
Entah mengapa semenjak kepergian bi Ade dan paman Seto aku merasa kesepian, tinggal di rumah yang cukup besar seorang diri dan tidak pernah pergi keluar saat hari libur, semua ini sangat membosankan untukku, beberapa Minggu sudah berlalu aku juga sudah berpindah kelas, kali ini aku juga tidak beruntung seperti sebelumnya, aku terpisah dengan Audy, kelas kami memang bersebelahan namun tetap saja aku tidak bisa duduk dalam satu meja yang sama, aku juga malas mencari teman baru, meski banyak teman lain yang menegur dan mengajakku untuk bergabung bersama, namun aku merasa tidak nyaman dan menolaknya dengan sopan, setiap kali istirahat aku hanya pergi ke kantin untuk mengisi perut lalu pergi ke perpustakaan untuk membaca novel, terkadang aku juga pergi ke kelas Audy dan kami makan bersama ketika jam istirahat, belakangan ini aku benar benar kehilangan semangat belajarku, aku rindu rumahku, rindu ayah dan ibu, juga rindu suasana kota yang menyenangkan dan kadang begitu bising ditelinga, tapi itu kota asalku, kota dimana aku dibesarkan selama ini, bohong jika aku mengatakan aku baik baik saja atau merasa senang tinggal di desa dan jauh dari orang tua, aku sama sekali tidak bahagia, semuanya sepi, aku kesepian.
Aku mencoba untuk terbiasa dengan suasana dan lingkungan di sana, namun aku tetap tidak bisa, bawaannya aku selalu ingin menyendiri dan menghindar dari banyak orang, bukan karena mereka Jahat padaku tidak, mereka justru baik padaku sangat sangat baik, tapi masalahnya ada pada diriku sendiri, kenyamananku tidak aku dapatkan saat di samping mereka, jadi aku lebih memilih menghindar dan menyendiri sebab itu membuatku jauh lebih baik dari pada duduk di keramaian namun aku tidak senang.
Aku lelah, badanku rasanya kehilangan banyak energi, aku malas berbasa basi dengan orang lain, aku tidak mau diganggu, untuk saat ini aku hanya ingin memulihkan diriku sendiri.
Pagi ini aku malas sekali untuk beranjak dari ranjangku, tapi aku harus memaksakan diri pergi ke sekolah, karena aku terlalu malas sehingga membuang banyak waktu dan tidak sempat untuk sarapan di rumah, sepanjang perjalanan aku mencari pedangan bubur ayam yang biasa setiap pagi lalu lalang di dekat gerbang sekolah, sudah beberapa menit aku menunggu namun pedagang itu tak muncul juga, akhirnya aku memutuskan untuk sarapan di kantin, saat hendak melewati gerbang tiba tiba seseorang memanggil namaku.
"Talita.....tunggu" teriak Audy sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku tau itu pasti Audy, aku tersenyum melihat tingkah konyol Audy yang berlari sambil melambaikan tangannya.
Audy menghampiriku dengan nafas menderu.
__ADS_1
"Hah...hah....hah..., Talita apa kau tuli yah, aku memanggilmu sudah sejak tadi tapi kau baru menoleh sekarang" ucap Audy ngos ngosan.
Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum dan menggaruk rambut belakang kepalaku.
"Sudahlah kau ini pagi pagi sudah melamun, ayo kita masuk" ucap Audy sambil menarik lenganku.
Kita berjalan bersama masuk ke area sekolah, dan berpisah saat hendak masuk kelas, karena hari ini Audy ada jadwal piket sehingga dia harus masuk ke kelas lebih dulu sedangkan aku pergi ke kantin untuk sarapan, nampak di sana juga ada beberapa siswa lain yang tengah menyantap makanan mereka, aku segera memesan seporsi nasi goreng kumplit dan duduk di salah satu meja yang kosong, sambil menunggu pesanannya siap aku membuka ponselku dan melihat lihat media sosial untuk menghilangkan bosan.
Saat tengah asyik bermain ponsel tiba tiba ada kak Bara yang langsung duduk tepat di hadapanku dan menaruh tasnya diatas meja, lalu dia berteriak memesan seporsi nasi goreng kumplit sama sepertiku, aku diam termenung dan mengerutkan kedua alisku merasa aneh, tidak mau banyak berpikir aku membiarkannya dan kembali asyik bermain ponsel, tapi lagi lagi tanpa aba aba kak Bara mengambil ponselku dan mengutak ngatiknya, tentu saja aku kaget dan geram.
Namun kak Bara hanya tersenyum tipis lalu memberikan kembali ponsel itu padaku.
Saat aku lihat ternyata kak Bara menambahkan kontaknya.
__ADS_1
"Kak ini maksudnya apa?" tanyaku merasa bingung sambil menunjukkan layar di ponsel.
"Itu nomerku, kalau kau butuh bantuan apapun hubungi saja aku, aku pasti membantumu" jawab kak Bara.
"Aku tidak yakin kau mau membantuku setelah apa yang pernah kamu lakukan padaku di hari MPLS saat itu" jawabku menyindir.
Lagi lagi kak Bara hanya menanggapi ucapanku dengan senyum tipis yang menyeramkan untukku, aku akui dia itu memang tampan sebelumnya aku juga merasa senyumannya itu manis tapi semenjak kejadian hari itu penilaianku terhadap dia sudah berubah seratu persen, aku juga tidak mau berhubungan sedikitpun dengan kak Bara ataupun teman temannya yang lain.
Setelah pembicaraan singkat tadi ibu kantin datang mengantarkan pesanan kami berdua, dan aku segera menyantap nasi gorengku, aku sama sekali tidak perduli dengan keberadaan kak Bara, lagi pula aku terlalu lapar untuk berdebat dan menimbulkan masalah, jadi aku membiarkannya makan bersama denganku di satu meja, saat selesai makan tiba tiba kak Bara bangkit dari duduknya dan mengatakan perkataan yang membuatku hampir tersedak.
"Makan di kantin hari ini aku anggap kencan pertama kita yah, byeee" ucap kak Bara sambil berjalan dan melambaikan tangannya kepadaku.
"Ohokk...ohokk......aishhh....apa apaan sih, pria sombong itu selalu saja membuat hidupku semakin sulit" ucapku kesal sambil terbatuk karena hampir tersedak.
__ADS_1
Aku kesal dan tidak mengerti dengan apa yang diinginkan kak Bara dariku sebenarnya, dia pernah membullyku dan membuatku malu saat MPLS, hanya selang beberapa minggu aku mendapatkan kedamaian tanpa gangguan darinya, kini dia muncul lagi dan berperilaku seakan dia menyukaiku, semua tingkahnya sangat membuatku tidak nyaman, pertama aku tidak menyukainya dan tidak pula membencinya aku hanya tidak suka saat dia memperlakukanku semena mena apalagi melibatkan teman temannya yang lain, kedua aku hanya ingin dia menjauh dari diriku, aku tidak mau membuat banyak orang salah paham terhadapku, aku tau dia banyak dikagumi oleh para siswi di sekolah itu dan merupakan ketua OSIS di sekolah, oleh karena itu aku tidak mau berurusan dengannya, aku tidak mau menjadi bahan omongan para siswa, ketiga aku hanya tidak mau teman temannya itu menggangguku dan memaksaku agar aku menuruti keinginan kak Bara, aku pikir memangnya kak Bara itu siapa dia hanya orang asing yang lewat tanpa permisi di kehidupanku, aku tidak perduli sekalipun dia ketua OSIS, bukan berarti dia bisa mengatur hidupku di sekolah, aku masuk ke sekolah itu juga dibayar oleh kedua orang tuaku tidak ada urusannya dengan kak Bara dan teman teman risihnya itu, jadi aku bebas dan berhak menentukan jalan dan keinginanku sendiri saat bersekolah di sana sampai aku lulus.