
Saat aku tengah menggerutu dan memijat kakiku di bahu jalan tiba tiba Alvaro kembali dan memberikanku sebotol minuman dingin.
"Ini minum dulu" ucap Alvaro menyodorkan minuman,
"Wahh...kebetulan sekali, terimakasih Al" jawabku sambil segera membuka botol tersebut.
Setelah meminum minuman tersebut rasanya dahaga di dalam tenggorokanku sudah sedikit hilang, aku memutuskan untuk melanjutkan kembali mendorong motor Alvaro, namun saat aku mengajaknya dia justru menahanku agar tidak mendorong motor lagi bersamanya.
"Alvaro ayo kita dorong lagi siapa tau di depan ada pom" ajakku kembali bersemangat,
"Tidak usah aku mau telpon Argo saja, biar dia yang membawakan bensin kemari" jawabnya dengan santai,
"Aishh....kalau bisa begitu, kenapa tidak dari tadi saja, dasar kau aku bahkan sampai membuat kakiku bengkak untuk mendorong motormu ini" ucapku kesal,
"Aku baru ingat kalau aku punya anak buah" jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun,
Aku benar benar kesal dengan Alvaro kalau tau begitu mungkin aku tidak perlu mendorong motor nya sampai kakiku kembali bengkak tapi mau marah pun percuma paling Alvaro hanya akan membalikkan semua ucapanku.
"Sudahlah aku juga masih ada urusan, byee" ucapku melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Alvaro,
"Eihhh....Talitaaa...mau kemana dia sepertinya buru buru sekali" ucap Alvaro berteriak kencang.
Aku tak menggubris teriakkan Alvaro dan terus berjalan menjauh darinya.
Aku baru ingat kalau aku masih memiliki janji dengan Audy untuk menemui dia di rumahnya segera aku menghentikan taxi dan pergi menuju kediaman Audy, gara gara Alvaro dan motor sialannya itu aku jadi harus pergi ke rumah Audy dengan taxi dan menghabiskan banyak uang yang seharusnya aku hemat.
Aku sungguh menyesal sudah turun dari bus dan menemui orang sepertinya, bisa bisanya dia baru ingat ada Argo yang bisa mengambilkan bensin untuk motornya setelah kami mendorong motor itu hampir setengah jam lamanya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan aku terus menggerutu kesal dan saat sampai aku segera masuk ke dalam gerbang rumah Audy ternyata Audy ada di halaman rumah menunggu kedatanganku.
"Talita darimana saja kau?, Kenapa lama sekali?" Tanya Audy sambil bangkit dari kursinya,
"Itu tadi aku membantu si Alvaro mendorong motornya dulu makanya aku terlambat kemari" jawabku jujur,
"Hah?, Sejak kapan kau sedekat itu dengan Alvaro bukannya kalian musuh yah?" Tanya Audy dengan merasa heran,
"Meski aku membencinya aku tetap tidak tega ketika melihatnya kesusahan" jawabku beralasan.
"Apa benar begitu, atau jangan jangan kamu menyukainya yah...hehe" ucap Audy menggodaku,
"Ishh...apaan sih Audy, mana mungkin kamu kan tau pujaan hatinya hanya kak Bara seorang" jawabku sambil tersenyum.
Puas menggodaku Audy langsung mengajakku masuk ke dalam rumah rupanya saat itu hanya ada Audy di rumah karena kedua orang tuanya tengah bekerja di luar kota bahkan Audy memintaku untuk tinggal bersamanya dalam beberapa hari hingga kedua orangtuanya kembali, namun aku menolak dengan halus, karena jika aku tinggal bersama Audy pasti rahasiaku akan ketahuan kalau aku sebenarnya sudah bekerja di sebuah restoran, aku masih belum mau memberitahu Audy mengenai hal itu.
"Talita ayolah kenapa kamu tidak mau tinggal bersamaku sih" ucap Audy yang masih terus membujukku,
Akhirnya Audy menyerah dan tidak memaksaku lagi, aku terus saja melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul satu siang, aku juga banyak melakukan aktivitas bersama Audy mulai dari memasak bersama dan menikmati makanan kami juga menonton film horor kesukaan kami di kamar Audy sampai aku memutuskan untuk pergi dari sana karena sudah hampir jam kerjaku.
"Audy untuk hari ini sampai sini dulu yah, aku masih ada urusan" ucapku berpamitan,
"Yahh....Talita kita bahkan belum pergi main ke luar" jawab Audy dengan wajah yang lesu,
"Maafkan aku Audy tapi bukankah nanti kita bisa main bersama lagi" jawabku berusaha menghibur,
"Ya sudah mau bagaimana lagi, kalau kamu sudah mau pergi, tapi Talita kenapa yah aku merasa kamu sedikit berbeda dari yang sebelumnya" ucap Audy tiba tiba yang membuatku sedikit gugup,
__ADS_1
"A..apa sih, aku ini masih Talita yang dulu kok, mana mungkin aku berubah, kamu aneh aneh saja" jawabku dengan gugup,
"Mungkin itu perasaanku saja, Talita jangan menyembunyikan sesuatu dariku aku ini temanmu ingat itu" ucap Audy yang membuatku seakan tertusuk duri,
"Iya tenang saja" balasku menyembunyikan semuanya.
"Maafkan aku Audy suatu saat nanti aku akan memberitahu kamu semuanya" gumamku merasa bersalah karena menyembunyikan masalah pekerjaan padanya.
Aku berjalan lesu dan segera pergi menuju restoran saat aku sampai nampak pengunjung begitu ramai aku berusaha menyembunyikan kesedihanku dan aku terus masuk menuju dapur dan mulai bekerja meski aku tau itu belum waktunya aku masuk kerja.
"Talita...kemarin kau datang telat sekarang kau datang lebih awal apa itu untuk membayar keterlambatan kemarin?" Tanya kak Kevin sambil tersenyum,
"Ahh...iya anggap saja begitu tuan" jawabku sedikit gugup.
Setelah mengetahui identitas asli kak Kevin tentu aku tidak bisa berbicara sesantai sebelumnya aku juga harus menjaga diri dan memberikan rasa hormat padanya selaku pemilik restoran ini, sedangkan kak Kevin yang kebingungan karena aku memanggilnya dengan sebutan tuan dia langsung menghentikan aktivitas yang dia lakukan dan berbalik memegang pundakku.
"Talita apa barusan kau memanggilku dengan sebutan tuan?" Tanya kak Kevin begitu serius,
"Iya...memangnya kenapa?" Tanyaku merasa heran,
"Jangan memanggilku begitu lagi, di sini aku hanya seorang koki dan karyawan sama sepertimu, jangan anggap aku bosmu hanya karena kau melihat identitas asliku dari kartu namaku sebelumnya" ucap kak Kevin yang nampak tidak senang,
"Ahh..baiklah aku akan memanggilmu dengan sebutan kak Kevin lagi, apa begitu lebih baik" jawabku menuruti.
Kak Kevin menjawab ucapanku dengan anggukan dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya begitu juga denganku, saat aku tengah mencuci piring kak Kevin memintaku untuk mengantarkan makanan ke beberapa meja pelanggan karena pelayan yang biasa mengantarkannya tengah cuti hari ini sehingga aku harus menggantikannya.
Aku segera menatap piring piring berisi makanan di atas nampak dan menyajikannya pada pelanggan yang sudah menunggu dengan sabar, aku merasakan kepuasan saat melihat para pengunjung restoran nampak menikmati makanan yang aku sajikan dengan nikmat.
__ADS_1
"Ternyata begini yah rasanya menjadi pelayan, aku puas sekali mereka menikmati makanannya" gumamku sambil tersenyum sendiri,
Aku kembali ke dapur dan mengambil pesanan berikutnya dan saat aku mencari meja nomor tiga sesuai pemesanan ternyata itu adalah pesanan milik