Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Kantin


__ADS_3

Sesampainya di depan pintu ruangan kelas, aku berhenti sejenak sambil mengatur deru nafasku yang memburu, setelah rileks aku langsung masuk dan kembali duduk di samping Audy yang menatapku sambil mengerutkan alisnya, sekali menatap saja aku sudah paham pasti Audy penasaran mengapa aku begitu lama pergi ke toilet barusan, aku yang bingung harus menjawab apa akhirnya aku balas dengan senyuman manis saja untuk menutupi kebenaran yang terjadi, kalau tidak ditutupi pasti Audy akan menanyakan lebih banyak hal lagi, karena ku pikir itu bukan hal penting dan tidak perlu diberitahu pada siapapun.


Saat aku mengikuti pembelajaran dari kak Bara setidaknya sekarang kak Bara sudah tidak memperhatikanku sesering dan seintens tadi, aku merasa sedikit lega, karena duduk di bangku barisan kedua dari belakang aku tidak jelas mendengar ucapan kak Bara dan mataku juga tidak bisa fokus menatap ke papan tulis, dasar mataku itu bukannya fokus malah mengantuk, saat aku tengok ke samping ku lihat Audy justru sudah tertidur lelap dengan kepala yang dia taruh di atas buku, aku hanya bisa menarik nafas menahan emosiku, bukannya apa apa tapi kalau Audy tidur aku bagaimana, tidak ada teman berbincang dan serasa sepi, menyimak pembelajaran juga tidak efektif.


Ragaku duduk di dalam kelas namun pikiranku berkeliaran kemana mana itulah situasi yang saat ini aku rasakan, pikiranku berkecamuk memikirkan bagaimana keadaan kedua orang tuaku, bagaimana aku kedepannya dan apa yang harus aku lakukan setelah ini, terlalu fokus aku memikirkan hal hal yang tak karuan sampai tidak sadar kak Bara sudah berdiri di samping mejaku dan dia menggebrak meja lumayan keras sampai membuat semua siswa yang ada disana menatap ke arahku juga Audy yang terbangun dari tidurnya secara spontan, mata merah dan air liyur yang dia usap masih bisa kulihat dengan jelas dan merasa jijik, tapi itulah Audy si gadis cantik yang tomboy.


Aku kaget begitu pula dengan Audy kami berdua menatap gugup ke arah ka Bara yang terlihat marah pada kami berdua, sudah aku duga pasti karena aku dan Audy tidak memperhatikan materi yang tengah dia jelaskan, saat mata kami beradu tiba tiba saja kak Bara berbicara dengan nada yang tinggi dan menyuruh kami untuk keluar dari kelas.


"Keluar!!, kalian berdua saya hukum untuk berdiri di samping pintu sambil mengangkat bangku kalian!!" ucap kak Bara dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Tanpa banyak basa basi aku dan Audy langsung saja menuruti hukuman yang diberikan kak Bara, kami tidak melawan sedikitpun bukan karena takut tapi memang kesalahan ada pada kami berdua sehingga kita harus menanggung akibatnya dengan lapang dada.


Audy yang besik nya sudah tomboy tentu saja hal mudah baginya mengangkat kursi dan di taruh diatas kepala lalu berdiri di samping pintu kelas dengan santai, sedangkan aku yang tidak terbiasa mendapatkan hukuman seperti ini sangat kesulitan untuk mengangkat bangku yang aku bawa tadi.


Beberapa kali aku mencoba untuk mengangkat bangku itu dan memegangnya diatas kepala tetap saja tanganku tidak kuat menahan berat bangku tersebut sehingga ku jatuhkan kembali kelantai, Audy bukannya tidak mau membantuku tapi dia juga dalam masa hukuman yang sama, jadi aku harus bekerja keras sendiri untuk mengangkatnya, sudah 3 kali aku coba mengangkatnya tapi tetap saja hanya kuat beberapa menit dan kembali tumbang, sampai akhirnya kelas selesai dan aku bisa bernafas lega, lelah mengangkat bangku selama pelajaran berlangsung aku dan Audy bergegas pergi ke kantin bersama kerumuman siswa lainnya, mereka berebut tempat duduk karena kantin di sana lumayan kecil sehingga harus bergantian ketika ingin duduk di meja kantin, Audy berlari begitu kencang sampai dia tak sadar kalau aku sudah tertinggal cukup jauh darinya, karena kerumunan orang yang begitu banyak mungkin Audy juga tidak menyadari bahwa genggaman tanganku lepas dari bajunya, ku tatap sekeliling kantin mencari keberadaan Audy tapi tetap saja aku kebingungan, sampai ada tangan yang menepuk bahuku dari belakang dan saat aku tengok ternyata kak Bara bersama 2 temannya yang tak lain dan tak bukan adalah kak Vera juga kak Nandito, mereka masih mengenakan jas OSIS yang sama, kerumunan anak anak yang riuh saling berebut tempat duduk seketika menjadi hening dan justru malah membukakan jalan untuk 3 orang itu, aku merasa aneh ditambah kak Bara yang menarik tanganku dan membuatku ikut duduk dimeja yang sama dengan mereka sontak anak anak disekitar saling berbisik dan aku tau mereka pasti membicarakan aku.


Aku semakin gugup dan bingung harus bicara apa dan harus melakukan apa, aku tidak mau terjebak dalam situasi canggung seperti ini ditambah banyak mata wanita yang menatapku dengan ancaman, akhirnya akupun memberanikan diri membuka suara.


Tapi sialnya lagi lagi tanganku ditahan oleh kak Nandito.

__ADS_1


"Mau kemana, duduk dan jadilah penurut, apa kamu tidak tau yah, Bara sendiri yang membawamu kemari jadi kau harus diam dan menurut, paham!" ucap kak Nandito tegas.


"AA...tapi..kak, aku kan tidak kenal dengan kalian, dan apa hubungannya kalo memang kak Bara yang membawaku kemari, aku tidak mau ada di sini!" ucapku penuh keberanian walau awalnya sempat gugup,


karena tak terima dengan ucapan kak Nandito padaku sebelumnya maka dari itu muncul keberanian dalam diriku untuk membela diri dan berbicara lantang menolak mereka, nampak wajah kak Nandito yang tidak terima dengan ucapanku, tak di sangka dia sampai menggebrak meja dengan keras membuat jantungku hampir copot.


"*brakkk......",


"berani beraninya kamu menyangkal ucapanku, ucapanku ini perintah dasar anak baru gak tau diri*" ucap kak Nandito sambil melemparkan botol minuman kearahku.

__ADS_1


Aku takut, bingung dan gemetar, mulutku terkunci rapat, lidahku kelu dan pikiranku kacau, aku malu dan takut bercampur menjadi satu, sampai tiba tiba kepalaku terasa dingin dan ternyata aku disiram oleh kak Vera dengan sebotol air mineral yang baru saja ia pesan, aku benar benar dipermalukan di depan banyak orang, dari kejauhan aku mendengar suara Audy yang meneriaki namaku samar samar, saat aku coba mencari sosok Audy ternyata dia ada di belakangku tapi dia di tahan oleh 2 orang anak lelaki yang aku pun tidak tau siapa mereka, yang pasti mereka adalah komplotan kak Bara yang jahat, tega sekali mereka memperlakukan anak baru seperti ini.


Aku ingin melawan tapi sungguh tak bisa, aku hanya bisa menunduk dengan badan gemetar karena disiram air dingin dan gugup tak karuan, kak Vera menghampiriku dan mendorongku cukup kuat sampai aku kehilangan keseimbangan, aku terhuyung ke belakang dan aku sudah pasrah jika harus jatuh tersungkur di lantai, namun untungnya sebuah tangan kekar menangkap badanku, sehingga aku tidak terjatuh dan tidak harus menanggung rasa malu lagi.


__ADS_2