
Di dalam mobil aku terus berusaha berontak dan memarahi dia habis-habisan, karena aku sangat kesal dengan ulahnya, dia hanya bisa memaksaku terus menerus dan memutuskan semuanya dengan atau tidak nya persetujuan dariku. Ujungnya dia juga tetap akan memaksaku dan membuat aku pergi dengannya bagaimana pun caranya karena dia selalu memiliki caranya sendiri.
Memenga sedikit menyebalkan dan menguras banyak energi juga kesabaran tapi ibuku malah menyukainya, jika bukan karena menghormati kedua orang tua kami yang bersahabat mungkin aku juga tidak ingin merawatnya kemarin ketika dia sakit seperti itu.
Aku sangat kesal dan sebal kepada Fasya karena dia terus memaksaku pergi dengannya hingga tiba-tiba saja ternyata dia membawaku ke sebuah restoran yang cukup terkenal di wilayah itu, aku merasa curiga dan aneh karena ini pertama kalinya dia membawa aku ke tempat seperti ini.
"Ehh... Kita ke resto itu?" Tanyaku memastikan,
"Iya tentu saja, habisnya mau kemana lagi ayo cepat ikut aku" ucap dia dan aku pun segera turun dari mobilnya.
Pertama kali masuk ke dalam restoran itu aku merasa sangat kagum karena semua dekir di sana sangatlah indah juga banyak sekali pengunjung yang datang ke restoran tersebut namun sepertinya pihak restoran ini tengah kekurangan pelayan sehingga dapat di lihat ada beberapa pengunjung yang tidak sabar dengan pesanannya.
Awalnya aku pikir Fasya membawaku ke sana untuk makan saja namun aku salah dia malah membawa aku bertemu temannya yang merupakan pemilik tempat tersebut dan dia langsung saja memperkenalkan aku kepada temannya itu dan membicarakan mengenai seorang pelayan.
"Hay....sob, ini aku sudah bawakan pelayan baru untuk membantumu disini dia sangat kuat dan akan sangat bisa diandalkan" ucap Fasya begitu saja.
Aku celingukan menatap ke sana kemari namun temannya Fasya itu justru malah menatap ke padaku sehingga aku langsung bertanya pada Fasya saat itu juga.
"Heh apa kau membicarakan aku?" Tanyaku kepadanya dengan suara yang sedikit kesal,
"Iya, memangnya ada orang lain lagi di dekat sini" balas dia dengan santai lalu dia segera pergi duduk di salah satu meja tamu yang ada disana.
Sedangkan pria sahabatnya Fasya itu dia langsung memberikan sebuah celemek yang di pakai oleh sua pelayan yang ada disana dan itu membuatku bingung dan langsung menolak pria pemilik resto tersebut.
"Ini ambil celemekmu dan bekerjalah" ucap laki-laki itu sangat menyebalkan,
"Heh apa maksudmu? Kau tidak lihat aku ini seorang mahasiswa aku tidak akan bekerja di restoran ini, dan singkirkan itu dariku!" Bentakku sangat kesal.
__ADS_1
Aku langsung menghampiri Fasya dan menggebrak meja dihadapannya dengan kuat.
Aku tidak bisa menahan emosi di dalam diriku lagi terlebih ketika melihat ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak memiliki sedikitpun rasa penyesalan karena sudah menyerahkan aku kepada temannya sendiri dan secara tidak langsung dia seperti menyuruh aku seenaknya dan menjadikan aku sebuah pelayan.
"Brakk.... Heh apa maksudmu sebenarnya?" Kenapa kau membawaku ke mari dan malah menyuruh aku untuk menjadi seorang pelayan, apa kau pikir aku ini miskin dan pantas di perlakukan seenaknya olehmu hah?" Bentakku kepadanya dengan keras,
"Aku hanya meminta bantuanmu untuk membantu temanku yang kerepotan, kenapa kau malah berlebihan seperti itu, sudah cepat kembali dan bantu temanku itu" balas dia dengan santai.
"Kau benar-benar sialan, aku membencimu Fasya kau sudah sangat keterlaluan!" Ucapku merasa sangat kecewa dengan dia.
Aku segera pergi dari sana dengan cepat dan aku segera pergi dengan menggunakan taxi yang segera aku hentikan aku menangis selama perjalanan karena tidak menduga dia bisa sejahat ini kepadaku, hingga ketika aku memeriksa ponselku tiba-tiba saja sebuah rekaman video dimana disana terlihat aku tengah di serahkan pada teman Fasya untuk dijadikan pelayan oleh mereka tersebut, kejadian yang membuat aku sangat kesal itu tersebar luas di media sosial dan itu di upload oleh sebuah akun bodong yang misterius.
"A..apa apaan ini, siapa yang berani melakukan hal semacam ini kepadaku?" Gerutuku sanga kesal dan emosi.
Pemikiranku langsung menduga bahwa pelaku di balik semua ini adalah Fasya sehingga aku semakin kesal dan membencinya.
Aku wajar jika menduga bahwa dia yang melakukan hal itu padaku, sebab selama ini sejak aku hadir di kampus itu dia yang selalu menyulitkan aku dan membuat aku menjadi bahan tontonan semua mahasiswa baru bahkan dia tidak segan untuk terus mempermalukan aku.
Padahal aku sudah bersikap baik padanya, aku sudah merawatnya dan dia juga baik padaku sebelumnya, hingga aku pikir mungkin hubunganku dengannya akan sedikit membaik dan kami tidak akan bertengkar hebat lagi atau saling membenci satu sama lain, namun nyatanya dugaan dan harapanku itu sangat jauh berbeda dengan kenyataannya.
Karena pada nyatanya selama ini dia ternyata hanya mempermainkan aku dan masih tetap mempermalukan aku setiap kali dia memiliki kesempatan.
Dia tiba-tiba membawa aku ke restoran itu secara paksa dan terus menyeretku untuk masuk ke dalam mobilnya hingga pada akhirnya dia malah membuatku kesal dan malu, dia memberikan aku kepada temannya untuk bekerja sebagai pelayan dengan cara yang begitu mudah dan tidak memberitahuku niatnya itu sedikitpun.
Hingga aku banyak mengira pada hal-hal lain yang indah, namun ternyata hanya rasa sakit dan kecewa yang aku dapatkan.
"Hiks... Hiks... Hiks.... Mereka semua sama saja, mereka hanya ingin menyakiti aku dan membuat aku kesal setiap saat, tidak ada yang menyayangiku dan perduli denganku, bahkan ibuku sendiri tidak mempercayai aku sebagai putrinya" ucapku merasa kesal.
__ADS_1
Aku pergi ke rumah ayah karena tidak ingin kembali ke rumah ibu dalam keadaan buruk seperti ini. Aku takut ibu akan bertanya lebih banyak dan mengkhawatirkan aku terlalu berlebihan jika aku pulang dalam keadaan seperti ini, sedangkan aku sendiri tidak bisa memberitahu dia yang sebenarnya mengenai penyebab mengapa aku menangis sampai seperti ini.
Aku juga sudah memberi tahu ibu lewat sebuah pesan singkat bahwa aku memilih untuk menginap di rumah ayah malam ini.
Sesampainya disana ku lihat baru saja ada mobil mewah berwarna putih yang masuk ke dalam rumah itu sehingga sangat membuat aku penasaran dan segera berjalan masuk mengikutinya saat sampai di depan rumah mobil itu juga berhenti dan keluarlah ibu tiriku juga ayah dari dalam sana.
Aku pun berlari menghampiri mereka dan langsung menyapa ayahku sambil memeluknya.
"Ayah...." Teriakku sambil langsung memeluk ayah.
Tiba-tiba saja suara seorang pria dari belakang terdengar begitu jelas memanggil namaku.
"Talita?" Ucap seseorang dari belakang.
Aku menoleh dan melihat kak Bara yang sudah lama tidak pernah ku lihat lagi setelah acara di liburan di villa kala itu, aku merasa dia tidak berubah sama sekali, dengan gaya rambut yang masih sama cara berpakaiannya juga cara bicara dan tatapan matanya kepadaku.
Namun aku cukup kaget melihat dia berada disini di malah hari seperti ini.
"Kak Bara? Sedang apa kau di rumah ayahku?" Tanyaku dengan heran kepadanya.
Dia langsung membuka matanya dengan lebar dan seperti sangat kaget ketika mendengar pernyataan dariku tapi ayah segera mengajak kami untuk masuk dan berbicara di dalam.
"Ehh... Ternyata kalian sudah saling mengenal rupanya, ya sudah ayo kita masuk dulu dan bicarakan semuanya di dalam, ayo sayang" ucap ayah sambil mendorong tubuhku pelan.
Aku terus saja menatap tajam dengan kedua alis yang aku kerutkan dengan kuat dan tajam menatap pada kak Bara terus menerus bahkan hingga dia duduk di samping ibu tiriku dan berhadapan denganku.
Aku sudah sangat tidak sabar untuk menanyakan semuanya kepada dia karena aku sungguh kebingungan dan membutuhkan sebuah jawaban secepatnya saat ini.
__ADS_1