Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Di kerjai


__ADS_3

Aku merasa kebingungan dan hanya bisa melemparkan senyum sambil menunduk dan meminta maaf kepada mereka dengan perasaan malu dan canggung tidak menentu.


"A..ahh..ma..maafkan aku, maafkan" ucapku segera meminta maaf hingga mereka kembali fokus ke depan dan tidak menatap ke arahku lagi.


Hingga semua orang sudah kembali normal aku langsung menatap tajam dengan mengerutkan dahulu kepada Fasya sialan itu karena sudah membuatku hampir malu dihadapan banyak orang.


"Hey, apa yang mau kau lakukan kenapa kau mengagetkanku seperti itu?" Ucapku memelankan suaraku,


Dia tidak menjawabku dan tiba-tiba saja menepuk pundakku lalu mendorongku ke depan hingga aku langsung berbalik dan dia langsung menyentuh punggungku begitu saja, tentu saja saat itu aku sangat marah dan kesal karena dia menyentuh tubuhku seenaknya tanpa meminta izin terlebih dahulu dan itu di tempat umum dimana ada banyak sekali orang disana.


"Eh, heh apa yang kau lakukan aishh lepaskan aku kenapa kau menyentuh itu!" Bentakku pelan,


"Diam kau lupa menaikkan res sleting pakaianmu, apa kau pikir itu sesuatu yang indah sampai harus kau pamerkan seperti ini?" Ucapnya membuatku sangat tersinggung.


Aku kaget karena tidak mengetahui jika pakaianku belum sempat aku res sleting sebelumnya karena aku berlari kemari dengan terburu-buru sehingga tidak sempat memeriksa lagi pakaianku tetapi aku juga kesal dan marah karena dia tidak bicara yang sebenarnya dengan cepat jika dia sudah tahu pakaianku terbuka di bagian belakang.


"Hah, apa..... Aduhh jadi yang orang-orang menatap aneh kepadaku tadi karena sleting bagian belakangku?, Aishhh ini memalukan" gerutuku sambil menunduk pasrah.


Masih bisa aku rasakan dan dengar ketika Fasya membantuku menaikkan res sleting tersebut lalu dia menepuk sebelah pundakku sebelum dia pergi ke depan.


"Punggungmu cukup cantik dan mulus mungkin anak-anak di belakangmu cukup menikmatinya beberapa saat yang lalu" bisik dia di samping telingaku.


Aku langsung menaikkan kepalaku dan segera menoleh ke belakang perasaanku sudah sangat kaget dan takut tapi untunglah ketika aku menoleh ke belakang ternyata tidak ada siapapun disana dan hanya ada tembok kosong.

__ADS_1


"Apa.....huft syukurlah dia hanya menipuku, jika sampai di belakangku sungguh ada anak-anak lain apalagi seorang pria, aku pasti sudah kehilangan harga diriku" gerutuku merasa sedikit lega.


Meski lega karena tidak ada yang benar-benar menyadarinya tapi aku masih sangat kesal dan tidak terima karena dia sudah membuatku malu juga menyentuh punggungku seenaknya ditambah dia juga menipuku, dan jika di perhitungkan dia sudah merugikan aku sebanyak tiga kali hari ini, aku sungguh merasa bodoh karena selalu terperangkap dengan orang menyebalkan seperti dia.


Aku menatap dia yang sudah berjalan menuju mimbar di depan dengan penuh kebencian dan menggerutu sendiri hingga puas, tapi sorot mataku tidak sengaja melihat sosok Alvaro di jajaran depan yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Meski aku hanya melihatnya dari belakang tapi aku sangat yakin bahwa itu adalah Alvaro sebab aku tahu jelas bagaimana bentuk punggungnya.


"Ehh, itu seperti Alvaro, apa itu sungguh dia?, Jika benar....maka" ucapku tertahan karena para senior memanggil namaku.


"Talita Dwi Putri...." Teriak salah satu kakak senior memanggilku.


Aku kebingungan dan clingukan tidak jelas karena tidak tahu mengapa dia memanggilku tetapi mahasiswa baru lainnya menatap ke arahku dan menyuruhku untuk segera pergi ke depan sehingga aku hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh mereka.


"AA..apa, aku harus ke depan?" Tanyaku dengan wajah yang heran,


Aku menunjuk diriku sendiri dengan linglung sambil terus berjalan ke depan dengan mengerutkan kedua alisku bersamaan saking merasa herannya dengan apa terjadi saat itu, dan ketika aku sudah berdiri di depan rupanya ada beberapa mahasiswa baru lain yang juga berdiri di depan sehingga pada awalnya aku tidak terlalu merasa cemas.


Hingga si Fasya sialan itu tiba-tiba saja memberikan pengumuman.


"Lihatlah teman-teman semua ini adalah mahasiswa baru yang sangat tidak baik untuk dicontoh, pertama mereka kesiangan, ceroboh dan juga tidak pintar, terutama gadis dengan pakaian berantakan dan sepatu yang belum dipakai dengan benar itu" ucap Fasya seperti sengaja memojokkan aku.


Semua tatapan orang yang ada disana tertuju kepadaku dan mereka langsung menertawakan aku karena semua yang di bicarakan Fasya sebelumnya.


"Ahahaha......dia sangat lucu yah, seperti tidak niat kuliah" ucap mahasiswa yang satu,

__ADS_1


"Iya kenapa dia bisa masuk ke fakultas kita dengan penampilannya yang kacau seperti itu, memasukkan" balas mahasiswa yang lainnya,


"Iya sangat memalukan" tambah yang lainnya lagi.


Aku sungguh merasa malu dan sangat kesal tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain dari menunduk karena malu dan mengepalkan kedua lenganku dengan kuat karena sangat kesal, aku tidak melawannya karena aku tahu ini diatas panggung dan banyak orang yang menonton kami semua diatas sini sehingga dengan susah payah aku menahan kekesalan dan emosi di dalam diriku agar aku tidak membuat mereka semakin membenciku ketika aku melawan ucapan Fasya b*Strad itu.


Aku pikir ketika aku diam saja dan menerima semuanya dengan diam, mungkin dia akan berhenti sendiri dan tidak mempermalukan aku lagi di hadapan umum, namun nyatanya disaat aku diam pun dia malah semakin menjadi dan terus saja menjadikan aku bahan lelucon sampai mereka semua terus menertawakan aku berkali-kali, hingga sesi bicaranya selesai dan aku kembali di persilahkan untuk turun dari panggung itu kembali ke tempat awal aku berdiri di dalam barisan.


Selama aku turun dan berjalan ke tempat awalku, banyak mahasiswa lain yang menganggap ku rendah, mereka mulai memandangku sebelah mata dan sejak saat itu aku merasa mereka mulai membully ku dengan cara yang berbeda, meskinmereka tidak melakukan kekerasa fisik kepadaku tapi cara mereka membicarakan ku di belakang ataupun di hadapanku itu sudah cukup memperlihatkan bahwa mereka semua tidak menyukaiku.


"CK.....semua ini garaysi Fasya sialan, apa dia tidak bisa melihatku tenang sejenak!" Gerutuku sangat kesal.


Kekesalan di dalam diriku terus saja menumpuk seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya hal menyakitkan yang dia berikan kepadaku semala aku di sekolah, dan bodohnya aku harus selalu berhubungan dengannya, dan itu sangat menyebalkan untukku.


Sepanjang acara penyambutan itu aku sama sekali tidak bisa tersenyum padahal mereka semua melakukan beberapa permainan bersama, mulai dari menyanyi bersama berjoged dan mulai melakukan permainan lainnya, disaat mahasiswa baru lainnya terlihat bersenang senang dengan gembira, aku justru menderita seorang diri, sampai lama kelamaan aku sungguh semakin kesal dan tidak bisa menerima ketidak adilan yang dia berikan kepadaku, sepanjang permainan dia selalu menjadikan aku sasaranya selalu saja aku yang terkena hukuman di setiap permainan yang dia buat.


"Kasihan sekali gadis itu, dia selalu mendapat hukuman lihat sudah banyak sekali kertas yang di tempel di wajahnya" bisik seorang mahasiswa di sampingku,


"Hey, apa kamu baik-baik saja aku bisa menggantikan mu untuk beberapa hukuman" ucap salah satu mahasiswa di sebelahku yang lain,


"Oh, tidak masalah aku baik-baik saja" balasku sambil tersenyum menahan kekesalan yang sudah menumpuk menjadi batu keras di dalam hatiku.


Aku menatap tajam kembali ke arah Fasya yang asik menertawakan aku bersama dengan rekan-rekan seniornya yang lain, aku sangat membenci tawanya, wajahnya dan matanya yang bersikap sok dingin dan cool tapi dia bisa tertawa di saat aku menderita karena ulahnya.

__ADS_1


__ADS_2