Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Kesal


__ADS_3

Rasanya aku ingin berlari atau mengubur diriku sendiri ke dalam tanah ketika mengetahui semua kebenaran yang sulit aku percaya seperti ini, aku sudah menabrak dia bahkan merutukinya dan tadi aku juga berhadapan dengannya tapi ternyata dia adalah ketua mahasiswa di fakultasku sekarang.


Aku tidak bisa berkutik lagi dan tidak bisa melakukan apapun sehingga aku hanya bisa langsung tertunduk dengan lesu lalu segera meminta maaf kepadanya dengan perasaan malu yang sangat luar biasa.


"Mohon maaf kak aku tidak tahu jika kamu sungguh ketuanya, sekali lagi minta maaf" ucapku meminta maaf dengan penuh kesungguhan bahkan membungkuk kepadanya.


Dia hanya diam saja lalu tidak lama langsung menyuruhku untuk duduk di kursi yang ada tepat di depan mejanya, aku pun segera duduk disana dan kakak senior yang lain dia minta untuk keluar sebentar, aku sudah sangat pasrah untuk menerima nasibku kali ini karena sudah tidak tahu lagi harus menaruh wajahku dimana.


Sampai ketika di dalam ruangan itu sudah tinggal hanya ada aku dan dia berdua saja dia pun mulai berbicara kepadaku dan menanyakan mengenai niatku untuk menemuinya.


"Apa yang mau kau bicarakan denganku, aku akan memberikanmu waktu lima menit dan itu di mulai dari sekarang" ucapnya sambil membalikan sebuah jam pasir yang ada di atas mejanya.


Aku terperangah dan tidak mengerti dengan apa yang dia katakan kepadaku.


"AA..apa....hey...apa kau bercanda kenapa harus lima menit?" Tanyaku protes,


"Waktu akan terus berjalan semua tergantung dengan dirimu" balasnya dengan santai dan menatap datar ke arahku.


Aku sungguh ingin membuat perhitungan kepadanya namun waktu sudah tidak tersisa banyak lagi sehingga aku langsung saja mengutarakan tujuan awalku untuk meminta dia memindahkan aku ke fakultas lain yang aku minati sebenarnya.


"Aku ingin pindah jurusan aku mohon aku tidak bisa tinggal di jurusan yang sama sekali tidak aku minati dan tidak pernah aku pelajari aku mau pindah ke fakultas desain pakaian bukan arsitektur seperti ini" ucapku dengan lantang.


Dan saat aku selesai bicara waktunya langsung habis dia langsung menggeser jam pasir berukuran kecil itu ke dekat dirinya dan mengetuknya sekali menandakan bahwa waktuku untuk berbicara sudah benar-benar habis.


"Eughhh...kenapa dia sangat menjengkelkan sekali sih" gerutuku kesal sendiri,

__ADS_1


"Kamu tidak bisa pindah jurusan, jika mau kau harus mendaftar ulang tahun depan" ucapnya lalu dia langsung bangkit dari kursinya dan pergi dengan membawa tas miliknya meninggalkan aku begitu saja.


Aku yang tidak terima dengan jawaban darinya dan perlakuan dia yang bersikap sok sibuk seperti itu, langsung saja aku menyusulnya dan menahan tangannya dengan kuat hingga dia justru malah menghempaskan tanganku yang menggenggam tangannya dengan kasar sampai aku hampir saja jatuh ke bawah.


"Ehh....apa apaan dia ini, heyy...tunggu aku belum selesai bicara hey ....tunggu!" Teriakku berlari mengejar dia hingga keluar dari ruangan tersebut dan berhasil menahan tangannya saat di lorong kampus,


"Aahhh...akhirnya kau berhenti juga" ucapku saat berhasil meraih tangannya,


"Lepaskan tanganku!" Ucapnya dengan sorot mata yang begitu kaku dan serius.


Aku tidak mau kalah dan ikut menyipitkan mataku serta mempererat pegangan ku kepada tangannya agar dia tidak bisa kabur dariku, namun tidak disangka dia justru berani menghempaskan tanganku dengan sangat kasar hingga aku hampir jatuh ke lantai.


"Aaahhhh....hey...apa kau gila berani sekali kau bersikap kasar padaku, apa kau tidak lihat aku ini seorang perempuan" bentakku merasa kesal dan tidak terima dengan perlakuannya tersebut,


Aku sangat kesal dan menghentakkan kakiku ke lantai berkali-kali saking merasa kesalnya, aku juga merutuki dia habis-habisan namun semua itu tetap saja tidak akan ada gunanya sebab semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan bisa dirubah menjadi nasi lagi seperti sedia kala begitu pula dengan nasibku ini.


Aku hanya bisa merengek kesal seorang diri dan berjalan lesu sambil menundukkan kepala menuju ruang kelas pertamaku di universitas ini, hingga aku masuk ke dalam kelas aku kembali lagi bertemu dengan pria menyebalkan itu dan sialnya dia justru menjadi asisten dosen yang dipercaya untuk menggantikan jadwal mengajar salah satu dosen hari ini.


Melihat wajahnya berdiri di depan dan menjelaskan layaknya seorang dosen sungguhan benar-benar membuatku sangat muak dan aku sangat membencinya.


"Ckk....berlaga seperti dosen sungguhan saja, dasar manusia kurang ajar itu benar-benar menyebalkan, ughhh....kesal sekali, kenapa juga harus dia yang mengajar di hari pertamaku, aarghhhhh tuhan aku ingin menghilang saja hiks...hiks.." gerutuku dengan kesal.


Aku sama sekali tidak memperhatikan dia selama dia mengajar di depan sana dan aku hanya menggerutu kesal sambil merutuki dia habis-habisan, buku yang ada diatas mejaku juga hanya aku coret-coret tidak jelas dan aku sungguh enggan sekali melihat wajahnya yang sangat menyebalkan itu.


Hingga tiba-tiba saja dia berteriak kepadaku bahkan menunjuk ke arahku lalu menyuruh aku untuk mengatakan kesimpulan dari pembelajarannya hari ini.

__ADS_1


"Hey ...kamu...mahasiswa yang duduk di bangku barusan ke dua dari jajaran saya aku berdiri" ucapnya kepadaku.


Aku saat itu belum menyadarinya sehingga aku hanya dia saja hingga seorang teman di sampingku mencolek lenganku dan memberitahuku mengenai hal itu.


"Syuttt...hey...kau dipanggil oleh dosen kenapa diam saja" ucapnya membuatku sedikit bingung.


Aku langsung menatap ke depan dan ternyata di sekelilingku semua mahasiswa baru menatap ke arahku dan aku hanya membalas tatapan mereka dengan linglung dan kebingungan serta mata yang terbuka lebar.


"Aahh..apa kau memanggilku?" Tanyaku kepada si Fasya sialan itu,


"Iya kau cepat berdiri dan sebutkan kesimpulannya" jawabmu membuatku sangat kaget dan kebingungan sendiri.


Aku segera berdiri meskipun dengan gugup dan tidak tahu apa yang harus aku bicarakan di depan banyak mahasiswa baru lainnya, terlebih lagi rata-rata mahasiswa di fakultas itu adalah pria hanya ada beberapa wanita saja yang ada disana dan mereka semua duduk berjauhan denganku sehingga aku tidak bisa meminta siapapun untuk memberikan contekan kepadaku.


"Kenapa kau diam, cepat katakan!" Ucapnya mendesakku.


Bagaimana aku bisa mengatakannya selama pembelajaran berlangsung aku bahkan tidak mendengarkan satu kata pun darinya, jelas sekali tidak ada yang masuk ke dalam otakku yang sempit ini.


"AA..anu...itu...aku...aku..." Ucapku terbata-bata dan merasa kebingungan.


Hingga dia langsung memotong perkataanku lalu dia mempermalukan aku di depan semua teman-teman di ruangan tersebut.


"Nah, teman-teman lihatlah gadis yang menyedihkan ini dia sama sekali tidak memperhatikan pembelajaran di hari pertamanya masuk kuliah, jangan sampai ada orang konyol sepertinya lagi di kelasku, sekian dari pembelajaran kali ini, dan terimakasih" ucap dia membuat teman-teman yang ada disana tertawa menertawakan aku.


Sedangkan dia langsung menutup kelasnya lalu pergi begitu saja, berbeda denganku yang harus menanggung malu serta di tertawakan oleh banyak orang hingga membuatku sangat malu dan aku langsung keluar dari kelas dengan menutupi wajahku dengan tas slempang yang aku kenakan.

__ADS_1


__ADS_2