Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Bertemu Alvaro lagi


__ADS_3

Akhirnya dia melepaskanku dan aku bisa kembali bernafas dengan lega meski harus menarik nafas dengan dalam dan membuangnya perlahan lalu terus mengulanginya hingga beberapa kali untuk menormalkan nafasku.


"Hah...hah...hahm.. aishh sialan, apa kau mau membunuhku yah!" Bentakku kepadanya,


"Ma...maafkan aku Talita aku pikir aku tidak memelukmu seerat itu, maafkan aku tidak sengaja maafkan aku" ucapnya terus meminta maaf padaku.


"Aah...sudahlah, pergi kau dariku dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi!" Ucapku dengan tegas.


Aku menghempaskan tangan kak Bara yang menahan tanganku dengan kuat sebelumnya lalu aku segera pergi dari sana, awalnya aku pikir kak Bara tidak akan mengejarku namun ketika aku duduk di halte bus rupanya dia mengejarku.


"Talita tunggu tolong jangan pergi, aku kan sudah minta maaf kepadaku, harus seperti apa lagi aku meminta maaf padamu agar kau tidak marah denganku dan mau memaafkan aku lagi" ucap kak Bara sambil memegangi tanganku.


Aku sangat kesal karena dia selalu bisa memegangi tanganku dan aku kesulitan untuk menghempaskan tangannya dia selalu memegangi tanganku dengan sangat kuat dan aku kesulitan untuk memberontak kepadanya, bus ku sudah lewat dan dia tetap tidak membiarkan aku pergi.


"Lepas.... Kak Bara lepaskan aku!" Bentak ku kepadanya sambil berusaha melepaskan tanganku yang dia pegang dengan erat,


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu apapun jadinya" ucap kak Bara yang masih keras kepala.


Aku berusaha melepaskan diri darinya tapi dia terus menarikku entah akan membawa aku kemana saat itu namun tiba-tiba saja Alvaro hadir di sana dan dia menendang perut kak Bara dengan kuat hingga dia itu jatuh tersungkur ke tanah.


"Bukk.... Aaahhh" suara kak Bara yang jatuh tersungkur dengan cepat.


Aku kaget dan menutupi mulut dengan kedua tanganku saking kagetnya melihat hal itu, tapi Alvaro dengan cepat menarik tanganku dan menyuruh aku untuk naik ke atas motornya.


"Cepat naik!" Ucap Alvaro kepadaku,


"A..aku" balasku gugup dan bingung.


Aku merasa kasihan pada kak Bara karena bagaimana pun aku dan dia pernah bersama dan dia juga tidak sejahat itu kepadaku namun Alvaro membentakku dengan keras hingga aku tidak bisa menolaknya dan segera naik ke atas motornya itu.


"Naik atau dia akan memaksamu lagi!" Bentak Alvaro kepadaku dengan tatapan matanya yang tajam,


"Iya...iya... Aku akan naik sekarang" balasku sambil segera naik dan berpegangan dengan erat kepadanya.


Alvaro langsung melajukan kendaraannya dengan sangat cepat meninggalkan tempat itu meski kak Bara terdengar berteriak keras memanggil namaku dan meminta Alvaro menghentikan motornya.


Aku juga tidak perduli lagi aku hanya bisa memeluk Alvaro dengan sangat erat karena takut jatuh sebab Alvaro mengemudikan motornya dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya, hingga dia tiba-tiba saja membawa aku ke sebuah rumah yang sangat mewah dan aku tidak mengenali rumah siapa itu.


"Alvaro kau membawaku kemana, dimana ini dan rumah siapa itu?" Tanyaku kepadanya dengan heran,


"Ini rumahku, ayo masuk aku akan mengenalkan mu pada ayah" balas Alvaro kepadaku.


Aku tersentak dan langsung membelalakkan mata dengan lebar, aku sama sekali tidak menduga dia akan membawa aku pulang ke kediaman utamanya dan mengenalkan aku kepada ayahnya dalam keadaan seperti ini dan secara tiba-tiba.


"Alvaro apa kau gila, bagaimana aku bisa menemui ayahmu dalam keadaan seperti ini, aku tidak mau" ucapku menahan dia yang hendak pergi,


"Talita ayolah bagaimana pun penampilanmu kau tetap cantik bagiku" balas dia yang membuat aku sedikit tersipu,


"Ta...ta.. tapi tetap saja itu mungkin menurutmu belum tentu di mata ayahmu dia akan berpendapat yang sama tentangku" balasku dengan sedikit gugup.


Tidak dapat aku pungkiri, hatiku memang masih milik Alvaro aku menyukai dia sejak awal dan menyayangi dia dalam waktu yang lama, bahkan di saat dia pergi dan menghilang tanpa kabar aku tetap mencarinya dan terus berusaha untuk menemui dia, meski aku telah dia sakiti aku bodoh karena tetap bisa tersipu ketika dia mengatakan hal-hal manis kepadaku.


Alvaro menggenggam tanganku dan dia meyakinkan aku untuk membawaku masuk ke dalam, perkataan darinya membuat aku sedikit luluh namun untungnya aku mengingat kembali tentang wanita yang bernama Veli aku tahu wanita itu sudah bertunangan dengan Alvaro meski aku tidak pernah melihat wajahnya tapi aku sudah cukup mendengar banyak dari kak Veri.

__ADS_1


"Talita percayalah padaku aku ingin ayah mengenalimu, aku ingin dia tahu bahwa aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku hanya ingin membatalkan pernikahanku dengan Veli aku ingin bersamamu Talita!" Ucap Alvaro dengan wajahnya yang sedikit berkaca-kaca.


Aku menahan salivaku susah payah ketika melihat kondisi Alvaro seperti ini di hadapanku dan ini adalah pertama kalinya aku melihat dia memohon dan membujuk aku sampai seperti ini, aku memang tidak tega melihat dia membujukku seperti itu namun di saat aku hendak menjawabnya tiba-tiba saja seorang wanita dan seorang pria tua yang memakai tongkat di tangannya datang menghampiriku dan memisahkan aku dengan Alvaro.


"Tidak.... Aku tidak akan setuju!" Bentak seorang wanita yang berjalan ke arah kami.


Wanita itu langsung mendorongku cukup kuat hingga aku hampir jatuh,


"Menjauh kau dari tunanganku!" Ucap wanita itu ketika mendorongku,


"Ahhhhh....." Ringis ku yang sedikit kaget dan terpental ke belakang,


"Ayah lihat kelakuannya, dia menggoda calon suamiku, aku tidak ingin wanita murahan ini ada di rumah kita, aku ingin dia pergi dari sini" ucap wanita itu sambil menggandeng tangan Alvaro.


Aku bingung melihat semua adegan ini, dan aku menatap memperhatikan seorang pria tua yang ada di sana tidak jauh dari tempatku berdiri lalu dia mulai menyuruh pelayannya untuk menyeret aku keluar dari kediamannya.


"Pelayan seret dia keluar!" Ucap pria itu sudah memutuskan,


"Tidak! Aku tidak akan mengijinkan siapapun mencoba mendekati Talita apalagi melakukan hal kasar kepadanya" ucap Alvaro yang langsung menghadang,


"Alvaro menyingkir darinya atau kau yang tidak akan aku anggap sebagai putraku lagi!" Bentak pria tua itu mengancam.


Aku tidak bisa melihat seorang ayah bertengkar hebat seperti itu dengan putranya sendiri dan aku pun memang pada akhirnya harus mengalah serta merelakan Alvaro untuk wanita lain meski itu sangat berat untukku.


"Alvaro berhenti membelaku, tidak akan ada gunanya kau membela aku, dia ayahmu dia bisa melakukan apa saja kepadamu aku akan pergi dari sini dan kau sebaiknya jangan coba-coba muncul di hadapanku lagi, aku tidak ingin mendapatkan kesulitan atau berhubungan dengan orang-orang kaya seperti ini" ucapku kepadanya lalu aku segera pergi dari sana.


Bahkan ketika Alvaro berteriak memanggilku aku tidak mendengarkannya, aku terus berlari sambil menghapus air mata yang terus menerobos keluar dari pelupuk mataku tanpa izin, meski aku sendiri sangat sakit dan tersiksa menahan rasa ini, tapi aku tidak bisa tetap berdiri disana dan menjadi diri bagi mereka semua.


Aku terus berlari sambil menangis tersedu-sedu, bahkan dengan terpaksa aku harus pulang ke rumah disaat sudah larut seperti ini dan aku tahu ibu pasti sudah tidur di jam segini, aku masuk menyelinap ke dalam rumah dengan mengendap-endap sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam kamar tanpa sepengetahuan ibuku.


Namun disaat aku tengah menonton tv tidak sengaja aku melihat siaran langsung dari berita sekilas, dimana disana menyiarkan mengenai pernikahan seorang konglomerat ternama dan aku terpukau melihat pernikahan tersebut yang sangat luar biasa mewah dan megah.


"Waahhh.... Pernikahannya megah sekali, ini terlalu hebat untuk sebuah pernikahan aaahhh aku juga ingin bisa menikah seperti itu suatu saat nanti" ucapku bicara sendiri.


Namun disaat yang sama tiba-tiba mempelai wanitanya keluar dari sebuah mobil yang tidak kalah mewah, wanita itu adalah Veli dan pengantin prianya adalah Alvaro, makanan yang tadi aku pegang di tangan langsung jatuh seketika.


Rasanya sangat sakit sekali melihat semua itu dan aku tidak bisa menerimanya dengan mudah aku langsung tertunduk dengan lesu hingga tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar yang sangat keras juga teriakkan Audy.


"Tok....tok...tok....Talita buka pintunya....Talita....hey..... Cepat buka pintunya!" Teriak Audy dari luar yang sangat keras.


Aku bangkit dan segera membukakan pintu segera karena ibu yang menyuruhku.


"Talita apa yang kau lakukan, cepat buka pintunya sepertinya dia terburu-buru" ucap ibuku,


"Iya bu, ini baru akan aku buka kok" balasku sambil berjalan lemas dan santai mendekati pintu.


Aku segera membukanya dan tiba-tiba saja Audy langsung menarik tanganku dan membawa aku keluar dengan cepat, bahkan dia meminta izin pada ibuku dengan berteriak.


"Tante aku bawa Talita denganku dulu, ini sangat darurat!" Teriak Audy sambil menarik tanganku dan membawa aku berlari menuruni tangga dengan cepat,


"Ehh....eh .. Audy ada apa ini aduh pelan-pelan Audy" ucapku yang sulit sekali menyetarakan langkah kaki denganya.


"Talita kita harus cepat sebelum terlambat, nanti kau akan menyesal selamanya jika terlambat hari ini" ucap Audy sambil melemparkan helmnya kepadaku,

__ADS_1


"Maksudmu apa, aku terlambat untuk apa Audy?" Ujarku bertanya-tanya,


"Sudah cepat naik kau akan tahu saat melihatnya langsung nanti, ayo cepat Talita!" Ucap Audy terus mendesakku.


Aku terpaksa harus naik ke atas motornya dan dia melajukan motornya itu dengan secepat kilat, aku bahkan hampir tidak bisa berbicara dengannya yang tadinya berniat untuk menanyakan masalah dia membawaku tiba-tiba seperti itu.


Hingga kita sampai di sebuah gedung pernikahan yang di dekorasi sangat indah bak sebuah istana dalam dongeng dan setelah aku memperhatikannya itu adalah gedung pernikahan yang baru saja aku lihat di televisi sebelumya.


Disana juga banyak sekali para wartawan yang bertebaran menyiarkan tempat itu dan Audy langsung menarik tanganku dengan kuat dia membawa aku masuk ke dalam gedung itu secara tiba-tiba dan membawa aku ke dalam sebuah ruangan yang tertutup, lalu dia menyuruh aku untuk berganti pakaian.


"Talita cepat ganti pakaianmu, cepat Talita!" Ucap Audy yang lagi-lagi mendesakku.


"Audy ada apa semua ini, aku harus mengetahui apa yang kamu rencanakan dan akan kamu lakukan kepadaku sebelum aku menuruti semua perintahmu itu, bukankah aku juga berhak tahu?" Tanyaku sedikit meninggikan suara kepadanya.


Audy langsung terdiam dan tiba-tiba saja muncul kak Veri dari pintu masuk dia menghampiriku dan menatap kepada Audy.


"Talita ini adalah jalan yang paling benar, aku akan menghentikan Veli dan membawa dia ke ruangan yang salah, kau harus pergi berjalan di atas altar bersama Alvaro, kalianlah yang akan menikah hari ini, aku sudah merencanakan semuanya dengan Audy" ucap kak Veri kepadaku.


Aku sangat marah dan kesal, tentu saja aku tidak menyetujui hal salah seperti ini, aku langsung menolak mereka dan membentak mereka dengan keras.


"APA? Apa kalian ini sudah gila hah? Ini adalah pernikahan dan sebuah pernikahan adalah sesuatu yang sakral, ini bukan lelucon Audy, bagaimana bisa kau melakukan ini kepada sahabatmu sendiri, aku tidak setuju!" Bentakku hendak pergi dari sana.


Kak Veri dan Audy langsung menghentikan aku mereka menghadang jalanku dan masih mencoba untuk membujukku saat itu.


"Talita bukankah kau menyukai Alvaro? Dan dia juga menyukaimu, kau harus melakukan hal ini, karena hanya inilah satu-satunya jalan agar kau bisa bersama dengan Alvaro kau harus melakukannya Talita atau kau akan kehilangan Alvaro untuk selama-lamanya" ucap Audy sambil menggenggam tanganku dengan erat.


Aku tertunduk berpikir sejenak.


Memikirkan ucapan yang dikatakan oleh Audy kepadaku, apa yang dia katakan baru saja memang benar, ini adalah detik-detik terakhir aku melihat Alvaro, dan aku mungkin tidak pernah bisa memiliki dia lagi bahkan untuk sekedar melihat wajahnya.


"Audy tapi apa hanya ini jalan satu satunya yang harus aku tempuh?" Ujarku kepadanya yang dibalas dengan anggukan oleh Audy,


"Talita tenang saja kau tidak akan benar-benar langsung menikah dengan Alvaro hari ini, kita hanya akan membatalkan pernikahan mereka saja, disaat semua orang melihat yang berdiri di altar adalah kau bukannya Veli, mereka semua pasti akan sangat marah terutama ayahnya Alvaro dan dia pasti akan menghentikan pernikahan ini, Alvaro akan membawamu kabur dia akan melindungimu karena kami sudah bekerja sama, percayalah pada kami Talita" ucap Audy yang terus meyakinkan aku.


Tapi rasanya aku tetap tidak bisa percaya dengan hal ini aku merasa sangat takut dan cemas, bulan tentang diriku tetapi tentang Alvaro dan keluarganya, aku takut jika harus menyinggung keluarga yang kaya raya seperti ini.


Tapi disisi lain aku juga tidak ingin diam saja dan membiarkan Alvaro menjadi milik orang lain tanpa usaha sedikitpun, aku mulai menguatkan hatiku dan meyakinkan diriku sendiri hingga memutuskan untuk menyetujuinya.


"Audy aku akan melakukannya" ucapku sudah memutuskan dengan penuh keyakinan.


Meski mungkin keputusanku saat ini akan menjadi kekacauan di pernikahan hari ini yang di tonton banyak orang namun semua ini juga akan menjadi saksi bahwa aku memperjuangkan orang yang aku cintai hingga akhir, setidaknya jika nanti aku tetap harus kehilangan Alvaro aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri atas kehilangannya karena aku sudah berusaha dan mengerahkan usaha terbaik untuk mempertahankan dia dan memperjuangkan cintaku dengannya.


Aku segera berganti pakaian dan Audy mendandan aku sama persis seperti seorang pengantin wanita dan terlihat mirip dengan Veli dari luar, karena wajahku tertutupi oleh penutup kepala, aku berusaha menguatkan tekadku dan Audy mulai membawaku mendekati altar pernikahan hingga Alvaro muncul di sampingku dan dia menggenggam tanganku.


"Talita aku akan melindungimu" ucap Alvaro kepadaku,


Melihat dia tersenyum seperti itu kepadaku, membuat aku merasa sedikit tenang dan segera mengangguk kepadanya. Hingga kami mulai di panggil dan gerbang besar di depan mulai terbuka lalu aku dan Alvaro berjalan bersamaan dengan anggunnya menginjak karpet merah yang tergelar di lantai hanya untuk kami berdua.


"Tenanglah ada aku di sampingmu" ucap Alvaro membisikan kalimat itu di telingaku,


Aku mengangguk patuh dan menjadi jauh lebih tenang, hingga kami sampai di atas altar pernikahan dan Alvaro mulai membukakan penutup kepala yang menghalangi wajahku dan seketika semua orang kaget terperangah melihat bahwa pengantin wanitanya bukanlah Veli.


Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Audy sebelumnya, ayah Alvaro berteriak sangat keras dan dia menghentikan proses pernikahan yang baru saja akan di mulai.

__ADS_1


"Berhenti! Dia bukan pengantin wanitanya, cari pengantin wanita yang asli dan seret dia keluar!" Bentak ayah Alvaro dengan mulut yang bergetar dengan penuh emosi.


Aku bahkan sangat takut ketika melihatnya dan Alvaro menggenggam tanganku juga menarik aku ke sampingnya.


__ADS_2