
Setelah kepergian orang orang yang memukuli Alvaro, kini hanya tinggal aku dan Alvaro yang duduk di samping jalanan dengan kondisi Alvaro yang sudah babak belur, dan aku tidak bisa melakukan apapun selain menangis sambil panik tak karuan.
"Al... Ayolah Al kamu jangan kaya gini, kamu bertahan yah aku .... Aku akan cari pertolongan" ucapku dengan panik.
Saat aku hendak pergi mencari pertolongan Alvaro menahan tanganku dan memberikan ponselnya padaku.
"Dasar gadis idiot, pakai ponselku, telpon orang yang bernaga Argo di kontak itu" ucapnya memberi perintah.
Aku yang tengah panik dan tak kuasa melihat Alvaro yang terus meringis kesakitan, segera ku telpon kontak bernama Argo itu, hingga telpon terhubung dan aku meminta bantuannya.
"Tolong...cepat ke jalan xxx yang tak jauh dari pemukiman kumuh itu, Alvaro kesakitan dia harus dibawa ke rumah sakit" ucapku dengan panik.
"Baik saya segera ke sana" jawab seseorang bernama Argo tersebut.
Aku kembali melihat Alvaro yang menutup matanya, melihat itu aku semakin panik karena ku pikir dia pingsan.
"Ya ampun Al... Alvaro hiks... Hiks...kumohon bangunlah, kamu harus bertahan, buka matamu Alvaroo" teriakku sambil menggoyangkan kedua pundak Alvaro sedikit keras.
"Aishh... Bisakah kau tenang sedikit jangan lebay aku baik baik saja, idiot!!" ucapnya dan membuatku senang.
"Syukurlah kamu bangun, habisnya kenapa kau malah menutup mata dan terus diam, aku pikir kamu pingsan bikin panik orang saja" jawabku sedikit kesal.
"Aku lelah Talita, tidak bisakah kau diam dan membiarkanku istirahat untuk menenangkan diri" balas Alvaro dengan cuek,
"Tidak bisa!!, Aku takut kau tak sadarkan diri secara tiba tiba, pokoknya kau harus terus membuka matamu dan bicara saja" ucapku memintanya,
__ADS_1
"Ishhh... Dasar idiot" ucap Alvaro kembali mengejekku.
Aku sangat kesal mendengar Alvaro yang terus menyebutku idiot, idiot dan idiot berkali kali, tapi aku menahan kekesalanku karena melihat kondisinya yang sudah babak belur, jujur saja aku sangat khawatir pasalnya jika sampai dia mati pasti aku yang akan menjadi saksi dikepolisian aku tidak mau berurusan dan mempersulit hidupku lagi, dan aku sangat sangat menyesal karena memaksa Alvaro membawaku bersamanya.
"Kalau tau akan begini aku tidak mau mengikutimu sekalipun mendapat ancaman dan desakan dari tim basket" ucapku menggerutu kecil.
"Apa kau bilang?" bentak Alvaro menatapku dengan tajam.
Aku lupa kalau Alvaro duduk di sampingku jelas dia akan mendengarnya.
"Ah... Tidak apa apa, aku hanya merasa orang yang bernama Argo itu begitu lama datangnya, kamu merasa begitu juga kan" jawabku mencari alasan.
Alvaro memalingkan wajahnya dan dia terus memegangi pipi juga perutnya, aku tau di sudah bertarung dengan sangat hebat melawan banyak orang yang menyerangnya pasti badannya sakit semua, namun aku juga tidak bisa berbuat banyak karena aku juga bukan dokter.
Sampai Argo datang dan membawa beberapa rekannya dia segera membawa Alvaro masuk ke dalam mobil aku merasa ngeri melihat penampilan orang orang tersebut yang lebih mirip seorang gengster daripada orang baik yang mau menyelamatkan aku dan Alvaro, tapi karena Alvaro mengenal mereka aku sedikit merasa tenang.
"Eh... Kenapa kau tidak mau kerumah sakit, apa kau buta lihat lukamu itu bukan main main Alvaro, semuanya harus diobati" ucapku keheranan.
"Lebih baik kau pulang bersama Argo dan jangan ikut campur urusanku, aku bisa mengurus diriku sendiri!!" balasnya dengan dingin dan seperti tidak ingin aku berada dekat dengannya.
"Baiklah, lagi pula aku juga tidak peduli apa kau akan sakit atau tidak, aku akan pulang" ucapku kesal dan segera pergi bersama orang bernama Argo itu masuk ke dalam mobil yang lain.
Sepanjang jalan aku terus mengerutkan kedua alisku dan memonyongkan bibirku kesal, aku silangkan kedua lenganku di dada dan menggerutu sesekali.
"Heh... Bagaimana bisa dia mengusirku setelah aku menyelamatkannya dari orang orang aneh itu, benar benar tidak tau balas budi" ucapku menggerutu kesal dan sedikit keras.
__ADS_1
Aku lagi lagi lupa bahwa orang yang menyetir mobil di depan adalah temannya Alvaro dan orang yang bernama Argo itu langsung saja masuk membalas gerutuanku tadi.
"Tuan memang begitu, dia sebenarnya hanya tidak mau kau terbawa dalam masalahnya kalau tidak kau akan dalam bahaya, saya juga baru pertama kali melihat tuan membawa seorang wanita ke markas bahkan memboncengnya seperti tadi, harusnya anda beruntung nona" ucap Argo sambil menatapku lewat kaca depan.
"Kau berkata begitu karena kau adalah temannya, sedangkan aku itu musuhnya, aku membencinya, dia lebih membuatku sial bukan beruntung seperti yang kau ucapkan" jawabku dan Argo hanya menggelengkan kepala pelan dan kembali fokus menyetir.
Awalnya aku juga merasa aman tiap kali berada di dekat Alvaro dan sejujurnya aku juga banyak berterimakasih padanya atas apa yang sudah dia lakukan padaku dia selalu membantuku dan aku juga masih memiliki hutang padanya, namun entah kenapa saat tadi dia bicara secuek itu padaku, dan seperti tidak mau berada di dekatku aku kesal dan tidak bisa menahan emosiku sendiri, tadinya aku ingin ikut membawanya kerumah sakit karena aku juga merasa bersalah, andai saja aku tidak nekat mengikutinya mungkin dia juga tidak akan kesusah karena harus membawaku bersamanya.
Dia juga berkelahi untuk melindungiku, bahkan dia memberiku obat dan makan, aku mulai merasa bersalah tapi juga kesal ketika mengingat ucapan dia padaku sebelumnya.
Aku juga menyuruh Argo agar menurunkanku di pinggir jalan saja karena aku tidak mau dia tau alamat rumahku, setelah turun dari mobil aku langsung kembali ke rumah dan membersihkan diri, namun ketika hendak beristirahat pikiranku tidak tenang aku terus saja memikirkan Alvaro, mau menelponnya aku bahkan tidak punya nomor ponselnya, aku khawatir kalau dia benar benar tidak mau merawat lukanya.
"Aishh....ayolah Talita kenapa kau malah mengkhawatirkan batu es itu sih" ucapku sambil mengacak rambut di depan cermin.
*****
Di sisi lain Alvaro yang juga baru sampai di kediamannya dalam sebuah villa mewah yang tak jauh dari sekolahnya, dia bahkan tidak bisa mengurusi dirinya sendiri dan dia juga tidak mau diantar ke rumah sakit karena jika sampai dia ke rumah sakit keberadaan dia akan mudah dilacak oleh kedua orangtuanya, sedang Alvaro tidak menginginkan itu.
Terpaksa dia hanya bisa mengurusi dirinya sendiri dan mengobati lukanya dengan obat seadanya, meringis kesakitan dan menggerutu kesal seorang diri saat tengah mengobati luka yang sulit dia jangkau oleh tangannya, alhasil Alvaro malah berhenti mengoleskan salep lebab dan dia beristirahat di kamarnya, saat hendak menutup mata dia mulai teringat dengan Talita sampai anak buahnya Argo menelpon dan memberikan kabar bahwa Talita sudah dia antar dengan selamat sampai di jalan samping desa.
Alvaro mendengus kesal dan marah pada Argo karena dia menyuruh Argo agar mengantarkan Talita sampai ke depan rumahnya dan memastikan dia benar benar aman dari orang orang suruhan ayahnya.
"Apa?, Kenapa kau tidak mengantarkannya sampai ke depan rumah, aishhhh...." Ucap Alvaro kesal.
"Tapi bos, dia sendiri yang memaksa saya agar menurunkannya di pinggir jalan" balas Argo,
__ADS_1
"Awas saja jika sampai terjadi sesuatu pada Talita, kau yang akan aku hajar!!" Ancam Alvaro lalu mematikan ponselnya.
Dia melempar ponsel ke ranjang dan kembali beristirahat, merasakan sekujur tubuhnya begitu sakit karena perkelahian sebelumnya.