
"Ini aku ingin menanyakan tentang foto ini kepadamu, kenapa kau bisa berfoto denganku di sebuah pantai yang sangat indah, kenapa kita seperti memakai pakaian pasangan, dan kenapa di dalam foto itu aku dan kau seperti sangat dekat dan aku selalu merasa sedih ketika melihat foto itu, apa hubungan aku denganmu di masa lalu?" Tanyaku kepadanya secara langsung.
Dia hanya diam membisu dan mengambil foto yang aku taruh diatas meja sebelumnya, dia juga tersenyum sendu ketika melihat foto itu dan aku semakin penasaran saat melihatnya.
"Hey....apa kau baik-baik saja? Atau apakah pertanyaan dariku terlalu banyak?" Tanyaku kepadanya.
"Aku baik-baik saja hanya saja aku merindukan momen ini, aku ingin pergi ke pantai ini, apa kau mau pergi ke sana juga, dulu kau sangat menyukai pantai" balas dia kepadaku.
Aku bahkan tidak tahu jika aku menyukai pandai dahulu, dan baru mengetahuinya barusan dari pria itu, entah kenapa aku merasa sangat familiar sekali dengan pantai itu dan ajakan dari pria tersebut aku juga selalu merasa jantungku berdetak kencang saat di dekat pria itu.
"Ahh... Apa kau sungguh mau mengajak aku ke sana?" Tanyaku kepadanya,
"Tentu, aku rasa mengajakmu kesana dan membuat aku mengingat semua dengan jelas itu akan lebih baik dari pada aku menjelaskan semuanya kepadamu, mungkin kau tidak akan mempercayai aku" balas dia kepadaku dengan wajahnya yang terlihat sedikit sedih dan murung.
Ketika melihat wajahnya yang terlihat seperti miring dan sedih seperti itu entah kenapa perasaanku juga ikut merasa sedih dan aku rasanya ingin menenangkan dia dan menyentuh tangannya saat itu, tapi karena aku baru mengenalnya aku tidak bisa melakukan itu sehingga aku menarik kembali tanganku yang berniat menyentuh tangannya saat itu.
Aku pun menyetujui ajakan darinya dan setuju untuk pergi ke pantai itu saat ini juga.
"Baiklah aku setuju, ayo kita pergi ke pantai itu, aku juga ingin ke tempat yang ada di foto tersebut, siapa tahu jika aku kesana aku bisa mengingat sesuatu" balasku menyetujuinya.
Dia terlihat tersenyum senang dan dia langsung menggenggam tanganku dengan erat.
"Terimakasih sudah mau mengingat aku kembali Talita, aku janji aku akan membantumu mengingat kembali siapa aku dalam hati dan pikiranmu, aku akan melindungi kamu sekuat tenagaku mulai sekarang" ucap dia membuat aku kebingungan sekali.
Aku berpikir kenapa dia mengatakan itu dan berpikir bahwa dia akan melindungi aku dengan sekuat tenaganya kali ini, kalimatnya itu seakan menunjukkan bahwa dia pernah melindungi aku dengan amat sangat di masa lalu, aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa yang harus menanggapinya seperti apa selain tersenyum canggung kepadanya karena aku tidak mengingat apapun saat ini.
Sampai setelah kami menghabiskan makanan disana dia langsung membawa aku ke pantai itu, kali ini Argo yang menyetir di depan dan aku duduk dengan dia di balakang, rasanya sangat canggung sekali selama di perjalanan, aku dan dia tidak berbicara satu sama lain, kami hanya diam saja dan aku terus memegangi foto itu, aku merasa bingung sekali kenapa aku terlihat sangat dekat dan senang dalam foto tersebut dimana pria itu juga merangkul diriku.
Aku sudah tidak sabar lagi untuk sampai di pantai itu hingga sesampainya disana setelah beberapa jam di perjalanan aku langsung keluar dan merasakan angin pantai bertiup menerpa wajahku.
Rasanya sangat menyegarkan dan begitu menenangkan jiwaku, sudah sangat lama aku tidak merasakan kebebasan seperti ini setalah di kekang terus menerus oleh Fasya dan ibuku.
"Aaahhh...ini sangat segar... Woohhh pantainya indah sekali ini hebat" ucapku sambil terus berlari mendekati pesisir pantainya yang ada disana.
Karena pantai itu berada cukup jauh dari perkotaan sehingga saat aku sampai disana itu sudah sore aku juga sudah menghubungi ibuku jika aku ada keperluan di luar yang mendesak aku sengaja berbohong kepadanya agar dia tidak mencemaskan aku dan tidak banyak bertanya kepadaku, sebab jika ibu tahu aku pergi ke pantai dengan pria asing dia pasti tidak akan mengijinkannya atau harus Fasya yang menemaniku.
__ADS_1
Dan aku tidak ingin Fasya ikut campur dengan hal ini, sebab dia tetap tidak mendukungku sehingga aku tidak bisa mempercayai dia lagi kali ini.
Disaat aku berdiri di tepi pantai aku seperti melihat aku dan pria bernama Haiden itu berlari saling kejar kejaran di pantai itu dan aku langsung terperangah melihat ke arah sana hingga ketika aku mengucek mataku bayangan itu hilang, aku pun langsung menengok ke belakang dan melihat Haiden berdiri dengan temannya Argo di belakangku dan mereka tidak melakukan apapun, hanya berdiri diam disana saja.
"Haiden bisakah kita bermain disana, aku merasa kita pernah tertawa dan saling mengejar disana denganku, apakah itu benar?" Tanyaku kepadanya secara langsung,
"Kau benar dan rupanya kau sudah mulai mengingat kenangan denganku sedikit demi sedikit" ujar dia padaku.
"Haiden siapa kamu sebenarnya? Tolong katakan saja padaku, aku merasa kau sangat berarti dalam hidupku, siapa kamu?" Tanyaku kepadanya lagi,
"Kau juga sangat berarti bagiku Talita, ayo kejar aku jika kau ingin tahu jawabannya" balas dia yang langsung berlari menghindari ku.
Aku langsung berteriak mengejar dia karena dia terus berlari cukup kencang.
"Aish.... Haiden kau benar-benar, tunggu aku awas kau!" Teriakku sangat kesal karena dia malah menghindari aku seperti itu dan secara tiba-tiba membuat aku tidak bisa menanyakan lagi kepadanya.
Kami pun saling mengejar seperti yang aku lihat dalam bayanganku sebelumnya dan entah kenapa aku merasa sangat senang saat itu dia terus melempari pasir basah ke arahku dan membuat pakaianku kotor juga membuat aku sangat kesal sehingga aku juga langsung membalas dia dengan melemparkan pasir itu ke arahnya.
Sedangkan disisi lain Argo hanya diam berdiri di dekat mobil dan dia tersenyum ikut merasa senang ketika melihat Alvaro bisa kembali tertawa secara alami seperti itu karena sejak tiga tahun yang lalu dia tidak pernah tersenyum apalagi menunjukkan tawanya namun kini ketika dia kembali bertemu dengan Talita Alvaro bisa langsung terlihat bahagia kembali.
"Memang benar wisata masa lalu adalah obatnya" gerutu Argo sambil melihat mereka yang terus saling mengejar dan melemparkan pasir satu sama lain.
"Ahh ...sudah ..sudah, aku sudah sangat lelah aku menyerah" ucapku kepadanya.
Dia pun akhirnya juga berhenti dan Haiden langsung duduk di sampingku dia menatapku dengan lekat hingga aku merasa mulai tidak nyaman dengan tatapannya itu sampai tiba-tiba saja wajahnya terus mendekat ke arahku dan dia seperti ingin menciumku.
Aku refleks menutup mataku dan dia justru malah tertawa sambil menyentuh hidungku.
"Ehhh...KA..kau...aishhh...kau ini menggodaku yah!" Bentakku kepadanya.
"Kenapa kau malah menutup mataku?" Tanya dia membuat aku langsung membuka kan mataku dengan malu.
Aku sungguh sangat malu saat itu karena dia malah menggodaku saja dan dia menertawakan aku dengan puas seperti itu.
"Talita apa kau akan menginjikan aku jika seandainya tadi aku melakukan itu padamu?" Tanya dia kepadaku.
__ADS_1
Aku langsung berbalik menatap ke arahnya lagi dengan membelalakkan mataku dan dia langsung saja menyentuh kepalaku lalu menempelkan bibirnya dengan bibirku, dan aku merasa sangat merindukan momen itu, aku sama sekali tidak marah atau merasa risih dengan apa yang dia lakukan kepadaku, aku justru malah menerima perlakuannya padaku hingga dia menghentikan c*uman nya itu.
"Talita apa kau sudah mengingatku sekarang?" Tanya dia kepadaku secara tiba-tiba.
Aku langsung memalingkan pandanganku dan sedikit menjauh darinya sambil memegangi bibirku yang baru saja berc*uman dengannya, aku masih tidak menduga aku bisa melakukan itu dengan pria yang aku tidak ingat sedangkan aku sudah bertunangan dengan Fasya saat ini.
"A..ahh...maaf aku terbawa suasana tapi aku masih belum bisa mengingatmu, Haiden" jawabku dengan jujur dan sedikit gugup kepadanya.
Dia langsung kembali menangkup wajahku dan memaksaku untuk menatap wajahnya dengan lekat.
"Talita lihat wajahku dengan baik dan panggil aku Haiden Alvaro, panggil aku Alvaro maka kau akan mengingatku" ucap dia padaku.
Memang nama Alvaro ini semakin mbuat pikiranku aneh dan saat aku menatapnya aku pun menuruti perkataan dia, perlahan aku mulai memanggil dia dengan nama Alvaro itu.
"A...a..Alvaro.....aahhhh kepalaku sakit" ucapku langsung terasa sakit ketika menyebutkan nama itu.
Dia langsung merasa cemas kepadaku dan langsung menggendong aku membawaku ke pinggir dan mendekati mobil.
"Talita apa kau baik-baik saja, apa yang kau rasakan? Maafkan aku karena terlalu memaksakan kamu untuk mengingatku aku minta maaf" ucap dia sambil tertunduk lesu di hadapanku.
Meski kepalaku memang terasa sedikit sakit namun tadi aku mulai mengingat sesuatu dan sekilas bayangan tentang dia namun bayangan itu terlalu cepat dan aku selalu melihat wajah Alvaro dalam setiap ingatanku yang terlintas saat itu, aku seperti sering menyebutkan nama Alvaro di setiap saat.
"Alvaro apa itu kau....apa kau pria yang aku cintai selama ini?" Tanyaku kepada dia secara tiba-tiba,
Mendengar kalimat itu dari Talita Alvaro langsung menatapku dengan tajam dan dia dengan cepat menggenggam tanganku dengan erat.
"Talita apa kau berhasil mengingatkan, apa kau sudah tahu siapa aku di dalam hidupmu, Talita cepat jawab aku apa yang kau ingat?" Tanya Alvaro begitu mendesak aku.
"Aku tidak mengingatnya dengan jelas, tapi aku rasa memang kau pria yang aku cintai, setiap kali aku selalu merasa namamu tidak asing bagiku bahkan di dalam mimpi aku memanggil nama Alvaro namun aku tidak melihat wajahnya dan ingatan itu kembali lagi, aku melihat kau di berbagai tempat dan aku selalu memanggil namamu, oleh karena itu aku yakin pasti kau adalah orang yang aku cintai" balasku kepadanya dengan air mata yang mulai mengalir.
Alvaro langsung memelukku dengan erat dan dia mengusap kepalaku dengan perlahan, aku merasa sangat tenang dan begitu merindukan dia, aku bahkan rasanya tidak ingin dia melepaskan pelukannya dariku.
"Alvaro aku kini bisa menyebut nama itu denganudah, tolong jangan tinggalkan aku lagi, dan biarkan aku terus memelukmu seperti ini" ucapku kepadanya dan mengeratkan pelukanku kepadanya.
"Tenang Talita aku tidak akan pernah meninggalkanmu aku akan selalu di sampingmu aku tidak pernah meninggalkan aku selama ini, aku sangat mencintaimu" ucap dia sambil mengecup keningku dengan lembut.
__ADS_1
Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku itu aku menangis tanpa suara karena akhirnya aku bisa sedikit mengingatnya, mengingat sesuatu yang hilang dariku dalam waktu yang lama selama ini.
Aku tidak menduga bahwa aku bisa melupakan seseorang yang paling berharga di hidupku, dan aku juga tidak menduga kenapa ibu dan Fasya membohongi aku selama ini, padahal bukan Fasya yang aku cintai dan dia bukan tunanganku, tapi Haiden yang aku cintai iya Haiden Alvaro yang selama ini selalu menjadi pengisi hatiku sejak awal hingga akhir.