Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Di lempari


__ADS_3

Saat menikmati makanan tidak terasa air mata mulai mengalir di pipiku rasanya aku hanya bisa meratapi takdir yang sudah digariskan oleh tuhan untukku, setelah makan aku langsung tertidur dan tidak melanjutkan belajarku, hingga ke esokan paginya aku langsung bangun dengan segar dan tersenyum menyambut hari terakhir ujianku.


"Huaaa....hari yang cerah, aku harus lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya, ayo Talita semangat!" Ucapku menyemangati diriku sendiri.


Aku langsung membereskan tempat tidurku dan langsung pergi membersihkan diri hingga segera bergegas ke sekolah dengan wajah yang ceria dan penuh semangat, aku sudah sangat siap untuk bertarung menghadapi ujia terakhir kelulus hari ini, hingga ketika sampai di dalam kelas aku langsung mengelap meja tempatku belajar selama ini dengan sangat baik.


"Nahh ... sekarang baru bersih dan bisa belajar dengan nyaman" ucapku sambil terus mengembangkan senyum ceritaku seperti dulu lagi.


Sejak hari itu dan seterusnya aku sudah menjelaskan diriku untuk hanya berfokus pada pendidikan yang tempuh dan mengejar mimpi yang ingin aku raih.


Beberapa teman sekelas bahkan menatap heran kepadaku karena memang biasanya aku tidak serahin ini sampai membersihkan mejaku dahulu sebelum mulai ujian.


"Eh...eh..eh...Talita sepertinya hari ini kamu secerah mentari pagi, ada apa nih jangan-jangan kak Bara akan kembali yah?" Tanya salah satu temanku sambil menyenggol ku dan bercanda,


"Ahaha...tentu saja aku ceria bukankah aku selalu seperti ini sebelumnya?" Balasku dengan tersenyum lebar,


"Haha...iya iya deh kamu memang yang paling ceria Talita, tapi rumor itu tidak benar kan" ucap temanku itu menambahkan,


"Rumor apa maksudmu?" Tanyaku heran,


"Itu loh, rumor tentang kamu yang berselingkuh dengan Alvaro, coba deh kamu lihat di gruf sekolah ada nomor misterius yang menyebarkannya, aku rasa sebaiknya kamu berhati-hati karena fansnya kak Bara mungkin akan menjadi haters mu mulai sekarang" ucap teman sekelasku itu.


Aku tersentak kaget dan segera mencari ponselku untuk melihat semuanya namun sayangnya aku lupa tidak membawa ponselku dan mungkin aku meninggalkannya di kamarku.


"Aishhh....sial aku lupa membawa ponsel, bagaimana aku bisa melihatnya" gerutuku kebingungan.


Di saat aku kelimpungan, Alvaro baru saja tiba di kelas dan dia duduk dengan santai di kursi yang berada di sampingku aku pun terpaksa harus berbicara dengannya lagi karena tidak mungkin aku meminjam ponsel orang lain sebab sudah pasti mereka tidak akan memberikannya kepadaku apalagi setelah semua rumor itu tersebar.


"Apa aku meminjam ponselnya saja yah, lagian hanya sebentar kok" gerutuku memikirkan.


Ku lihat Alvaro hanya duduk dengan santai dengan telinga yang memakai earphone serta tangannya yang mengutak ngatik ponselnya dengan kaki yang disilangkan.


Perlahan lahan aku mendekatinya lalu meminta secara baik-baik untuk meminjam ponsel sebentar kepadanya namun dia tidak mendengarkan ku apalagi memperhatikan aku saat aku bicara kepadanya, dia benar-benar mengabaikan aku saat itu.


"Ekhmm..Alvaro bisakah aku meminjam ponselmu sebentar aku lupa meninggalkan ponselku di rumah" ucapku meminta dengan baik-baik.


Alvaro tetap diam dan terus menatap lurus ke ponselnya dia tidak memperhatikan aku dan aku terasa seperti diasingkan, karena kesal dan emosi aku langsung mencabut earphone di telinganya lalu menyembunyikan earphone tersebut ke belakang tanganku.


"Heh, apa yang kau lakukan, kembalikan earphone milikku!" Ucap Alvaro dengan dingin,


"Tidak, aku akan mengembalikannya setelah kau meminjamkan ku ponselmu" ucapku memberikan penawaran padanya.


Alvaro bangkit dari duduknya dan dia langsung merebut dengan paksa dan kasar earphone itu dari tanganku, aku sungguh kesal dan sakit hati sebab dia begitu sinis dan kasar terhadapku tapi aku sangat ingin melihat rumor yang temanku bicarakan sebelumnya sehingga aku tetap menahan rasa sakit tersebut.


"Alvaro aku mohon aku hanya ingin melihat pesan di gruf itu tentang rumor antara aku dan kau" ucapku dengan nada yang tinggi hingga membuat Alvaro mulai menatapku.

__ADS_1


Lalu dia mulai membuka pesan gruf di ponselnya dan aku terburu-buru mengintip dari belakang, saat Alvaro membukanya tiba-tiba sebuah foto muncul dan itu adalah foto disaat Alvaro menggendongku beberapa waktu yang lama tepat ketika aku meloncat dari jendela kelas hingga rok milikku sobek.


Aku kaget melihatnya karena itu kejadian yang sudah sangat lama tapi bagaimana orang misterius itu bisa memotret ku sedangkan saat kejadian itu terjadi, aku dan kak Bara sama sekali belum berhubungan.


"Hah?, Apa apaan orang aneh ini. Saat itu aku belum berhubungan dengan kak Bara bagaimana dia bisa menyebutkan bahwa aku berselingkuh?, Padahal di Bara sialan itu yang selingkuh kenapa dia melemparkan kesalahannya padaku, ini pasti perbuatannya, eughhh dia menyebalkan....brukkk" ucapku kesal dan uring-uringan sambil memukul mejaku cukup keras beberapa kali.


Mood hancur bahkan sangat hancur padahal sebelumnya aku sudah memasang wajah ceria dan penuh semangat tapi karena rumor tidak jelas itu aku menjadi sangat kesal dan emosi, rasanya aku tidak bisa menerima semua itu karena itu sama saja dengan fitnah dia memfitnahku padahal dirinya sendiri yang melakukan hal seperti itu.


Tapi dengan mudahnya dia melemparkan kesalahannya kepadaku hanya karena dia sudah pergi dari sekolah ini bukan berarti dia bebas melakukan aku seenaknya, aku tidak bisa hanya diam saja tapi memang tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membalasnya, apalagi untuk melawan orang sepertinya.


Sampai ujian berlangsung aku mengerjakannya dengan malas dan tidak secepat biasanya karena aku telah kehilangan semangat di dalam diriku sendiri, hingga akhirnya aku menjadi murid terakhir yang menyelesaikan ujiannya lalu aku keluar dengan lesu dan saat aku berjalan tiba-tiba saja dari belakang ada yang menimpukku dengan sebuah telur mentah dan itu mengenai kepalaku.


"Bukk....aduhhh" ucapku memegangi kepalaku,


"Telur? Siapa yang melakukan ini?" Bentakku keras dengan membalikkan badan secara langsung mencari pelakunya.


Semua orang memalingkan pandangan dariku dan mereka berpura-pura seakan tidak melihat dan tidak mendengarkan bentakkan dariku, aku pun hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat menahan emosi di dalam diriku dan kembali berjalan meninggalkan tempat itu namun saat aku melanjutkan jalanku tiba-tiba semua orang yang ada disana kembali melemparkan telur mentah ke arahku hingga aku tidak bisa menghindar dan hanya bisa terduduk di kelilingi bayak siswa sambil menimpuki aku dengan telur mentah yang menjijikan.


Aku hanya bisa menangis seorang diri dan berusaha menahan pukulan dari mereka dengan tanganku namun aku tetap tidak bisa menghentikannya ataupun melindungi diriku sendiri, mereka terus melemparkan telur itu kepadaku dengan keras sambil mengatakan kalimat ejekan kepadaku yang sangat menyakitkan untuk aku dengar.


"Dasar j*Lang murahan, iya cewek gampangan kau!" Ucap orang-orang itu,


"Perempuan tidak tahu malu, tidak tahu diuntung, selingkuh!" Bentak mereka yang terus menghakimi aku.


Semua kata-kata itu seakan mmberputar di dalam ingatanku dan aku sangat sakit ketika mendengarnya.


"Kalian...apa yang kalian lakukan pada Talita, pergi dari sini sekarang juga, atau aku akan mematahkan tangan kalian semua satu per satu!" Bentak Alvaro yang sangat kencang dan membuat semua orang yang mendengarnya saat itu bergidik ngeri ketakutan.


Mereka langsung berlarian kesana kemari dan membubarkan kumpulan yang sebelumnya mereka buat sendiri.


Aku masih syok saat itu dan aku tidak bisa mengatakan apapun hanya bisa bergetar hebat sembari memeluk diriku sendiri dan menangis terisak tanpa henti.


Aku tidak tahu apa kesalahanku kepada mereka semua hingga mereka setega ini melemparkan telur mentah kepadaku hingga membuat sekujur tubuhku kotor dan berbau amis, aku sangat sakit hati karena itu bukan kesalahanku aku tidak pernah mengganggu siapapun di dalam hidupku tetapi mengapa harus aku yang menerima semua kesakitan dan penghinaan yang sama sekali tidak pernah aku lakukan kesalahannya.


"Talita...Talita jawab aku apa kau baik baik saja, ayo kita pergi dari sini" ucap Alvaro sambil membantuku berdiri,


Aku tidak bisa bicara ataupun berjalan saat itu badanku terus gemetar meski di dalam hatiku berusaha untuk melawan rasa takutnya namun aku tetap tidak bisa bergerak, karena rasa syok itu masih menghantuiku, Alvaro yang melihat aku tidak berdaya dia langsung menggendongku meski tubuhku penuh dengan telur yang berbau menyengat dan amis.


Dia membawaku ke kamar mandi yang berada di dalam UKS lalu dia memintaku untuk segera membersihkan diri terlebih dahulu, dia meninggalkan aku sendirian di kamar mandi dan setelah aku merasa jauh lebih baik, perlahan aku membersihkan diriku lalu keluar menemui Alvaro.


Dia juga memberikan aku pakaian baru yang entah dari mana bisa dia dapatkan yang pasti itu adalah seragam sekolah, ku pikir dia mungkin membelinya di koperasi sekolah untukku karena seragam itu terlihat baru.


Aku merasa malu dan tidak enak saat menemuinya namun aku tetap harus menghadapi Alvaro untuk berterimakasih kepada dia karena telah membantuku mengusir mereka yang menghakimiku.


"Alvaro... terimakasih sudah membantuku" ucapku sambil berdiri dan menundukkan kepala di hadapannya,

__ADS_1


"Talita kemarilah, duduk di sini" ucap Alvaro yang berbicara padaku.


Aku langsung mengangkat kepalaku lalu segera duduk di sampingnya, aku kaget dan tidak menyangka ternyata Alvaro sudah mau mendengarkan aku dia mau berbicara denganku lagi setelah semua yang dia lakukan untuk menjauhiku selama ini.


Aku terdiam beberapa saat hingga Alvaro menggeser duduknya dan menatap ke arahku dengan lekat.


"Talita tidak bisakah kau melawan disaat orang lain menindasmu seperti tadi?, Apa kau tidak memiliki kekuatan dan keberanian untuk melawan mereka?, Tidak bisakah kau melindungi dirimu sendiri hah, kenapa kau selalu lemah dan menyedihkan, apa kau bodoh mau terus membiarkan dirimu selalu dalam bahaya seperti ini?" Ujar Alvaro berkata begitu keras kepadaku,


Aku terperangah dan menatap Alvaro dengan sendu aku tidak tahu apakah saat itu dia mengkhawatirkan aku atau membenciku karena aku selalu merepotkan dirinya.


"Alvaro aku minta maaf karena selalu melibatkan kamu dalam setiap masalah yang menimpaku, lain kali seharusnya kau membiarkan aku meskipun aku hampir mati dalam bahaya, jika kau tidak benar-benar perduli terhadapku maka jangan menolongku jangan bersikap baik padaku, menjauhlah dariku abaikan aku lagi seperti sebelumnya, agar aku juga bisa melupakanmu" ucapku dengan menahan air mata di dalam pelupuk mataku.


Aku langsung bangkit berdiri dan pergi dari sana tanpa sepatah katapun lagi.


"Aishhh...apa aku terlalu keras bicara dengannya, kenapa dia tidak bisa memahamiku jika kau mengkhawatirkannya, aku tidak ingin kau terluka Talita!, Kenapa kau tidak paham, aku tidak bisa selalu ada untuk menolongmu itu maksudku" gerutu Alvaro kesal sambil memukul dinding dengan tangannya cukup keras.


Talita memang tidak berhasil memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh Alvaro dan dia justru menanggapinya lain hingga dia memutuskan pergi dari sana dengan hati yang hancur.


******


Aku sudah mengungkapkan isi hatiku kepadanya aku tidak ingin merepotkan dia lagi, setelah apa yang dia katakan padaku aku yakin mungkin selama ini dia memang menolongku hanya karena kasihan sebab aku terlalu lemah, cengeng dan selalu tidak bisa melakukan apapun sendiri.


Aku berlari keluar dari sekolah dan langsung menghentikan taxi denganbair mata yang sudah menerobos keluar dari pertahananku, aku menangis terisak selama di perjalanan hingga aku tiba di kediamanku dan masih belum bisa berhenti menangis juga.


"Hiks...hiks...hiks... Alvaro kau sialan kau lebih jahat dari yang aku kira, kau benar-benar b*remgsek sesungguhnya kau mempermainkan aku berkali kali ALVAROOO hiks...hiks..." Ucapku menangis dengan posisi tengkurap di kamarku.


Aku menepuk-nepuk kasur milikku dan terus menangis diatas bantal yang empuk, aku sungguh sakit hati dengan ucapan Alvaro dia seperti telah menyesal dan merasa risih karena harus terus membantuku dan aku selalu salah paham atas apa yang dia lakukan terhadapku.


Seandainya aku menyadari semua itu lebih awal mungkin aku tidak akan terjatuh sesakit ini kepadanya, aku di selingkuhi oleh kak Bara dan di rumorkan dengan fitnah yang dia sebar tapi aku tidak merasakan sesakit ini dihatiku.


Namun entah kenapa disaat Alvaro hanya membantakku seperti tadi saja rasanya hatiku langsung hancur berkeping-keping, aku kecewa dan sakit hati bercampur menjadi satu, aku terlalu berharap banyak atas Alvaro namun nyatanya dia sama sekali tidak pernah memiliki rasa apapun padaku.


Meski itu hanya pemikiran aku saja tapi di lihat dari caranya memperlakukan aku sudah sangat jelas bagiku bahwa dia membenciku dan dia tidak tahan terhadap diriku yang selalu lemah dan berada di dalam masalah setia saat.


Aku terus menangis seorang diri dan hayaybisa menyalahkan diriku sendiri atas semua yang terjadi padaku hari ini dan hari hari lainnya yang telah berlalu, aku bahkan ketiduran karena lelah menangis tanpa henti.


Sedangkan disisi lain Alvaro yang kesal melihat Talita diperlakukan tidak adil oleh banyak siswa di sekolah dia langsung mendatangi orang-orang yang sebelumnya melemparkan telor mentah itu kepada Talita lalu dia mulai memberikan pelajaran kepada mereka dengan cara yang sama yakni melemparkan telur mentah dengan sekeras yang dia bisa sehingga anak anak perempuan fans Bara itu meringis kesakitan dan menangis karena jijik.


Setelah puas melemparkan telur mentah sebanyak yang dia inginkan barulah Alvaro bertanya kepada mereka mengenai alasan mereka melakukan itu kepada Talita.


"Sekarang katakan kenapa kalian berani melakukan itu di sekolah?, Apa ada orang yang menyuruh kalian hah?" Bentak Alvaro sangat menyeramkan,


"I..iya Alvaro tolong jangan sakiti kami lagi, dia kak Nandito dan kak Vera yang menyuruh kami dan membayar kami dengan uang, tolong jangan sakiti kami lagi, tolong Alvaro" ucap salah satu perempuan sambil bersujud di bawah kaki Alvaro meminta maaf dan memohon atas apa yang telah dia lakukan pada Talita.


"Kau tahu kepada siapa seharusnya kau meminta maaf dan jika dia tidak memaafkanmu maka jangan harap aku akan melepaskan kalian!" Ancam Alvaro dengan wajahnya yang sadis dan sinis.

__ADS_1


Semua perempuan yang ada disana mereka adalah orang-orang bayaran yang diperintah oleh Vera dan Nandito supaya menyebarkan rumor tidak benar itu dan melempari Talita dengan telur, sehingga mereka dapat menerima uang dengan jumlah yang lumayan besar dari per orangnya.


Entah apa niat utama Vera dan Nandito hingga melakukan hal picik seperti itu bahkan mereka dengan tega melakukannya pada Talita yang tidak pernah mengusir mereka sama sekali selama di SMA.


__ADS_2