Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Menemui Ibu


__ADS_3

Saat hendak beristirahat telponku berbunyi dan saat ku lihat itu panggilan dari ibuku, langsung aku angkat panggilan telponnya.


"Talita... Kenapa kau tidak datang ke apartemen ibu, bukankah kau sudah janji ibu bahkan sudah menyiapkan banyak makanan untukmu" ucap ibu disebrang telpon.


Aku bahkan lupa dengan janji itu dan aku baru ingat sekarang kalau kemarin sempat mengatakan akan menemui ibu sepulang sekolah namun karena mendapatkan desakkan dari kak Bara aku malah fokus membujuk Alvaro sampai mengikutinya hingga larut malam, aku benar benar lupa dengan janji yang aku buat sendiri.


"Maaf bu, Lita lupa sudah dulu yah Bu biar besok Lita ke sana" balasku dan langsung mematikan panggilannya.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat dan kembali merebahkan tubuhku di ranjang dan menutup mata memaksakan untuk beristirahat.


Semalaman aku sulit tertidur hingga pagi tiba aku malah kesiangan dan terus saja terburu buru pergi ke sekolah sampai tidak sempat menyisir rambutku dan aku memakai sepatu sambil berjalan tergesa gesa, aku tidak melihat jalanan dengan benar sampai bertubrukan dengan Audy yang memakai sepeda hendak menjemput ku.


"Talita awas... Brukkk" teriak Audy dan suara kami yang jatuh bertubrukan,


"Aww... Aduh sakit banget... Aawww" ringis ku menahan sakit di lututku yang lecet dan berdarah,


"Ya ampun Talita, maaf yah.. maafkan aku aku tidak sengaja" ucap Audy sambil membantuku berdiri,


"Tidak papa Audy, aku hanya lecet sedikit kok" balasku berusaha menahan sakit.


Audy nampak merasa bersalah dan mengkhawatirkan aku dia segera memapahku dan membantuku naik ke sepedanya, kami pergi melanjutkan perjalanan menuju sekolah hingga sesampainya di sana Audy terus memapahku menuju UKS dan membantuku mengobati luka, melihat Audy yang begitu perhatian dan baik sekali padaku aku merasa terharu dan sangat senang bisa memiliki sahabat sebaik dia.


"Audy lukaku sudah di obati, kau pergi ke kelasku saja nanti kau akan terlambat kalau di sini terus" ucapku meminta agar Audy kembali ke kelasnya,


"Kamu yakin bisa pergi ke kelas sendiri?" Tanya Audy memastikan,


"Ini hanya luka sedikit bukan lumpuh tentu aku masih bisa berjalan dengan seimbang" balasku sedikit bergurau.

__ADS_1


Audy tersenyum dan mengangguk lalu dia berpamitan pergi ke kelasnya lebih dulu karena jadwal masuk kelasku dengan Audy berbeda 5 menit, aku duduk beristirahat sejenak di UKS sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke kelas, sebenarnya kakiku masih terasa sakit dan ngilu namun aku sengaja pura pura baik baik saja dihadapan Audy karena aku tidak mau merepotkan dia terlalu banyak, lagi pula aku jatuh karena diriku sendiri yang tidak fokus saat berjalan.


Aku berjalan perlahan dengan tangan yang menekan ke dinding sekolah agar bisa menahan bobot tubuhku, kakiku masih sakit tapi aku harus segera ke kelas kalau tidak bisa bisa aku kena hukuman oleh guru matematika yang akan mengajar di jam pertama, saat tengah kesusahan berjalan untunglah kak Bara datang dan membantuku.


"Talita kamu kenapa?, Biar aku bantu" ucap kak Bara dan memapahku hingga sampai ke kelas,


"Terimakasih kak" ucapku begitu senang,


"Sama sama kalo begitu aku kembali ke kelasku" balas kak Bara dan dia pergi menuju kelasnya,


Hatiku berbunga bunga dan jantungku berdebar hebat, rasanya ingin melayang dan rasa sakit di lutut serta kakiku tiba tiba saja tidak terasa.


"Ahhh... Apa ini yang dinamakan cinta, aku begitu menyukainya padahal dia biasa biasa saja padaku arghhh... Talita kau sudah gila" gumamku dalam hati.


Saat duduk di kursiku aku langsung teringat pada Alvaro, aku merasa kasihan dan juga sangat merasa bersalah padanya.


"Ya ampun bagaimana kabar dia yah, pasti lukanya parah itulah kenapa dia tidak masuk hari ini, semua itu juga karenaku" gumamku sambil tertunduk lesu.


Sepanjang pelajaran aku tidak fokus karena pikiranku terus terpusat pada Alvaro, orang itu sungguh sudah berhasil membuatku kesulitan dan memikirkannya seharian.


"Aishhh.... Aku bisa gila kalau terus memikirkannya begini" ucapku berdecak kesal.


Sepulang sekolah aku segera pergi ke halte bus dan menaiki bus jurusan ke kota Xx untuk menemui ibuku, sungguh aku tidak bisa berhenti memikirkan si Alvaro sialan itu, aku melamun di dalam bus sampai apartemen ibuku terlewat begitu saja, alhasil aku harus berjalan sedikit jauh dari tempat dimana bus berhenti, aku berdiri sejenak di depan pintu apartemen ibu, aku berusaha menguatkan mentalku agar bisa lebih tenang menghadapinya.


Ku tekan bel dan menunggu ibu membukakan pintu namun orang yang membukakan pintu adalah seorang pria tua yang berusia tak jauh beda dengan ayahku, aku sudah menduga pria itu pasti ayah tiri ku, menyebalkan sekali harus melihatnya seperti ini.


"Kamu siapa yah?" Ucap pria tua itu,

__ADS_1


"Dimana ibuku aku mau menemuinya" balasku dengan kecut,


"Oh kamu Talita yah, ayo masuk ibumu sedang memasak untukmu ternyata kau datang lebih awal yah, sini ayah bantu bawakan tas mu pasti kamu lelah belajar seharian" ucap pria itu,


"Jangan berlebihan aku bukan anak kecil" jawabku kesal dan muak mendengar semua perhatiannya.


Pria itu seketika diam dan duduk di meja makan bersamaku, aku kesal dan sangat tidak suka berada di sana, rasanya ingin segera pergi padahal aku baru saja sampai di tempat itu, ibu keluar dari dapur mengenakan celemek yang sering dia pakai sebelumnya dan membawa sebuah sup ayam kesukaanku di tangannya.


"Talita ibu senang kamu akhirnya datang, ini mari makan ibu membuat sup kesukaanmu" ucap ibu sambil menyajikan makanan untukku.


Sejujurnya aku rindu suasan ini, semenjak aku tinggal di desa bahkan aku tidak pernah makan sup ayam lagi, dan jadwal makanku pun tidak teratur aku hanya makan ketika aku lapar dan bisa memakan apapun asalkan perutku kenyang, mungkin makanan favorit ku juga bukan sup ayam lagi karena sudah lama aku tak mencicipinya.


"Tidak perlu, aku kemari hanya ingin tau apa yang mau ibu bicarakan bukan untuk makan, aku bisa makan sendiri di luar" jawabku ketus,


"Talita maafkan ibu dan ayah, mungkin karena perceraian kami kamu berubah seperti ini, tapi ibu dan ayah masih sangat menyayangimu, bukankah bagus kini kamu punya dua orang tua yang lengkap" ucap ibu meminta maaf dan memegang kedua lenganku.


"Itu bagus untukmu bu, tapi tidak bagiku, jika tidak ada yang mau ibu katakan lagi aku akan pergi" jawabku sambil beranjak berdiri dari kursi.


Ibu memelukku seketika dengan begitu erat, aku tidak tahan lagi, air mata sudah membendung di mataku, jika aku terus berlama lama di sana mungkin aku akan menangis dihadapan ibu dan ayah tiri ku, dan aku tidak mau terlihat cengeng ataupun lemah dihadapan mereka.


"Bu tolong lepaskan, aku harus pergi" ucapku melepaskan pelukan ibu,


"Talita ibu mohon tolong jangan membenci ibu dan ayah, ibu minta maaf kamu tau kan ibu masih menyayangimu, kamu juga bisa tinggal bersama ibu ataupun ayah kamu bebas memilih nak" ucap ibu dengan derai air mata,


"Berhenti menangis dan memohon padaku, bukankah kalian sendiri yang sudah memutuskan kalau aku harus tinggal sendirian di desa, jadi aku tidak perlu memilih lagi, dan aku berterimakasih karena masih mau membiayaiku, cukup sampai aku lulus SMA setelah itu aku akan bekerja untuk diriku sendiri, kuharap kalian juga bahagia, sempai jumpa Bu" ucapku dengan senyum kecil dan pergi dari sana secepat mungkin.


Aku berlari di lorong apartemen dan masuk ke dalam lift saat itu hanya ada aku dan satu perempuan lain yang berada di lift, aku terus mencoba menahan air mata agar tidak jatuh di pipiku, namun pertahananku sudah tak dapat aku bendung, alhasil aku menangis dengan wajah yang datar tanpa ekspresi, wajahku berusaha kuat tapi air mataku tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah aku terus mengeluarkan air mata, aku lelah dengan semuanya, perceraian kedua orangtuaku memang tidak ada urusannya denganku tapi sebagai anak aku sakit melihat mereka berpisah dan hidupku terluntang lantung ditengah tengah mereka, saat pembagian raport dan saat hari ulang tahun tidak ada yang bisa aku temui dan tidak ada yang memberiku hadiah, aku sungguh menyedihkan, mereka melupakanku saat mereka sudah mendapatkan pasangan baru, mereka mengatakan kalau mereka menyayangiku tapi tindakan mereka tidak membuktikan kalau mereka sungguh mengharapkan ku di sampingnya, jadi untuk apa lagi aku memilih tinggal dengan mereka.


Sekarang sudah jauh lebih baik aku sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan di desa dan aku sudah terbiasa hidup sendiri meskipun sesekali harus merasa kesepian namun itu jauh lebih baik daripada harus tinggal dengan salah satu diantara kedua orangtuaku.


__ADS_2