Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Pergi


__ADS_3

Suasana di meja makan tiba tiba saja menjadi canggung dan tegang beberapa orang menatap ke arahku dengan sinis dan nampak mereka saling berbisik satu sama lain aku tau dan aku paham mereka pasti membicarakanmu terlebih sikap kak Bara yang begitu berlebihan menunjukkan bahwa kami sepasang kekasih di hadapan semua orang.


"Heh....kalian berdua ini kalau mau pacaran jangan di depan kita dong bikin iri orang aja" ucap kak Nandito dengan wajah datarnya,


"Iya, lagian udah tau Vera itu sudah sama Bara dari lama, Lo malah bawa dia kemari dan mamerin kemesraan, jelas dia marah dan cemburu lah" sahut salah satu teman kak Bara yang lain,


"Gue kan gak pernah suka sama Vera bukannya dia sendiri yang bilang kita sahabat iya kak Nandito" balas kak Bara membelaku.


Aku tau saat itu kak Bara berusaha membelaku agar mereka juga tidak terus menyudutkan aku namun apa yang mereka bicarakan memang ada benarnya meski pun aku dan kak Bara saling menyukai dan sudah ada hubungan diantara aku dan dia tapi aku akui perbuatanku memang salah, seharusnya aku bisa menahan kak Bara agar tidak menunjukkan kemesraan di depan kak Vera.


"Sudah...sudah...aku minta maaf, aku tau aku salah seharusnya aku tidak datang ke sini, aku tidak akan mengganggu kalian semua lagi, ayo Audy kita pergi" ucapku melerai semuanya dan mengajak Audy segera pergi dari sana.


Audy hanya menurutimu dan kami berdua masuk ke kamar membereskan kembali semua pakaian dan aku sudah bulat dengan keputusanku untuk pergi dari sana, aku rasa aku tidak bisa terus melanjutkan acara ini, nanti yang ada bukannya liburan bahagia malah liburan yang memakan hati dan perasaan aku tidak bisa membuat kak Vera marah dan semakin membenciku.


Kak Bara berlari menyusulku ke kamar dan dia menahan lenganku yang sibuk memasukkan lagi semua pakaian ke dalam koper.


"Talita berhenti, apa yang kamu lakukan kamu tidak salah, kenapa juga kamu harus pergi" ucap kak Bara menahanku,


"Aku tau kak, tapi aku juga mengerti perasaan kak Vera kita tidak bisa membuat orang lain terluka dan merasa tidak nyaman hanya karena kebaradaan ku sebagai pacarmu kak" jawabku menjelaskan,


"Tapi Talita...kamu tidak harus meninggalkan tempat ini" ucap kak Bara lagi yang berusaha keras menahanku untuk tidak pergi,


"Bagaimana aku bisa tetap di sini bersama orang orang yang tidak menyukaiku, mereka itu tidak suka aku ada di sini jadi untuk apa aku tetap berada diantara mereka?" Ucapku yang mulai kesal.


Kak Bara diam sejenak sampai akhirnya dia memperbolehkan ku untuk pergi dari sana.


"Baiklah jika itu keputusanmu, aku minta maaf karena sudah menyebabkan semua ini, andai saja tadi aku tidak...." Ucap kak Bara tertahan karena aku memotong ucapannya,

__ADS_1


"Sudah kak jangan di ungkit lagi, aku tidak papa kakak baik baik di sini aku dan Audy akan pergi sendiri kamu tidak perlu mengantar kami" ucapku padanya.


"Talita setidaknya aku harus mengantarmu baru aku bisa merasa tenang" jawab kak Bara,


"Tidak perlu nanti aku akan menghubungimu kak jika kami sudah sampai, terimakasih atas semuanya, aku pergi yah kak" ucapku sambil berpamitan dan pergi dari sana bersama Audy.


Tidak pernah aku bayangkan aku akan menerima perlakuan yang jauh lebih buruk dari dugaanku sebelumnya, kak Vera semakin membenciku begitu pula dengan teman temannya kak Bara, aku bisa merasakan aura kebencian mereka terhadap kedatanganku, sepanjang perjalanan aku hanya berjalan sambil menunduk tak tau harus kemana.


Sampai Audy menegurku dan menanyakan kemana aku akan membawanya pergi.


"Talita sebenarnya kamu mau kemana sih kita sudah berjalan cukup jauh dari Villa apa kamu sudah memesan kendaraan?" Tanya Audy menyadarkanku,


"Tidak...aku juga tidak tau aku akan kemana, tidak ada kendaraan yang mau menjemput ke tempat terpencil dan jauh seperti ini, aku benar benar bodoh menolak tawaran kak Bara heu....heu... Audy bagaimana ini kita akan tersesat dan tidak tau jalan pulang" ucapku sambil menangis begitu saja,


"Astaga Talita, aku pikir tadi kamu menolaknya karena sudah punya rencana lain, aishhh....kalau begini kita bisa tidur di jalanan, tidak mungkin juga kita terus berjalan jarak dari sini ke jalan raya sangat jauh apalagi sekelilingnya hutan begini heuheu..... Talita kau membawaku pada kesulitan" ucap Audy yang ikut menangis.


"Talita...kau kali ini benar benar membuatku frustasi...aku tidak mau tidur luntang lantung dijalanan, sebaiknya kamu hubungi kak Bara dan minta dia menjumpuk kita" ucap Audy memintaku,


"Tidak....aku tidak mau meminta bantuan darinya, aku tidak mau mengganggu dia lagi, biarkan saja dia bermain dengan teman temannya itu" ucapku menolak,


"Kenapa Talita?, Kalau bukan meminta bantuan padanya, lantas kepada siapa lagi?, Batrai ponselku mati aku tidak bisa menghubungi kedua orangtuaku" ucap Audy mulai mengeluh,


"Aku malu kalau harus meminta bantuan kak Bara pasti akan terlihat sangat bodoh" ucapku sambil tertunduk lesu,


"Lebih baik begitu dari pada tidak tentu seperti sekarang lihatlah ini sudah hampir malam apa kamu mau tidur di jalanan begini, bagaimana jika ada orang jahat, hantu atau pun hewan liar kita akan mati Talita!" Bentak Audy yang membayangkan semua hal buruk.


"Aku juga takut Audy, ya sudah aku akan coba menelponnya" ucapku yang akhirnya menyerah.

__ADS_1


Aku mencoba menelpon kak Bara namun ponselnya tidak dapat dihubungi, aku mencobanya sekali lagi dan hasilnya tetap sama.


"Kenapa?, Apa dia tidak mengangkatnya?" Tanya Audy dengan wajah yang penasaran,


"Iya...sepertinya dia tidak sedang memegang ponselnya, lalu bagaimana Audy?" Jawabku pada Audy merasa bingung,


"Aishh....bagaimana lagi kita sudah tamat...heu...heuuu" ucap Audy meratapi nasib.


Aku juga menunduk lesu dan tidak bisa berpikir apapun lagi, aku sudah pasrah jika memang ini akhir dari kisah hidupku, seorang gadis malang yang masih duduk di bangku kelas dua SMA ditemukan tergeletak di pinggir jalanan hutan menuju Villa pribadi, kira kira begitulah pemberitaan akan menyebarkannya.


Saat tengah menunduk lesu dan kehilangan banyak cara tiba tiba saja Audy berkata padaku untuk meminta bantuan pada Alvaro.


"Ahh.... Talita bukankah tadi saat pertama kita sampai kamu bilang seperti melihat Alvaro, bagaimana kalau kamu coba telpon dia siapa tau dia masih di sekitar sini, dia pasti bisa membantumu" ucap Audy memberikan pendapat,


"Tidak mungkin itu hanya penglihatan ku saja yang salah, orang sepertinya mana mau datang ke acara seperti ini" ucapku karena aku tidak yakin,


"Sudah cepat telpon saja, kamu ini terlalu banyak berpikir, kamu mau sungguhan tidur di sini kalo aku sih enggak" ucap Audy yang membuatku tak bisa menolaknya lagi.


Aku menelpon Alvaro dan dia langsung mengangkatnya dengan cepat aku begitu senang saat bisa mendengar suara Alvaro dari sebrang sana meskipun nada bicaranya begitu datar dan dingin.


"Ahh...Alvaro untunglah kamu menjawab telponku, tolong aku Alvaro..." Ucapku segera meminta tolong,


"Ada apa?" Jawab Alvaro dingin,


"Alvaro apa kau masih berada di Villa kak Bara?, Aku tau tadi kau sempat datang ke sana tolong aku Alvaro aku tersesat aku tidak tau sekarang di mana tolong datang ke sini sebelum malam" ucapku meminta tolong dengan cepat,


"Hah...kau tersesat?, Hahaha....jangan bercanda Talita aku tau kau sudah berpacaran dengan si Bara sialan itu kan, kalian juga liburan bersama ke Villa keluarganya untuk apa kau meminta bantuan padaku?" Jawab Alvaro begitu sinis.

__ADS_1


__ADS_2