
Sepulang sekolah hatiku terus saja merasa begitu berbunga bunga dan melayang rasanya seperti mimpi aku bisa begitu dekat dengan seorang kak Bara meskipun saat dihadapannya aku berusaha tenang dan so cuek tapi aku sungguh mengaguminya, saat berjalan menuju parkiran bersama Audy aku terus mengembangkan senyum yang panjang di wajahku, sedangkan Audy menatap memperhatikanku dengan kedua alis yang dikerutkan.
"Talita apa kamu sakit yah?" tanya Audy sambil menempelkan tangannya di dahiku,
"Ishh... Audy kamu ini, aku baik baik saja, hehe kamu tau tidak tadi aku makan bareng kak Bara lagi loh" ucapku menceritakannya,
"HAH?, MAKAN SAMA KAK BARA?" ucap Audy berteriak dan aku langsung menutup mulutnya,
"Audy bisa tidak kamu bicara yang pelan sedikit" ucapku sedikit kesal sambil melepaskan tanganku yang membungkam mulutnya,
"Habisnya sejak kapan kamu kesenangan begini hanya karena makan dengan kak Bara yang sombong itu, lagi pula bukannya kamu tidak menyukai dia, ingat yah dia itu pernah membullymu" ucap Audy dengan heran dan mengingatkanku,
"Iya aku tau tapi kamu juga tau kan, sejak awal dia selalu menatapku tentu saja aku baper dibuatnya, menurutmu wanita mana yang tidak akan menyukai pria sepertinya" balasku menjelaskan,
"Ucapanmu memang ada benarnya tapi tetap saja aku lebih suka Alvaro di banding kak Bara" jawab Audy sambil menaiki sepedanya.
Aku benar benar heran dan tak habis pikir bagaimana bisa seorang Audy justru malah lebih menyukai Haiden Alvaro dibandingkan kak Bara yang lebih lemah lembut serta perhatian, dia juga berwibawa dan sudah jelas dari keluarga yang begitu terpandang, walaupun memang agak sombong sih.
"Ya sudah kalau kamu menyukai Alvaro kamu bersama dia saja biar aku dengan kak Bara bagaimana?" ucapku sambil bergurau,
"Haha... Tidak tidak, aku ini hanya kagum dengan apa yang Alvaro berikan padamu dia selalu menolongmu bukan, dan aku berbicara seperti tadi bukan berarti aku menyukainya aku sudah menyukai pria lain di kelasku dia lebih keren dan gagah daripada mereka berdua" ucap Audy dengan penuh keceriaan.
__ADS_1
Aku hanya menanggapi ucapan Audy dengan tawa, aku rasa Audy juga sedang berbunga bunga sama denganku mungkin di usia kami memang sedang masanya memadu rasa, dan merajut kisah di SMA, rasanya sangat bahagia dan senang, aku pulang ke rumah dengan begitu riang, dan saat aku hendak mandi ponselku berdering ku lihat sebuah pesan masuk dari ibu, aku segera membukanya walau malas.
"Talita bagaimana kabarmu, ibu baru tau mengenai kau yang datang menemui ayah belakangan ini, apa kau baik baik saja sekarang, ibu sangat mengkhawatirkanku" isi pesan pendek dari ibu.
Jujur saja aku kesal mendapatkan isi pesan seperti itu dari ibu, pasalnya ini sudah sangat terlambat untuk mengkhatirkanku, sudah berhari hari sejak kejadian itu dan ibu baru mengabariku sekarang, aku sudah tidak perduli lagi dengan mereka berdua.
Aku mengabaikan pesan itu dan tidak membalasnya sampai saat malam ponselku berdering beberapa kali, dan lagi lagi itu panggilan telpon dari ibu, aku terpaksa menjawabnya karena ibu menelponku berkali kali.
"Iya ada apa Bu, kalau tidak penting aku akan menutup telponnya" ucapku tanpa basa basi,
"Talita bisakah kamu besok sepulang sekolah ke apartemen ibu, ibu ingin mengenalkan mu pada ayah sambungmu dan banyak hal juga yang ingin ibu bicarakan padamu" ucap ibu memohon.
Aku terdiam menahan emosi dan mengepalkan lenganku kuat, emosiku begitu besar dan menyelimuti jiwaku begitu saja, namun aku terus berusaha sabar dan menahan semua emosi itu ku tarik nafas dalam dalam, lalu mulai membalas ucapan ibu.
Aku kesal dan marah pada diriku sendiri kenapa aku sebagai anak gagal mempertahankan rumah tangga kedua orang tuaku, tangisanku sudah tidak bisa aku bendung lagi aku pergi keluar dan berlari menuju tepian sungai di sana ku berbaring dan melemparkan batu batu kecil ke sungai sekuat tenagaku.
"ARKHHHHH...KENAPA?, KENAPA MEREKA HARUS BEGINI!!" teriakku disela tangisan.
Puas melepaskan amarah dengan berteriak dan melemparkan batu ke sungai aku mulai terduduk lemas di atas rerumput liar, berbaring di sana dan menatap langit yang tengah mendung, seakan langit saja ikut sedih dengan apa yang aku rasakan, aku berusaha menguatkan diri sendiri dan mencoba untuk kuat atas diriku sendiri namun rasanya tetap begitu sulit, aku merasa takut dan kesepian semenjak perceraian mereka rasanya aku sudah tidak bisa mendapatkan perhatian dari keduanya, mereka hanya sibuk dengan pasangannya masing masing dan hanya memberiku sejumlah uang agar bisa bertahan hidup di desa seorang diri.
Bahkan aku sempat berpikir seandainya nenek masih ada mungkin dia mau menampungku dan memberikan kasih sayangnya padaku, aku sungguh menyedihkan, tadi saja disekolah sangat bahagia seakan terbang karena kak Bara sekarang setelah pulang aku bak dilemparkan ke dasar jurang, sakit sekali mendapatkan pesan dari ibu yang membuatku entah harus bahagia karena dia mengkhawatirkanku atau aku marah dan sedih karena ibu ingin mengenalkan ku dengan suami barunya.
__ADS_1
Aku malas untuk beranjak dari sana berbaring di tepi sungai sambil menatap langit dan bisa menumpahkan air mata sepuasnya membuat sedikit beban di hatiku hilang dan ringan, aku sangat enggan untuk pulang kembali ke rumah, lagi pula untukku tidak ada bedanya rumah dan di sini, sama sama sepi.
Siang hampir berlalu senja mulai terlihat dan matahari mulai tenggelam aku baru bangkit dan berjalan lesu menuju rumah, segera aku membersihkan badan dan langsung terlelap tidur begitu saja, aku harap dengan tidur bisa melupakan semua masalah dan memulai kegiatan lagi di pagi hari dengan penuh keceriaan seperti Audy.
****
Namun nyatanya sampai pagi datang menghampiri dan aku bangun dari tidur tetap saja tak ada semangat dalam diriku untuk menjalani hari, aku selalu saja merasa malas dan lesu tapi mau bagaimanapun aku tetap menjalaninya dengan tabah, hari ini entah ada apa Audy tidak kunjung datang ke rumahku sehingga aku pergi ke sekolah dengan berjalan kaki seorang diri sampai saat di pinggir jalan tak sengaja aku berpapasan dengan ibunya Audy, ternyata dia hendak menitipkan surat padaku karena Audy sakit, aku segera mengambilnya dan berharap Audy bisa lekas sembuh.
Sesampainya di sekolah aku langsung pergi mengantarkan surat sakit milik Audy pada wali kelasnya barulah setelah itu aku langsung menuju kelasku, di sana aku lihat Alvaro sudah duduk di samping bangku ku, aku merasa heran karena tidak biasanya dia datang ke sekolah sepagi ini.
"Tumben sekali kamu datang sepagi ini" ucapku sambil duduk dan membenahi tas sekolahku,
"Terserah aku lah, itu bukan urusanmu" jawabnya dengan jutek,
"Iya aku juga tidak perduli, tapi aku mohon yah, Alvaro tolonglah kamu harus mau membantu tim basket sekolah kita, itu juga demi kemenangan sekolah ini loh" ucapku memanfaatkan kesempatan,
"Sekali aku bilang tidak ya tidak, apa kau tidak paham juga!!" bentak Alvaro dengan wajah yang menyeramkan,
"Biasa saja dong, jangan membentukku sampai segitunya, kau ini benar benar menyeramkan" ucapku menatapnya ngeri.
Haiden Alvaro hanya merotasikan matanya dengan sinis, aku bahkan merasa kesulitan untuk menelan salivaku sendiri karena mendapatkan bentakkan seperti itu dari Alvaro.
__ADS_1
Bagaimana lagi aku harus membujuknya, dia sungguh sulit untuk diajak bicara apalagi membujuknya melakukan hal yang dia tidak mau, ku tatap wajah Alvaro yang begitu datar tanpa ekspresi sepanjang waktu, selama ini aku duduk bersampingan dalam satu meja bersamanya tidak ada satu momenpun tanpa pertengkaran, tapi aku berpikir bagaimana bisa kak Bara dan teman temannya itu bisa mengira aku dekat dengan Alvaro, padahal sudah sangat jelas mereka juga sering melihatku bertengkar dengannya, walaupun Alvaro juga kadang kadang baik dan membantuku tapi dia membantu seperti orang yang tidak ikhlas, selalu saja sambil memarahiku kalau tidak menghinaku dengan sebutan gadis idiot.