Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Menyedihkan


__ADS_3

Ke esokan paginya aku sudah memulihkan pikiranku dan bersiap untuk pergi ke kampus dimana ini adalah hari pertama aku mengikuti kuliah secara formal dan akan mulai belajar di kampus secara efektif.


Aku sudah membawa semua buku mata kuliah yang aku perlukan dan aku pergi ke meja makan untuk sarapan bersama ibuku, bahkan di hari ini ibu mengajakku untuk berangkat bersama, tapi ada yang berbeda dari ibuku dia membawa sebuah bekal di dalam box makanan, aku pikir itu untuk dirinya maka siang di kantor sehingga aku tidak menanyakannya dan terus fokus dengan makanan yang ada di hadapanku.


Sampai ketika dia mengantarku ke kampus dan menurunkan aku tepat di depan gerbang kampus ibu memberikan kotak bekal tersebut kepadaku.


"Talita...tunggu, ambil ini" ucap ibuku sambil tersenyum lebar.


Aku merasa aneh namun tersentuh karena ternyata bekal makanan itu ibuku buat untukku aku tersenyum kepadanya dan mengucapkan terimakasih dengan senang tapi ternyata dugaanku salah besar karena bekal tersebut rupanya bukan untukku.


"Aaahh....ibu kau menyiapkan ini untukku, terimakasih banyak ibu, kamu perhatian sekali padaku" ucapku sudah merasa senang lebih dulu,


"Ehh..ada apa denganmu bekal ini bukan untukmu, berikan itu pada Fasya dia pasti tidak sempat sarapan di rumahnya" ucap ibu membuat hatiku hancur saat itu juga.


Aku sudah melayang dan sangat senang karena berpikir itu dia berikan untukku namun dalam seketika hatiku di pecahkan dan dicabik-cabik di depan mataku sendiri.


"Ibu ...kau ini apa-apaan sih, yang anakmu itu aku atau Fasya? Kenapa kau memberikan makanan untuknya dan menyiapkan dia bekal seperti ini?" Ucapku sangat kesal,


"Aishh...kau kan sudah sarapan di rumah, sudah cepat turun dari mobil, ibu akan kesiangan karenamu. Dan jangan lupa berikan itu selagi hangat!" Teriak ibuku begitu memperhatikan pembawa sial itu.


Aku tidak mendengarkannya dan langsung saja masuk ke dalam kampus tanpa berpamitan lagi kepada ibuku karena terlanjur sangat kesal oleh dirinya yang bersikap baik kepada Fasya padahal dia sudah membully dan mempermalukan putrinya sendiri di hadapan banyak orang.


"Aaarghhh....kenapa dia sangat menggangguku, dasar manusia pengganggu, brandal sialan aarghh aku ingin menghajarnya!" Gerutuku sangat kesal.


Saat aku tengah menggerutu kesal sambil berdiri dan memegangi bekal makanan di tanganku tiba-tiba saja dari belakang ada yang menarik beberapa helai rambutku hingga aku meringis kesakitan merasakannya yang membuat kepalaku melihat ke atas.


"AA...a...aaahhh..." Ucapku merasakan rasa sakitnya.


Saat ku lihat rupanya itu si Fasya pembawa sial, aku tidak ingin membuat keributan di pagi hari dengan orang seperti dia yang selalu ingin menang sendiri, sehingga aku memutuskan untuk langsung memberikan bekal makanan itu kepadanya saat itu juga.


"Ckk.....dasar sialan, beraninya kau menarik rambutku, ini ambil sarapannya dan makan selagi hangat! Ucapku sambil memberikan kotak bekal makanan itu kepadanya dengan kasar.


Dia masih belum mengambilnya juga dan itu semakin membuatku jengkel karena dia malah menatapku linglung tidak jelas.

__ADS_1


"Heh, apa kau tuli, ini cepat ambilah dan pergi menjauh dariku aku benci melihat wajahmu yang menyebalkan itu!" Tambahku sambil menyerahkan box bekal makanan itu dengan paksa.


Setelah dia memeganginya dengan benar, aku langsung pergi meninggalkan dia dengan cepat untuk menghindari pertengkaran dengannya lagi.


Hingga sampai di ruangan kelas aku menjadi kelelahan dengan nafas ngos-ngosan dan mencari bangku paling belakang untuk bersantai sejenak sebelum mata pelajaran pagi ini dimulai.


Ku simpan tas ku di atas meja dan menjadikannya sebagai bantalan untuk menyanggah kepalaku, dan aku mulai menutup mataku perlahan karena rasa kantuk sudah melanda, tapi baru saja aku ingin terlelap si Fasya itu datang menggangguku lagi dengan menyentuh pipiku dengan satu jarinya.


"Hey....hey...bangun!" Ucapnya membuatku kehilangan mood untuk tidur.


"Aaaartkkk...kau mau apa lagi sih? Apa aku tidak bisa merasakan ketenangan barang sejenak saja hah?" Bentakku mengamuk padanya.


Aku sangat kesal dan emosi dia selalu menggangguku tanpa henti dan tidak memberikan aku waktu untuk sendiri atau menjauh darinya, kali ini dia menatapku dengan tatapan datar dan tajam lalu dia menaruh box bekal makanan itu di atas mejaku.


"Ini, ambil kembali pemberianmu aku tidak Sudi menerima makanan dari orang yang membenciku" ucapnya lalu langsung kembali berjalan ke depan dan berdiri di depan layaknya seorang dosen.


"CK....jika tidak mau bilang saja, aku tidak keberatan memakannya sendirian nanti, dasar tidak tahu terimakasih" gerutuku dan langsung memasukkan box makanan itu ke dalam tasku.


Aku tidak perduli sama sekali jika dia tidak mau menerima makanan dari ibuku, aku bisa memakannya nanti atau mengatakan pada ibuku jika dia menolak makanannya, meski aku tahu ibuku mungkin akan sedih, karena dia terlihat begitu senang dan antusias saat menyiapkan bekal makanan untuk pria sialan itu.


Aku sungguh terganggu dengan hal itu dan berusaha mengusirnya karena aku pikir itu nyamuk yang ada di atas ku.


"Aaaa...ini apaan sih, aku hanya ingin tidur dengan tenang, kenapa banyak sekali pengganggu disini" gerutuku masih setengah sadar.


Aku perlahan membuka mataku karena hal itu terus saja mengganggu aku, sampai ketika mataku sudah terbuka dengan baik dan kesadaranku sudah semakin terkumpul, aku melihat mahasiswa sudah berjajar memenuhi ruangan itu dan mereka menatapku dengan tatapan yang aneh, ada juga beberapa dari mereka saling berbisik satu sama lain.


"E..ehh...ada apa ini, kenapa kalian menatapku, dosennya ada di depan hey!" Ucapku membentak mereka sampai mereka semua menunjuk ke depan.


Aku melihat ke depan dan ternyata Fasya berdiri dengan tegak menatapku sangat tajam dengan kedua lengannya yang dia lipatkan di depan dadanya. Aku kaget bahkan hampir terjatuh dari kursi tempatku duduk.


"Ah...Astaga. a..apa yang dia lakukan disana?" Ucapku dengan heran sambil memegangi dadaku.


Suasana terasa menjadi lebih tegang ketika Fasya berjalan menghampiriku dan dia berdiri sangat dekat di hadapanku, aku menatapnya dengan menaikkan kedua alis dengan heran.

__ADS_1


"A..ada apa? Ke..kenapa kau kemari?" Tanyaku semakin gugup.


Dia semakin mendekatkan badannya kepadanya hingga membuat aku semakin panik dan ternyata dia hanya mengambil sepotong kapur di belakangku dan beberapa yang tersangkut di pakaian juga rambutku.


"Ini....kau tahu siapa yang menimpuki kamu tadi, itu adalah aku. Asisten dosen hari ini dan kau tidak memperhatikan pembelajaran ku, kau dihukum!" Ucapnya terdengar begitu tegas dan mendominasi.


Aku kesulitan menelan salivaku dan dia langsung menyuruhku untuk keluar dari kelasnya.


"Keluar dari kelasku dan berdiri di depan sana dengan kaki satu terangkat dan tangan di pinggang, cepat!" Bentaknya mengusirku.


Aku hanya bisa cemberut dengan kesal menerima semua ini lalu segera bangkit dan mengambil tasku, aku berjalan meninggalkan ruangan itu dan berdiri di luar tepat di samping pintu lalu mulai mengangkat satu kakiku dan menaruh kedua tangan di pinggang.


Dia melanjutkan pembelajarannya dan aku harus menderita hukuman darinya, kakiku sudah sangat pegal dan aku tidak kuat lagi menahannya, dia seperti sengaja membuat kelasnya lebih lama bahkan saat aku lihat jam di tanganku ini benar-benar sudah lewat beberapa menit tapi dia masih mengajak mahasiswa baru mengobrol dan sedikit bercanda ria bersamanya.


Sedangkan aku harus menderita dan menahan rasa pegal di kakiku dalam waktu yang cukup lama, aku tidak bisa menahannya lagi dan kakiku langsung turun ke bawah begitu saja.


Ku pikir dia tidak akan terlalu memperhatikan aku karena sibuk bercanda dengan para mahasiswi centil di dalam sana, tapi ternyata dia masih memperhatikan aku dan membentakku untuk tetap berdiri dalam keadaan semula.


"Heh, angkat kakimu dengan benar, siapa yang mengijinkan kau berhenti!" Ucapnya sinis dari dalam.


"Aishh ....iya iya, ini aku angkat" balasku dengan kesal.


Aku kembali mengangkat sebelah kakiku dan menaruh kedua tanganku di pinggang lagi, perutku sudah bersuara dan itu cukup kencang, sampai akhirnya dia membubarkan kelasnya itu dan aku langsung terduduk di lantai begitu saja.


Tidak perduli apa laintai itu kotor dan banyak mahasiswa yang berjalan melewatiku keluar dari kelas itu berbondong-bondong, aku hanya ingin segera duduk dan memijat kakiku yang terasa begitu pegal dan sakit.


"Aaahhh.... akhirnya kelas sialan ini bubar juga, huaaa....ini sangat pegal sekali" gerutuku sambil memijat berisik sendiri dengan pelan.


Perutku kembali bersuara cukup keras dan itu terdengar oleh orang-orang yang lewat di sekitar sana sehingga mereka menertawakan aku.


"Kreookkk....kreokkk.....aishh...kenapa perut ini bersuara disaat yang tidak tepat" gerutuku menahan rasa malu,


"Ahaha....lihat dia mahasiswa baru paling menyedihkan di angkatan saat ini, kasihan yah" ucap mereka menertawakan aku.

__ADS_1


Tidak perduli lagi meski mereka mengolok-olok aku, lagi pula sejak awal masuk ke universitas itu, aku juga sudah dipermalukan oleh Fasya, sehingga wajahku sudah tersebar dan dikenali sebagai mahasiswi paling menyedihkan tahu ini, gelar itu sangat menggangguku tapi aku juga tidak bisa menghilangkannya.


Sehingga hanya bisa pasrah melewati penderitaan ini, belajarpun tidak semangat seperti saat aku di SMA, karena salah jurus di tambah lingkungan yang tidak mendukung, jika tahu aku akan mendapatkan kesialan seperti ini, mungkin sejak awal aku tidak akan senang bisa masuk ke universitas luar biasa ini.


__ADS_2