
Entah kenapa saat itu aku tidak bisa berhenti menangis dan aku mempermalukan diriku sendiri di hadapan orang yang paling aku benci di dunia ini, dia juga mengantarkanku pulang dan menemui ibuku yang saat itu kebetulan tengah berada di rumah.
"Oh ..ya ampun Talita ada apa denganmu sayang, kenapa kau pulang kacau seperti ini?" Tanya ibuku dengan memegangi kedua pundakku dan mengusap lembut kepalaku.
Tidak lama Fasya muncul dari belakang dan dia langsung menyapa ibuku, begitu pun dengan ibu yang terlihat antusias ketika melihat Fasya dia juga terlihat begitu menyukai Fasya sampai dia melupakan aku putrinya sendiri yang dalam keadaan kacau seperti ini.
"Hallo Tante" ucap Fasya menyapanya dengan senyum yang tergambar begitu jelas di wajahnya tersebut,
"Ohh ...Fasya itu kamu, ayo....ayo masuk ke dalam astaga, Tate sudah lama sekali tidak melihatmu, waahh....kamu sudah sebesar ini sekarang" ucap ibuku yang mengabaikan aku begitu saja.
Dia membawa Fasya masuk ke dalam rumah sedangkan dia meninggalkan aku putrinya sendiri yang kotor di depan pintu begitu saja, aku sangat kesal dan langsung merengek kepada ibuku saat itu juga.
"Ibu....kau ini apa-apaan sih, huaaa...kenapa kau meninggalkan aku, padahal aku kan putrimu ibu" rengekku kesal sambil menghentakkan kakiku ke lantai beberapa kali,
"Aishh, kau itu sudah besar cepat masuk dan bersihkan dirimu" ucap ibuku menatapku tajam.
Dia benar-benar sudah melupakan aku sesaat ketika Fasya muncul di hadapannya dan dia memperlakukan Fasya begitu istimewa, dia langsung sibuk menyajikan minuman dan makanan kepada Fasya sedangkan aku berjalan dengan pelan dan kesulitan karena kakiku yang terkilir sebelumnya, Fasya juga yang menggendong aku masuk ke dalam mobil juga menggendong sampai tepat berada di depan pintu, dan sekarang aku harus berjalan sendiri.
Tentu saja itu membuatku sedikit kesulitan, aku berjalan pelan dan memegangi tembok menahan rasa sakit setiap kali menahan kakiku untuk berjalan.
"AA..aaawww...ini sakit sekali, aaduhh....bagaimana aku bisa sampai ke kamar dengan cepat kalau begini, aaarkhhh....muak sekali melihatnya duduk santai di sofa sedangkan aku kesusahan berjalan seperti ini" gerutuku kesal dan melemparkan tatapan penuh kebencian kepadanya.
Aku berjalan melewatinya dan malah terjatuh karena terpeleset tepat di hadapan dirinya, yang lebih memalukan lagi adalah aku jatuh tengkurap di hadapannya dan aku menangis merasakan kakiku sangat ngilu juga dadaku yang terasa sedikit sesak karena terjatuh cukup keras.
"E..eh ..aaaa...brukk" suaraku yang jatuh ke lantai,
__ADS_1
"Heu....heuu.....haduhhh...ini sakit sekali, hiks... Hiks.... Kakiku dan dadaku aduh" ringis ku kesakitan.
Fasya justru malah menertawakan aku bukannya segera membantuku, dia terlihat begitu puas melihatku terjatuh, bahkan dia malah memotretku tanpa izin.
"Cekrek....cekrek....ahahaha...kau konyol sekali, hey lihatlah kemari aku akan memotret wajah konyol mu itu" ucap Fasya sambil tertawa terbahak-bahak.
"IBU...lihat ini, dia menertawakan aku dan memotretku terus.....ibu apa kau mendengarkan dia membully aku di rumahku sendiri" teriakku memberitahu ibuku.
Aku pikir ibu bisa membantu aku dan segera memarahi dia lalu membencinya, namun kenyataannya sangat jauh berbeda, ibu justru tetap membela pria sialan itu dan dia tetap fokus di dapur entah tengah melakukan apa sampai tidak bisa menghampiriku untuk membantuku berdiri.
"Aishh....Talita bersikaplah yang baik pada Fasya, dia sudah menolongmu jangan jadi tidak tahu diri seperti itu, kau jatuh karena dirimu sendiri jangan menyalahkan orang lain!" Balas ibuku yang membuatku semakin jengkel.
"Ohh....tuhan kenapa ibu bahkan membelanya disaat dia jelas-jelas melakukan kesalahan" gerutuku emosi.
Aku tidak perduli lagi dan berusaha bangkit sendiri namun sialnya aku tidak bisa dan merasakan kakiku sulit untuk di gerakan, telapak tanganku juga lecet karena menahan tubuhku saat jatuh beberapa kali, tapi aku tetap tidak menyerah dan mencoba berdiri berkali kali meski hasilnya tetap sama, aku jatuh dan kembali jatuh lagi.
Aku tidak bisa melakukan apapun lagi selain meratapi nasibku.
Aku sudah bersiap untuk merangkak namun tiba-tiba saja Fasya mengulurkan tangannya di hadapanku.
"Eh..... Mau apa kau?" Tanyaku dengan heran.
Aku tidak mengira sedikitpun bahwa uluran tangannya tersebut untuk membantuku sehingga aku kebingungan disaat dia tiba-tiba mengulurkan tangannya kepadaku, bahkan aku malah mengira bahwa dia akan menyeretku dengan kasar dari sana sampai ke kamar mandi.
Karena membayangkan hal itu, aku juga jadi tidak ingin menerima uluran tangannya dan justru aku berteriak sangat kencang karena mendapatkan pandangan yang sangat buruk jika aku sampai menerima uluran tangannya tersebut.
__ADS_1
"Aaarrtkkk....tidak...itu tidak akan terjadi, menjauh kau dari hadapanku!" Bentakku mengusir dia dengan keras.
Fasya tetap keras kepala dan dia tetap berdiri tegak di hadapan aku, dia kembali mengulurkan tangannya untuk kedua kalinya.
"Ayo raih tanganku, biar aku membantumu bangkit, kau juga tidak mungkin terus berada posisi seperti itu di sana bukan?" Balasnya dengan santai.
"Apa kau yakin akan membantuku?, Apa kau tidak akan menyeretku atau membentakku dan menjatuhkan aku secara tiba-tiba bukan?" Tanya dia yang tiada habisnya.
"Tentu saja, ayo cepat raih tanganku" jawabnya tanpa pikir panjang.
Akhirnya aku menghentikan dia dengan panggilan yang masuk ke dalam ponselku, padahal saat aku lihat ternyata itu bukan panggilan telpon sama sekali, tetapi justru itu adalah notifikasi SMS operator kartuku saja makanya aku langsung mengabaikan itu.
Aku langsung menyimpan ponselku lagi dan Fasya langsung memapah aku sampai ke dalam kamar dan dia mendudukkan aku di samping ranjang dengan pelan.
Itu adalah perlakuannya yang terbaik selama ini, aku juga bisa merasakan bahwa dia begitu tulus melakukan kebaikan ini kepadaku, dia juga memeriksa kakiku dan mengatakan kalimat yang sama persis seperti kalimat yang pernah dikatakan oleh Alvaro sebelumnya.
"Dasar bodoh, bagaimana bisa kau membuat kakiku terkilir seperti ini?" Ucapnya membuatku langsung menatapnya dengan lekat.
Aku terperangah dan kaget ketika mendengar kalimat itu lagi, dia adalah orang kedua setelah Alvaro yang mengucapkannya dan aku merasa sangat merindukan Alvaro ketika namanya di sebut oleh hatiku dan juga orang lain yang menanyakan keberadaannya kepada aku.
Aku menatap lekat dan termenung memandangi wajah Fasya saat itu dan entah kenapa aku membayangkan dia itu Alvaro bukan Fasya yang ada di hadapan diriku, sehingga tanpa sadar bibirku mengucapkan namanya dengan sangat jelas di hadapan Fasya yang mau menolongku saat itu.
"ALVARO?" ucapku tiba-tiba mengingatnya.
"Heh, lihat baik-baik aku ini Fasya, aishh bagaimana bisa kau keliru mengenaliku sebagai pria lain, sangat menjengkelkan!" Ucap Fasya dan sedikit membentak nya dengan keras.
__ADS_1
Ketika mendengar bentakkan dari Fasya aku mulai tersadar bahwa itu memang bukan cinta pertamamu, dia sama sekali tidak memiliki kesabaran dalam dirinya dan itu membuatku sangat muak.