
Tetapi bagiku selama dia selalu bersikap baik kepadaku apa salahnya juga aku tidak menghindarinya lagi pula aku selalu yakin dengan diriku sendiri jika Alvaro itu tidak seburuk rumor yang tersebar, aku mempercayainya karena aku sudah merasakan sendiri semua kebaikan yang dia berikan kepadaku selama ini.
Dan aku rasa dia adalah orang yang cukup baik, sehingga aku sendiri tidak pernah takut dengannya sama sekali, walau terkadang aku juga sedikit gugup dan takut tapi itu terjadi jika dia berada dalam keadaan yang marah.
Saat di dalam mobil kala itu, aku hanya diam termenung melihat ke arah wajah Alvaro karena aku juga sempat sedikit kaget karena dia bisa mendengar gerutuanku sebelumnya padahal aku merasa apa yang aku ucapkan sudah begitu pelan, aku bahkan sampai sulit menelan salivaku hingga tak lama Alvaro membuyarkan kecanggungan diantara kita.
"Apa?, Kau sudah terpesona dengan wajah tampanku yah" ucap Alvaro dengan PD nya,
"Hah?, Ganteng apaan aku hanya heran saja dari mana kau bisa mengetahui gerutuanku apa kau ini bisa mendengar isi hati orang lain yah" balasku hanya menebak dan asal bicara untuk menutupi ke gugup aku,
"Iya aku bisa mendengar suara hati orang lain tapi hanya satu orang dan itu kamu" balas Alvaro membuatku seketika menjadi kesal karena aku tahu dia sedang bercanda.
Bukan hanya dia yang tertawa dengan candaannya sendiri tapi sialnya Argo juga malah ikut ikutan tertawa sehingga membuatku cukup kesal sekali.
"Heh, Argo kenapa kau malah ikut tertawa berhenti berpihak pada Alvaro harusnya kau itu berpihak padaku bagaimanapun Alvaro itu salah karena sudah menguping ucapanku huh!" Bentakku ke sal.pada Argo,
"Maafkan aku Talita tapi tadi itu aku juga bisa mendengar gerutuanmu dengan sangat jelas, apalagi tuan Alvaro yang berada di sampingmu" balas Argo sambil menahan tawa karena dia tidak ingin Talita semakin marah dengannya.
Mendengar itu Talita semakin cemberut dan menekuk wajahnya dengan mulut yang dimonyongkan ke depan, dia semakin sangat kesal dan hanya bisa langsung memalingkan pandangannya ke luar jendela dengan kedua lengan yang dilipatkan di dadanya.
Sedangkan setelah beberapa saat Alvaro pun berhenti menertawakan Talita dan dia mulai sadar dengan kode yang diberikan oleh Argo lewat kaca depan dan Alvaro mulai semakin sadar bahwa Talita marah dengannya, perlahan Alvaro mulai menarik nafas dan dia menyuruh Argo agar meningkatkan laju kendaraan agar bisa secepatnya sampai di kota, sedangkan aku sudah sangat malas dengan kelakuan Alvaro dan terus saja mengabaikan dia sampai akhirnya aku kembali mengantuk dan tidur di mobil karena menghindari Alvaro lagi.
"Argo tambahkan kecepatannya" perintah Alvaro pada Argo yang langsung di tanggapi anggukkan oleh Argo saat itu juga.
__ADS_1
Aku juga merasakan laju mobil lebih cepat dari sebelumnya dan jalanan juga sudah kembali bagus lagi sehingga aku bisa tidur dengan nyaman, saat itu sebetulnya aku hanya pura pura tertidur saja karena tahu Alvaro hendak berbicara kepadaku dan aku tidak mau mendengar apapun lagi padanya karena sudah terlanjur kesal.
Tapi berawal dari pura pura justru malah ketiduran sungguhan hingga beberapa waktu kemudian aku sudah tidak sadar jika mobil yang aku tumpangi itu sudah masuk ke perkotaan dan tanpa sepengetahuanku ternyata Alvaro menghentikan mobilnya lalu dia menggendongku diam diam lalu memindahkan aku ke mobil lain dengan dia sendiri yang mengemudi.
Sedangkan Audy masih bersama Argo di mobil sebelumnya, kami berdua sama sama tidak sadar ketika di pisahkan karena tengah tertidur dengan lelap satu sama lainnya.
"Argo kau antarkan dia pulang, nanti jika sudah cukup jauh bangunkan saja dia untuk menanyakan alamatnya aku akan pergi ke tempat lain dahulu bersama Talita, ingat jangan sampai dia membuat kekacauan dengan rencanaku" ucap Alvaro memperingati Argo setelah memindahkan ku ke mobil berbeda.
Sebelumnya Alvaro memang telah menghubungi anak buahnya yang lain untuk membawakan mobil khusus yang jarang dia gunakan untuk dia pakaian saat ini dan saling bertemu di perbatasan kota, sehingga ketika mereka baru sampai mobil itu sudah tersedia, sehingga Alvaro tidak perlu menggunakan waktu yang lama untuk berpindah dari mobil yang pertama dengan yang baru.
Argo juga mengangguk mengerti dan dia segera melajukan mobilnya kembali untuk mengantarkan Audy pulang sedangkan Alvaro justru malah membelokkan kembali mobilnya dan pergi ke tujuan yang sudah dia rencanakan yang tak lain adalah pantai sebelumnya yang sangat disukai oleh Talita.
Sebelum melakukan mobilnya dengan lebih cepat Alvaro sempat melihat ke arah Talita sekilas dengan senyum yang mengembang di wajahnya, dia melakukan itu berniat untuk memberikan kejutan pada Talita dan sebagai permintaan maaf karena dia sudah mempermainkan Talita sebelumnya hingga membuat Talita kesal dan marah karenanya.
Waktu terus berlalu mobil juga terus melaju dengan cepat hingga sore hari mulai menyapa dan tepat pukul 16.00 mereka sampai di daerah pantai dan mobil yang dikendarai oleh Alvaro mulai menyusuri jalanan pesisir pantai di mana suara ombak sudah terdengar dengan jelas dan angin laut mulai menerpa mobil mereka.
Karena kebisingan dan suara ombak yang begitu keras aku mulai terbangun dengan perlahan dan mengucek mataku sedikit demi sedikit mulai membuka mata.
"Eummm...apa kita sudah sampai?" Ucapku sambil bertanya.
"Lihat saja sendiri" balas Alvaro yang membuatku langsung menatap ke depan.
Saat aku menatap ke depan di mana di samping jalanan terdapat pasir yang bertebaran di mana mana aku langsung membelalakkan mata dengan kaget yang tidak terkira dan ketika aku melirik ke samping pemandangan pantai yang indah dengan pohon kelapa di samping pesisir sungguh memanjakan mataku.
__ADS_1
Dalam keadaan yang masih setengah sadar aku masih merasa tidak percaya bisa berada di tempat itu sehingga aku kembali mengucek mataku untuk memastikan apa yang aku lihat.
"Wahh....ini sungguhan, aku ada di tepi pantai sekarang?" Tanyaku tidak menyangka dan kaget,
"Kau itu bodoh atau apa sih, sudah jelas kau di pantai masih saja bertanya, sudah kita akan berhenti di depan bersiaplah untuk merasakan angin pantai yang sangat kau dambakan itu" balas Alvaro membuatku sangat yakin dan begitu bahagia.
Aku hanya mengangguk dengan tersenyum ceria dan tidak bisa menahan rasa kebahagiaan dan kesenangan di dalam hatiku, saat itu rasanya aku sudah sangat tidak sabar untuk menginjakkan kaki di pantai dan menyentuh air pantai yang asin itu.
Tentu saja aku sangat antusias sebab itu adalah pengalaman pertama kalinya aku pergi ke pantai karena sejak kecil ayah dan ibuku tidak pernah membawaku liburan ke pantai mereka juga tidak pernah mengijinkanku pergi ke pantai bersama teman teman maupun pada acara sekolah hanya karena alasan bahwa aku tidak tahan angin dingin dan tidak bisa berenang jadi mereka sangat mengkhawatirkan kesehatan ku.
Tapi kali ini berkat Alvaro aku sungguh bisa berada di pantai dengan waktu yang tidak pernah aku duga sedikitpun, saking senangnya aku tidak sadar bahwa ada yang janggal saat itu bahkan ketika Alvaro memarkirkan mobilnya aku langsung membuka sepatuku dan berlari keluar dari mobil menuju pantai dengan terburu buru.
Alvaro juga sempat berteriak menyuruhku untuk hati hati namun aku tidak perduli aku hanya ingin segera menyentuh bagian pasir pantai yang lembut di dekat sana.
"Eh...Talita hati hati..." Teriak Alvaro sangat keras,
"Tidak papa Alvaro aku akan baik baik saja, ini sangat seru haha...ayo kemari Alvaro cepatlah" teriakku membalas Alvaro.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan aman dan benar, Alvaro menyusulku dan saat itu aku sudah berada di pesisir pantai tengah menikmati indahnya pantai dan ombak di hadapanku, aku duduk di pasir yang lembut itu sambil memainkan pasirnya dan menunggu ombak datang untuk menghancurkan istana pasir yang sudah aku buat.
Rasanya bermain di pantai begitu menyenangkan walaupun terlihat seperti anak kecil, walau Alvaro beberapa kali mengataiku seperti itu tapi aku sama sekali tidak merasa kesal dan hanya terus senang dan bahagia aku bahkan melemparkan pasir yang sudah aku gumpalkan di tanganku lalu ku lemparkan mengenai Alvaro untuk memberinya pelajaran karena terus mengataiku sembarangan.
"Heh, Talita kau ini bocah tujuh tahun yah, kenapa harus memalukan begini sih" ucap Alvaro yang mulai kembali mengejekku.
__ADS_1