Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Mencari Petunjuk


__ADS_3

Hingga ketika dia sampai di rumah sakit dan menyuruh dokter untuk segera memeriksa Talita dia pun mengetahui bahwa Talita mengalami hilang ingatan sementara, dan ingatannya hanya bisa pulih jika dirinya sendiri yang menginginkan kembali ingatan yang hilang itu.


"Dokter apakah dia bisa mengingat kembali masala lalunya atau kenangan yang pernah dia lalui walau hanya sedikit?" Tanya Alvaro begitu penasaran dan cemas,


"Bisa tentu saja ini masih ada kemungkinan namun itu tergangtung dari keinginan di dalam dirinya sendiri, dan saya rasa dia juga mulai mengalami beberapa perubahan dalam ingatannya mungkin dia berusaha mengingat sesuatu namun kondisinya belum setabil penuh untuk mengingat semua itu secara lengkap sehingga dia malah merasakan sakit di kepalanya hingga jatuh pingsan, sebaiknya anda tidak perlu terlalu memaksanya ini akan buruk bagi kesehatan dirinya sendiri" ujar dokter menjelaskan.


Alvaro langsung tersentak ke belakang dengan lemas dan Argon langsung menahan tubuh Alvaro, dia kaget dan tidak menduga jika Talita mengalami hal paling buruk seperti ini hanya karena dirinya di tiga tahun yang lalu.


Haiden Alvaro mulai menyesali ide yang pernah dia buat dahulu untuk membuat rencana gila seperti itu sebelumnya.


Dia duduk di pojokan ruang rawat dan tertunduk dengan lesu, menyesali semua perbuatan yang pernah dia lakukan di masa lalu namun dia sendiri juga tidak bisa mengubah semua itu, semuanya sudah terjadi dan waktu juga sudah berjalan melalui semuanya, kepergian sang kakak memberikan dia rasa penyesalan yang lebih besar apalagi kemunculan Talita sekarang bagaikan cahaya di tengah kegelapan.


Dia merasa sangat senang namun dia juga merasa sangat malu untuk menghadapi Talita saat ini hingga ketika aku tersadar dia mulai menghampiriku dan menanyakan keadaan aku dengan wajahnya yang terlihat sangat mencemaskanku.


"Aaa...aww...dimana aku?" Tanyaku saat mulai sadar,


"Kau ada di rumah sakit, aku yang membawamu, bagaimana keadaanmu sekarang apa ada yang sakit?" Tanya Haiden kepadanya dengan wajah yang merasa cemas,


"Ahh ...tidak papa aku baik-baik saja, terimakasih sudah membawaku ke rumah sakit, tapi aku harus segera kembali ke acara amal itu, tunanganku ada disana dia pasti mengkhawatirkanku" ujarku kepadanya sambil segera turun dari ranjang rumah sakit disana.


Mendengar nama tunangan dari ucapan Talita Haiden langsung saja terperangah kaget dia tidak menduga ternyata kini Talita juga sudah memiliki seorang tunangan dalam hidupnya, dia pun mulai menanyakan itu kepada Talita.


"Apa... tuananganmu? Kau sudah bertunangan dengan siapa Talita?" Tanya Haiden sangat kaget saat pertama kali mendengarnya,


"Ehh.... Aku memang sudah bertunangan dengan dia sejak tiga tahun yang lalu kenapa kau tidak mengetahuinya, ku pikir kau sahabat tunanganku karena kau mengetahui namaku" balasku dengan perasaan yang heran dan bingung.


Aku sungguh tidak bisa mengingat apapun saat itu namun ketika dia mengatakan siapa namanya aku merasa nama itu begitu familiar untukku dan aku juga merasa wajahnya itu tidak asing namun aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas, suaranya juga terasa aneh bagiku aku seperti sudah mengenal dia sangat lama namun aku baru saja melihat dia saat itu.


Aku termenung terus memikirkan hal itu hingga dia mengantarkan aku kembali ke acara amal tersebut dan dugaanku memang benar saat aku kembali acara amalnya bahkan sudah hampir selesai dan terlihat Fasya sangat panik mencari-cari keberadaanku sampai ketika aku baru masuk ke dalam gedung itu Fasya langsung berlari ke arahku dan dia memelukku dengan sangat erat.


"Sayang... Kamu kemana saja aku sangat mengkhawatirkanmu? Kenapa kamu sangat lama, apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Fasya kepadaku,


Karena aku tidak ingin membuat dia mencemaskanku lagi dan aku takut dia menjadi sedikit berlebihan aku pun dengan terpaksa harus berbohong padanya dan menyembunyikan sedikit informasi sebenarnya kepada dia.


"Ahh ..tidak aku tidak papa, aku baik-baik saja kok, tadi itu hanya sedikit tersesat karena gedung ini terlalu besar" balasku kepadanya.


Wajah Fasya langsung terlihat lega dan dia terlihat menghembuskan nafas yang sangat lega aku juga tersenyum membalasnya dan aku merasa sedikit tidak enak sebenarnya karena sudah membohongi dia dan tanpa sepengetahuan Fasya di belakang sana sebenarnya ada pria bernama Haiden dan Argo yang mengantarkan aku ke tempat itu kembali sebelumnya.


Aku juga merasa sedikit cemas karena aku tidak ingin mereka bertemu satu sama lain, entah kenapa aku sangat takut mereka bertemu padahal jika di pikirkan seharusnya aku tidak perlu merasa takut seperti itu karena dia juga memang tidak melakukan hal buruk kepadaku bahkan dia justru membantu aku ke rumah sakit dan mengembalikan aku kembali ke gedung ini.


Aku jug belum sempat berterimakasih kepadanya, dan disaat Fasya sudah mengajak aku masuk lagi ke dalam dan melihat proses lelang amal aku tidak bisa merasa tenang dan terus saja mencari keberadaan pria itu kesana kemari.


Entah kenapa aku merasa ingin melihatnya lagi aku ingin berterima kasih kepadanya dan ingin menatap wajahnya lebih lama lagi untuk memastikan apakah aku sungguh pernah mengenalnya atau tidak, selama ini ibu dan Fasya selalu melarang aku untuk mengingat ingatanku di masa lalu karena mereka bilang itu semua tidak penting namun aku sebenarnya selalu ingin mengingat semua itu tapi karena mereka selalu menahan dan melarangku sehingga aku selalu mengesampingkan hal itu.


Dan setiap kali aku hendak mengingat sesuatu di dalam kepalaku aku selalu saja merasakan sakit dan kepalaku rasanya berdenyut sangat saat dan kuat sekali sampai aku tidak bisa menahan rasa sakitnya, mungkin semua itulah yang membuat ibu dan Fasya melarang aku untuk mengingat ingatanku yang sebelumnya.

__ADS_1


Aku paham mungkin mereka tidak ingin aku terluka dan merasakan sakit yang luar biasa itu namun aku sendiri juga tidak bisa tetap diam saja dan pasrah seperti ini, kedatangan pria itu sangat membuat aku penasaran dan entah kenap perasaanku seperti terus mendorongku untuk mencari tahu tentang pria itu lebih dalam lagi dan aku sangat penasaran sekali dengan hal itu.


"Kenapa aku tidak bisa berhenti untuk memikirkannya? Siapa pria itu sebenarnya, namanya terasa sangat familiar di kepalaku tapi aku tidak tahu siapa dia" gumamku terus memikirkan.


Aku bahkan tidak fokus ketika Fasya terus berbicara kepadaku, tidak ada satu pun ucapan darinya yang masuk ke dalam terlingaku aku sendiri hanya melamun memikirkan pria itu hingga Fasya mulai menyentuh tanganku dan dia menyadarkan aku.


"Talita....hey....Talita apa kau baik-baik saja, kenapa kau terus termenung di sepanjang acara, semuanya sudah selesai ayo kita pulang" ucap Fasya kepadaku yang rupanya acara tersebut sudah selesai.


"A...ahh...iya ayo, maafkan aku tadi aku sedikit melamun" balasku kepadanya.


Dia pun langsung menggandeng tanganku dan membawa aku keluar dari sana saat melewati pintu tidak sengaja kami berpapasan dengan pria itu lagi namun sepertinya Fasya tidak menyadari hal itu sedangkan aku tahu jelas bahwa pria yang tapi melewati aku adalah pria tersebut, seorang pria yang bernama Haiden Alvaro.


Nama itu sangat familiar sekali di dalam kepalaku aku sangat merasa penasaran dengannya bahkan saat berpapasan dengannya aku terus saja melihat dan menoleh ke belakang untuk memastikannya namun Fasya yang menarik tanganku membuat aku tidak bisa terus menatap ke belakang terlalu lama sehingga aku hanya bisa menyimpan semua itu di dalam hatiku sendiri.


"Pria itu siapa mereka berdua sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan mereka?" Gumamku terus terpikirkan hal itu.


Hingga masuk ke dalam mobil aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada Fasya karena hanya dia yang aku percayai saat ini dan hanya kepada dia saja aku berani berbicara segalanya sebab jika pada ibu, dia selalu akan memarahiku jika aku membicarakan mengenai masa lalu.


"Eumm ...Fasya... Sebenarnya sedari tadi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, aku ingin menanyakannya padamu tapi aku takut kau tidak ingin membahas soal itu" ujarku kepadanya,


"Talita aku kan sudah pernah bilang, katakan saja semua yang ingin kau ketahui dariku, dan kau tidak perlu takut atau merasa resah seperti itu, aku ini kan tunanganmu dan sebentar lagi kita akan menikah, aku akan menjadi suami yang baik untukmu jadi katakanlah apa itu aku akan mendengarkannya" balas dia sambil mengusap lembut pucuk kepalaku,


Karena Haiden sudah berbicara seperti itu aku pun mulai berani mengatakannya kepada dia.


Dan mulai menarik nafas dalam lalu kembali mengeluarkannya dengan perlahan dan aku sedikit gugup untuk mulai menanyakannya kepada dia.


Dia terlihat terdiam di saat aku mengatakan semua itu dan aku tahu mungkin dia tengah kesal sekarang karena aku malah membahas hal yang selama ini selalu dia larang untuk aku membahasnya.


"Fasya maafkan aku, aku tahu kau mungkin kesal dan tidak menyukaiku jika aku membahas mengenai hal tersebut, tapi bukankah aku sendiri berhak untuk mengingat ingatanku yang lalu, jika kau ada di posisiku apa kau akan rela jika kau harus melupakan aku, bukankah kau sangat mencintaiku? Lalu jika aku melupakanmu atau kau melupakan aku apakah itu rasanya akan baik-baik saja untukmu, aku hanya ingin mengingat mereka yang mengenalku sebelumnya aku ingin tahu siapa aku dan bagaimana aku di masa lalu" ungkapku memberikan penjelasan yang sangat panjang lagi kepada Fasya.


Hingga dia mulai menjawabku sekarang dengan perkataan yang lebih lembut dari biasanya ketika kita membahas mengenai hal itu.


"Aku mengerti perasaanmu Talita tapi masalahnya masa lalu mu tidak baik untuk kau ingat, aku hanya takut kau akan merasa sakit lagi, jika kau bisa melupakan semua itu dan hidup bahagia denganku kenapa kau harus mengingat masa-masa yang buruk itu?" Balas dia kepadaku,


"Tapi Fasya apa masa laluku seburuk itu hingga kau dan itu terus saja mencegah aku untuk tidak berurusan mengingatnya, tapi aku selalu ingin mengingatnya Fasya aku tidak ingin melupakan sesuatu apapun dalam hidupku sekalipun itu hal yang paling menyakitkan bagiku di dunia ini" balasku dengan penuh keyakinan kepadanya.


Fasya pun langsung terdiam ketika dia mendengarkan ucapan terakhir dan aku juga langsung terdiam, aku benar-benar merasa kesal dan tidak habis pikir dia masih tetap saja melarang aku untuk tidak memikirkan masa laluku, meski dia dan ibu terus melarangku dan mencegah aku untuk memikirkannya aku justru semakin ingin tahu semuanya dan tidak ada yang bisa menghentikan pemikiran diriku sendiri.


Bahkan aku akan terus semakin mencari tahu semuanya tanpa atau dengan bantuan dia orang itu, aku merasa semua ini adalah kesalahan aku tidak pernah merasa jantungku berdetak kencang ketika di samping Fasya namun ketika di dekat pria tadi aku merasa seperti hampir ingin menangis padahal aku sendiri tidak tahu siapa dia sebenarnya.


Kemunculan pria itu menjadi sebuah semangat baru untukku dan membuat aku semakin Ining mengingat masa laluku yang hilang dalam pikiranku sendiri.


Sesampainya di rumah aku langsung berlari masuk dan mengabaikan Fasya karena masih sangat kesal dengannya, sebab dia sama sekali tidak mendukungku dan tidak mau membantuku untuk mengatakan yang sebenarnya, meski pun aku tahu kunci sebenarnya adalah dia, hanya ibu dan dia yang tersisa di sampingku sekarang aku bahkan tidak tahu siapa ayahku, bukankah itu sangat menyebalkan.


Aku segera tidur dan mengabaikan ibuku juga.

__ADS_1


"Talita kau baru pulang dimana Fasya?" Tanya ibu kepadaku dan aku mengabaikan dia begitu saja,


"Talita ada apa denganmu? Kenapa kau mengabaikan ibu seperti itu?" Tanya ibu sambil berjalan menghampiriku.


Ibu langsung menahan tanganku namun dengan cepat aku melepaskannya perlahan.


"Talita tunggu ada apa denganmu sebenarnya? Ayo katakan pada ibu, apa kau bertengkar dengan Fasya?" Tanya ibuku lagi,


"Lepaskan bu, aku lelah aku hanya ingin beristirahat lebih awal jika ibu ingin mencari Fasya dia ada di bawah atau mungkin sudah pulang" balasku begitu saja dan langsung masuk ke dalam kamar lalu langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya.


Aku tidak ingin di ganggu saat ini, dan aku rasanya hanya ingin terus sendirian seperti saat ini, aku merasa sangat kesal sekali kepada Fasya karena awalnya aku pikir kali ini dia tidak akan meresponku seperti itu namun nyatanya dia sama saja seperti sebelumnya, dia tidak pernah berubah dan tetap tidak mengijinkan aku untuk mencoba mencari tahu ingatanku yang hilang.


Sedangkan disisi lain Fasya juga menyusul Talita dia berlari naik ke atas dan yang dia temui justru malah ibunya Talita.


"Talita....Talita tunggu aku bisa jelaskan, maksudku tidak begitu" teriak Fasya berlari menaiki tangga,


"Fasya? Tante kira kamu sudah kembali, ada apa diantara kalian berdua?" Tanya ibunya Talita kepada Fasya.


Dia pun di persilahkan masuk ke dalam dan duduk berhadapan dengan ibunya Talita.


"Fasya ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia pulang dengan wajah yang masam seperti itu, bahkan dia mengabaikan aku" ucap ibu Talita menanyakannya dengan penasaran,


"Tante Talita sepertinya ingin mengetahui ingatannya yang hilang lagi, dia sedari tadi terus termenung dan memikirkan hal itu, dia menanyakan semuanya kepadaku namun aku kembali melarang dia untuk mencoba mengingatnya lagi, bahkan aku sudah katakan kepadanya bahwa ingatan itu terlalu menyakitkan untuk dia ingat, namun dia tetap tidak bisa di cegah, aku hanya mengkhawatirkan keadaannya, aku hanya takut dia akan kembali merasa sakit hati atau jiwanya terguncang jika seandainya dia tahu orang yang menyebabkan dia koma adalah pria yang dia cintai" ujar Fasya mengatakannya.


Tanpa Fasya ketahui sebenarnya saat itu aku ada disana dan mendengarkan pembicaraan dia dengan ibuku, aku diam-diam mendengarkan semua yang mereka obrolkan dan aku akhirnya mengetahui sebuah kebenaran bahwa aku bukan mengalami kecelakaan mobil, tetapi sebuah tragedi besar yang menyebabkan aku jatuh ke sungai dan hanyut sampai Fasya menyelamatkan aku.


"Ja...jadi...aku bukan kecelakaan mobil? Tega sekali mereka membohongi aku seperti ini" gerutuku pelan dan aku segera kembali ke dalam kamar sebelum mereka mengetahui keberadaan aku disana.


Aku sungguh merasa sakit hati terlebih disaat Fasya mengatakan bahwa aku koma karena orang yang aku cintai, dan aku bertanya-tanya kembali saat ini siapa orang yang aku cintai dulu dan kenapa aku bisa menjadi tunangannya Fasya.


"Apa aku dulu tidak pernah menyukai Fasya, tapi sekarangpun aku juga tidak menyukainya aku hanya nyaman dengannya dan dekat dengan dia karena mereka sendiri yang mengatakan bahwa Fasya adalah tunanganku dan kami pasangan yang harmonis, tapi tadi apa yang Fasya katakan sudah cukup jelas bagiku bahwa ada pria lain yang sebenarnya aku suka bukan dirinya, tapi siapa pria itu?" Ucapku terus memikirkan.


Aku berusaha mencari tahu petunjung lagi dan informasi di dalam kamarku, aku berusaha mencari petunjuk apapun itu dari sana karena aku merasa sangat yakin sekali dengan diriku, jika aku menyukai seseorang aku pasti akan menyimpan sesuatu tentangnya yang mungkin saja bisa membuat aku mengingatnya.


Aku terus mencari dan menggeledah kamarku sendiri sebab sejak tiga tahun yang lalu aku tidak pernah lagi menggeledah kamarku karena aku pikir tidak akan ada apapun disana namun disaat aku mencoba mencari sesuatu di atas dalam lemariku tiba-tiba saja dari atas saja jatuh sebuah kotak foto mengenai kepalaku dan foto tersebut berhamburan ke bawah.


"Brukk....aduhh......" Suaraku menahan sakit di kepala,


Saat aku melihat kebawah ada banyak foto yang berhamburan di sekitar sana dan aku segera berjongkok melihatnya.


"Ini....pria itu...iya aku yakin ini adalah pria yang aku temui beberapa saat yang lalu di gedung pelelangan amal tersebut, bagaimana bisa aku menyimpan fotonya di kamarku? Atau jangan-jangan aku memang mengenal dia, di masa lalu?" Gerutuku mulai merasa aneh dan terus memikirkannya.


Aku segera membereskan semua foto polaroid itu yang berukuran kecil dan memasukkannya kembali ke dalam sebuah kotak foto tersebut, kemudian aku duduk di samping ranjang dan memeriksa foto itu lagi satu per satu.


Ku lihat ada foto aku dengan seorang wanita yang wajahnya terlihat asing bagiku namun aku merasa seperti sudah mengenal dia sangat lama, ada juga fotoku dengan pria tersebut, dan banyak sekali foto aku dengan seorang wanita yang sepertinya sesuai denganku.

__ADS_1


"Siapa wanita ini, kenapa di foto aku dan dia terlihat begitu akrab?" Ucapku terus memikirkan sambil memegangi foto itu.


__ADS_2