
Rasanya saat itu hanya aku yang tidak mengerti tengah berada dalam situasi macam apa saat itu, aku hanya bisa menatap dengan penuh kebingungan namun Alvaro terus menyuapiku layaknya anak kecil, aku juga tidak bisa menolak suapan darinya karena aku takut dia akan kembali marah denganku, sehingga aku hanya bisa pasrah menerima semuanya.
Suasan di meja makan begitu canggung dan hening hanya dentingan suara sendok dan garpu yang saling beradu nampak terdengar nyaring, Argo dan Audy sibuk fokus menikmati makanan mereka masing masing hingga aku mulai merasa tidak nyaman karena Alvaro terus menyuapiku di depan mereka berdua.
"E...eum... Alvaro aku bisa makan sendiri baiknya kamu makan juga" ucapku sambil meraih sendok dari lengan Alvaro dan mulai menyiapkan sesendok demi sesendok bubur ke dalam mulutku.
Alvaro hanya menatapku beberapa saat sambil menaikkan sebelah alisnya lalu dia pun mulai mengambil nasi untuknya sendiri dan mulai menikmati sarapan paginya bersama kami semua.
Aku menghabiskan sarapanku lebih dulu begitu juga dengan Audy dan saat baru saja selesai menghabiskan sarapannya Audy langsung menarik lenganku dan berpamitan pada Alvaro juga Argo untuk bicara berdua denganku.
"Talita....ayo ikut aku" bisik Audy pada telingaku,
"Ehh...ada apa?" Ucapku merasa heran.
Audy terus menarikku dan membawaku menjauh dari meja makan lalu dia baru melepaskanku ketika sudah jauh dari Argo dan Alvaro.
"Audy ada apa, kenapa tiba tiba saja menarikku begitu?" Tanyaku dengan heran,
"Syuttt...pelankan suaramu jangan sampai mereka mendengarkan pembicaraan kita, makanya aku membawamu kemari, aku merasa sangat heran kenapa Alvaro begitu baik padamu padahalkan di kelas dia itu terlihat anti sosial dan sangat sangat bahkan banyak siswa menggosipkan bahwa dia adalah ketua gengster, apa kau tidak takut dengannya?" Ucap Audy membicarakan soal Alvaro.
Aku langsung tersenyum dan hampir saja tertawa lebar mendengar kekhawatiran yang diungkapkan oleh Audy padaku saat itu.
Pasalnya aku sudah lebih dekat dengan Alvaro sejak lama dan aku jelas lebih tahu bagaimana sikap Alvaro dibandingkan teman kelas lainnya karena aku sudah bergaul selangkah lebih dekat dengan Alvaro dibanding teman lainnya.
__ADS_1
Aku pun berusaha menjelaskan dan memberitahu pada Audy bahwa Alvaro tidak seperti apa yang banyak digosipkan oleh anak anak di sekolahan, saat itu Audy hanya mengerutkan kedua alisnya karena merasa heran dengan reaksi senyum dariku.
"Ehh, Talita kenapa kamu malah senyum senyum begitu, bukannya takut juga" ucap Audy menambahkan,
"Audy dia itu tidak seperti yang kamu atau anak anak lain bayangkan, dia itu orang baik kamu bisa mempercayainya, lagi pula dia juga kan yang menyelamatkan kita malam tadi apa itu belum cukup untukmu mempercayai Alvaro bahwa dia sebenarnya orang yang baik" kataku menjelaskan pada Audy,
Audy nampak terperangah dengan mata yang terbelalak lebar dia seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan mengenai Alvaro, dan di saat Audy hendak membalas ucapanku tiba tiba saja Alvaro muncul dari belakang mengagetkan aku dan Audy.
"Tapi ..Talita...dia itu....." Ucap Audy tertahan,
"Sedang apa kalian berdiri di sini?" Tanya Alvaro tiba tiba yang membuat aku juga Audy langsung kaget dan membuka mata dengan lebar,
"Astaga....Alvaro sejak kapan kau ada di situ?" Tanya Audy dengan perasaan yang tak menentu.
"Aku baru saja kemari untuk menaruh piring kotor ini" ucap Alvaro sambil melanjutkan langkahnya dan menaruh piring kotor yang tadi dia bawa ke atas wastafel,
Aku benar benar merasa lega setelah mendengar jawaban dari Alvaro dan kami berdua menghembuskan nafas lega bersamaan karena ternyata Alvaro tidak mendengarkan pembicaraan aku dengan Audy.
"Aaahhh....syukurlah dia tidak mendengarnya, jika dia mengetahui semuanya dan tersinggung, bisa bisa aku dan Audy akan tamat saat ini juga" gumamku dalam hati yang merasa lega.
Aku pun mengalihkan suasana dan segera menghampiri Alvaro untuk membantunya mencuci piring kotor bekas makan kami pagi itu, sedangkan Audy pergi kembali ke meja makan karena dia juga terlalu takut dan tidak berani berlama lama berada di dekat Alvaro.
"Alvaro sini, biar aku bantu" ucapku sambil menghampirinya,
__ADS_1
"A..ahh..kalau begitu aku kembali ke sana dulu yah hehe" ucap Audy lalu segera pergi meninggalkan aku dan Alvaro.
Aku mulai membantu Alvaro mencuci beberapa piring kotor bekas sarapan pagi itu namun Alvaro melarangku untuk membantunya dengan alasan bahwa aku masih sakit dan perlu istirahat untuk memulihkan badanku secara keseluruhan.
"Heh, sudah diam kau tidak perlu membantuku, again harusnya kau itu pergi istirahat saja sana agar kau bisa segera kembali ke kota" ujar Alvaro sambil meraih tanganku dan mencucikan lenganku pada air yang mengalir.
Aku sempat tersentak karena kaget dengan perlakuan manis dari Alvaro sampai aku langsung tidak fokus dengan apapun dan malah menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
Aku benar benar terkesima dengan kebaikannya dan bagaimana cara dia memperlakukanku, dia begitu baik dan meratukan aku, meskipun aku tahu dia bersikap sebaik itu hanya karena aku tengah sakit dan rasa kasihan saja namun aku merasa Alvaro adalah pria sejati sesungguhnya karena memperlakukan wanita dengan sangat baik meskipun caranya bicara dan ekspresi wajahnya sedikit berbeda dari kebanyakan orang dalam melimpahkan kasih sayang.
"Dia terlihat seperti orang jahat yang keras dan sangat menyeramkan di luar namun kenapa hatinya begitu lembut seperti ini, aku merasa dia begitu baik padaku atau memang ini hanya perasaanku saja?" Gumamku dalam hati.
"Heh, kenapa kau menatapku begitu ha?, Kau menyukaiku yah?" Ucap Alvaro yang seketika menyadarkan aku dari gumaman ku sendiri,
"Hah?, Apa apaan kau ini jangan kegeeran tahu, aku hanya merasa heran dan tidak terbiasa saja dengan sikapmu yang selembut ini dengan perempuan, padahal kau sangat membenciku bukan" ucapku padanya,
"Siapa bilang aku membencimu aku hanya selalu kesal dengan kelakuanmu" balas Alvaro membuatku bingung.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dia maksud sebenarnya, dia berkata bahwa dirinya tidak membenciku namun dia selalu merasa kesal tiap kali melihatku dan dengan karakterku, karena penasaran dan tidak mengerti aku pun kembali menanyakannya karena butuh penjelasan darinya agar aku tidak memikirkan ucapannya barusan terlalu lama.
"Alvaro apa maksudmu barusan?, Memangnya apa yang salah dengan diriku sampai kau terus merasa kesal tiap kali melihatku?" Tanyaku dengan polosnya.
Saat itu aku sama sekali tidak mengerti apapun, wajar saja kan namanya juga masih anak SMA, aku hanya menyanyikan apa yang membuat aku penasaran karena jika aku belum mendapatkan jawabannya maka aku akan terus memikirkan satu hal tersebut sampai akhirnya aku tidak bisa tidur atau bahkan tidak bisa memikirkan hal lain yang jauh lebih penting dari hal tersebut.
__ADS_1
Saat aku bertanya mengenai apa yang salah pada diriku Alvaro langsung mematikan keran airnya dan menaruh semua piring yang baru saja dia cucui sampai bersih lalu dia membalikkan mata menatapku dengan lekat dan mulai menjawab pertanyaan tadi yang selalu membuatku memikirkan banyak hal tidak penting.