
Aku pergi saat itu juga menghempaskan tangan Audy yang sempat menahan tanganku, aku bahkan tidak membalikan kepalaku untuk terakhir kalinya meskipun dia memanggilku dan memintaku untuk berhenti, aku sudah cukup kecewa sekarang dengan Audy dan aku tidak bisa terus berhadapan dengannya dalam kondisi kacau seperti ini.
Sehingga menurutku menjauh akan lebih baik sebelum semuanya semakin kacau dan aku tidak ingin membuat Audy semakin sakit hati karena ucapanku ketika marah memang sedikit kasar dan akan menyakitinya.
"Talita..... Talita tunggu kau tidak boleh pergi, Talita" teriak Audy kepadaku dan aku mengabaikannya begitu saja.
"Maafkan aku Audy, aku tidak bisa jika harus terus mengalah dengan orang sepertinya" ucapku dengan pelan sambil terus menguatkan diriku sendiri dan berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Aku pergi keluar dari kampus dan tidak sengaja bertemu lagi dengan kak Veri aku yang tengah marah dan kesal rasanya enggan mencari tahu tentang apapun lagi, dan aku sudah cukup lelah dengan semua masalah yang menerpa hidupku belakangan ini, rasanya aku tidak mendapatkan kebahagiaan barang sejenak saja.
Aku terus berjalan melewati kak Veri meskipun saat itu aku sempat menoleh sejenak kepadanya karena dia yang melihatku lebih dulu dan memanggil namaku hingga membuat aku menoleh sekilas kepadanya.
"Talita...." Ucap kak Veri memanggilku.
Aku tidak bisa bertemu dengan siapapun jika keadaanku seperti ini dan aku sudah tidak kuat lagi menahan kesedihan di dalam diriku, air mata yang hampir jatuh aku tidak sanggup menahannya dan aku segera memalingkan pandangan lalu berjalan terus menjauh dari banyak orang, sayangnya disaat aku hendak berlari kak Veri berhasil menahan tanganku.
"Talita tunggu ada apa denganmu?" Tanyanya sambil menahan tanganku,
Aku menatapnya dengan sendu tanpa mengucapkan sepatah katapun tapi dia yang seakan mengerti keadaanku tiba-tiba saja menarikku ke dalam pelukannya dan aku sungguh tidak bisa menahan emosi serta air mata yang sudah susah payah aku tampung dan aku tahan sedari tadi.
Aku menangis tersedu-sedu dan terus menangis lebih keras serta lebih keras lagi di dalam pelukan seorang Veri yang hanya bertemu beberapa kali denganku.
__ADS_1
"Menangislah Talita, luapkan kesedihanmu padaku jangan menahannya, itu hanya akan membuatmu semakin sakit" ucap kak Veri sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
Aku menangis sejadi jadinya karena ucapannya dan bagaimana cara dia memperlakukan aku sungguh justru malah membuat aku semakin sedih dan terharus sehingga aku tidak bisa menehan diriku lagi, aku terus menangis sepuasnya dan mencurahkan seluruh kesedihanku kepadanya hingga pakaiannya basah karena air mataku.
"Hiks...hiks...maaf kak, maafkan aku. Karena aku pakaianmu basah seperti ini maaf" ucapku meminta maaf dan melepaskan pelukanku darinya.
Aku sudah merasa jauh lebih baik setelah menangis di dalam pelukannya untuk beberapa saat, tapi kini hanya rasa malu yang tersisa di dalam diriku karena air mataku sudah membuat setengah pakaian yang dikenakan oleh kak Veri menjadi basa.
Sekarang aku bahkan tidak berani memperlihatkan wajahku di hadapannya sebab masih terlalu malu untuk melihatnya, tetapi kak Veri justru malah mengentih kedua bahuku dan dia bicara dengan sangat lembut kepadaku untuk memintaku mengangkat kepalaku bahkan dia mengusap lembut sisa air mata di pipiku, hingga membuat aku terperangah karena mendapatkan perlakuan sebaik ini darinya.
"Talita ayolah kenapa kau menangis, berhenti menangis kau sangat jelek saat bersedih" ucapnya sambil melemparkan senyum kepadaku.
Aku berusaha tersenyum dan aku bisa kembali tersenyum lepas berkat perkataannya barusan.
"Kak apa apaan sih kau membuatku malu saja" balasku sambil tersipu malu.
Tanpa aku sadari dia telah menghiburku meski kami baru mengenal belum lama dan hanya bertemu beberapa kali saja, tapi entah kenapa aku merasa dia mirip dengan seseorang yang kehadirannya selalu aku rindukan dan aku harapkan tetapi dia tetap bersembunyi dariku dan tidak pernah muncul lagi.
Kak Veri mengajakku untuk pergi berjalan-jalan agar aku bisa melupakan sejenak masalah dalam diriku karena saat itu aku menolak untuk berbicara dengan apa yang terjadi terhadapku, kami berjalan beriringan dan terus tertawa sesekali karena kak Veri yang menceritakan bagaimana dia bisa sampai ke kampus tersebut dan ceritanya itu sungguh membuatku tertawa sepanjang jalan hingga aku tidak sadar bahwa saat itu kami sudah sampai di halte bus tempat jurusanku akan pergi.
"Ahahaha....kak terimakasih sudah menghiburku tapi aku rasa kita tidak berjalan-jalan tanpa arah kau mengantarku menuju halte bus, aku akan menunggu bus disini terimakasih sudah menghiburku kak" ucapku tersenyum kepadanya,
__ADS_1
"Tidak masalah, dan aku harap kamu akan berjodoh dengan adik sialanku itu aku akan segera mempertemukan kamu dengannya aku yakin kamu juga akan menyukainya" ucapnya sambil mengacak atas rambutku sedikit,
"Aishh...kau ini apa-apaan sih, aku kan sudah bilang aku menyukai seseorang dan dia adalah yang terbaik untukku kau tidak bisa menjodohkan aku dengan siapapun termasuk adikmu yang merepotkan itu" balasku menimpalinya,
Dia hanya tertawa membalas ucapanku hingga tidak lama bus yang menuju jurusanku tiba dan aku segera naik ke dalam lalu berpamitan kepadanya dengan terburu-buru karena saat itu banyak penumpang lain yang juga ingin masuk ke dalam bus tersebut.
"Aah busku sudah tiba, sampai jumpa lagi kak dadahhh" teriakku sambil melambaikan tangan kepadanya dan segera masuk ke dalam bus duduk dengan nyaman disana.
Kak Veri juga membalas lambaian tanganku namun disaat bus mulai melaju hanya beberapa saat dari tempat halte bus dimana aku naik aku tidak sengaja melihat sosok Alvaro di pinggir jalan, namun disaat aku memeriksanya lagi itu tidak ada siapapun, tidak ada Alvaro ataupun orang lain di pinggir jalan itu.
"Apa....aku yakin tadi itu Alvaro aku melihat wajahnya dengan jelas, pak tolong berhenti aku tidak jadi naik pak..." Ucapku sambil menekan bel pada bus tersebut.
Bahkan supir bus memarahiku karena aku berhenti seenaknya padahal saat itu masih beberapa saat bus melaju dari halte, aku juga meminta maaf kepada supir bus itu karena aku memang harus berhenti dan turun untuk memastikannya dengan benar.
Aku turun dari dalam bus dengan terburu-buru dan berlari menuju tempat yang sebelumnya ku lihat seperti ada Alvaro berdiri di pinggir jalan, saat aku sampai dengan nafas yang terengah-engah nyatanya aku tetapi tidak mendapatkan apapun dan tidak ada siapapun disana, bahkan kak Veri juga terlihat sudah pergi dari halte bus karena jarakku berhenti dengan halte tempatku menunggu sebelumnya tidak jauh dan bisa terlihat jelas dari sana.
"Hah....hah....hah....Alvaro dimana kau, Alvaro aku yakin tadi itu kau, keluarlah Alvaro aku ingin bicara denganmu" teriakku seperti orang gila.
Aku tidak perduli bahkan ketika beberapa orang memperhatikan aku dan mengataiku seperti orang gila karena berteriak di tempat ramai seperti itu.
"Alvaro aku mohon tolong muncullah.....hiks...hiks... Alvaro" ucapku sambil jatuh ambruk ke tanah dengan lesu.
__ADS_1
Aku baru saja berhenti menangis tapi kini harus kembali menangis lagi karena Alvaro, aku sangat yakin tadi itu aku melihat Alvaro dan aku yakin dengan penglihatan ku bahwa itu bukan khayalan diriku.
"Alvaro aku akan tetap di sini menunggumu karena aku yakin kau masih berada disini, kau memperhatikan aku secara diam-diam kan Alvaro?, Kau pecundang jika kau tidak berani menampakkan dirimu dihadapanku" ucapku sambil mengusap sisa air mataku di pipi.