Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Meninggalnya Veri


__ADS_3

Sedangkan ayah Alvaro bertepuk tangan dengan ria dan dia menatapku dengan tajam.


"Prok....prok....prok...." Suara tepukan tangan ayah Alvaro yang sangat kejam dan tidak memiliki hati nurani sedikitpun.


"Bagus....bagus sekali, ini adalah drama yang sangat mengesankan, anak yang tidak berguna dan wanita yang sialan, kalian sama-sama membuat Bisnisku hancur, untuk itu Alvaro kau harus menanggung hukuman yang berat atas kesalahan besarmu saat ini, bawa wanita itu ke pinggi jembatan!" Ucap ayah Alvaro memberikan perintah.


Hingga dia anak buahnya langsung menarikku dan membawa aku ke pinggir jembatan hingga membuat aku sangat takut dan panik karena melihat jembatan itu yang sangat tinggi dan di bawahnya air yang begitu deras.


"Lepska.... Aku mohon lepaskan aku" ucapku berusaha berontak namun mereka terlalu kuat untukku.


Mereka mendesak aku dan menghantamkan tubuhku ke bagian samping jembatan itu, di sisi lain ku lihat Alvaro berusaha bangkit meski kedua tangannya di tahan dengan kuat oleh dua orang anak buah ayah ya begitu juga dengan Argo, aku tidak bisa melakukan apapun saat itu dan hanya rasa takut yang menghantui diriku dan memenuhi semua pikiranku saat itu.


"Tidak....jangan, jauhkan dia dari tempat itu, ayah jangan lakukan ini Talita tidak bersalah semua ini adalah bagian rencanaku, ayah aku mohon padamu!" Ucap Alvaro memohon kepada ayahnya.


Namun semua permintaan mohon yang dia lontarkan tidak ada artinya sedikitpun dimata sang ayah hingga pria tua itu mulai mengetuk tongkatnya ke bawah dengan kuat dan mulai melontarkan kata-kata yang membuat aku kaget tersentak.


"Lemparkan wanita itu ke bawah, sekarang!" Ucap pria itu memberi perintah.


Devano dan Argo tersentak kaget dan aku juga hanya bisa membelalakkan mataku sesaat bahkan aku tidak sempat berkata-kata karena dia orang pria yang memegangi tanganku dengan kuat mereka langsung mendorong tubuhku ke belakang sangat kuat hingga aku kehilangan keseimbangan begitu saja hingga jatuh ke belakang.


"Aaaaaaahhhhh....." Teriakkan ku merasakan tubuhku jatuh ke bawah.


Masih bisa aku lihat saat jatuh dimana Alvaro berteriak menatap kearahku dari atas jembatan itu, aku tidak bisa melakukan apapun aku sudah pasrah dan menyerahkan semuanya kepada takdir, jika pun aku harus mati saat itu.


"Brushhh....." Suaraku yang jatuh ke dalam air yang sangat dalam.


Aku tidak bisa bernafas meski aku bisa berenang karena arus di sungai itu sangatlah deras, aku bahkan tidak bisa merasakan apapun lagi dan sudah langsung tidak sadarkan diri sejak badanku menyentuh air dengan sangat kuat dan membuat benturan yang hebat.


"Tidak....Talitaaaaaa!" Teriak Alvaro melihat Talita yang jatuh ke sungai itu.


Disisi lain Fasya dan ibunya Talita baru sampai di tempat itu dan mereka melihat secara langsung bagaimana Talita di lemparkan ke sungai itu dan Fasya langsung berlari ke bawah mencari keberadaan Talita bahkan dia langsung berenang ke sungai dan berhasil menyelamatkan Talita namun dia sendiri sangat khawatir ketika melihat keadaan Talita yang kehilangan kesadaran.


"Talita... Bangun nak.... Talita bangun sayang kamu tidak boleh seperti ini Talita" teriak ibu Talita sambil terus menggoyangkan tubuh putrinya.


Fasya tidak bisa diam saja melihat keadaan yang sangat mengkhawatirkan itu dia segera memompa dada Talita dengan sekuat tenaga dan dia langsung membantu membuatkan nafas buatan untuk Talita, meski awalnya dia sedikit ragu namun demi menyelamatkan nyawanya Fasya tidak mau berpikir banyak lagi, dia langsung menyalurkan nafas buatannya kepada Talita beberapa kali hingga akhirnya dia mulai tersadar.


Saat melihat Talita sudah sadar dan mengeluarkan semua air yang masuk ke dalam tubuhnya, Fasya dan ibunya langsung membawa Talita pergi ke rumah sakit terdekat, sedangkan disisi lain Alvaro yang hendak pergi menyelamatkan Talita dia langsung ditahan oleh anak buah ayahnya dan di seret dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil.


"Bawa dia masuk dan dia harus tetap melaksanakan pernikahannya!" Bentak ayahnya Alvaro sangat kencang,


"Tidak.... Lepaskan aku, lebih baik aku ikut mati dengan Talita daripada harus menikah karena bisnis sialanmu, lepaskan aku!" Bentak Alvaro sambil terus berontak sangat kuat.


Dia tidak menyerah begitu juga dengan Argo, kini mereka kembali melawan para bodyguard ayahnya itu hingga tiba-tiba saja Alvaro yang memang sudah setengah babak belur dia tidak bisa menahan pukulan yang sangat kuat dari pada anak buah ayahnya, dia kembali jatuh menghantam mobil bagian depan ayahnya sangat kuat.


Dan sang ayah langsung menjambak rambut Alvaro dengan kuat hingga dia mulai berada di titik kemarahannya.


"Kau....berani sekali kau mau melukaiku, baiklah jika kau lebih suka mati dengan wanita sialan itu, aku akan mewujudkan keinginanmu, rasakan ini..... Jleb" sebuah tusukan masuk dengan tepat pada perut Alvaro oleh sang ayah.


"TIDAK.....tuan Gerorge dia adalah putra.....mu" teriak Argo yang berniat menghentikannya namun dia terlambat.


"KA...kau.... Membunuhku, aku.... mati di tangan ayahku" ucapan terakhir Alvaro hingga dia kembali menerima tusukan kedua dia perutnya lagi.


Hingga tubuh Alvaro.terkulai lemah di lantai dengan darah yang mengalir begitu banyak dan tuan Gerorge langsung pergi begitu saja dari sana begitu pula dengan para anak buahnya.

__ADS_1


"Tinggalkan mereka disini, kita sudah selesai!" Ucapnya meninggalkan tempat itu segera.


Argo langsung menghampiri Alvaro dan dia berusaha keras untuk menolongnya Argo merobek pakaiannya sendiri dan dia langsung mengikatkannya pada bagian luka yang terus mengeluarkan banyak darah, dia juga berusaha keras membawa Alvaro ke rumah sakit terdekat dan berusaha menghubungi Veri kakaknya Alvaro namun sayangnya tidak ada siapapun yang bisa dia hubungi saat itu.


Dia menggendong tubuh Alvaro dari jembatan yang sangat panjang itu menuju jalanan yang ramai hingga dia berhasil menghentikan taxi dan segera membawa Alvaro ke rumah sakit terdekat yang ada disana.


Disisi lain Talita juga di bawa ke rumah sakit itu dan Argo yang tengah menunggu Alvaro di periksa oleh dokter dia tidak sengaja melihat ibunya Talita dan seorang pria mendorong troli pasien dimana ada Talita berbaring disana dengan lemah.


"Talita? A...apakah dia selamat?" Gerutu Argo sambil segera mengikutinya secara diam-diam.


Dia terus memeriksa keadaan Talita yang ternyata juga masih di periksa oleh dokter di dalam ruangan yang tidak jauh dari tempat Alvaro di rawat.


Argo segera pergi dari sana dan dia tidak lupa menutupi wajahnya dengan topi hitam yang dia bawa, dia mulai memiliki sebuah ide yang cerlang di kepalanya dan dia dengan sengaja tidak menunjukkan identitas asli Alvaro kepada pihak rumah sakit karena dia takut tuan Gerorge akan mengetahui keberadaan Alvaro dan bisa saja itu mengancam nyawanya lagi.


Argo yang memang pandai dalam urusan penyamaran seperti itu dia bisa dengan mudah meminta bantuan teman-teman di kumpulang gangster rahasianya, dia meminta identitas baru untuk Alvaro dan dirinya dan sengaja mengubah kartu pengenal Alvaro dengan Haiden nama depan Alvaro yang tidak banyak di ketahui oleh orang-orang, bahkan ayahnya sendiri tidak mengetahui nama itu, sebab itu nama panggilan yang pernah mereka buat untuk sebuah misi dengan para gangster dunia bawah.


Argo bersatu lagi dengan gengnya untuk melindungi Alvaro yang saat ini masih koma karena dia kehilangan banyak darah, sedangkan di hari yang sama pernikahan itu tetap berlangsung dimana kak Veri menggantikan posisi Alvaro sebagai pengantin wanita seperti yang seharusnya dan Audy terpaksa harus merelakan kak Veri untuk wanita lain.


Audy menangis tersedu-sedu dan harus menyaksikan pernikahan orang yang dia cintai, hingga mereka berdua berjalan di atas altar pernikahan dan siap mengikat janji pernikahan dan bertukar cincin, namun di saat pertukaran cincin kak Veri yang memang mengalami kanker otak stadium akhir dia mulai merasakan sakit di kepalanya yang sangat hebat dia bahkan tidak bisa menahan rasa sakit itu hingga dia jatuh ambruk diatas altar pernikahan.


Audy yang melihat itu dia sangat kaget dan hendak berlari menghampiri kak Veri namun dia di tahan oleh anak buah tuan George sehingga tidak bisa melakukan apapun.


Sampai ketika dia mendengar suara kak Veri yang memanggil namanya.


"A....A...Audy...aku....ingin kau" ucap kak Veri dengan menahan sakit di dalam kepalanya.


Audy tidak bisa melihat itu lagi dia berontak dengan sekuat tenaganya dan menendang bagian bawah kedua pria yang menahan tangannya itu hingga dia langsung berlari menghampiri kak Veri dan mendorong wanita bernama Veli itu untuk menjauh dari kak Veri.


Audy langsung mengangkat kepala kak Veri dengan pelan dan dia mulai menyahuti ucapannya tadi, Audy juga memegangi wajah kak Veri dan dia merasa sangat tidak tega melihat kondisi kak Veri yang seperti itu.


"Kak....jangan bicara ayo aku akan membawaku ke rumah sakit kau akan selamat" ucap Audy kepadanya,


"Tidak Audy.... Aku rasa ini sudah waktunya, aku mohon aku titip Alvaro tolong cari dia....jika dia tidak ada aku akan menemui dia di surga... Dan aku... Aku akan menunggumu disana, agar kita bisa....berkumpul....bersama laaa...lagi...." Ucapan terakhir kak Veri hingga tangannya langsung jatuh terkulai lemah ke bawah,


"Tidak....kak kau tidak boleh pergi ....kak Veri bangun! Kak bangun!!" Teriak Audy sambil memegangi tangan kak Veri dengan erat.


Dia berusaha membangunkan kak Veri namun tetap tidak berhasil hingga dia mulai memberanikan diri untuk memeriksa denyut nadi di tangan kak Veri juga pada bagian lehernya dan dia tidak menemukan denyut nadi tersebut.


"Tidak....ini tidak mungkin....kak VERIIII!" Teriak Audy tidak bisa menerima semua ini.


Audy menangis sangat keras dan dia langsung diseret oleh anak buah tuan Gerorge dan dia usir dari gedung itu sedangkan kak Veri mulai di angkat oleh mereka dan dibawa pergi, pesta pernikahan yang harusnya menjadi sebuah pesta besar dan membahagiakan, kini justru malah berubah menjadi pesta berduka, keluarga George telah kehilangan dua putranya sekaligus dan mereka juga membunuh Talita.


Audy sangat kesal dan marah dia juga mencemaskan Talita dan dia juga sakit melihat kak Veri sudah tidak bernyawa lagi, Audy duduk di tengah jalan seorang diri denganenangis tersedu-sedu bahkan dia diam-diam mengikuti proses pemakaman kak Veri hingga semua orang telah pergi dan hanya tinggal dia seorang diri yang ada disana.


Audy datang menghampiri makan kak Veri yang masih basa itu dan dia langsung memeluk batu nisannya dengan haru.


"Kak...aku mencintaimu, aku janji aku akan bersamamu di kehidupan selanjutnya aku yakin kau akan menungguku, tolong tunggu aku kak hiks...hiks..hiks" ucap Audy dengan menangis terisak.


Alam seakan mengetahui kesedihan Audy dia sudah tahu apa yang terjadi kepada Alvaro karena tuan George sudah memberitahukan hal itu kepadanya disaat memaksa kak Veri untuk menikahi Veli sebelumnya tapi Audy masih tidak tahu kemana perginya Talita dia juga tidak bisa mencarinya saat ini karena terus bersedih di depan makan kak Veri.


"Ini salahku.....seharusnya aku bisa mencegah kau dan Alvaro untuk melakukan hal semacam ini, dan kini kalian berdua, kalian pergi di waktu yang sama bahkan mungkin Talita akan lebih hancur di banding aku karena dia tidak bisa menemukan jasad Alvaro, maafkan aku kak" tambah Audy menangis lagi dan lagi.


Hujan mulai turun dengan perlahan hingga mulai menjadi deras sedangkan Audy tidak ingin bergegas dari sana sampai seseorang tiba-tiba saja datang ke tempat itu dan memayungi dirinya dari belakang secara tiba-tiba.

__ADS_1


Audy berbalik dan melihat itu adalah Argo dengan memakai pakaian serba hitam dan wajahnya yang habis dengan lebam.


"A ..A... Argo, kau...kau masih hidup?" Tanya Audy kaget.


Argo mengangguk dan dia segera membawa Audy bersamanya karena dia juga tidak tega melihat seorang wanita menangis di tengah makan dan terkena hujan yang deras seperti itu, belum lagi hari mulai gelap dan dia tidak mungkin meninggalkannya disana sendirian.


"Ayo ikut denganku, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu dan aku juga akan memberitahumu sesuatu" ucap Argo pada Audy.


Melihat betapa seriusnya wajah Argo saat berbicara di hadapannya, Audy pun mengangguk dengan cepat dan dia mengikuti Argo hingga Argo membawa Audy ke sebuah gang yang sempat dan panjang hingga sampai pada sebuah basecamp para gangster di dunia bawah yang gelap.


"Ayo turun" ucap Argo kepada Audy.


Tempat itu adalah tempat yang pernah di datangi oleh Talita dan Alvaro sebelumnya dan kini Argo justru membawa Audy ke tempat itu, karena dia pikir hanyantempat itu yang paling aman saat ini dan tuan George tidak akan mengetahui mengenai tempat rahasia tersebut.


Audy yang melihat ke sekitar yang di penuhi dengan orang-orang berwajah sangar juga badan mereka yang penuh dengan tindik juga tato dia merasa sedikit merinding dan takut melihatnya sehingga dia sedikit ragu untuk turun.


"Argo apa kau tidak salah jalan, kenapa kita masuk ke lingkungan seperti ini?" Tanya Audy merasa takut,


"Ini benar, kau tenang saja mereka semua baik hanya di luar saja terlihat buruk, ayo turun dan aku akan membawamu masuk ke sana untuk bicara" ujar Argo sambil segera menarik tangan Audy.


Karena Audy lama tidak bergerak sehingga Argo terpaksa menarik tangannya dengan paksa dan membawa Audy langsung masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup besar disana.


Argo juga mempersilahkan Audy untuk duduk disana.


"Ayo duduk dulu" ujar Argo mempersilahkan.


Audy walau merasa ragu dan takut dia tetap duduk di kursi kayu itu dan matanya terus saja menatap ke sekeliling ruangan di mana banyak sekali perkakas yang menempel di dinding rumah tersebut, bahkan pistol dan semacamnya berjejer rapih seperti sengaja di simpan disana


"Tempat macam apa ini, aaahhh.... Bagaimana jiga si Argo itu psikopat matilah aku....." Gerutu Audy mulai berpikiran liar.


Bagaimana dia tidak berpikiran liar jika melihat suasana disana sangatlah menyeramkan, banyak sekali pedang dan belati menempel di dinding yang bisa di ambil kapan saja untuk membunuh apapun bahkan belati itu terlihat mengkilap dan tajam di tambah wilayah tempat ini yang tertutup dari dunia luar sehingga akan sulit untuk keluar dan meminta tolong jika terjadi sesuatu kepada dia di dalam sini.


Terlebih orang-orang yang berada disana semuanya memiliki tato dan wajah mereka sangat menyeramkan Argo juga terlihat sedikit aneh ketika di perhatikan lagi oleh Audy karena wajahnya tidak pernah terlihat tersenyum sedikitpun dan dia terus saja berwajah datar juga selalu berbicara dengan nada yang menegangkan membuat jantungnya berdetak kencang ketakutan setiap kali mendengar Argo berbicara kepadanya.


Sampai tidak lama Argo kembali dan dia melemparkan handuk kepada Audy.


"Heh, ambil ini...." Ucap Argo sambil melemparkan handuk berwarna putih itu kepada Audy.


Untungnya Audy bisa menangkapnya dengan tepat meski Argo memanggil dia secara tiba-tiba seperti tadi.


"AA..ahhh....huft untung saja tertangkap" ucap Audy pelan.


Dia langsung menggunakan handuk itu untuk mengeringkan rambut dan badannya yang kehujanan saat di pemakaman juga di perjalanan sebelumnya.


Dia juga melihat Argo sudah berganti pakaian lalu kini justru Argo menyuruh dia untuk mengganti pakaiannya juga.


"Sana ganti pakaianmu aku sudah menyiapkannya di dalam kamar mandi" ucap Argo memberi tahu,


"A..ahh...iya terima kasih Argo" ucap Audy kepadanya dengan gugup.


Argo hanya mengangguk dan tangannya mempersilahkan Audy untuk pergi ke dalam, Audy pun segera pergi untuk mengganti pakaiannya yang basah sebab dia juga memang merasa dingin sedari tadi hanya mengabaikannya saja karena terlalu takut dan sedih.


Dia juga mulai merasa aneh dan bingung karena Argo begitu baik kepadanya dan meminta dia untuk mengganti pakaian dahulu sebelum berbicara dengannya sehingga Audy menuruti Argo, meski dia takut dan merasa curiga tapi mengingat betapa setianya Argo kepada Alvaro, Audy berpikira tidak mungkin anak buah Alvaro melukai dirinya sehingga hanya keyakinan itu yang membuatnya mengobati dari rasa takut di dalam dirinya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2