Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Bertengkar


__ADS_3

Aku terus saja menatap tajam dengan kedua alis yang aku kerutkan dengan kuat dan tajam menatapmpada kak Bara terus menerus bahkan hingga dia duduk di samping ibu tiriku dan berhadapan denganku.


Aku sudah sangat tidak sabar untuk menanyakan semuanya kepada dia karena aku sungguh kebingungan dan membutuhkan sebuah jawaban secepatnya saat ini.


Duduk di ruang makan berhadapan dengan kak Bara dan aku terus menatapnya dengan tajam lalu segera berpaling pada ayah dan langsung menanyakan apa hubungan antara mereka dengan kak Bara yang ada dihadapanku saat ini.


"Ayah tolong jelaskan kepadaku siapa dia untukmu, kenapa dia bisa bersamamu?" Tanyaku kepadanya dengan segera,


"Talita karena kamu sudah saling mengenal dengan Bara mungkin sudah saatnya ayah memberi tahu kamu kalau ibu sambungmu sebenarnya sudah memiliki seorang putra dan Bara adalah putranya, jadi kalian bersaudara sekarang" ucap ayah membuatku sangat kaget,


"A..AA...apa? Jadi aku dan dia.... kita? Aaaahhh ini tidak benar" ucapku sambil menepuk jidatku sendiri merasa pusing.


Tapi anehnya kak Bara terlihat santai saja dan dia seperti sudah merasa tidak aneh ataupun kaget mengenai hal tersebut dia hanya menghembuskan nafas kasar sejenak dan wajahnya hanya tertunduk saja, sedangkan aku tidak bisa menerima kenyataan ini, aku tidak mungkin bersaudara dengan mantan pacarku sendiri, ini terlalu menyebalkan dan sangat canggung untuk aku dan dia.


"Ayah aku akan pergi ke atas" ucapku sambil langsung bangkit berdiri.


Tiba-tiba saja ayah menahan tanganku dan mengajak aku untuk makan malam bersama dengan mereka dahulu, namun aku dengan cepat menghempaskan tangannya dan menolak dengan tegas.


"Talita kau mau kemana, ayo duduk kembali dan makan malam dahulu dengan kami" ucap ayah kepadaku,


"Lepaskan aku mau ke kamarku dan aku tidak nafsu makan sama sekali" ucapku dengan tegas menolaknya,


"Talita tunggu kamarmu yang diatas sudah...." Ucap ayah yang hampir keceplosan.


Mendengar itu aku langsung menghentikan langkahku dan kembali berbalik menatap Ayah dengan tatapan yang menyelidik dan mendekati dia lagi lalu menanyakannya sekali lagi untuk mencari kepastian.


"Ada apa dengan kamarku, apa ayah merusak kamarku?" Tanyaku kepadanya.


Ayah terlihat gugup dan kebingungan dan itu membuat aku semakin curiga dan penasaran kepadanya di tambah ayah yang tidak mau bicara juga kepadaku.


"Katakan ada apa dengan kamarku atau aku sendiri yang akan melihatnya sekarang" ucapku mendesak ayah,


"Talita tolong dengarkan penjelasan ayah dulu, kamu duduk dan ayah akan memberitahumu" ucap ayah sambil memegangi tanganku.


Aku kembali menghempaskan tangannya karena aku tetap tidak mau bersikap lembut kepada ayah seperti dia yang sudah menelantarkan ibuku dan aku bahkan dia tidak pernah datang untuk menjenguk aku ketika aku ada di desa ataupun ketika aku kembali ke kota padahal aku sering menghubunginya dan memberikan kabar kepada ayahku lewat chat.


Karena jika aku mencoba menelpon ayah ponselnya selalu tidak aktif sehingga hanya lewat pesan teks saja aku bisa memberitahu ayah segalanya dan menceritakan banyak hal yang selalu ingin aku ceritakan kepadanya, sehabis terkirim karena ayah selalu tidak membaca pesanku ataupun membalasnya aku selalu menarik kembali semua pesan itu dan semuanya berulang terus menerus.


Dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan bahkan hingga berganti tahun sekalipun, ayah masih sama dan menjadi monster bagiku itulah kenapa sekarang aku sudah tidak menghubunginya lagi dan bahkan aku datang ke rumah ini juga karena keadaan yang mendesak dan terpaksa sehingga tidak ada jalan lain lagi yang bisa aku pilih selain kembali ke rumah ayah.


Karena aku tidak bisa pulang ke rumah ibu terpaksa saat itu aku harus mau mendengarkan penjelasan dari ayah dahulu sehingga aku menuruti ucapannya dan kembali duduk di sana dengan menurut.


"Oke aku akan dengarkan tapi awas saja jika ayah melakukan sesuatu dengan kamarku" ucapku kepadanya dengan tatapan yang tajam,


"Iya tenang dulu ayah juga tidak melakukan apapun dengan kamarmu, hanya saja kamu harus bisa menerima Bara sebagai kakakmu dan bersikaplah yang baik kepadanya" ucap ayah memintaku bersikap baik kepada mantanku sendiri,


"Ayah aku tidak akan bisa akur dengannya karena dia adalah...." Ucapku tertahan karena kak Bara langsung memotong ucapanku begitu saja,

__ADS_1


"Tidak masalah ayah aku akan tetap menjaga adikku Talita dan aku akan membuat dia menyukaiku sehingga kami bisa akur sebagai seorang saudara, aku tidak akan membuatmu kesal atau merepotkanku adih kau jangan khawatir" ucapnya sambil menatapku seperti memberikan sebuah kode.


Aku langsung memalingkan pandangan darinya karena aku sudah tahu dia pasti mau aku menyembunyikan kebenaran antara aku dan dia dan aku tidak setuju dengan itu lagi pula semuanya sudah berakhir aku juga tidak mencintainya lagi sekarang aku sudah membencinya bahkan sudah sejak lama mulai dari kejadian berlibur di villa saat itu.


"CK.... Aku tidak butuh kode sialan dari orang sepertinya" gerutuku pelan,


"Talita apa yang kau katakan!" Ucap ayah membentakku yang sepertinya dia mendengar sedikit gerutuanku barusan.


Namun aku tidak perduli dan segera bangkit berdiri aku langsung pergi ke kamarku namun ketika membuka pintu kamar ku lihat barang-barang milikku yang sengaja aku tinggalkan disana sudah hilang digantikan dengan semua barang-barang milik seorang pria yang sudah pasti itu milik kak Bara.


Aku sangat kesal dan langsung berteriak memanggil namanya dengan sangat lantang hingga mereka bertiga yang ada di lantai bawah bisa mendengar teriakkan ku dengan sangat jelas dan menggelegar.


"BARA SIALAN!" Teriakku sangat kencang di penuhi dengan emosi dan nafasku yang langsung menderu.


Mereka bertiga yang mendengar teriakkanku langsung saja berlari cepat menghampiri aku ke lantai atas dan aku langsung menatap tajam penuh ke bencian kepada Bara lalu segera mengalihkan pandanganku kepada ayah dengan cepat.


"Kau... Dan ayah kalian membuat kamarku seperti ini, ayah aku akan tanya semua ini kepadamu sekarang, apa arti semua ini? Apa kau akan menggantikan keberadaan aku di rumah ini dengan dia hah?" Bentakku sangat keras.


Jelas sekali aku tidak bisa menerima semua ini bahkan sangat-sangat tidak bisa menerimanya, sebab sejak dulu sejak aku bayi hingga aku sedewasa ini kamar itu adalah milikku dan ibu juga ayah sendiri yang membangunnya secara khusus untukku mereka sudah mengatakan janji kepadaku sejak aku kecil bahwa kamar itu akan selalu menjadi milikku dan tidak akan ada yang bisa menempatinya selain dari aku.


Namun pada kenyataannya saat ini ayah telah melanggar janjinya sendiri padaku dia sudah menggantikan aku di rumahnya dimana itu mengartikan bahwa aku sudah bagian dari rumah ini dan ayah memang sudah tidak menganggap keberadaan aku lagi.


"Talita dengarkan ayah semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan ibu sambungmu meminta kamar itu untuk Bara ayah pikir itu tidak masalah karena kamu juga tidak pernah menginap disini" ucap ayah menjelaskannya,


"Apa ayah sebut itu sebuah penjelasan atau sebuah pengakuan jika ayah memang sudah melupakan aku atau membuangku?" Ucapku dengan tatapan tajam tanpa ekspresi kepada ayahku saat itu,


Bahkan aku mulai membenci ibu sambungku karena ternyata selama ini dia hanya ingin menyingkirkan aku.


"Baiklah aku tidak akan marah, dan kamar ini bisa menjadi milik si Bara sialan itu, aku tidak akan pernah datang ke rumah ini lagi ataupun menganggap mu sebagai ayahku lagi, selamat tinggal!" Ucapku sambil berjalan dan menyenggol pundak Bara dengan sekeras yang aku bisa.


Meski rasanya sakit aku tidak menghiraukan itu aku langsung berjalan meninggalkan rumah ayah meski Bara dan ayah mengejarku dari belakang dan mereka berusaha menghentikan aku namun aku tahu bahwa di belakang sana ibu tiriku menghentikan mereka berdua untuk tidak mengejar aku lagi.


"Talita tunggu nak...tunggu maksud ayah tidak seperti itu ayah tidak menggantikan mu ayah tidak melupakan kamu sama sekali, Talita ayah mohon kembalilah" teriak ayah kepadaku,


"Talita jika kau membenci aku bencilah aku jangan membuat ayahmu seperti ini, aku tahu ini kesalahan aku dan ibuku tolong maafkan dia" tambah Bara yang membuat langkahku langsung berhenti.


Mendengar ucapannya seakan dia sudah mengakui seburuk apa ibunya itu, dan jujur saja aku senang mendengar kalimat seperti itu karena aku memahami artinya dengan sangat baik, aku langsung berbalik dan menatap ke arah mereka, ayah juga berlari kepadaku dan dia langsung memelukku dengan sangat erat dia terlihat begitu senang ketika melihat aku berbalik kepadanya.


Sayangnya aku berbalik bukan untuk memaafkan dia ataupun memberikan kesempatan kedua kepada mereka semua yang telah menyakitiku namun aku berbalik dan menghentikan langkahku untuk menjawab ucapan si Bara brengsek itu yang membuat emosiku semakin terpancing.


"Talita akhirnya kamu berhenti, tolong jangan tinggalkan ayah sayang, ayah menyayangimu, ayah sangat menyayangimu maafkan ayah Talita, ayah akan mengganti kembali kamarnya, ayah janji kepadamu" ujar ayahku sambil memegangi tanganku dengan kuat,


"Lepaskan ayah! jangan senang dulu, aku berhenti bukan memberikan kesempatan kepadamu atau memaafkan kalian, aku hanya ingin menjawab ucapan pria itu" ucapku sambil menunjuk lurus ke arah Bara dengan lurus,


"Sayang sudah hentikan semua pertengkaran ini ayah tahunini kesalahan ayah dan ibu sambungmu tolong hentikan jangan salahkan Bara dia sama sekali tidak mengetayapapun tentang kamar itu" ucap ayah berusaha menghentikan aku.


Namun entah kenapa mendengar caranya berbicara itu lebih seperti dia membela Bara agar tidak terkena amarah dariku dan aku membenci hal itu, aku sangat membencinya ketika ayah malah membela Bara di bandingkan denganku.

__ADS_1


Aku menatapnya sekilas dan menjauhkan ayah dariku karena aku ingin mengatakan hal itu lebih dekat lagi kepada Bara agar dia bisa mendengar jawaban dariku lebih jelas lagi dan mengerti maksud dari ucapanku.


"Minggir ayah aku sedang tidak ingin berbicara denganmu" ucapku dengan tegas hingga ayah di tarik perlahan oleh wanita sialan itu,


"Bara dengarkan aku baik-baik, aku tidak membencimu dan aku hanya sudah melupakanmu selama ini atas semua yang kau lakukan kepadaku di masa lalu, namun setelah melihat bagaimana ayahku terus membelamu kini aku semakin membencimu lebih daripada sebelumnya, awalnya aku bersikap sabar karena aku mau menginap di rumah ini sebab tidak bis apulang ke rumah ibuku, namun setelah melihat kamar yang kedua orangtuaku bangun secara khusus untukku dan mereka berjanji untukku tiba-tiba saja sudah di gantikan menjadi kamar orang lain yang pernah menyakiti aku, apa menurutmu hatiku selapang bidadari yang bisa memaafkanmu dengan mudah, terlebih ibumu adalah dalang dari hancurnya kebahagiaan utamaku!" ucapku dengan tatapan tajam dan segera berbalik menjauh darinya lalu mendekati ibu sambungku.


"Dan kau, kapan kau akan melepaskan topengmu ketika di hadapan ayahku, kau baik pada awalnya hanya untuk menghancurkan rumah tangga orang lain, lalu kau bersikap seakan akan baik juga kepadaku ternyata untuk mengusirku dari kehidupan ayahku sendiri, selamat kamu sudah berhasil, ambil ayahku aku rela memberikannya padamu secara cuma-cuma" ucapku dengan sangat puas dan menahan rasa sakit di hatiku.


Dan yang tidak aku sangka tiba-tiba saja ayah datang menghampiriku dan dia hendak menamparku namun Bara berhasil menahannya.


"Talita kau sudah keterlaluan kau" ucap ayah dengan melayangkan tangannya ke dekat wajahku.


Saat itu aku sudah sangat pasrah jika memang harus menerima tamparan untuk pertama kalinya dari pria pertama yang paling aku cintai di dunia ini namun untungnya Bara menghentikan ayahku dia berhasil menahan tangan ayahku hingga tidak sempat berhasil menamparku karena jika sampai ayah benar-benar menamparku aku akan bisa pastikan tidak akan pernah memaafkannya lagi.


"Cukup om, apa yang dikatakan oleh Talita memang benar aku jauh lebih tahu bagaimana ibuku dibandingkan siapapun di dunia ini dan tolong jangan bersikap kasar pada orang yang aku cintai!" Ucap Bara dengan tegas.


Aku kaget dan langsung menatapnya saat itu, aku tidak menyangka dia mengatakan itu di hadapan ibunya juga ayahku yang dimana mereka sudah menjadi suami istri saat ini, sehingga membuat ibunya langsung membentak Bara di hadapanku saat itu.


"Cukup, hentikan semua kekacauan ini, Bara apa yang baru saja kau katakan, dia adalah adikmu kau tidak bisa menyukainya!" Bentak ibu sambungku dengan keras.


Wajahnya begitu marah dan dia mulai memperlihatkan wajah aslinya dan aku tersenyum kecil melihat itu aku senang dia marah dan aku semakin senang untuk memancing amarahnya agar segera keluar dengan sendirinya dan semuanitu aku jadikan kesempatan agar ayah bisa melihat sikap asli perempuan jahat tersebut dengan mata kepalanya sendiri.


"Tidak bu, aku memang mencintai Talita dan aku sudah menyukainya sejak lama aku bahkan sudah pernah berhubungan dengannya dia adalah mantan kekasihku yang selalu aku ceritakan kepadamu dan sampai sekarang aku masih sangat menyukainya" ucap Bara dengan lantang.


Ibunya terlihat menahan emosi hingga akhirnya emosi itu meledak di depan kami semua.


"Bara kau benar-benar tidak tahu diri aku yang membesarkanmu, kenapa kau malah menyukai wanita menjengkelkan itu, kau tahu sendiri ibu sangat membencinya karena dia selalu meminta uang pada...." Ucap ibu tiriku yang keceplosan dan ayah menghentikannya,


"Apa yang kau katakan, jadi selama ini kau hanya berpura-pura? Iya?" Ucap ayah mulai terpancing emosi,


"Ti...tidak..sayang ini tidak seperti itu, maksudku tidak begitu" ucap ibu sambungku berusaha membela dirinya,


"Ayah selesaikan urusanmu, aku akan pergi sekarang" ucapku lalu pergi dari sana dan membiarkan ayah yang terus menghindar dari wanita jahat itu.


Sedangkan Bara menghentikan tanganku dia menarikku dan memelukku dengan erat saat itu juga, aku juga tidak bisa menghindar karena itu terjadi begitu cepat serta pelukan Bara sulit untuk aku lepaskan.


"Hey... Lepaskan aku apa yang kau lakukan, lepaskan aku Bara!" Bentakku berusaha mendorong tubuhnya namun aku selalu gagal melakukan itu.


"Tidak aku tidak akan melepaskanmu aku sudah mencarimu kemana-mana dan aku sangat merindukanmu Talita, aku merasa sangat senang meski kita di pertemukan oleh takdir dengan cara seperti ini" ucap Bara kepadaku.


"Bara lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas dasar bodoh!" Ucapku tidak tahan lagi.


Akhirnya dia melepaskanku dan aku bisa kembali bernafas dengan lega meski harus menarik nafas dengan dalam dan membuangnya perlahan lalu terus mengulanginya hingga beberapa kali untuk menormalkan nafasku.


"Hah...hah...hahm.. aishh sialan, apa kau mau membunuhku yah!" Bentakku kepadanya,


"Ma...maafkan aku Talita aku pikir aku tidak memelukmu seerat itu, maafkan aku tidak sengaja maafkan aku" ucapnya terus meminta maaf padaku.

__ADS_1


"Aah...sudahlah, pergi kau dariku dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi!" Ucapku dengan tegas.


__ADS_2