
Meski aku tidak bisa membuka mataku dengan lebar dan hanya memiliki sedikit kesadaran namun aku masih bisa mendengar perkataan yang mereka katakan dan masih bisa melihat samar-samar wajah mereka.
Fasya segera mengangguk dan dia langsung menggendong Talita lalu membawanya masuk ke dalam, sedangkan ibu segera menyiapkan kompresan air hangat untukku, Fasya juga terus menggosok kedua tanganku dan menyelimuti aku dengan selimut yang tebal, dia terlihat cukup panik sama seperti ibuku yang memasukkan kakiku pada sebuah wadah berisi air hangat yang sudah dia bawa sebelumnya.
Hingga beberapa saat kemudian akhirnya aku membaik dan aku sudah bisa beristirahat dengan baik, Fasya juga mungkin pulang ke rumahnya saat itu, hingga setelah kejadian itu Fasya sudah tidak mengikutiku lagi, atau berbuat yang buruk terhadap aku, dia tidak pernah mengganggu aku lagi bahkan ketika kami berpapasan di jalan dia hanya melihatku sekilas dan bersikap seakan tidak mengenaliku.
Itu sangat membuat aku terganggu meski hubunganku dengan Alvaro sudah membaik tapi aku juga tidak bisa membiarkan dia terus seperti menjaga jarak dariku seperti itu, aku pun dengan sengaja pergi mencari dia di kelasnya dan menunggu dia hingga selesai kuliah.
"Tunggu Fasya! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" ucapku menghadang jalannya.
Aku melakukan itu karena tiap aku berteriak meminta dia berhenti dia berpura-pura tidak mendengarkan teriakkan ku dan terus berjalan melewati aku begitu saja sehingga cukup membuat aku jengkel dan terpaksa aku menghadang jalannya dengan merentangkan tangan
"Minggir, untuk apa kau menghalangi jalanku" ucapku terlihat begitu sinis padaku,
"CK.....danapa sih denganmu, kenapa akhir-akhir ini kau menghindari ku, apa kau marah denganku?" Tanyaku kepadanya sambil berjalan mengiringi langkahnya,
"Tidak ada aku hanya sudah tahu bahwa kau tidak nyaman jika aku berada di dekatmu dan aku tahu hubunganmu dengan si brandal Alvaro itu" balasnya sambil menatap lurus ke depan,
"Ya memangnya kenapa jika aku menyukai Alvaro dan dia menyukaiku memangnya ada yang salah dengan itu, lalu apa hubungannya denganmu?" Tanyaku semakin penasaran dan merasa bingung,
Tiba-tiba saja Fasya berhenti dan dia membalikkan badannya ke arahku lalu memegangi kedua pundakku dengan melemparkan tatapan yang lekat dan wajahnya yang serius.
"Karena aku menyukaimu Talita, aku benci melihat kau setiap hari tertawa dan pulang bersamanya aku membenci dia" ucap Fasya membuat aku sangat kaget.
Aku tidak bisa bergerak ketika mengetahui kebenaran tersebut dan aku langsung merasa sulit untuk sekedar menelan salivaku sendiri sedangkan Fasya langsun pergi melanjutkan langkahnya hingga dia tidak terlihat lagi.
Aku tidak menyangka jika Fasya akan menyukaiku, karena yang aku tahu dia hanya gemar menjahili aku selama ini, sekarang setelah mengetahui semuanya aku menjadi bingung dan bimbang, antara harus memilih Alvaro yang aku sukai dan dia sudah kembali sekarang, aku juga tahu dia akan bersama denganku terus karena dia sudah berjanji denganku.
Namun disisi lain aku merasa tidak enak dengan Fasya, bagaimana pun dialah pria yang ibu jodohkan denganku bahkan kedua orangtuanya sudah mengenali aku dan ibuku, aku merasa bingung sekarang dan untuk sementara aku memilih menjauhi keduanya.
Aku menjaga jarak dari Alvaro juga dengan Fasya, aku lebih banyak menghabiskan waktu sendiri atau dengan teman-teman perempuanku bahkan di saat Alvaro datang menemuiku aku menolaknya agar tidak pulang bersama dia lagi.
"Talita ada apa denganmu, apa kau marah lagi padaku? Apa salahku Talita sampai kau seperti ini?" Tanya dia kepadaku,
"Kamu tidak salah Alvaro tapi akulah yang salah, aku mungkin tidak benar-benar mencintaimu" balasku kepadanya dan berusaha menghindar darinya.
Alvaro yang tidak bisa menerima itu dia langsung menggenggam tanganku dengan kuat dan menahanku.
"Talita apa maksudmu, kenapa kau bicara seperti itu, bukankah selama ini kau menungguku dan kau juga tahu bahwa selama ini aku diam-diam memperhatikan kamu dari jauh, aku harus menyelesaikan permasalahan dengan ayahku dulu, aku juga janji kepadamu jika urusanku dengan ayah selesai aku akan menjadikanmu pacarku" ucap Alvaro padaku.
Aku menghempaskan tangan Alvaro dengan kuat dan entah kenapa rasanya aku tidak terima ketika Alvaro mengatakan dia akan menjadikan aku pacarnya hanya ketika urusan dia dengan ayahnya selesai.
"Hah, apa kau bilang? Kau baru akan meresmikan hubungan kita hanya nanti disaat urusanmu dengan ayahmu selesai? Kau pikir aku akan menunggumu, lalu bagaimana jika ayahmu tidak menyukaiku, aku tahu kau akan tetap menurutinya iya kan?" Ucapku sedikit membentak dia,
Sialnya Alvaro mengangguk menjawab pertanyaanku dimana itu sudah menunjukkan bahwa dia benar-benar akan menuruti semua kemauan ayahnya dan aku tidak bisa memiliki pasangan yang di sertir oleh orangtuanya, aku tahu semua ini akan terjadi, aku pikir Alvaro akan lebih memilih aku di bandingkan dengan ayahnya yang memperlakukan dia dengan buruk.
Namun nyatanya aku salah, dia sama sekali tidak membelaku dan dia tidak bisa mengubah apapun, aku mengerti semuanya sekarang dan aku sudah memutuskan untuk melepaskan Alvaro saat itu juga.
"Baik Alvaro terimakasih atas jawabanmu, aku sudah memutuskan sekarang bahkan kita hanya sebatas teman dan jangan memberikan perhatian lebih kepadaku lagi, janganembuat orang lain salah paham dengan hubunganmu dan aku, nyatanya kau sama saja dengan kak Bara bahkan kak Bara lebih baik darimu" ucapku langsung pergi meninggalkannya.
"Talita... maksud ku tidak begitu, Talita berhenti aku mohon tolong kembali padaku Talita maafkan aku!" Teriak Alvaro dan aku abaikan.
Aku tidak bisa mengubah keputusanku lagi, meski aku sangat mencintai dia tapi jika dia ragu untuk memperjuangkan aku maka aku tidak bisa mempercayai dia sepenuhnya, aku pergi tanpa arah dan menangis sepanjang jalan hingga tidak sengaja aku bertemu lagi dengan seorang kak Veri yang cukup lama tidak aku temui.
"Eh ....Talita ada apa denganmu kenapa kau terlihat seperti habis menangis?" Tanya kak Veri padaku.
Saat aku mengangkat kepalaku ku lihat ada Audy juga di sampingnya dan tidak sengaja aku melihat tangan mereka bergandengan.
"Ckk....jangan sok sokan memperdulikan ku, kalian sudah berhubungan kan, apa kalian sepasang kekasih sekarang?" Tanyaku kepadanya
Audy tersenyum kecil dan dia memeluk tangan kak Veri dengan erat, dia juga mulai mengangguk menjawab pertanyaan dariku, aku pun pergi dengan mereka ke sebuah cafe yang ada di dekat sana dan Audy menjelaskan semuanya kepadaku mulai dari awal bertemu lagi dengan kak Veri hingga mereka bisa menjadi pasangan kekasih saat ini.
Sedangkan kak Veri juga memberitahuku bahwa dia sebenarnya adalah kakak kandung Alvaro.
"Aishhh....kenapa kau bisa bisanya menyembunyikan ini dariku, dasar gadis nakal!" Ucapku pada Audy,
"Hehe....maafkan aku yah Talita tapi saat itu kau sulit sekali untuk di temui, eh tapi apa kau tahu bahwa sebenarnya kak Veri ini adalah kakaknya Alvaro loh" ucap Audy mengatakannya.
__ADS_1
Aku langsung terbelalak lebar membuka mataku, aku sangat kaget ketika mengetahui semua itu dan aku langsung saja memasang wajah serius dan memberikan tatapan tajam pada kak Veri saat itu juga. Bahkan aku langsung menarik tangan Audy untuk menjauh dari pria sepertinya.
"Apa? Jadi kak Veri kakaknya Alvaro?" Ucapku kaget dan di balas anggukan oleh kak Veri,
"Iya Talita maafkan aku karena berbohong kepadamu selama ini, tapi aku melakukan itu karena perintah dari Alvaro juga, dan dia sedang dalam masa yang sulit sekarang, dia berbeda denganku dan aku berhutang banyak padanya, seharusnya aku yang menjadi pimpinan perusahaan menggantikan ayah kami namun karena aku di diagnosis memiliki kanker di otakku sehingga Alvaro yang harus menggantikannya" ucap kak Veri menjelaskan.
Aku terdiam dengan lemas saat mendengar semua penjelasan dari kak Veri dan sekarang aku tahu betul apa yang menyebabkan Alvaro bersikap seperti itu kepadaku sebelumnya.
"Kak....apa ayah kalian sekeras itu?" Tanyaku kepadanya,
"Iya Talita dia juga sudah menyiapkan seorang wanita untuk Alvaro dan dia adalah wanita dari kalangan pengusaha hebat juga di luar negeri, itulah kenapa Alvaro tidak bisa selalu ada di sampingku lagi, dia harus menuruti ayahnya karena jika tidak mungkin aku yang menjadi ancaman baginya dan dia terpaksa harus melakukan semua perintah dari ayahnya karena sudah terlanjur mengikat janji" tambah kak Veri menjelaskan dengan serius.
"Tapi kak, kenapa dia tega melakukan ini padaku, seharusnya dia tidak boleh kembali ke sini, seharusnya dia tidak mendatangi aku lagi dan memberikan aku harapan-harapan yang semu, kenapa dia tega melakukan ini padaku" ucapku sambil berusaha menahan air mata di hadapan Audy dan kak Veri.
Tidak lama Alvaro juga datang ke sana dan dia langsung memelukku begitu saja.
"Talita, maafkan aku Talita" ucapnya sambil memelukku,
"Alvaro harusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa memahamiku, tapi aku juga tidak ingin kau jadikan layaknya wanita simpanan di luar sana semua orang mengetahui jika kau putra pewaris perusahaan ternama dan sudah bertunangan dengan wanita lain dari keluarga yang terpandang juga, kau harus merelakan aku Alvaro, biarkan aku dengan orang lain, dan kau juga bisa menepati janjimu pada ayahmu" ucapku kepadanya.
Alvaro tidak bicara dan dia terus menggelengkan kepala, aku tahu ini menyakitkan bagi kami berdua namun memang tidak ada jalan lain yang bisa kami lakukan saat ini, terlebih acara pertunangan itu akan segera tiba dan Alvaro juga tidak berusaha melakukan apapun.
"Talita aku akan melawan kehendak ayahku jika itu maumu aku akan melakukannya" ucap Alvaro padaku,
"Tidak Alvaro apa yang kau katakan, kau sudah bersama Veli dan dia mengandung anakmu sekarang" ucap kak Veri keceplosan.
Aku dan Audy langsung menatap tajam dan kaget pada kak Veri saat itu juga, aku masih berharap apa yang barusan aku dengan dari kak Veri adalah sebuah kesalah pahaman saja aku tidak ingin mendengarnya lagi.
"APA? kak apa yang kau bicarakan siala Veli itu?" Tanya Audy dengan mengguncang tangan kak Veri,
"Dia dulu adalah tunanganku tapi sekarang menjadi tunangannya Alvaro, dan Veli adalah wanita yang menyukai Alvaro sejak lama, saat Alvaro kembali ke negera X mereka membuat pasya perayaan ulang tahu untuk Veli dan tanpa kita tahu ternyata Veli menjebak Alvaro dia memasukkan obat perangsang pada minuman Alvaro sehingga mereka...." Ucap kak Veri menjelaskannya dan aku langsung menghentikan ucapan dia.
"CUKUP! hentikan semua sandiwara gila ini, aku sudah mendengar semua penjelasan dari kak.Veri dan aku rasa semuanya sudah sangat jelas sekarang" ucapku dengan derai air mata yang terus keluar dari air mataku,
"Tidak.....Talita....ini tidak seperti yang kau pikir, aku yakin dia bukan hamil karena ku aku mohon percayalah padaku Talita" ucap Alvaro masih mengelaknya.
"Plak! Aku sudah bilang padamu semua iniu mungkin bukan salahmu sepenuhnya, namun kau juga sudah melakukan hubungan terlarang dengan tuananganmu, kau harus bertanggung jawab dan menikahinya, itu jika kau seorang pria. Lupakan aku Alvaro dan pergilah ke negara asalnya aku tidak akan membencimu" ucapku lalu segera pergi dari sana dengan berusaha tegar pada diriku.
Audy berlari menyusul aku namun aku meminta dia untuk pergi dan aku juga tidak tahu bahwa Audy juga memutuskan hubungannya dengan kak Veri setelah mengetahui semuanya.
"Talita aku akan bersamamu aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, aku juga sudah memutuskan hubungan dengan kak Veri" ucapnya yang membuat aku langsung terhenti,
"Audy kenapa kau melakukan itu?" Tanyaku padanya,
"Melakukan apa Talita? Sudah sepantasnya aku memutuskan dia sebelum aku berakhir sepertimu, mereka memiliki ayah yang sama bukan berarti aku juga akan mendapatkan nasib yang sama denganmu dan aku tidak ingin itu terjadi, cukup kau yang merasakannya aku tidak ingin membuatmu lebih terpukul lagi karena aku berhubungan dengan kakaknya" ucap Audy sambil memelukku.
Aku menangis dengan keras dalam pelukan Audy, dan dia terus menenangkan aku dengan menepuk lembut bahuku.
"Hiks...hiks...Audy terimakasih sudah selalu ada di sampingku" ucapku kepadanya.
Dia hanya tersenyum dan terus mengelus kepalaku, bahkan malam itu aku meminta untukenginap di rumah Audy karena aku tidak ingin membuat ibu cemas karena aku pulang dalam keadaan kacau seperti ini, untunglah ibu memberiku izin di telpon sehingga aku bisa tinggal bersama Audy malam ini dan bisa menenangkan diri bersamanya.
Bukan hanya aku yang galau dan sedih malam itu tapi aku tahu Audy juga merasakan hal yang sama karena dia juga baru saja memutuskan hubungannya dengan kak Veri.
Kami berdua pun saling menyemangati satu sama lain dan kita memutuskan untuk berendam di kolam air panas yang tersedia di rumah Audy, dan itu sangat nyaman juga cukup efektif untuk menenangkan pikiran dan membuat kita berdua jauh lebih rileks.
"Aaahhh.....Audy kolam air jangan di rumahmu memang obat terbaik dari segala penyakit" ucapku sambil berendam di dalamnya sambil memejamkan mata,
"Kau benar kolam ini yang terbaik dari seluruh hal yang ada di rumah ini, ayahku tidak membeli rumah yang salah bukan" balasnya padaku.
Kami pun menghabiskan banyak waktu di kolam itu dan terus saja saling menghibur juga membuat kue untuk merayakan hari payah hati kamu dan memulai hidup baru, aku dan Audy bahkan memakan kue yang kami buat sendiri dengan tangan dan dalam suapan yang besar hingga membuat belepotan pada seluruh wajah.
Kami juga saling melemparkan kue itu satu sama lain dan terus saja bernyanyi sepuasnya di kamar Audy, kebetulan saat itu kedua orang tuan Audy tengah tidak ada di rumah, sehingga kami berdua bebas untuk berpesta semalaman dan tidur tidak teratur.
Aku tidur dengan posisi menyamping dan kakiku menindihi perut Audy, sedangkan Audy tidur dengan lurus namun tangannya Mengani wajahku cukup keras hingga aku terbangun dan melihat jam di dinding sudah menunjukkan jam tujuh pagi.
"Aaaarkkk....Audy kita akan kesiangan!" Teriakku baru sadar.
__ADS_1
Aku dan Audy langsung berburu ke kamar mandi dan berlari saling terobos satu sama lain.
"Aku....biar aku dulu" teriak Audy menahan tanganku,
"Tidak Audy kau mandi sangat lama, biar aku saja dulu kau tunggu di luar aku hanya sebentar kok" ucapanku berusaha menggapai pintu kamar mandi.
Aku terus berebutan dengan Audy sampai akhirnya Audy membodohi aku dengan cara cerdiknya dan aku mempercayai ucapan bohongnya itu.
"Ehhh ibu kau sudah pulang?" Ucap Audy sambil menatap ke arah pintu masuk.
Tentu saja aku refleks kaget karena kondisi kamar yang berantakan dan kue berserakan dimana-mana karena kami tidak sempat membereskan semua itu, aku langsung berbalik dan mencari keberadaan ibu Audy namun sayangnya ternyata Audy membohongiku dan saat aku menyadarinya bahwa itu tipuan Audy sudah masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu.
"Hah, mana....mana Tante ?" Ucapku panik,
"Haha...kau kena tipu Talita" ucap Audy sambil masuk ke dalam kamar mandi dan aku tidak sempat lagi menahannya.
"Aishhh.. Audy kau curang padaku, aarghhh...awas kau!" Teriakku merasa kesal.
Aku terpaksa harus mengalah dan aku membersihkan kekacauan yang ada di kamar itu dengan cepat sembari menunggu Audy selesai mandi, tapi sayangnya Audy memang selalu mandi sangat lama sehingga aku tidak bisa menunggunya.
Aku pun memutuskan turun ke lantai bawah dan mandi di kamar mandi yang ada di dapur, sampai ketika aku selesai berbarengan dengan Audy yang turun dari tangga dan kami segera pergi bersama-sama ke kampus menggunakan motor milik Audy.
"Wahh....Talita apa kau sudah siap, sudah lama sekali aku tidak memboncengi mu" ucap Audy sambil membenarkan kaca spion motornya,
"SIAP! ayo melaju dengan kencang pembalap hebat!" Teriakku dan Audy langsung melajukan mobilnya secepat kilat.
Dia benar-benar pembalap wanita yang heran, bahkan aku hanya bisa berteriak dan memeluknya dengan erat sekaligus untuk mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatiku.
"Aaaarrtkkkkk....Audy kau memang pembalap gila!" Teriakku sambil tertawa senang.
Hingga kami sampai di kampus aku sudah merasa jauh lebih baik dan merasa sangat lega, kami pergi masuk ke dalam kampus bersamaan dan mulai mendengar berita mengenai keluarnya satu mahasiswa dari universitas tersebut dan saat aku melihat papan pengumuman yang di kerumuni mahasiswa disana rupanya itu Alvaro.
"Wah sayang sekali yah ternyata dia sudah mau menikah ku pikir dia masih sendiri, aku sempat melihat wajahnya kemarin dia sangat tampan dan berkarisma" ucap salah satu mahasiswa di sana.
Audy langsung menarik tanganku dan membawaku menjauh dari papan pengumuman itu.
"Talita sudahlah untuk apa mencaritahu tentang orang sepertinya lagi, lebih baik sekarang kita fokus belajar saja" ucap Audy mengingatkanku.
Aku pun kembali bersemangat dan masuk ke dalam gedung menuju kelasku bersama Audy. Ku tarik nafas panjang dan membuangnya perlahan aku sengaja memakai headset di kedua telingaku agar tidak mendengarkan ocehan anak anak kampus yang terus membicarakan mengenai Alvaro.
"Ohh...ye..ye..yehhh..." Ucapku yang bernyanyi dengan happy sambil mencatat beberapa pelajaran di buku milikku.
Tiba-tiba saja kak Fasya datang ke kelasku dengan wajah yang panik dan dia berbicara sangat keras kepadaku.
"Hah...hah....hah...Talita...apa kau baik-baik saja?" Ucap kak Fasya di sampingku namun aku tidak mendengarnya karena menikmati lagu yang aku dengarkan.
Sedangkan Fasya menatapnya dengan bingung dan dia merasa semakin cemas bahkan Fasya sempat mengira Talita menjadi gila karena dia terus berjoget sendiri seperti itu.
"Hah, apa apa dengan anak ini? Apa dia langsung menjadi gila karena mendengar berita tentang Alvaro?" Ucap kak Fasya memikirkan.
Hingga dia melihat headset di telinga Talita dan bisa menghembuskan nafas dengan lega seketika.
"Huuuft....ternyata memakai headset? Untunglah jika begitu" ucap kak Fasya.
Aku baru sadar jika di sampingku ada kak Fasya yang berdiri mematung, aku pun melepaskan headset di telingaku dan mulai menyapanya seperti biasa.
"Eh, kau sedang apa berdiri disini apa kau diam-diam memperhatikan aku yah? Aihhh dasar penguntit" ucapku dengan santai.
Melihat Talita yang masih bisa berbicara dengan santai dan wajahnya yang terlihat baik-baik saja, Fasya semakin merasa bingung dan heran dia juga jadi ragu untuk membicarakan mengenai kabar tentang Alvaro kepadanya.
"Hey, kau ini kenapa sih apa kau gila yah malah menatapku begitu" ucapku yang jengkel melihat raut wajahnya,
"Aishh.....apa kau tidak mendengar kabar mengenai....itu....mengenai" ucapnya merasa ragu untuk mengatakan semuanya,
"Apa mengenai Alvaro? Tentu saja aku sudah mendengarnya bahkan aku sudah tahu lebih dulu dan lebih banyak dibandingkan dirimu" balasku dengan santai.
Aku tahu sejak awal Fasya pasti hanya akan menanyakan hal itu aku hanya berpura-pura tidak tahu saja karena aku sungguh malas membahas mengenai Alvaro, mau bagaimana pun sekarang tapi aku tetap pernah memiliki banyak kenangan indah dengan Alvaro dan sulit untuk aku melupakan semuanya dengan cepat.
__ADS_1