
Pagi pagi sekali Audy datang ke rumahku dan mengetuk pintu rumah dengan keras berkali kali, aku yang baru bangun berjalan sambil mengucek mataku yang masih enggan terbuka dan saat membuka pintu Audy malah berteriak padaku.
"Ya...ampun Talita kau ini kenapa sih, cepat bersiap siap kalau tidak kita akan kesiangan, sudah jam berapa ini, kamu baru bangun" ucap Audy dengan wajah yang kesal.
"Iya...iya...aku tidak akan lama kok, ayo masuk hoammm" ucapku dan mempersilahkan Audy untuk masuk ke dalam rumah.
Segera ku bersihkan badan dan tempat tidur lalu bergegas pergi ke sekolah bersama Audy mengenakan sepeda baru milik Audy, aku senang karena setidaknya berkat Audy yang mau memboncengku dengan sepedanya aku tidak ke siangan datang ke sekolah, sesampainya di sekolah Audy bercerita mengenai sepeda baru yang dia miliki dan ternyata itu adalah hadiah dari kedua orang tuanya berkat Audy yang mendapatkan peringkat sepuluh besar di kelasnya, aku turut senang mendengar kabar tersebut namun di sudut hati kecilku aku juga merasa sedih, bohong jika aku mengatakan aku tidak iri padanya, aku iri sangat iri melihat Audy yang begitu harmonis dengan kedua orang tuanya, meski mereka bukan keluarga kaya raya dan nampak sederhana namun mereka sangat bahagia berbeda denganku, aku memang punya uang dan bisa membeli apapun yang aku mau tapi aku tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh seperti orang lain, aku berusaha mengikhlaskan semuanya dan berhenti merasa iri pada orang lain, aku paham ini hanyalah takdir yang tidak berpihak padaku, aku berusaha tersenyum sebisa mungkin di saat Audy yang terus menceritakan kebahagiaannya mendapatkan sepeda baru.
Hari ini di sekolah memang tidak belajar dengan efektif, sebab kemarin baru saja pembagian raport dan jadwal hari ini hanyalah pendaftaran lomba akhir tahun dan persiapan untuk acara perpisan siswa kelas tiga, sementara siswa kelas satu dan dua hanya menyiapkan beberapa penampilan untuk mengisi acara di panggung nantinya, teman teman sekelas ku begitu sibuk berunding untuk menampilkan penampilan terbaik mereka sebagai perwakilan kelas sedangkan aku hanya duduk sambil menenggelamkan kepala di atas meja, aku malas melakukan apapun tidak ada lagi semangat yang tersisa dalam diriku.
Apalagi Audy sudah kembali ke kelasnya aku semakin kesepian dan tidak punya teman, melihat ke samping Alvaro juga tidak ada, orang sepertinya sudah pasti tidak akan masuk sekolah di saat seperti ini, berkali kali ku hembuskan nafas dengan malas sampai akhirnya tertidur dengan kepala yang menyentuh meja dan kedua tangan sebagai bantalnya, entah berapa lama aku tidur dikelas sampai aku tidak sadar kakak kelas yang merupakan panitia untuk acara perpisahan sudah datang ke sana lalu memasukkan daftar siswa yang akan tampil di acara perpisahan nanti, samar samar aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan namun aku terlalu malas untuk bangun dan mendengarkannya dengan baik, sampai beberapa saat kemudian perutku terasa lapar dan aku berniat pergi ke kantin mencari makanan.
Saat ku buka mata perlahan aku kaget hingga hampir jatuh kebelakang karena melihat wajah kak Bara yang tepat ada di depan wajahku.
"Aaaahhhh....." ucapku berteriak dan refleks menjauh,
"ehh... maaf aku mengagetkanmu" ucap kak Bara meminta maaf sambil menahan bangku yang ku duduki karena hampir terjatuh ke belakang.
__ADS_1
"I..iya kak tidak papa"
Aku berpikir sejak kapan kak Bara menatapku sedekat itu di saat aku tertidur, dan bagaimana jika teman teman sekelas ku melihatnya itu akan membuat aku dalam masalah, meski kak Bara akan lulus tahun ini dan kemungkinan besar tidak akan bertemu denganku lagi, tetap saja aku takut orang orang menyebarkan rumor yang tidak baik tentang aku dan kak Bara, jika itu terjadi maka akan menjadi nasib buruk untukku.
"AA...kak, aku mau ketoilet dulu permisi" ucapku gugup dan segera pergi dari kelas,
"wahhhh.....kak Bara ini benar benar, bagaimana dia bisa ada di sampingku, arghhh.....bikin jantungku mau copot saja" ucapku sambil berjalan cepat dan tidak melihat ke depan dengan benar.
Karena terburu buru aku malah menabrak Haiden Alvaro cukup keras sampai membuat jaket yang dia kenakan kotor karena terkena bedak dan lipstik yang aku pakai.
"Brukkk.....ahhhh"
"aishhhh....dasar kau pria menyebalkan tidak perlu membentukku seperti itu, lagian aku juga tidak sengaja" jawabku dengan kesal.
Aku yang melihat jaket putih milik Alvaro terkena noda lipstik mulai merasa gugup dan takut.
"Aduhh jaketnya terkena lipstik ku pasti karena tabrakan tadi, ahhh dia pasti akan marah, matilah aku..... bagaimana ini?" gumamku merasa khawatir.
__ADS_1
Aku memutuskan segera pergi menjauh dari Alvaro sebelum dia menyadari bahwa jaket putihnya mendapatkan noda lipstik dari bibirku.
"Hisss...minggir kau menghalangi jalanku saja!!" ucap Alvaro sambil menyingkirkan ku dengan tangannya.
"Huuuhhh...aku juga tidak mau dekat dekat dengan pria aneh sepertimu, dasar es balok kejam!!" teriakku sambil berlari menjauh dari Alvaro.
Di sisi lain Alvaro berjalan terus menuju kelas dan sepanjang jalan banyak siswa siswi lain yang menatap dengan tatapan aneh dan beberapa sambil berbisik satu sama lain, lantas Alvaro merasa heran dengan tatapan semua orang yang tidak biasa padanya dia pun mendekati salah satu siswa yang sedari tadi menatapnya dan menarik kerah pakaiannya sampai menghentakkan badan siswa itu ke dinding kelas.
"Beraninya kau menatapku seperti itu, apa yang kalian lihat dariku dan apa yang kalian bicarakan, cepat katakan atau aku akan memutuskan lehermu!!!" ucap Alvaro dengan nada yang tinggi dan mata yang tajam,
Siswa itu berdiri tidak seimbang dan berkata dengan gemetar penuh ketakutan.
"Ma....maaf Al, aku tidak berani padamu aku hanya melihat itu....dan mereka juga sama" ucap siswa itu sambil menunjuk ke arah noda bibir berwarna pink yang terdapat di dada kanan jaket miliknya.
Alvaro yang terbakar emosi dia menghempaskan siswa laki laki itu cukup keras ke lantai dan semua siswa yang tadi berkerubun bubar begitu saja saat mendengar teriakan Alvaro yang memanggil nama Talita.
"TALITA............aishhhh, gadis itu!!!" teriak Alvaro memenuhi seisi ruangan dan membuat siapapun yang mendengarnya merinding ketakutan.
__ADS_1
"Ha...ha..hacimmmm, aduhh siapa yang sedang membicarakan ku" ucap Talita yang bersin sambil menggosok hidungnya yang gatal.
Saat itu Talita tengah duduk di kantin menunggu pesanannya datang dia sama sekali tidak tau kalau saat ini Haiden Alvaro tengah marah besar dan dia dalam bahaya jika sampai bertemu lagi dengan Alvaro.