Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Mengantar kak Bara


__ADS_3

Aku telah memutuskan dan aku tidak bisa menarik sesuatu yang sudah aku utarakan terlebih aku telah mengatakan janji kepadanya, dia melepaskan pelukanku dan kami sudah memutuskan masalah hubungan antara aku dan kak Bara.


Ke esokan paginya aku sudah mengambil cuti dari sekolah karena ingin mengantarkan kak Bara ke bandara itu mungkin akan menjadi pertemuan terakhir antara aku dengan dia, setelah itu tidak tahu kapan bisa bertemu lagi dengan sosoknya dan aku harus siap melihat dia pergi meninggalkan aku ke tempat yang sangat jauh.


Di bandara tepat di depan sebuah eskalator aku berdiri dengan perasaan sendu dan terus tertunduk dengan lesu, di sana bukan hanya ada aku saja tetapi juga ada kak Nandito dan kak Vera mereka juga ikut menemani kak Bara dan mengantarkannya untuk penerbangan, aku sungguh merasa sedih atas kepergiannya yang mendadak seperti ini.


Kak Bara menggantung lenganku dan dia menarikku ke dalam pelukannya untuk sesaat.


"Talita berhenti memperlihatkan wajah murung, aku tidak ingin pergi dalam keadaan mencemaskan kekasihku, aku akan segera kembali jangan khawatirkan aku" ucap kak Bara sambil mengucek atas kepalaku dengan lembut.


Aku tersenyum berusaha tegar dan menutupi kesedihanku, saat itu dia sudah mau berpamitan pergi dan tiba-tiba saja kak Vera meraih koper milik kak Bara yang sebelumnya aku pegang, seperti biasa dia terlihat sangat membenciku dan tatapan persaingan terlihat jelas dari sorot matanya ketika melihatku.


"Kak, itu milik kak Bara kemana kau mau membawanya?" Tanyaku pada kak Vera,


"Tentu saja aku akan membantu Bara membawa barang barangnya yang banyak ini, lagian aku juga memiliki tujuan yang sama dengan dia dan kita akan belajar di universitas yang sama, memangnya Bara tidak memberitahumu soal itu?" Ucap kak Vera membuatku sedikit sakit atas ucapannya.


Apa yang dikatakan oleh kak Vera memang benar kak Bara tidak memberitahuku jika dia akan pergi bersama kak Vera dan kak Nandito juga, ku pikir pada awalnya mereka hanya akan mengantarkan kak Bara saja tapi rupanya perkiraanku salah mereka memang tidak bisa terpisahkan sama seperti rumor yang tersebar di sekolah selama ini.


Meski terasa sedikit sakit karena aku merasa sedikit dibohongi oleh kak Bara tapi aku tidak boleh menjadikan hal sepele seperti itu menjadi alasan aku marah dengan kak Bara, terlebih ini adalah hari kepergiannya aku tidak ingin berpisah dengan kak Bara dalam keadaan yang buruk.


Kak Bara segera menjelaskan makna dari perkataan kak Vera bahkan tanpa aku memintanya melihat inisiatif seperti itu darinya sudah membuatku senang dan mengobati luka di hatiku sebelumnya.

__ADS_1


"Talita aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini kepadamu hanya saja ku pikir semua ini tidak terlalu penting, kamu mengerti kan?" Ungkap kak Bara menjelaskan,


"Tentu saja kak, kamu tidak perlu khawatir aku tidak akan marah hanya karena hal sepele seperti ini, cepat kau pergi susul kak Nandito dan kak Vera nanti mereka akan meninggalkanmu jika kau lambat" balasku padanya.


Kak Bara pun segera pergi dari sana dan menaiki eskalator sambil melambaikan tangannya ke arahku, aku juga membalas lambaian tangan kepadanya, hingga dia benar-benar pergi dari sana dan aku segera kembali ke kediamanku dengan damai.


Aku memang merasa sedih karena harus berpisah dengan kak Bara tapi hatiku tidak sesakit itu aku pergi menemui Audy dan mengajaknya untuk pergi ke taman hiburan, di sana kami menaiki berbagai macam permainan.


Mulai dari menaiki permainan kora-kora, halilintar, tembak balon dan permainan lainnya hingga di akhiri dengan menaiki biang Lala, aku sangat senang dan terus tersenyum lebar hingga kami berada di puncak dan Audy memintaku untuk berjanji demi persahabatan diantara aku dan dia.


"Talita kita sudah berada di puncak, maukah kamu membuat janji denganku, katanya jika kita membuat janji dan membuat harapan di posisi paling atas ketika menaiki bianglala maka janji itu akan ditepi dan permohonan akan terkabulkan" bahas Audy memberitahuku.


"Wahh... Benarkah itu?, Jika benar ayo kita coba mengikat janji untuk persahabatan kita terlebih dahulu" ujarku sambil menaikkan jari kelingkingku,


Audy menautkan jari kelingkingnya pada jariku dan kami berteriak mengucapkan janji untuk tidak berpisah selamanya.


"Talita aku janji akan menjadi sahabat terbaikmu sepanjang masa" ungkap Audy memulainya,


"Aku juga Audy aku akan menjadi sahabat terbaik bagimu untuk saat ini dan di masa depan" tambahku yang ikut berjanji.


Lalu kami berdua mulai membuat sebuah keinginan dan harapan, di saat itu aku hanya meminta satu harapan yang sangat aku inginkan di dunia ini.

__ADS_1


"Tuhan aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin kau mempertemukan aku dengan pria yang akan menjadi takdirku, dengan pria baik yang menyayangiku dengan tulus dan setia terhadapku, jika pria yang mencintaiku tidak baik untukku maka tolong perlihatkanlah ketidak baikannya agar aku bisa berhenti mencintai dan berharap kepadanya" isi harapanku dengan mata terpejam.


Kami berdua saling tatap dan melemparkan senyum lebar pada satu sama lain, aku tidak tahu harapan apa yang di sebutkan oleh Audy kala itu yang pasti aku sudah mengharapkan sebuah harapan yang ingin aku capai untuk saat ini, aku tidak terlalu perduli tentang beberapa hal aku hanya ingin memiliki seseorang yang bisa selalu mendengarkan aku, memahami aku dan memanjakan aku.


Aku sangat butuh kasih sayangnya bukan harta ataupun melihat rupanya, bagiku asalkan aku nyaman dengannya dan dia mencintaiku maka aku akan dengan senang hati memilihnya secara suka rela.


Bukan tanpa alasan mengapa aku meminta harapan seperti itu ketika di atas bianglala, namun aku memintanya karena aku selalu bingung siapa pria yang sebenarnya aku cintai, selama ini aku tidak pernah merasa di dekati oleh pria manapun namun kebanyakan pria mengira bahwa aku tidak pantas untuk mereka entah karena aku cantik atau karena pemikiran ku berbeda dengan mereka.


Sampai rasanya jarang hingga hampir tidak ada pria yang mendekatiku selama ini kecuali kak Bara dan Alvaro yang baru saja aku kenal.


Padahal aku kira wajah dan kepribadianmu tidak seburuk itu, sampai aku bahkan sering kali berpikir seperti ini.


"Mengapa tidak ada yang mendekatiku apa aku sejelek itu?" Tanyaku pada diriku sendiri ketika berada di depan cermin.


Aku turun dari bianglala dan terus tertawa ria bersama Audy lalu kami berdua pergi membeli sebuah minuman strawberry kesukaan kami berdua kita duduk di salah satu kios minuman di sana dan aku mulai kembali teringat dengan Alvaro.


"Audy kemana ya Alvaro pergi sebenarnya?, Apa dia menghilang karena aku?" Ucapku memikirkan dengan mata yang menatap langit dengan kosong dan hampa.


"Aishhh....Talita kau masih saja memikirkan dia, sudahlah ini sudah berapa hari setelah dia pergi bahkan sekolah sudah kembali beraktivitas seperti biasa kenapa kau bisa bisanya masih memikirkan hal tidak penting seperti itu padanya" ucap Audy dengan nada sedikit membentak padaku,


"Entahlah, aku tidak tahu bahkan ketika kak Bara pergi ke luar negeri bersama kak Vera dan kak Nandito aku tidak cemburu dan tidak terlalu memikirkannya namun dengan Alvaro aku selalu memikirkannya, dia selalu ada dalam benakku membuatku terkadang merasa risih sendiri karena tidak bisa melupakannya" balasku heran dan bingung atas pikiranku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2