertunangan tepat setelah tugas ngampusku selesai" ucapnya sambil berjalan dan meneguk minuman dari lemari pendingin.
Aku langsung membuka mataku dengan lebar dan sangat kaget ketika mendengarnya, pasalnya tidak ada yang pernah memberitahuku mengenai hal itu termasuk ibukundan kedua orangtuanya, aku langsung bangkit berdiri dan langsung menghampiri Fasya dengan segera.
"Apa? Kau pasti berbohong padaku kan? Ibuku juga tidak mengatakan apapun padaku, jangan mengada-ada" ucapku masih tidak mempercayainya.
Saat itu aku pikir dia hanya menggodaku dan aku pikir dia hanya bercanda saja untuk membuatku kaget dan panik namun rupanya tidak dia sungguh menjelaskan semuanya kepadaku saat itu juga sambil menikmati roti sarapannya.
"Tentu saja Tante tidak membicarakan semua itu denganmu karena dia tahu kau akan menolaknya tapi yang pasti aku sudah tahu semuanya dan aku juga sudah menyetujui perjodohan ini" balas dia begitu saja,
"Tapi kenapa kau menerimanya dengan sangat mudah, memangnya kau menyukaiku?" Ucapku dengan heran,
"Iya aku menyukaimu Talita" balas dia begitu saja.
Aku sangat kaget ketika mendengarnya sekaligus tidak tahan untuk tertawa karena aku masih belum bisa mempercayai semua ini dengan nyata.
"Berhenti menertawakan ku, ini sungguhan Talita apa kau tidak bisa melihat wajahku yang se serius ini?" Balas dia yang memang wajahnya itu sangat serius.
Aku pun langsung terdiam membisu dan tidak berkata-kata lagi, suasana mulai terasa canggung dan aku sungguh tidak atau harus menjawabnya seperti apa di saat dia sendiri sudah mengatakan bahwa semuanya adalah sungguhan dan dia terlihat begitu serius dengan ucapannya.
"Aduhh... Apa yang harus aku lakukan, apa dia sungguhan? Gerutuku memikirkan dengan penuh ketegangan.
Hingga tiba-tiba saja dia tertawa begitu keras sambil memegangi perutnya itu.
"Ahaha.... Kau lucu sekali ahaha kau pikir aku berkata sungguhan haha... Kau mudah sekali di bohongi" ucap dia yang ternyata dugaan awalku memang benar.
__ADS_1
Jujur saja saat mendengar dia tertawa aku sangat kesal dan sedikit kecewa karena ternyata itu adalah sebuah candaan, namun disisi lain aku juga merasa sedikit lega karena dengan begitu aku tidak perlu susah-susah memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan kepadanya saat itu.
Tapi aku tetap sangat kesal dan tidak terima dengan caranya yang mempermainkan aku menggunakan hal serius dan sensitif seperti itu sehingga aku langsung bangkit berdiri dan berlari mengejar dia yang terus saja mencoba kabur dariku.
Aku tidak membiarkan dia lolos dengan mudah dan terus saja mengejar dia hingga aku berhasil menarik kemeja dia dari belakang, aku menariknya dan berusaha menahan dia namun tenaganya cukup kuat sehingga dia berhasil kabur dari rumahku dan aku hanya bisa menggerutu dengan jengkel.
"Eughh.... Kau benar-benar sialan, awas kau aku tidak akan melepaskanmu lagi lain kali!" Bentakku berteriak kepadanya,
"Tangkap saja jika bisa haha" ucapnya bersikap seperti anak kecil dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Aku sangat kesal dan terus menghentakkan kakiku dengan keras sambil terus menyumpahi dirinya.
"Aargkkkhh dasar sialan, menjengkelkan Fasya bermuka dua, awas kau!" Bentakku sangat kesal dengan mengacak rambutku cukup kasar.
Aku segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, aku segera terburu-buru pergi ke kamar membersihkan diri dan berganti pakaian secepat yang aku bisa karena hari ini aku memiliki kelas pagi di kampus.
Untungnya aku tidak kesiangan karena bertemu dengan Audy saat hendak menghentikan taxi di jalan.
"Talita ayo naik" ajak Audy tiba-tiba saja memanggilku,
"Ehh....kebetulan sekali, Audy kau seperti malaikat keberuntungan hehe untung kau datang tepat waktu" ucapku sambil segera mengenakan helm yang diberikan oleh Audy kepadaku.
Aku segera naik ke atas motor dan Audy langsung melajukannya dengan cepat, lagi-lagi aku merasakan kebebasan saat bisa menikmati di bonceng oleh Audy lagi aku sangat menikmati angin yang menerpa tubuhku dan terasa sangat segar di badan.
"Aaaartttt... Ini sangat menyenangkan, ayo gass lagi Audy!" Teriakku sambil merentangkan kedua tanganku.
__ADS_1
"Haha... Siap, berpegangan Talita kita akan memulainya sekarang" ucap Audy dan aku mengangguk patuh lalu segera memeluk Audy dengan erat.