Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Tidak Bersemangat


__ADS_3

Semua mata orang yang ada di dalam ruangan menatap ke arahku, begitu juga dengan kak Bara sedangkan aku hanya merasa keheranan.


"Apa?, kenapa menatapku seperti itu?" tanyaku dengan mengerutkan kedua alis dengan sempurna,


"Talita aku mohon kami sedang butuh bantuanmu, tolong bujuk Haiden agar dia mau menjadi perwakilan anggota basket lagipula hanya untuk sekali saja" ucap kak Bara dengan mata yang berbinar,


"aduhhh...kak, aku dan dia itu tidak sedekat yang kalian kira, bahkan barusan saja dia memarahiku dan sangat membenciku karena aku mengotori jaket kesayangannya" ucapku memberikan pengertian,


"Talita!, jangan bohong kau, setiap hari aku selalu lihat kalau Haiden berada di sekitarmu dan dia selalu membelamu kan!!" pungkas kak Vera dengan wajahnya yang sinis.


Tidak tau seberapa banyak aku menjelaskan hubunganku dengan Haiden Alvaro pada mereka, tetap saja tidak ada yang mempercayai ucapanku.


"Sudahlah Talita itu bukan hal sulit untukmu, apa kau mau membuat tim basket sekolah kita dipermalukan?" tambah kak Nandito membuat suasana semakin memanas,


"Hah?, tidak tidak, maksudku tidak begitu kak, tapi...aku....." ucapku yang tak selesai,


"aku percaya kamu pasti bisa membantu kami Talita, semuanya kita serahkan padamu, oke rapat kali ini cukup sekian" ucap kak Bara sambil menepuk pundakku.


Rapat pun selesai dan semua orang bubar sedangkan aku hanya bisa terduduk lemas, menerima tanggung jawab yang aku sendiri tidak menyetujuinya bahkan aku tidak tau harus melakukan apa sekarang.


Ku hembuskan nafas lesu berkali kali dengan penuh tekanan, berjalan sambil menunduk menuju kelas dan harus kembali bertemu seorang Haiden Alvaro, aku duduk tepat disamping Alvaro dan sama sekali tak menatapnya.

__ADS_1


Aku tau saat itu Alvaro memperhatikan aku diam diam namun dalam situasi begini aku malas berdebat dan mencari masalah dengan orang sepertinya, aku lebih senang menenggelamkan diriku diatas meja dan menutup wajahku dengan buku komik.


"Hei....gadis idiot, ada apa denganmu, masuk kelas biasanya kau membuat kerusuhan kenapa sekarang seperti mayat hidup?" ucap Alvaro sambil membuka buku yang menutupi wajahku.


"Diam!!, kau tidak di izinkan bicara denganku saat ini" jawabku sambil membalikan kepalaku menghadap ke arah yang lain,


"terserah, tapi jangan lupa dengan jaketku jangan sampai kau merusaknya!!" ucap Alvaro memperingati,


"aku juga tau bahkan jauh sebelum kau memperingatiku" gumamku dalam hati.


Hari ini sungguh melelahkan dan banyak kejadian yang membuatku kesal sampai menguras energiku, saat jam pulang sekolah berdering aku yang biasanya gembira dan selalu bergegas terburu buru menemui Audy kini tak bersemangat dan seperti enggan bangkit dari kursiku, Alvaro yang melihat Talita masih duduk terdiam di bangkunya di saat semua siswa sudah keluar dia kembali masuk ke dalam kelas dan menghampirinya.


"Alvaro kau ini sangat menyebalkan, bisa tidak sehari saja kau jangan menggangguku, aku selalu saja terlibat denganmu aku kesal!!" ucapku dan bangkit pergi meninggalkannya.


Saat keluar kelas ternyata Audy sudah menungguku dia melambaikan tangan dan segera ku hampiri, kami pun pulang mengendarai sepeda berboncengan menuju desa, aku yang terus melamun memikirkan permintaan kak Bara dan anak anak lainnya saat rapat tadi membuatku tidak fokus, aku sama sekali tidak menyimak ucapan Audy sedikitpun selama di perjalanan sampai saat Audy mulai menyadarinya kalau aku tidak menyauti sedikitpun dari ucapannya.


"Talita....Talita....hei jangan bilang sedari tadi kau tidak menyimak ucapanku yah?" ucap Audy menyadarkanku dari lamunan,


"ahh....i..iya...maaf yah Audy, habisnya aku sedang bingung" jawabku sambil meminta maaf,


Audy membelokkan sepedanya ke arah tepian sungai aku merasa heran kemana Audy akan membawaku karena jelas itu bukan jalan menuju rumahku ataupun rumah Audy, tiba tiba saja Audy menghentikan sepedanya di tepian sungai dan mengajakku untuk duduk di rerumputan hijau yang nampak bersih, aku duduk bersampingan dan meluruskan kedua kaki sambil menghirup udara segar.

__ADS_1


"Bagaimana apa kau merasa lebih baik sekarang?" tanya Audy sambil melempar senyum padaku,


"Aku bahkan jauh lebih baik, terimakasih Audy kamu selalu tau apa yang aku butuhkan" jawabku sambil membalas senyum Audy,


"tentu saja, setiap kali aku merasa berat dan penuh pikiran aku selalu datang ke sini, suara gemericik air dan hembusan angin membuatku tenang dan setidaknya bisa meringankan pikiranku, aku harap tempat ini berlaku juga untukmu" balas Audy sambil menghirup udara segar di sana.


Ku akui memang udara di sana masih sangat asri dan segar, aliran air yang begitu jernih dan pepohonan yang tidak terlalu rimbun membuat suasana di sana sangat cocok sebagai tempat mendinginkan pikiran dan menenangkan jiwa, rasanya aku tidak mau pergi dari tempat itu, karena kalau sudah sampai rumah aku akan kembali memikirkan banyak hal yang belum ku selesaikan, itu membuatku merasa kesal dan kalut.


"Talita aku tau kau sedang tidak baik baik saja, ada masalah apa, bisakah kamu membaginya padaku, mungkin aku bisa membantumu?" ucap Audy menawarkan bantuan.


"Memangnya kau mau membantuku membujuk Haiden Alvaro agar mau mengikuti lomba basket?, atau kau mau membantuku membuat kedua orangtuaku bersatu lagi?" jawabku sambil menghembuskan nafas penuh beban.


"Hehehe....tidak...tidak, itu terlalu sulit untukku, lagi pula kenapa kamu harus repot-repot membujuk Haiden?" jawab Audy dan bertanya penuh penasaran,


"ceritanya cukup panjang, intinya semua ini karena kak Bara dan teman temannya itu, mereka memintaku agar membujuk Haiden karena mereka pikir aku dekat dengannya" jawabku memberikan sedikit penjelasan,


"makanya aku sudah pernah memberitahumu untuk pindah dan jangan mau duduk sebangku dengan pria sepertinya, benar kan kamu mendapat banyak masalah sekarang"


"sudahlah kamu yang sabar saja, oke" tambah Audy sambil menepuk pundakku memberikan kekuatan.


Saking asiknya berbincang dan bersantai di tepi sungai aku sampai lupa jaket Haiden masih ada di dalam tasku dan hari sudah mulai gelap sedangkan aku belum sempat mencucinya, alhasil aku pulang terburu buru dengan berlari dan meninggalkan Audy begitu saja, sesampainya di rumah aku langsung mencuci jaket milik Haiden Alvaro dengan sebisaku, untunglah lipstik itu mudah untuk dihilangkan dan tidak merusak jaketnya sama sekali, namun masalahnya adalah jaket itu tidak mungkin akan kering dalam satu malam, apalagi cuaca yang tidak mendukung seperti ini, aku takut dia akan semakin kesal padaku karena jaketnya belum kering dan itu akan membuatku semakin mustahil bisa membujuknya masuk ke dalam tim basket menggantikan salah satu anggota yang sakit, semalaman aku mengeringkan jaket Alvaro dengan hairdryer milikku dan bahkan menggunakan kipas angin, baru saja aku bisa beristirahat ternyata matahari sudah mulai muncul aku sungguh tak sempat untuk memejamkan mata karena mengurusi jaket Alvaro yang menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2