
Dari kejauhan aku lihat di meja nomor tiga ada kak Nandito, kak Bara dan kak Vera aku sungguh gugup untuk mengantarkan pesanan mereka ke sana, pasalnya aku juga belum memutuskan untuk menerima atau tidaknya tawaran liburan bersama dengan mereka, walau aku sangat gugup aku tetap memberanikan diri menghampiri mereka.
"Kak...ini pesanannya" ucapku sambil menaruh makanan ke atas meja,
"Ehh....tunggu, Talita kenapa kamu yang mengantarkan pesanannya, ternyata kamu beneran kerja di sini yah hahaha....kasihan banget sih kamu" ucap kak Vera dengan wajah sinisnya,
"Iya kak aku memang kerja di sini, silahkan nikmati makanannya" ucapku dan segera pergi dari sana.
Aku tau akan mendapatkan hal semacam tadi memang sejak awal bisa dilihat kalau kak Vera tidak menyukaiku, aku berdiri di pintu dapur dan memperhatikan kak Bara yang menikmati makanan di restoran bersama kak Vera juga kak Nandito, melihat kedekatan mereka aku jadi iri karena aku bahkan tidak bisa sedekat itu dengan orang yang aku suka.
Saat aku tengah uring uringan dan merasa sangat kesal ketika melihat kak Vera yang menyuapi makanan pada kak Bara, tiba tiba saja dari belakang ada yang menepuk pundakku dengan kuat.
"Heyy...." Ucap kak Kevin yang menepuk pundakku,
"Astaga....kak... Kevin aku pikir siapa, bikin kaget saja" jawabku kaget,
"Habisnya kamu aku tungguin di dapur gak muncul juga, ngapain kamu berdiri di sini?" Tanya kak Kevin,
"Ahh ...tidak kak tadi hanya menyajikan beberapa pesanan saja kok, ayo kembali ke dapur masih banyak yang harus dikerjakan kan" ucapku mengalihkan pembicaraan,
Untunglah kak Kevin tidak banyak bertanya dan dia kelihatannya tidak menaruh curiga padaku, tak bisa aku pungkiri meskipun aku sudah kembali ke dapur rasa penasaran dalam diriku terus saja berkecamuk memaksaku untuk melihat kak Bara.
Karena terus memikirkan kak Bara sehingga aku tidak fokus bekerja dan tak sengaja membuat jari telunjukku teriris pisau,
"Stttawww...." Ringisku,
"Ada apa Talita...." Ucap kak Kevin yang langsung menghampiriku dengan cepat,
__ADS_1
"Talita kenapa kamu ceroboh sekali bisa bisanya teriris begini, kemari biar aku bantu obati" ucap kak Kevin yang nampak mengkhawatirkanku,
"Tidak papa kak ini hanya luka sedikit kok, pakai plaster saja nanti juga sembuh" jawabku merasa tidak enak,
"Sudah kau diam biar aku obati lukamu oke" jawab kak Kevin yang terus memaksaku.
Aku merasa sangat gugup dan tidak enak tapi kak Kevin terus saja memaksaku dia bahkan mengobati lukaku dengan sangat baik dan lembut, aku menjadi merasa kurang nyaman karena dia terlalu baik padaku.
Setelah mengobati luka aku kembali melanjutkan pekerjaanku hingga selesai dan kini sudah waktunya pulang, aku selesai membereskan semuanya dan pergi keluar dari restoran saat aku keluar ternyata ada kak Bara.
"Kak...Bara sedang apa kakak di sini?" Tanyaku merasa heran,
"Tentu saja aku menunggumu" jawab kak Bara yang membuatku kaget dan tak menyangka.
"Tidak mungkin kak Bara menungguku sedari sore kan" gumamku dalam hati.
"Kak ada urusan apa kakak menungguku di sini, kenapa tidak langsung masuk ke dalam saja" ucapku bertanya penasaran,
"Tidak papa aku tidak mau mengganggu kamu bekerja, ayo masuk aku antar kamu pulang" ajak kak Bara sambil membukakan pintu mobil.
Aku bingung tapi tubuhku malah menurut begitu saja, aku masuk ke dalam mobil bersama kak Bara di perjalanan awalnya tidak ada sedikit pun percakapan antara aku dengan kak Bara sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu pada kak Bara.
"Kak apa kakak berdiri sedari tadi di luar restoran hanya demi mengantarkan aku pulang?" Tanyaku sedikit gugup menunggu jawaban dari kak Bara,
"Iya memangnya kenapa, aku tidak mau kamu diantar pulang oleh pria lain" jawab kak Bara yang membuatku semakin tak karuan.
"Tapi kak Kitakan juga hanya sebatas kakak kelas dan adik kelas, artinya aku bebas mau pergi dan diantar oleh siapapun" jawabku memperjelas,
__ADS_1
"Kamu benar Talita, tapi asal kamu tau aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu di MPLS, bagaimana denganmu?" Ucap kak Bara yang membuatku semakin gugup dan kebingungan,
"A... apa?, Kak apa kau tidak salah mengungkapkan perasaanmu begitu saja?" Tanyaku dengan gugup.
Aku benar benar tidak menyangka bagaimana bisa kak Bara bicara selantang itu dan tanpa aba aba sedikitpun, dia mengatakan bahwa dia menyukaiku dan bertanya tentang perasaanku padanya, di satu sisi aku senang mengetahui kak Bara menyukaiku tapi di sisi lain caranya mengungkapkan perasaan seperti tidak ada spesialnya sama sekali dan seperti tidak ada rasa gugup sedikitpun di dalam dirinya saat mengutarakan semua itu.
Jujur saja aku jadi ragu dengan perasaan kak Bara padaku.
"Kak...apa ini sungguhan?" Tanyaku memastika,
"Apa wajahku ini meragukan yah, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, pikirkan saja dulu, aku tidak akan memaksa" ucap kak Bara.
Setelah itu suasana antara aku dan dia begitu canggung dan hening hingga sampai di depan rumah aku langsung keluar dan pergi masuk ke dalam rumah dengan terburu buru, ku lihat mobil kak Bara yang pergi perlahan meninggalkan halaman rumahku.
Badanku gemetar tak menentu dan aku sungguh tidak tau apa yang aku rasakan, aku seperti kaget dan tidak bisa merasakan perasaan apapun dalam tubuhku.
"Talita ada apa denganmu, bukankah seharusnya kamu senang, kenapa aku gelisah begini" ucapku saat di dalam rumah.
Aku benar benar tidak mengerti dengan diriku sendiri, aku tidak bisa berhenti memikirkan ucapan kak Bara aku sungguh tidak menyangka dia bisa mengutarakan perasaannya secepat itu padaku, aku bingung harus menjawabnya apa pada kak Bara nanti.
Aku menyukainya dan aku sadar akan hal itu tapi saat kak Bara mengutarakan perasaannya padaku tadi entah kenapa hatiku tiba tiba saja merasa ragu untuk menerimanya, aku menelpon Audy dan mengatakan semua yang aku alami tadi, bahkan Audy pun menyarankan agar aku menerima kak Bara, karena Audy juga tau kalau aku menyukai kak Bara sejak lama.
"Talita ini kesempatanku, bukankah kamu menyukai kak Bara, apa lagi yang harus kamu khawatirkan?" Ucap Audy membuatku sedikit yakin,
"Aku juga tidak tau tapi perasaanku tidak mungkin berbohong kan" ucapku menyimpan kegelisahan,
"Talita sekarang begini saja, kalau kamu memang menyukai kak Bara apa salahnya untukmu menerima dia dahulu, masalah kedepannya kita bisa pikirkan lagi nanti" ucap Audy memberi pencerahan.
__ADS_1
Setelah berbicara dan meminta pendapat dari Audy aku sedikit mendapatkan ketenangan dan aku sudah memutuskan untuk menerima kak Bara, setidaknya aku harus memberikan kesempatan pada diriku sendiri dan pada kak Bara, aku tidak mau jika nantinya kehilangan orang yang aku cintai hanya karena ke ragu raguan dalam diriku.