Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Membujuknya


__ADS_3

Terpaksa aku segera masuk ke dalam ruang ganti dan mencoba salah satu seragam yang sama ukurannya dengan seragam milikku sebelumnya, aku keluar dan merasa seragam ini sudah cocok untukku.


"Alvaro aku sudah selesai" ucapku memanggilnya,


Alvaro berbalik menatapku dari atas hingga bawah, aku tidak tau kenapa dia sangat memperhatikan penampilanku sampai sebegitunya, dia menatapku tanpa berkedip sampai membuatku merasa risih dengan tatapannya.


"Hei... Alvaro berhenti menatapku begitu" ucapku memberikan peringatan padanya,


"Iya aku hanya memastikan kau cocok dengan seragam itu atau tidak" jawabnya sambil memalingkan pandangan,


"aku rasa itu sudah cocok aku akan membayarnya, kau keluar saja lebih dulu" ucap Alvaro yang membuatku membelalakkan mata seketika,


"a... Apa?, kamu mau membayar pakaian ini?" ucapku kaget dan merasa heran.


Dia tidak menjawab ucapanku dan pergi ke kasir koprasi sekolah begitu saja, aku mengikutinya sampai dia selesai membayar seragamku, aku juga lihat bahwa nominalnya tidak sedikit harga seragam sudah naik beberapa puluh ribu, aku benar benar merasa malu dan tak karuan karena Alvaro sudah membelikan ku seragam baru, padahal bukan dia yang merusaknya.


"Al... Alll... aishh, ALVAROOO..." teriakku karena dia tidak menggubris panggilanku,


"Apa?" jawabnya sambil berbalik menatapku,


"aku akan membayar hutangku padamu, kamu anggap saja seragam ini aku pinjam, aku tidak mau berhutang budi apapun padamu" balasku menjelaskan,


"sudah, hanya itu yang mau kau bicarakan?, kalau begitu aku tidak perduli" jawab dia sambil melanjutkan langkahnya.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas kesal dan berjalan menyusul dia menuju kelas, anak anak lain sibuk bergosip membicarakan ku tapi aku tidak perduli entah memakai seragam ataupun pakaian olahraga tetap saja aku menjadi bahan omongan mereka, saat aku hendak masuk ke dalam kelas tak sengaja berpapasan dengan kak Bara dia tersenyum padaku dan aku lagi lagi meleleh dengan senyumannya entahlah, tadi saja saat aku dimarahi olehnya aku membenci dia tapi barusan mendapatkan senyum manis darinya sudah membuatku melupakan perbuatan dia sebelumnya, cinta kadang kadang membuat orang begini kan.


Saat pulang sekolah kak Bara juga menemuiku, aku pikir dia mau mengantarkan ku pulang ternyata dia hanya mengingatkanku untuk segera membujuk Alvaro agar dia setuju masuk kedalam tim basket sekolah ini, aku hanya bisa mengangguk menyetujui saat dihadapan kak Bara, tapi saat dia pergi aku baru mengeluh karena bahkan sampai saat ini belum sempat membicarakan hal itu pada Alvaro.

__ADS_1


Hingga ke esokan paginya aku berusaha bersikap baik pada Alvaro mulai dari membersihkan bangku dan mejanya, bahkan aku seharian tersenyum padanya aku juga mengikutinya ke kantin dan makan bersama dengannya, meski harus mendapatkan tatapan sinis dan gosipan orang orang disekitar sana, aku tidak perduli yang penting bisa mendekatkan diri agar Alvaro tidak membenciku lagi dan mau mengikuti lomba basket itu.


"Hei... kenapa kau terus tersenyum dan mengikutiku, apa kau tidak ada kerjaan lain selain jadi penguntit!" ucap Alvaro dengan tegas,


"tidak ada, aku hanya mau bersamamu saja" jawabku sambil tersenyum semanis mungkin,


Bukannya baper dengan jawabanku dia malah tertawa dengan keras membuatku malu menjadi pusat perhatian banyak orang, sikap manis yang sudah aku buat sebaik mungkin tidak ada gunanya.


"Hahahah... Kau ini benar benar konyol sejak kapan kau mau sedekat itu denganku?" tanyanya diriringi tawa yang menggelegar,


"ishh... Dasar anak ini untuk apa juga tertawa sekeras itu, bikin malu saja" gumamku kesal menahan emosi,


"ahhh... Aku akan berda di sisimu mulai saat ini, jadi kau tidak perlu berdebat lagi denganku kita bisa berteman baik sekarang" ucapku mencari alasan.


Seperti dugaanku tidak mungkin seorang Haiden Alvaro akan mempercayai ucapan orang lain begitu saja, saat mendengar ucapan dariku dia langsung menatap serius dan mimik wajahnya langsung berubah datar dia terus mendekatkan wajahnya menatapku dengan jeli, aku sampai sulit menelan salivaku sendiri karena mendapatkan tatapan setajam itu darinya.


"pasti ada sesuatu dibalik perubahan sikapmu ini, cepat katakan apa yang kau mau dariku" ucap Alvaro,


"Hehe... Kau benar, memang ada sesuatu yang mau aku pinta darimu tapi kau jangan marah yah" ucapku dengan jujur,


"Cepat katakan!!" balasnya masih dengan wajah yang serius,


"Aku mau kau ikut lomba basket akhir tahun menggantikan salah satu anggota tim basket sekolah kita yang sakit, aku tau kamu orang baik bisakah kamu membantu kak Bara dia kesulitan mencari gantinya dan kamu kandidat terbaik saat aku melihat permainan basketmu beberapa hari lalu, kau juga sangat mahir aku rasa kau orang yang cocok untuk itu" ucapku menjelaskan dengan sebaik mungkin,


"Dasar gadis idiot bagaimana bisa dia meminta bantuan ku untuk membantu pria lain sialan!" gumam Alvaro menahan emosinya,


"Alvaro bagaimana apa kamu mau?, mau yah tolong" ucapku meminta tolong dengan wajah yang memelas,

__ADS_1


"Aku tidak mau!, kau cari saja orang lain" jawab Alvaro sambil berlenggang pergi meninggalkanku.


Aku benar benar kesal sudah berusaha membujuk bahkan mengikutinya seharian dan terus menahan emosi karenanya apalagi harus mendapatkan banyak tatapan sinis dari anak anak lain hanya untuk bisa mendekatinya, tapi Alvaro malah menolak secara gamlang bahkan tanpa rasa ragu sedikitpun, aku sungguh frustasi.


Aku mengeluh dan menggerutu seorang diri di kantin, sambil memikirkan cara lain untuk membujuk Alvaro, namun sayangnya otakku tidak bisa berpikir dan diajak kerjasama di saat situasi seperti ini, memikirkan caranya saja sudah membuatku kesal, memang dari awal aku sudah tau akan seperti ini tapi aku malah memaksakan diri sendiri untuk mencoba membujuk Alvaro karena kak Bara.


Entah sejak kapan aku mulai menyukai kak Bara rasanya tiap kali melihat dia jantungku berdebar, sebelumnya tidak seperti ini, apa mungkin karena kak Bara adalah orang yang membantuku di saat aku terluka karena kedua orangtuaku malam itu, atau sejak saat kak Bara merawatku di rumah sakit, aku tidak tau tapi bagiku dia orang yang baik dan selalu membantuku itu yang membuatku merasa kalau aku harus membalas semua kebaikannya, inilah yang aku benci dalam balas budi.


Saat tengah menggerutu kesal sendiri tiba tiba kak Bara datang menghampiriku dan dia duduk tepat dihadapanku, aku kaget dan khawatir dia melihat apa yang aku lakukan dengan Alvaro sebelumnya, entah kenapa juga aku harus mengkhawatirkan hal semacam itu.


"Eh, kak Bara sejak kapan kakak ke kantin?" tanyaku memastikan ketakutanku,


"Aku baru saja masuk memangnya kenapa?" jawab kak Bara dan balik bertanya,


"Tidak ada apa apa aku hanya penasaran saja" jawabku berbohong,


"Bagaimana kondisimu?, apa kau sudah merasa lebih baik sekarang, ingat jangan sampai beraktivitas terlalu berat kondisimu itu lemah" ucap kak Bara menanyakan kondisiku,


"A... Aku sudah baik baik saja kak, tidak perlu mengkhawatirkan aku" balasku sedikit gugup,


"tentu saja aku akan mengkhawatirkanmu kamu kan orang yang...." ucap kak Bara yang tidak selesai,


"Apa?, memangnya aku orang apa?" tanyaku penasaran,


"Ahhh... Tidak kamu tidak apa apa, bagiku kamu orang yang baik dan adik kelasku tentu saja aku harus menjaganya, iya kan?" jawab kak Bara yang menurutku tidak masuk akal.


Walau jelas sekali jawabannya itu tidak masuk akal aku berusaha mengangguk patuh untuk menghentikan kecanggungan diantara kami, aku pun berbincang mengenai hal lain dan tidak terasa kami tertawa bersama juga makan bersama saat jam istirahat, aku sungguh merasa senang bayangkan saja rasanya bisa sedekat itu dengan orang yang kalian sukai, walau aku tidak sadar sejak kapan aku menyukai kak Bara tapi sekarang aku sudah tau dengan perasaanku sendiri, sepertinya aku memang menyukai kak Bara dari sejak pertama aku melihatnya di MPLS sekolah saat itu, tatapannya kala itu sungguh membuatku salting tidak karuan gara gara kegugupanku sendiri aku malah mendapatkan hukuman dari orang yang aku sukai, aku juga sedikit memahami kenapa kak Bara memberikan hukuman padaku kala itu, memang itu kesalahanku habisnya mau bagaimana lagi.

__ADS_1


Hari itu rasanya tidak mau beranjak dari kantin aku mau terus berbincang dengan kak Bara, dia selalu bisa membuatku tertawa bahkan berhasil menghilangkan kekesalanku pada Alvaro yang sebelumnya membuatku naik darah.


__ADS_2