Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Kebaikan Alvaro


__ADS_3

Saat aku bertanya mengenai apa yang salah pada diriku Alvaro langsung mematikan keran airnya dan menaruh semua piring yang baru saja dia cuci sampai bersih lalu dia membalikkan mata menatapku dengan lekat dan mulai menjawab pertanyaan tadi yang selalu membuatku memikirkan banyak hal tidak penting.


"Tidak ada alasan kenapa aku membencimu, intinya aku tidak suka kau bersama si Bara sialan itu, kau sama sekali tidak tahu bagaimana dia sebenarnya, jadi jangan terlalu menyukainya, paham!" Ucap Alvaro kepadaku lalu dia pergi dari dapur.


Aku menelan salivaku dengan sulit karena barusan Alvaro berkata seperti itu pada jarak yang sangat dekat antara wajahku dan wajahnya jadi tentu saja aku merasa gerogi dan gugup, dan saat Alvaro baru saja berlalu aku masih tetap merasa gugup, berdiri mematung sambil memegangi dadaku yang terasa berdebar cukup kencang saat itu.


"Ya ampun apa yang terjadi dengan diriku?, Kenapa aku berdebar begini?" Gerutuku sendiri yang merasa heran.


Aku pun segera berusaha menyadarkan diriku dan pergi menemui Audy untuk mengajaknya kembali ke kota hari ini juga, sebab sekolah juga akan segera di mulai dan aku juga tidak mungkin terus tinggal di villa milik Alvaro terlalu lama aku hanya tidak ingin merepotkan dia.


Ku hampiri Audy dan menarik lengannya hingga membawa dia pergi ke luar dari villa itu dengan alasan untuk berjalan jalan sebentar.


"Audy ....ayo kita jalan jalan keluar" ajak ku pada Audy.


Ku pikir alasan itu akan membuat aku lebih mudah pergi menghindari Alvaro juga Argo, karena aku tidak bisa mengatakan beberapa hal penting jika berada di hadapan mereka berdua, namun sayangnya dugaanku salah besar karena justru Alvaro langsung menahanku dengan cepat.


"Ehh...apa kau bilang keluar jalan jalan?, Talita apa kau lupa kau ini baru saja siuman apa kau mau jatuh sakit lagi ha?" Bentak Alvaro sambil memegang lenganku dengan erat.


Aku tersentak kaget begitu pun dengan Audy, padahalkan aku hanya mencari alasan agar bisa pergi berdua bersama Audy tapi kenapa malah jadi seperti ini, saat itu aku sungguh merasa semakin bingung dan hanya bisa menaikkan kedua alisku ke atas dengan keheranan.


"Ehh.... Alvaro, lepaskan kenapa kau memegang lenganku dengan erat aku juga belum pergi ke mana mana" balasku sambil melepaskan genggaman Alvaro dari tanganku,


"Pokoknya kau harus istirahat sampai kembali pulih sepenuhnya baru kau bisa pergi ke manapun yang kau mau" balas Alvaro memperingati aku.


Dengan ucapannya barusan aku merasa Alvaro seperti memaksaku untuk menuruti ucapannya padahalkan dia hanya temanku saja dan lagi pula aku dengannya juga tidak berteman terlalu dekat, tapi kini dia bahkan berani beraninya mengaturku, aku merasa sangat tidak senang dan langsung saja menegur dia saat itu juga.


"Alvaro apa yang kau lakukan, apa kamu mengaturku?" Bentakku tak kalah keras,


"Iya aku mengaturmu dan mulai saat ini kau harus menuruti semua ucapanku karena semua itu demi kebaikanmu juga" Kata Alvaro begitu tegas.


Aku kesal dan tidak bisa melawannya, karena saat ini aku masih terlalu bergantung padanya, aku hanya takut dia akan pergi meninggalkanku atau menelantarkan aku di jalanan bila aku tidak menuruti ucapannya.


Ya meskipun dia bukan siapa siapa untukku namun sediakan dia memiliki identitas sebagai teman yang selalu membuatku kesal.


Aku pun menurutinya untuk tidak pergi berjalan jalan keluar dan memilih diam rumah seharian ini meskipun aku sangat suntuk dan bosan tak kepalang.


"Hmmm...ya sudahlah lagian sekeras apapun aku meminta kau tidak akan mengijinkanku keluar kan,....aaahhh aku ke kamar saja ayo Audy" ucapku sambil menarik Audy.

__ADS_1


Aku pergi ke kamarku sebelumnya dan aku belum mengetahui bahwa kamar yang aku tempati itu adalah kamar Alvaro hingga saat hendak masuk Audy menahan lenganku dan dia memberitahuku tentang kamar itu.


"Ehh, tunggu Talita kita ngobrol di kamarku saja yuk" ajak Audy sambil menarik lenganku pelan.


Aku heran dan masih tetap ingin Audy masuk ke kamar itu, namun Audy terus saja menolak hingga akhirnya memberitahuku.


"Kenapa, sudah di sini saja lagian kita juga tinggal masuk kan" ucapku yang masih bersih keras,


"Enggak ah kamar itukan milik Alvaro bagaimana jika aku membuat kesalahan di dalam sana, pasti aku akan tamat dengan cepat dan tanpa jejak, ahh aku terlalu takut untuk itu" ucap Audy sambil bergidik ngeri.


Lantas aku bingung sekaligus terperangah ketika mendengarnya dan refleks kembali mundur dengan cepat dan menutup kembali pintu kamar tersebut, aku menatap ke arah Audy dengan lekat dan tajam karena tidak menyangka Alvaro memperbolehkan aku tinggal di kamarnya, jangankan kamar kursi tempatnya duduk di kelas saja tidak ada siapapun yang berani menyentuhnya.


"A...apa?, Ini sungguh kamarnya?, Kamu salah kali mungkin ini kamar Argo bukan kamar Alvaro haha tidak mungkin dia mengijinkan aku tidur di kamarnya semalam iya kan haha jangan bercanda Audy" balasku sambil di iringi tawa ringan karena masih merasa tidak percaya.


Ku pikir Audy hanya bercanda dan menakut nakuti aku saja namun setelah di lihat dari ekspresi wajahnya yang tidak merespon tawa dariku dan dia justru malah menggelengkan kepalanya pelan aku semakin yakin bahwa apa yang dia katakan sebelumnya adalah sebuah kebenaran.


"AUDY...." ucapku dengan badan yang mendadak terasa lesu.


Audy pun menarik lenganku dan dia membawaku masuk ke dalam sebuah kamar yang jaraknya cukup jauh dari kamar Alvaro tadi, saat aku masuk ke dalam bisa kulihat jelas beberapa barang Audy ada di sana aku pun segera duduk di tepi ranjangnya dan masih dengan suasana hati tak menentu.


"Audy bagaimana ini?, Apa Alvaro akan memarahiku atau tidak akan melepaskanmu karena aku sudah tidur di ranjangnya?, Huhu apa aku mengganti ranjangnya saja ya dengan yang baru agar dia tidak marah denganku, tapi aku tidak punya uang aaahhh bagaimana ini" gerutuku merasa kebingungan dan takut bercampur jadi satu.


"Cukup Talita, lihat aku baik baik tegakkan kepalamu!" Ucap Audy dengan nada yang tegas,


"Aaahhh....Audy ini bukan saatnya bercanda, aku tidak bisa tertawa sekarang" balasku yang masih merasa lesu,


"Aishh Talita aku pikir Alvaro tidak akan marah denganmu dan dia justru melindungi kamu, bahkan dia memasakkan makanan khusus untukmu iya kan" kata Audy membuatku sedikit berpikir.


Setelah aku kembali memikirkan semua perlakuan Alvaro padaku, memang tidak ada tanda tanda dia membenciku atau akan memarahiku, dia justru terlihat sangat baik dan bersikap lembut padaku, tapi walau begitu tetap saja dia itu Alvaro yang keras dia bisa marah dan memperlihatkan taringnya kapan saja.


"Audy kamu memang benar tapi bukan berarti dia tidak akan marah atau memperhitungkan semua kebaikannya denganku, aku takut dia akan marah denganku nanti" ujarku pada Audy dengan perasaan cemas,


"Itulah yang ingin aku bahas denganmu Talita, tadi pagi saja Alvaro hanya bicara denganmu dia bahkan tidak membuatkanmu makanan yang cukup semuanya dia berikan untukmu hingga aku harus memasak sendiri bersama Argo untuk sarapan, sedangkan kau justru malah disuapi olehnya dan itu di lakukan olehnya dihadapan aku dan Argo juga, bukankah itu aneh" tambah Audy menjelaskannya,


"Aneh sih, tapi apa maksud sebenarnya membicarakan kebaikan Alvaro padaku?" Tanyaku lagi yang masih tidak mengerti,


"Aishh Talita otakmu itu di mana sih, sudah jelas Alvaro itu pasti memiliki perasaan padamu, dia mungkin menyukaimu dan aku rasa orang yang lebih menyukaimu adalah Alvaro bukan kak Bara" kata Audy dengan jelas.

__ADS_1


Aku refleks membelalakkan mata karena masih merasa tidak percaya mana mungkin kan seorang Alvaro menyukai wanita sepertiku sudah jelas dia selama ini hanya terus menghinaku meremehkanku dan dia hanya bersikap baik sesekali sedangkan kak Bara sudah jelas mengejarku dan aku juga menyukainya.


Aku lama terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Audy namun setelah beberapa saat aku memutuskan untuk mengesampingkan masalah tersebut karena lagi pula aku masih menjadi kekasih kak Bara saat ini, aku pun mengalihkan pembicaraan pada Audy karena tidak ingin membahas masalah Alvaro lagi.


"Ahhhh... sudahlah sekarang lebih baik kita beres beres, aku tidak mau tinggal dan merepotkan Alvaro lebih lama, itu juga akan sangat canggung bagi kita" ucapku sambil bangkit berdiri dan hendak pergi ke kamar tempatku beristirahat sebelumnya.


Audy tidak berbicara apapun lagi dariku dia hanya mengangguk dan segera mengemasi barang barangnya lagi.


Meskipun aku sudah mengalihkan pembicaraan dengan Audy dan berusaha agar tidak memikirkan hal tersebut, nyatanya tetap saja otakku terus memikirkan dan itu membuatku kebingungan sendiri, sampai saat aku hendak masuk ke dalam kamar Alvaro sudah ada di dalam kamar itu.


Dia tengah duduk di sudut kamar tepatnya di depan sebuah meja dan tengah membuka laptop miliknya, aku mengabaikan dia dan segera mengambil koperku juga memasukkan beberapa pakaianku yang berada di luar.


Saat aku selesai memasukkan semuanya tak lama Alvaro menghampiriku dan dia mulai bertanya padaku.


"Talita mau kemana kau?" Tanya Alvaro dengan wajah datarnya,


"Kenapa bertanya tentu saja aku mau pergi, tidak mungkin kan aku terus diam di sini bersamamu, jika kak Bara mengetahuinya mungkin dia akan marah dan itu tidak baik untukku juga untukmu" balasku dengan jujur,


"Ckkk...kau masih bisa memikirkan pria brengsek itu di saat kau hampir mati karena dia, apa kau gila ha?" Bentak Alvaro secara tiba tiba.


Jujur saja aku memang kaget saat itu sehingga aku langsung berdiri dan menatap Alvaro dengan menyipitkan mataku dan menghembuskan nafas berat untuk menetralkan emosiku.


"Alvaro jangan bicara sembarangan lagi, jika tidak aku akan benar benar marah padamu" balasku memberinya peringatan,


Bukannya mendengarkan peringatan dariku Alvaro justru malah semakin membual sendiri dan terus menggerutu beberapa kali membicarakan kak Bara dengan perkataannya yang menusuk.


"Haha....lucu ya kau membela pria pecundang seperti dia, kau tidak tahu saja dia hanya mencari muka dan memperkuat namanya hanya dengan menjadi ketua OSIS, sayangnya dia akan tetap kalah denganku meski sekuat apapun dia melawanku, termasuk merebut mu..." Ucap Alvaro yang tiba tiba saja menahan ucapannya,


"Kenapa?, Kenapa kau diam, lanjutkan ucapanmu itu, menggerutu lah sesukamu" balasku sambil menggelengkan kepala dan mendorong koperku keluar dari kamar tersebut.


Alvaro berjalan cepat menghampiriku dan dia menahan lenganku tepat di depan tangga di mana di bawah sudah ada Audy dan Argo.


"Talita tunggu kau tidak bisa pergi sekarang, kau masih perlu istirahat setidaknya satu malam lagi, aku janji akan mengantarmu besok" ucap Alvaro sambil menahan lenganku,


"Terimakasih atas semua kebaikanmu Alvaro aku akan berusaha membalasnya tapi semua ini sudah lebih dari cukup untukku, aku ingin pulang hari ini juga karena ingin beristirahat lebih tenang di rumahku sendiri, kamu mengerti itu kan" balasku menjelaskannya dengan lembut.


Nampak Alvaro seperti kecewa dengan keputusanku namun dia hanya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan lalu dia mengijinkanku untuk pulang hari itu juga.

__ADS_1


"Huuh... baiklah jika keputusanmu itu sudah bulan aku juga tidak bisa memaksamu terus menerus, tapi ijinkan aku mengantarmu agar aku bisa memastikan kamu pulang dengan selamat" ucap Alvaro yang kubalas dengan anggukan.


__ADS_2